Kartini, Ngasirah, Montessori dan Gio

Posted by endahws on April 21, 2010 0

“Hari Kartini ada acara pakai baju daerah di Tetum?” seseorang bertanya kepada saya.

Pertanyaan yang membuat saya bertanya balik (dalam hati): kenapa pakai baju daerah (baca kebaya)? Saya tidak (pernah) berpikir tentang hal itu.

Terlalu banyak yang dapat kita pelajari dari Kartini, dibanding dengan sempitnya langkah ketika ber-jarik (jarik = bahasa Jawa untuk kain batik yang dipakai sebagai padanan kebaya). Terlalu dalam pemikiran Kartini, dibanding dengan dalamnya tusukan jepit rambut di konde. Terlalu luas wawasan Kartini, dibanding dengan simbol kebaya mewakili daerah tertentu.

Itu dimungkinkan karena Kartini punya kepekaan terhadap dirinya dan lingkungannya.

Pencapaian spiritual dan batin Kartini tentulah karena andil ibunya, Ngasirah, seorang perempuan desa. Ya, bukankah masa depan seorang anak ditentukan oleh fondasi yang dimilikinya ketika balita, seperti yang dikutip oleh Montessori: the child is the father of the man. Apa yang dijalani seseorang di masa dewasanya bergantung pada masa kanak-kanaknya.

Saya membayangkan, Ngasirah yang sederhana dan tidak bersekolah pastilah telah memberi kesempatan kepada putri kandung satu-satunya kesempatan untuk menghayati sekelilingnya. Dalam pemikiran Montessori, Ngasirah sepertinya telah memungkinkan Kartini menjalani periode sensitifnya dengan baik. Periode sensitif mengacu kepada periode penting dalam perkembangan manusia.

Bayangan saya tentang periode sensitif Kartini muncul, ketika sehari sebelum hari Kartini saya melakukan observasi terhadap seorang anak yang akan masuk sekolah kami.

Anak itu –sebut saja Gio– telah bersekolah di TK lain. Ibunya ingin memindahkan Gio ke sekolah kami karena Gio terlihat jenuh di sekolahnya. Anak-anak di sekolah itu sepanjang hari menghabiskan waktu dengan mengerjakan soal –dalam istilah pendek: calistung (baca-tulis-hitung). Menjelang habis semester II, Gio sudah enggan bersekolah, dan ibunya menjajagi kemungkinan pindah. Kebetulan –dalam perjalanan shopping around-nya—dia mampir ke sekolah kami. Ketika saya jelaskan program kami, dia merasa cocok.

Tibalah hari Gio menjalani asesmen. Saya dibantu seorang terapis okupasi dalam menjalankan asesmen itu. Gio diminta masuk ke gulungan karpet, melompat, melakukan tindakan ulangan tanpa diperintah, mewarnai, menggunting, menempel.

Saat mengamati Gio, saya menjadi prihatin. Inilah profil anak Indonesia masa kini. Anak-anak yang digenjot kegiatan calistung dengan duduk diam di kursi dan melaksanakan perintah. Gio mampu melaksanakan semua instruksi, tetapi terlihat ragu dalam pengambilan keputusan, pemahaman konsep, dan kegiatan motorik kasar. Tubuhnya (saya yakin ibunya tidak tahu) menunjukkan ketidakseimbangan antara sisi kiri dan kanan (karena kurang stimulus gerak mungkin).

Saya pikir banyak anak seperti Gio: anak-anak yang didorong pada end-product dengan kegiatan mewarnai dan lembar kerja, tapi tidak menghayati apa yang terjadi di dirinya dan di lingkungannya.

Anak-anak ini kehilangan kesempatan untuk mengecap periode sensitifnya. Mereka didudukkan di baby walker, tidak dibiarkan menjelajah dengan merangkak; mereka disuapi, tidak dibiarkan menggunakan tangannya untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar dalam hidupnya; mereka dikejar-kejar supaya makan, tidak dibiarkan menghayati aliran rasa lapar dan kenyang dalam tubuhnya; mereka dimandikan-dipakaikan baju-disisiri, tidak dibiarkan memenuhi kebutuhannya sendiri.

Dengan tidak menghayati tubuhnya, bagaimana mereka dapat menghayati lingkungannya? Bagaimana kelak kita akan mendapat seseorang yang punya kedalaman pemikiran seperti Kartini?

Apakah Kartini dulu mendapat stimulasi yang cukup ketika balita? Apakah dia merangkak? Kemungkinan besar, ya, karena dulu tidak ada baby walker kan.

