Tugu Tani dan Kita

Posted by endahws on January 24, 2012 0

Di manakah pendidikan kita ketika kasus Tugu Tani bergulir?

Tidak, saya tidak hendak mengatakan gagalnya pendidikan pada pelaku tabrakan. Tapi saya ingin kita semua berkaca pada peristiwa ini. Ya kita. Ketika semua orang menuding pengemudi mobil itu, sebetulnya keempat jari kembali kepada pemilik tangan. Ketika semua orang menghujat pelaku, bahkan membentuk opini publik, sesungguhnya di situlah kearifan kita diuji.

Kita tidak perlu membahas perilaku pelaku, tapi sebaiknya kita membahas perilaku kita sendiri.

Ketika kita membuat hujatan terhadap si pelaku di status Facebook kita, apakah hujatan kita bukan merupakan pembunuhan karakter terhadap seseorang yang tidak kenal? Apalagi kalau kita memakai istilah hewan tertentu berbadan besar untuk mengasosiasikan dengan si pelaku, apakah kita lebih manusiawi daripada dia?

Sesungguhnya sebuah peristiwa dimunculkan oleh Allah sebagai pesan bagi semua. Termasuk seseorang yang selamat di antara belasan korban, pastilah ada sesuatu yang perlu kita cermati. Setidaknya pengendalian diri kita dalam berkata-kata.

Minat Baca Rendah, Keterpurukan Bangsa & Pengajaran Membaca pada Anak 1

1. Pendahuluan

Indonesia meletakkan misi “mencerdaskan kehidupan bangsa” dalam deklarasi kemerdekaannya (Pembukaan UUD 1945), dan menetapkan “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan” dalam UUD 45. Hal ini berarti UUD 45 melihat bahwa pendidikan adalah suatu hal yang harus dimiliki setiap orang. Para bapak pendiri bangsa melihat bahwa pencerdasan kehidupan bangsa dapat dicapai apabila setiap manusia Indonesia terpapar pendidikan.

Pendidikan adalah bagian dari kehidupan manusia. Secara instingtif manusia melakukan pendidikan terhadap anak-anaknya untuk keberlangsungan hidup manusia. Mendidik berarti membuat manusia menjadi lebih sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dari kehidupan alamiah menjadi lebih berbudaya.[1]

Salah satu cara untuk membuat manusia lebih sempurna dan meningkatkan hidupnya dari kehidupan alamiah menjadi lebih berbudaya adalah dengan membaca. Suatu upaya untuk mendukung perwujudan manusia unggul, maka kita harus mengadakan perubahan sikap dan perilaku budaya dari tidak suka membaca menjadi masyarakat membaca (reading society).[2]

Melalui masyarakat membaca kita akan melangkah menuju masyarakat belajar (learning society). Prinsip belajar dalam abad 21 menurut UNESCO (dalam Soedijarto, 2008)  didasarkan pada empat pilar yaitu : 1) learning to know; 2) learning to do; 3) learning to be 4) learning to live together.

Soedijarto menjabarkan keempat pilar sebagai berikut:

Belajar mengetahui (Learning to know) adalah proses pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai teknik memperoleh pengetahuan dan bukan semata-mata memperoleh pengetahuan. Pilar ini terkait dengan epistemologi, yang mengutamakan proses pembelajaran yang memungkinkan siswa terlibat dalam proses meneliti dan mengkaji.[3]

Belajar melakukan (Learning to do) adalah proses pembelajaran yang memungkinkan siswa mengintegrasikan pemahaman konsep serta penguasaan keterampilan teknik dan intelektual guna memecahkan masalah dan dapat berlanjut pada inovasi dan improvisasi.[4]

Belajar hidup berdampingan (Learning to live together) adalah proses pembelajaran yang tidak hanya membekali siswa dengan penguasaan pengetahuan dan pemecahan masalah, melainkan juga untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, pengertian dan tanpa prasangka.[5]

