“Hari Kartini ada acara pakai baju daerah di Tetum?” seseorang bertanya kepada saya.
Pertanyaan yang membuat saya bertanya balik (dalam hati): kenapa pakai baju daerah (baca kebaya)? Saya tidak (pernah) berpikir tentang hal itu.
Terlalu banyak yang dapat kita pelajari dari Kartini, dibanding dengan sempitnya langkah ketika ber-jarik (jarik = bahasa Jawa untuk kain batik yang dipakai sebagai padanan kebaya). Terlalu dalam pemikiran Kartini, dibanding dengan dalamnya tusukan jepit rambut di konde. Terlalu luas wawasan Kartini, dibanding dengan simbol kebaya mewakili daerah tertentu.
Itu dimungkinkan karena Kartini punya kepekaan terhadap dirinya dan lingkungannya.
Pencapaian spiritual dan batin Kartini tentulah karena andil ibunya, Ngasirah, seorang perempuan desa. Ya, bukankah masa depan seorang anak ditentukan oleh fondasi yang dimilikinya ketika balita, seperti yang dikutip oleh Montessori: the child is the father of the man. Apa yang dijalani seseorang di masa dewasanya bergantung pada masa kanak-kanaknya.
Saya membayangkan, Ngasirah yang sederhana dan tidak bersekolah pastilah telah memberi kesempatan kepada putri kandung satu-satunya kesempatan untuk menghayati sekelilingnya. Dalam pemikiran Montessori, Ngasirah sepertinya telah memungkinkan Kartini menjalani periode sensitifnya dengan baik. Periode sensitif mengacu kepada periode penting dalam perkembangan manusia.
Bayangan saya tentang periode sensitif Kartini muncul, ketika sehari sebelum hari Kartini saya melakukan observasi terhadap seorang anak yang akan masuk sekolah kami.
Anak itu –sebut saja Gio– telah bersekolah di TK lain. Ibunya ingin memindahkan Gio ke sekolah kami karena Gio terlihat jenuh di sekolahnya. Anak-anak di sekolah itu sepanjang hari menghabiskan waktu dengan mengerjakan soal –dalam istilah pendek: calistung (baca-tulis-hitung). Menjelang habis semester II, Gio sudah enggan bersekolah, dan ibunya menjajagi kemungkinan pindah. Kebetulan –dalam perjalanan shopping around-nya—dia mampir ke sekolah kami. Ketika saya jelaskan program kami, dia merasa cocok.
Tibalah hari Gio menjalani asesmen. Saya dibantu seorang terapis okupasi dalam menjalankan asesmen itu. Gio diminta masuk ke gulungan karpet, melompat, melakukan tindakan ulangan tanpa diperintah, mewarnai, menggunting, menempel.
Saat mengamati Gio, saya menjadi prihatin. Inilah profil anak Indonesia masa kini. Anak-anak yang digenjot kegiatan calistung dengan duduk diam di kursi dan melaksanakan perintah. Gio mampu melaksanakan semua instruksi, tetapi terlihat ragu dalam pengambilan keputusan, pemahaman konsep, dan kegiatan motorik kasar. Tubuhnya (saya yakin ibunya tidak tahu) menunjukkan ketidakseimbangan antara sisi kiri dan kanan (karena kurang stimulus gerak mungkin).
Saya pikir banyak anak seperti Gio: anak-anak yang didorong pada end-product dengan kegiatan mewarnai dan lembar kerja, tapi tidak menghayati apa yang terjadi di dirinya dan di lingkungannya.
Anak-anak ini kehilangan kesempatan untuk mengecap periode sensitifnya. Mereka didudukkan di baby walker, tidak dibiarkan menjelajah dengan merangkak; mereka disuapi, tidak dibiarkan menggunakan tangannya untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar dalam hidupnya; mereka dikejar-kejar supaya makan, tidak dibiarkan menghayati aliran rasa lapar dan kenyang dalam tubuhnya; mereka dimandikan-dipakaikan baju-disisiri, tidak dibiarkan memenuhi kebutuhannya sendiri.
Dengan tidak menghayati tubuhnya, bagaimana mereka dapat menghayati lingkungannya? Bagaimana kelak kita akan mendapat seseorang yang punya kedalaman pemikiran seperti Kartini?
Apakah Kartini dulu mendapat stimulasi yang cukup ketika balita? Apakah dia merangkak? Kemungkinan besar, ya, karena dulu tidak ada baby walker kan.
Apakah dia berlari-lari? Kemungkinan ya, karena waktu itu tidak ada televisi.