Apakah dia berlari-lari? Kemungkinan ya, karena waktu itu tidak ada televisi.

Apakah dia melayani kebutuhan pribadinya sendiri ketika kecil? Kemungkinan ya, kalau kita lihat kemampuan motorik halusnya dalam membatik dan menulis.

Apakah dia punya rentang konsentrasi yang baik? Kemungkinan ya, karena dia mampu menulis berjam-jam.

Jadi, apakah dia belajar calistung ketika balita? Tidak: Kartini punya perkembangan emosi yang baik (dia mampu beradaptasi dengan tuntutan lingkungan) dan punya perkembangan intelektual yang sangat, sangat baik. Seseorang yang mendapat kesempatan untuk mengembangkan serabut saraf di batang otak ketika balita, akan bisa mengembangkan serabut saraf di otak tengah (yang berkaitan dengan emosi) dan otak luar (yang berkaitan dengan intelektualitas).

Para Ngasirah Modern (baca: ayah dan bunda yang hidup di era masa kini), ada kesempatan besar untuk menjadikan anak kita seorang Kartini. Kuncinya adalah satu: tidak melawan kodrat alam. Tuhan telah menciptakan blueprint perkembangan manusia, namun kerap kita langgar, atas nama tuntutan zaman (SD sekarang menghendaki anak yang bisa baca tulis; anak tetangga sudah bisa ini dan itu; anak saya harus jadi manusia unggul) ….

Bukan hanya manusia, ulat pun punya blueprint perkembangan hidupnya. Ilmuwan Belanda Hugo De Vries mengamati bahwa secara instinktif ulat betina menempatkan telurnya di suatu sudut yang terlindung di pohon. Ketika bayi ulat menetas, apa yang dilakukannya untuk mendapatkan dedaunan muda (ulat dewasa makan daun-daunan dengan rakus)? Bayi ulat mengikuti cahaya. Ia memiliki kepekaan, dan tertarik pada cahaya, dan dengan cara itu ia mendapatkan makan untuk pertahanan hidupnya. Ketika ia sudah makan banyak dan menjadi besar, periode kepekaannya terhadap cahaya pun pudar. Ia menempuh cara lain untuk pertahanan hidupnya.

Temuan De Vries yang kemudian membuahkan pemikiran Montessori tentang periode sensitif. Montessori yakin bahwa manusia menapaki serangkaian lompatan kuantum (quantum leaps) dalam tahap prasekolah. Dalam tahapan itu anak sangat sensitif pada stimulus tertentu. Pada periode sensitif itu anak sangat mudah mendapatkan kemampuan tertentu. Namun begitu periode itu berlalu, anak sudah terpuaskan, dan berkembang ke perkembangan berikutnya.

Kepekaan itu adalah (menurut versi MontessoriMom.com)
* 0-3 tahun: Anak menyerap informasi seperti spons. Di tahap ini ia mendapatkan pengalaman dan pembelajaran sensori: menyentuh, mencecap, mencium, melihat dan mendengar informasi dari lingkungan.
* 1,5-3 tahun: Anak membangun dasar bahasa (Ini adalah bahasa ibu, dan bahasa kedua yang diberikan dengan cara yang sama dengan bahasa ibu, tidak sepotong-sepotong).
*1 ½- 4 tahun: Perkembangan dan koordinasi kemampuan otot besar dan kecil (karena itu penting bagi anak untuk menggunakan kedua tangannya).
*2- 4 tahun: Mobilitas, koordinasi gerakan dan kehalusan gerakan, minat pada bahasa dan komunikasi , peka pada hubungan spasial, mencocokkan, mengurutkan, dan logika berpikir lain.
*2 ½-6 tahun: Menggunakan indra untuk belajar dan beradaptasi dengan lingkungan.
*3-6 tahun: Minat dan kekaguman pada dunia orang dewasa: ingin meniru perilaku orang dewasa.
*4-5 tahun: Menggunakan tangan dan jari untuk memotong, menulis dan menggambar. Indra peraba berkembang dengan sangat baik di tahap ini.
*4 ½-6 tahun: Siap dengan keterampilan membaca dan matematika.

Apabila periode sensitif ini tidak dipenuhi, anak akan berontak dengan berbagai cara. Gio, misalnya, dengan mogok sekolah. Pemberontakan Gio merupakan sinyal alam bahwa telah terjadi penyimpangan dalam perkembangan hidup seorang anak manusia. Alhamdulillah, ibunya menangkap hal itu, terpanggil menjadi Ngasirah: mengasuh anak dengan kodrat alam.