Belajar menjadi (Learning to be) adalah muara dari ketiga pilar. Dengan tiga pilar pertama diharapkan lahir generasi yang mampu mencari informasi dan/atau menemukan ilmu pengetahuan dan mampu memecahkan masalah, mampu bekerja sama, bertenggang rasa dan toleran terhadap perbedaan. Hasil akhirnya adalah manusia yang mampu mengenal dirinya, yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang mengenal dirinya, dapat mengendalikan diri, konsisten dan memiliki rasa empati.[6]

Akan tetapi 33 tahun setelah Indonesia merdeka (tahun 1998) terjadi krisis multidimensi dan 10 tahun kemudian Indonesia belum juga bangkit dari dampak krisis tersebut. Kenyataan fenomenal ini merupakan indikasi bahwa tujuan mencerdaskan bangsa seperti yang dikemukakan oleh Bapak pendiri bangsa masih jauh dari berhasil.[7]

2. Data-Data tentang Membaca

Krisis yang dihadapi bangsa Indonesia di tahun 1998 mungkin sudah dapat diantisipasi ketika di tahun 1992 International Association for Evaluation of Educational (IEA) menyimpulkan hasil sebuah studi kemampuan membaca (Reading Literacy) murid-murid Sekolah Dasar Kelas IV pada 30 negara di dunia, bahwa Indonesia menempati urutan ke-29 dari 30 negara.[8]

Rendahnya kemampuan membaca menjadi pengukuran kualitas suatu bangsa.  Laporan UNDP  (United Nation Development Program) tahun 2003 dalam “Human Development Report 2003” menyebutkan bahwa berdasarkan angka buta huruf, “pembangunan manusia di Indonesia“ menempati urutan yang ke 112 dari 174 negara di dunia.[9]

Melihat hasil-hasil studi di atas, Baderi membuat kesimpulan sementara bahwa tingginya angka buta huruf dewasa di Indonesia adalah akibat membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa.[10] Oleh sebab itu membaca harus dijadikan kebutuhan hidup dan budaya bangsa kita.

Dalam kaitan dengan gemar membaca itu, Baderi mengatakan bahwa mengadakan perubahan budaya masyarakat memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar satu atau dua generasi.[11] Menurut Baderi, ukuran waktu sebuah generasi adalah berkisar sekitar 15 – 25 tahun.

3. Pengamatan di Lapangan

Kalau Baderi mengatakan bahwa mengadakan perubahan budaya masyarakat (dalam hal minat membaca) memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar satu atau dua generasi. maka menurut hemat penulis tidak demikian adanya.

Berkecimpung di lingkup usia dini (dalam rentangan 2-8 tahun), penulis melihat tingginya keinginan orang tua agar anaknya bisa membaca. Saat mendaftarkan anak ke taman kanak-kanak (TK), sebagian besar orang tua akan bertanya apakah anak mereka akan diajarkan membaca dan menulis. Mereka cenderung mencari TK yang mengajarkan baca tulis. Saat anak mereka telah setahun berada di taman kanak-kanak, di kelas TK B, mereka mulai mempertanyakan kemampuan baca tulis anak mereka. Mereka mulai gelisah bila anak-anak tetangga atau sepupu sudah bisa membaca, sedangkan anak mereka sendiri belum. Apalagi ketika anak mereka akan masuk SD, mereka pun khawatir anak mereka tidak diterima di SD favorit karena belum bisa membaca dan menulis. Ketika anak mereka berada di sekolah dasar kelas awal, mereka berharap anak mereka sudah dapat membaca buku-buku paket, dan melakukan perbandingan dengan anak-anak saudara atau tetangga yang kemampuannya lebih tinggi.