Apakah dia melayani kebutuhan pribadinya sendiri ketika kecil? Kemungkinan ya, kalau kita lihat kemampuan motorik halusnya dalam membatik dan menulis.
Apakah dia punya rentang konsentrasi yang baik? Kemungkinan ya, karena dia mampu menulis berjam-jam.
Jadi, apakah dia belajar calistung ketika balita? Tidak: Kartini punya perkembangan emosi yang baik (dia mampu beradaptasi dengan tuntutan lingkungan) dan punya perkembangan intelektual yang sangat, sangat baik. Seseorang yang mendapat kesempatan untuk mengembangkan serabut saraf di batang otak ketika balita, akan bisa mengembangkan serabut saraf di otak tengah (yang berkaitan dengan emosi) dan otak luar (yang berkaitan dengan intelektualitas).
Para Ngasirah Modern (baca: ayah dan bunda yang hidup di era masa kini), ada kesempatan besar untuk menjadikan anak kita seorang Kartini. Kuncinya adalah satu: tidak melawan kodrat alam. Tuhan telah menciptakan blueprint perkembangan manusia, namun kerap kita langgar, atas nama tuntutan zaman (SD sekarang menghendaki anak yang bisa baca tulis; anak tetangga sudah bisa ini dan itu; anak saya harus jadi manusia unggul) ….
Bukan hanya manusia, ulat pun punya blueprint perkembangan hidupnya. Ilmuwan Belanda Hugo De Vries mengamati bahwa secara instinktif ulat betina menempatkan telurnya di suatu sudut yang terlindung di pohon. Ketika bayi ulat menetas, apa yang dilakukannya untuk mendapatkan dedaunan muda (ulat dewasa makan daun-daunan dengan rakus)? Bayi ulat mengikuti cahaya. Ia memiliki kepekaan, dan tertarik pada cahaya, dan dengan cara itu ia mendapatkan makan untuk pertahanan hidupnya. Ketika ia sudah makan banyak dan menjadi besar, periode kepekaannya terhadap cahaya pun pudar. Ia menempuh cara lain untuk pertahanan hidupnya.
Temuan De Vries yang kemudian membuahkan pemikiran Montessori tentang periode sensitif. Montessori yakin bahwa manusia menapaki serangkaian lompatan kuantum (quantum leaps) dalam tahap prasekolah. Dalam tahapan itu anak sangat sensitif pada stimulus tertentu. Pada periode sensitif itu anak sangat mudah mendapatkan kemampuan tertentu. Namun begitu periode itu berlalu, anak sudah terpuaskan, dan berkembang ke perkembangan berikutnya.
Kepekaan itu adalah (menurut versi MontessoriMom.com)
* 0-3 tahun: Anak menyerap informasi seperti spons. Di tahap ini ia mendapatkan pengalaman dan pembelajaran sensori: menyentuh, mencecap, mencium, melihat dan mendengar informasi dari lingkungan.
* 1,5-3 tahun: Anak membangun dasar bahasa (Ini adalah bahasa ibu, dan bahasa kedua yang diberikan dengan cara yang sama dengan bahasa ibu, tidak sepotong-sepotong).
*1 ½- 4 tahun: Perkembangan dan koordinasi kemampuan otot besar dan kecil (karena itu penting bagi anak untuk menggunakan kedua tangannya).
*2- 4 tahun: Mobilitas, koordinasi gerakan dan kehalusan gerakan, minat pada bahasa dan komunikasi , peka pada hubungan spasial, mencocokkan, mengurutkan, dan logika berpikir lain.
*2 ½-6 tahun: Menggunakan indra untuk belajar dan beradaptasi dengan lingkungan.
*3-6 tahun: Minat dan kekaguman pada dunia orang dewasa: ingin meniru perilaku orang dewasa.
*4-5 tahun: Menggunakan tangan dan jari untuk memotong, menulis dan menggambar. Indra peraba berkembang dengan sangat baik di tahap ini.
*4 ½-6 tahun: Siap dengan keterampilan membaca dan matematika.
Apabila periode sensitif ini tidak dipenuhi, anak akan berontak dengan berbagai cara. Gio, misalnya, dengan mogok sekolah. Pemberontakan Gio merupakan sinyal alam bahwa telah terjadi penyimpangan dalam perkembangan hidup seorang anak manusia. Alhamdulillah, ibunya menangkap hal itu, terpanggil menjadi Ngasirah: mengasuh anak dengan kodrat alam.
Referensi:
The Secret of Childhood, Maria Montessori, New York: Balantine Books, 1972
Panggil Aku Kartini Saja, Pramoedya Ananta Toer, Jakarta: Hasta Mitra, 1972
http://www.montessorimom.com/sensitive-periods-learning/