Referensi:

The Secret of Childhood, Maria Montessori, New York: Balantine Books, 1972
Panggil Aku Kartini Saja, Pramoedya Ananta Toer, Jakarta: Hasta Mitra, 1972
http://www.montessorimom.com/sensitive-periods-learning/

Marching Math 0

Pukul stik ke atas empat kali
(Tik tik tik tik)
Pukul stik bersamaan di drum tiga kali …
(Drum drum drum)
…….

Sambil memukulkan stik drum ke atas-bawah-atas-bawah dengan ritme tertentu, anak menyerap informasi yang diberikan oleh mata, telinga, kulit, dan gerakan mengangkat dan menurunkan tangan. Jalur saraf pun terbentuk, memungkinkan ia menggunakan informasi yang diserap untuk memahami dunia. Dengan menatap ke pelatih yang memainkan melodi dengan belira, anak menaikkan dan menurunkan stik, mendengarkan irama, lebur dalam harmoni.
Continue reading »

Calistung & Refleks Primitif 0

“Jadi di sini tidak diajarkan membaca dan menulis?” tanya seorang ibu yang akan mendaftarkan anaknya ke TK A.

Pertanyaan itu muncul setelah saya jelaskan bahwa yang membedakan sekolah kami dengan sekolah lain adalah: tidak menggegas. Artinya, kami memberikan stimulasi edukasi sesuai dengan perkembangan anak. Contoh gampangnya, di sekolah lain anak-anak TK A sudah diajarkan membaca secara visual dan sudah diberi PR, namun pada tingkat TK A kami lebih menaruh fondasi pada rentang konsentrasi, sikap belajar, kemampuan memegang pensil yang matang dan postur tubuh.

Continue reading »

Untuk Bunda Ci yang Putranya tidak Lulus Tes Masuk SD 0

Bunda Ci, saya baru saja membaca suratmu tentang keputusanmu memasukkan putramu ke SD kami. Saya terharu membacanya, membayangkan diri saya di posisimu, dalam kegundahan mempersiapkan masa depan Le. Hati kecilmu memilih kami, sekalipun keluargamu mempengaruhimu agar mencari sekolah beragama yang bonafid.

Kau telah mengirim Le ke “medan perang”, bertempur dengan soal-soal tes masuk SD. Kau menaruh harapan pada dua sekolah, dan kau mendapat kekecewaan dua kali pula: putramu tak lulus. Saudara-saudaramu pun bereaksi lagi: akan mengajari si Le membaca dan menulis dalam waktu dua bulan. Tapi kau sudah lelah untuk mencoba lagi, dan akhirnya kau menulis surat kepada saya.
Continue reading »

Menyiapkan Si Kecil Bersekolah 0

Pengantar:

Si kecil menyerap informasi seperti spons. Dia senang menggambar dan membuka buku cerita. Wah, pokoknya Anda dengan berbunga-bunga bercerita tentang si kecil saat berkumpul dengan ibu-ibu lain.
Lalu Anda pun bertanya-tanya, sudah saatnyakah dia dimasukkan ke sekolah? Apa sajakah yang perlu dipertimbangkan bila dia memasuki dunia sekolah?

1. Kemandirian dan Tanggung Jawab

Pada acara keluarga, Anda dengan bangga melirik pada si kecil yang –meskipun belum bersekolah—sudah terampil mencoret-coret kertas bersama sepupu-sepupunya yang lebih besar, dan di saat makan, dia makan sendiri tanpa disuapi.

Anda pun membayangkan, jika masuk sekolah, si kecil tentu akan dengan mudah mengikuti kegiatan kelas. Ya, Anda benar, perilaku balita seperti itu menunjukkan bahwa independensi atau kemandiriannya berkembang dengan baik. Ahli psikologi anak, Erik Erikson, mengatakan bahwa independensi adalah isu yang penting pada anak yang usia dua tahun. Independensi ini memungkinkan kemampuan motor dan mentalnya berkembang. Jadi anak tak hanya berjalan, tetapi juga memanjat, membuka dan menutup, menjatuhkan barang, menarik, mendorong, menahan dan melepas. Dia merasa bangga dengan pencapaian baru itu, dan selalu ingin mencoba yang baru.

Bila Anda bereaksi berlebihan atau negatif bila dia mengompol, menumpahkan air atau memecahkan sesuatu, maka –menurut Erikson—dalam dirinya akan terbentuk rasa malu. Perkembangan independensi ini akan memberinya keberanian untuk memikul tanggung jawab.