Fakta di atas menunjukkan tingginya kecemasan orang tua terhdap daya saing anak mereka. Mungkin pengalaman keterpurukan bangsa di tahun 1998 dan isu globalisasi membuat orang tua menjadi lebih waspada, dan ingin mempersiapkan anak mereka sedini mungkin agar bisa survive dalam persaingan. Apa yang mereka harapkan tampaknya sama dengan pernyataan Baderi di atas: Salah satu cara untuk membuat manusia lebih sempurna dan meningkatkan hidupnya dari kehidupan alamiah menjadi lebih berbudaya adalah dengan membaca.

Namun ada yang terlupakan dalam menumbuhkan budaya membaca ini. Yang dibangun orang tua adalah keterampilan membaca, bukan kecintaan pada membaca. Apabila yang dikejar adalah keterampilan membaca anak usia dini tanpa memperhatikan prasyarat untuk dapat membaca, maka cita-cita mewujudkan masyarakat belajar (learning society) yang dicanangkan UNESCO tidak akan tercapai. Bagaimanakah kita dapat membangun pilar belajar mengetahui (learning to know) pada anak usia dini, yang memungkinkan anak terlibat dalam proses mengenali bunyi, bentuk huruf, kosa kata dan kemudian mengenali pola bahasa bila yang dikejar semata-mata adalah hasil, kemampuan membaca dan menulis. Apalagi sampai terbangunnya pilar belajar melakukan (learning to do) yang memungkinkan anak  mengintegrasikan pemahaman konsep serta penguasaan keterampilan, yang kemudian dapat mereka gunkan untuk memecahkan masalah, dan kelak dapat berlanjut pada inovasi dan improvisasi. Karena didesak untuk memperoleh pengetahuan, bukan untuk menguasai cara untuk memperoleh pengetahuan, kesempatan anak untuk bertindak dari dalam dirinya menjadi kecil. Ketika mereka tidak mendapat kesempatan untuk kepuasan diri, bagaimana mereka dapat mengenali orang lain? Mustahil pilar belajar hidup berdampingan (learning to live together) menjadi terwujud. Dalam proses ini anak tidak hanya dibekali dengan pengetahuan, melainkan juga untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh pengertian. Sekarang saja pada generasi yang menjadi orang tua pilar ini pun tidak terwujud, dengan kurangnya  pemahaman mereka terhadap kebutuhan anak untuk berkembang. Orang tua hanya tahu anak harus dapat membaca, namun bagaimana anak dapat meraih kemampuan itu, kurang mereka pahami. Apabila ketiga pilar tidak terwujud, maka tertinggi, belajar menjadi (learning to be), menjadi makin sulit untuk dicapai. Dalam pilar terakhir ini tewujud manusia yang –menurut Soedijarto– mampu mengenal dirinya, yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang mengenal dirinya, dapat mengendalikan diri, konsisten dan memiliki rasa empati.

Jadi kalau menurut Baderi mengadakan perubahan budaya masyarakat memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar satu atau dua generasi, itu memang benar. Akan tetapi yang perlu diubah adalah paradigma tentang belajar, bukan semata membaca. Membaca adalah bagian dari belajar.

4. Upaya Meningkatkan Minat Baca

Dengan data-data mengenai rendahnya minat baca bangsa Indonesia, maka langkah yang diambil hendaknya tidak bersifat teknis, misalnya dengan pengadaan perpustakaan, slogan atau perbaikan kurikulum. Jalan keluar bersifat teknik cenderung dipahami secara mentah dan diterapkan secara sama pada semua tahap usia, bahkan kemudian ada kecenderungan untuk menggegas anak usia dini agar bisa membaca.

Untuk perbaikan minat baca bangsa Indonesia, kita perlu kembali ke landasan terbentuknya negara ini. Dalam deklarasi kemerdekaannya (Pembukaan UUD 1945) terdapat   misi “mencerdaskan kehidupan bangsa”, sehingga yang perlu dicapai adalah pencerdasan bangsa. Pencerdasan bangsa itu dapat dicapai melalui pendidikan, karena itu di dalam UUD 45 pasal 31 ayat 1 disebutkan “setiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Di dalam UUD 45 itu disebutkan bahwa pendidikan adalah hak.

Pengertian ini yang perlu digarisbawahi. Bila pendidikan adalah hak, maka setiap individu harus mendapatkannya tanpa syarat, termasuk untuk kenyamanan untuk mendapatkannya. Sesuatu yang menjadi hak berlangsung tanpa adanya paksaan dari luar. Suatu hak akan tumbuh bersama dengan kematangan seseorang.

Dalam kaitan dengan belajar, orang kerap lupa bahwa pendidikan adalah hak bukan kewajiban, sehingga yang perlu dibangun adalah pengembangan untuk berproses meraih pendidikan. Pendidikan hendaknya lebih ditekankan pada proses, lebih berpusat pada anak atau subjek, bukan pada materinya.

Begitu pula dengan membaca, sebagai bagian dari pendidikan. Membaca merupakan jalan untuk menguak ke jendela pengetahuan, karena itu hendaknya seorang anak berproses untuk merasakan indahnya saat menguak jendela itu. Ketika mereka belajar membaca pun, ada tahapan-tahapan yang dilaluinya seperti pilar pengetahuan UNESCO:

  • Belajar mengetahui. Pada pilar ini anak belajar mengenali bahwa dunia ini terkonstruk dalam bahasa. Dalam proses membaca, ia sebaiknya dibiarkan mengenali konsep bahasa sesuai dengan tahapan kognitifnya. Dalam perkembangan ini, pengaruh orang dewasa dalam mengembangkan kemampuan berbahasa sangat penting. Dengan mengajak anak berkomunikasi, kosa katanya akan terbangun. Montessori juga mengemukakan bahwa konsep berbahasa harus dilakukan dengan kegiatan membangun kosa kata, dengan mendongeng, menyanyi, berpantun, dan sebagainya.[12] Jadi yang dilakukan orang dewasa adalah menciptakan situasi yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan bahasanya, dengan melakukan kegiatan bercakap-cakap, bercerita, bertanya, dan menjawab pertanyaan.[13] Pada tahap ini juga mulai dapat diperkenalkan buku, cara memegang buku, bahwa buku dapat dibaca, bahwa halamannya dapat dibalik, dan bahwa cerita di dalam buku mengandung urutan.  Jamaris menyebutnya sebagai tahap timbulnya kesadaran terhadap tulisan.[14]
  • Belajar melakukan adalah proses pembelajaran yang memungkinkan anak mengintegrasikan pemahaman konsep serta penguasaan keterampilan teknik dan intelektual guna memecahkan masalah dan dapat berlanjut pada inovasi dan improvisasi. Setelah kosa katanya diperkaya secara langsung maupun tak langsung, kepada anak diperkenalkan bahwa benda-benda yang dilihatnya ada di rumahnya, katakanlah, bola, tombol, pot, dan ban sepeda memiliki kesamaan di permukaannya, yaitu berbentuk lingkaran. Dalam tahapan kelak ia akan diajak mengintegrasikan pemahaman konsep: bahwa bentuk lingkaran sama dengan /o/, yang kalau dibunyikan membentuk lingkaran di mulut. Pengintegrasian konsep ini juga muncul saat ia berlajar /o/. Ia akan mengaitkan bahwa di dalam cerita yang pernah dibacakan untuknya ia pernah mendengar nama Aldo yang mengandung bunyi /o/, dan bahwa kata bobo (majalah yang dikenalnya) berakhiran /o/ juga. Ketika diajak bermain rima kata, ia akan dengan gembira mendapatkan bahwa kata bando dan aldo (mungkin nama temannya) berakhiran sama.
  • Belajar untuk hidup berdampingan adalah proses pembelajaran yang tidak hanya membekali anak dengan penguasaan pengetahuan dan pemecahan masalah, melainkan juga untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, pengertian dan tanpa prasangka. Dalam hal membaca, apabila anak terpuaskan diberi arahan agar bisa membaca, dan memanfaatkan keterampilannya untuk orang lain. Misalnya, membuat surat untuk teman, membuat kartu ucapan untuk ibu, dan lain-lain. Gambar 1 menunjukkan hasil karya Alif, seorang siswa TK B di Jakarta Selatan, yang dibuatnya untuk ibunya sambil sembunyi-sembunyi. Saat memberikan, ia menyanyikan potongan syair lagu Untuk Mama, “Tak kuberikan sesuatu yang berharga.” Alif, meskipun belum dapat menulis, telah menggunakan kemampuan berbahasanya untuk berbagi dengan orang lain, atas inisiatif sendiri.
  • Gambar Alif