Berikut ini adalah ceklis dari Hopkins Welcoming Schools Program untuk menentukan kesiapan anak
bersekolah di usia 36 bulan dalam hal kemandirian. Anda bisa memakai ceklis ini untuk mengecek sampai sejauh mana kemampuan anak Anda dan apa harus Anda lakukan:
Continue reading »

Mencari Sekolah untuk Totto Chan 0

Pertama kali memasukkan anak ke sekolah adalah pengalaman luar biasa bagi orang tua….

Sekolah A gurunya ramah tapi halamannya sempit, sekolah B fasilitasnya bagus tapi lokasinya dekat menara tegangan tinggi, sekolah C dekat rumah, tapi belum berpengalaman….

Seperti petugas riset saya datangi TK-TK di dekat rumah saya. Di kepala saya sudah ada daftar pertanyaan, serta ceklis untuk mengobservasi fasilitas sekolah dan guru. Tentu saja saya juga siap untuk mengendus apakah di sekolah itu ada kesan menyenangkan seperti sekolah Tomoe di buku Totto-Chan. Saya harus punya data lengkap untuk bos saya… tak lain diri saya sendiri, seorang ibu yang pertama kali akan menyekolahkan anaknya.
Continue reading »

Ilham yang Istimewa 0

Ilham berbeda dari teman-temannya. Dia berada di Tetum sejak menghirup oksigen awal. Dia belajar merangkak di teras Tetum, dia belajar berjalan di konblok Tetum. Dia melatih pendengaran dengan menangkap suara anak-anak di halaman sekolah. Dia melatih penglihatan dari warna-warni tas, seragam dan ayunan. Dia mengembangkan hubungan emosi dengan Kakak-Kakak, yang terkadang mencari hiburan dengan menggendongnya ke kantor, atau melepas kejenuhan menunggu angkot dengan memangkunya di depan gerbang Tetum. Ilham mengembangkan rasa ingin tahunya dari aktivitas Tetum. Ketika usianya beberapa bulan, dia menangis ingin keluar dari rumahnya (yang terletak di samping kantor Tetum) bila mendengar suara musik olahraga di hari Rabu. Setelah umur dua tahun, dia kerap duduk di teras mengamati anak-anak Tetum berolahraga.

Continue reading »

Mama, Rumah SBY di Mana, Sih? 0

Setahun lalu Reza bertanya kepada mamanya di mana rumah SBY dan JK, karena ingin bertemu mereka, dan hari ini harapan itu terwujud: Dia akan membacakan puisi di hadapan RI I. Ini menjadi kegiatan puncak dari serangkaian acara membacakan puisi di depan para calon presiden, setelah Mega dan JK.

Continue reading »

Lukman: Sebuah Potret dalam Paradigma Pertumbuhan 0

(Tulisan ini dibuat untuk anak-anak istimewa di Tetum yang punya cara belajar berbeda, teman-teman sekelas yang mau menerima mereka, dan orang tua yang dapat menjawab dengan bijak tentang kehadiran anak-anak itu)

Lukman memandang kura-kura di air mancur, sementara teman-temannya sedang mendengar Kak Ria mendongeng di teras kelas. Ketika Kak Aas memegang lengan Lukman dan mengajaknya bergabung dengan Kak Ria, Lukman berteriak,“Nggak!” Kak Aas terkejut. Hari itu, tanggal 23 Maret 2009, untuk pertama kalinya di sekolah Lukman mengeluarkan kata bantahan, “Nggak.” Di rumah dia sudah mengucapkan “Nggak” untuk pertama kalinya beberapa hari sebelumnya, yang membuat mamanya terkejut dan gembira.

Continue reading »

Sedang Apa Anda Saad Ini? 0

Kalimat di atas ditulis oleh seorang anak bernama Reza di status Facebook-nya. Tulisan itu merupakan terjemahan dari ”What are you doing right now?”, tagline pada Facebook dalam desain yang lama.

Demam Facebook membuat Reza yang masih kelas 1 SD ingin berfesbuk juga, meski kemampuan baca tulisnya masih terbatas. Reza rajin mengganti statusnya, dan memberi komentar pada foto.

Reza adalah bagian dari masyarakat literasi: ia sadar bahwa tulisan adalah bagian dari kehidupan.

Continue reading »

Next Page »
WordPress design by 3 Roads Powered by WordPress 2.8.4