    Gambar Alif

  • Belajar menjadi adalah muara akhir ketiga pilar. Dalam aktivitas membaca, bila ketiga pilar ditujukan agar anak mampu mencari informasi dan/atau menemukan ilmu pengetahuan dan mampu memecahkan masalah, mampu bekerja sama, dan berbagi dengan keterampilan membacanya, pada akhirnya ia akan menjadi sosok yang mengenali apa yang ia kehendaki dalam berilmu. Ia akan membaca untuk kehausan dirinya akan ilmu, dan mengamalkannya pada lingkungan. Sosok seperti inilah yang mungkin dicita-citakan dalam Pembukaan UUD ’45, bagian dari kehidupan bangsa yang cerdas.

5.  Kesimpulan

Menurut beberapa hasil penelitian, minat baca orang Indonesia ditemukan rendah. Akibat dari minat yang kurang itu, daya saing bangsa Indonesia menjadi rendah. Menurut pendapat penulis, yang perlu diperbaiki bukan minat bacanya, namun paradigma belajar. Kita perlu kembali mengkaji empat pilar belajar UNESCO, dan menghayati kembali Pembukaan UUD ’45 dan Pasal 31 ayat 1, agar pendidikan menjadi suatu proses yang mendalam, bukan target dan bukan paksaan yang datang dari orang lain. Saat ini anak-anak usia dini digegas agar bisa membaca, yang berarti mereka digegas untuk mempelajari sesuatu tanpa memperhatikan prasyarat untuk mencapai hal itu. Apabila paradigma tentang belajar telah diperbaiki, otomatis keinginan membaca akan membaik pula.

(Hak Cipta pada endah widyawati. Tulisan dibuat untuk Kelas Pembelajaran Membaca Uhamka; pengutipan harus seizin penulis).

Bibliografi

Baderi, Athaillah. 2005. “Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Melalui Kelembagaan Nasional.” Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Pustakawan Utama. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Fundi Montessori Training Center. 2010  “Language.” Fundi Montessori Training Center. Jakarta: Fundi Montessori.

Jamaris, Martini, Dr., M.Sc., Ed. 2005.  Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Grasindo.

Pidarta, Prof. Dr. Made. 2007. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Soedijarto, M.A. Prof. Dr. 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.


[1] Prof. Dr. Made Pidarta. 2007. Landasan Kependidikan. Jakarta:  Rineka Cipta.

[2]Athaillah Baderi. 2005. “Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Melalui Kelembagaan Nasional.” Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Pustakawan Utama. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia,  hal. 7.

[3]Soedijarto, M.A. Prof. Dr. 2008.  Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Jakarta: Penerbit Buku Kompas,

hal. 130-131.

[4]ibid., hal. 134.

[5] ibid., hal 135.

[6] ibid., hal 136-7.

[7] Soedijarto, op.cit., hal. XLVII.

[8] Baderi. op.cit., hal. 4.

[9] ibid.

[10] ibid., hal. 6.

[11] ibid.

[12] Fundi Montessori Training Center. 2010 “Language.” Fundi Montessori Training Center. Jakarta: Fundi Montessori, hal. 11.

[13] Dr. Martini Jamaris, M.Sc., Ed. 2005. Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Grasindo, hal. 35.

[14] ibid., hal. 54.

Ongkos Becak dari Bu Guru 1

Hari Minggu lalu saya dan teman-teman SMP besuk guru sejarah kami di rumah sakit. Usia beliau di pertengahan 70-an, masih mengingat kami dengan jelas, dan ingin banyak bicara namun terhambat oleh napas yang sulit dan tenaga untuk bersuara yang lemah.

Ketika saya menyalami beliau, beliau mencekal tangan saya agak lama, dan mengusap punggung saya. Kata beliau, sudah lama beliau ingin bertemu dengan saya ….

Mungkin saya lebih lama diajak bicara, selain Sawitri yang dulu menjadi ketua Osis kami. Mungkin saya punya kenangan khusus bagi beliau, karena saya bersahabat dengan putrinya, Endang, dan beberapa kali belajar ke rumah beliau.

Dengan kepolosan anak-anak, saya datang ke rumah guru untuk belajar dengan anaknya. Padahal waktu itu kami kan takut (tepatnya, segan) kepada guru. Tapi saya cuek aja …  karena menganggap rumah yang saya datangi adalah rumah sahabat saya. Mungkin juga saya kepedean dengan nilai-nilai sejarah saya. Yang jelas, ketika menyalami saya beliau berkata, “Dulu belajarnya tekun. Siang-siang panas-panas belajar ke rumah.”

Saya pun menambahi … “Ya pulangnya dikasih ongkos becak.”

Bu Ses tidak menjawab hanya menambah cekalannya, sementara teman-teman yang lain sudah tertawa-tawa, “Pantes rajin belajar ke rumah Bu Ses. Dikasih ongkos. Kok gak bilang-bilang, sih, Ndah.”

Ha ha … saya sendiri malu mengingat saat itu. Dengan polosnya saya menjawab, “Jalan kaki”, jika ditanya pulangnya naik apa. Saya tidak punya ide untuk berbohong ataupun menolak keinginan seorang guru untuk membayar ongkos becak. Mungkin ada sekali atau dua kali beliau memberi saya uang.

Ternyata sahabat saya tidak tahu hal itu. Tiga puluhan tahun kemudian barulah dia mengetahui “rahasia” saya dan ibunya, karena saya membukanya saat saya besuk ibunya. Rahasia yang indah, yang menautkan seorang guru dan muridnya, yang memberi kesan mendalam bagi sang murid, dan menempatkan sang guru dalam posisi humanis.

Karena itulah Bu Ses tidak hendak menceritakannya kepada siapa pun, bahkan kepada anaknya yang menjadi sahabat saya. Saya pun tidak pernah bercerita kepada siapa pun, kecuali di hari itu.

PS: Selamat ulang tahun untuk sahabatku Endang Retno. Semoga menjadi Bu Guru yang akan dikenang seperti halnya ibundanya.

Oma: Tawa, Tangis & Harapan 3

Kemarin adalah Hari Oma untuk saya. Hari untuk merenungi grandparenthood, tepatnya.

Di pagi hari saya besuk oma seorang murid di sekolah. Kebetulan saya dan seorang guru tengah mempunyai urusan di tengah kota, jadi kami mampir ke rumah sakit. Saat itu bukan jam besuk, maka kami minta izin kepada satpam dan suster, yang alhamdulillah mengizinkan kami untuk masuk.

Mula-mula Oma tidak mengenali kami (tentu saja). Namun setelah saya memperkenalkan diri bahwa kami dari sekolah cucunya, wajah beliau tampak cerah, dan langsung bangun. Bahkan memperkenalkan kami kepada teman-teman sekamarnya, sebagai guru cucunya. Kami berdua pun tersipu malu, namun segera sadar bahwa Oma begitu bahagia karena berjumpa dengan orang-orang yang setiap hari bersama cucunya ….

Beliau banyak bertanya dan bercerita tentang cucunya. Juga bercerita tentang cucunya yang lain, baik yang “usil” (menurut istilahnya), maupun yang tengah di Maroko.

Saya berhadapan dengan seorang oma yang bahagia dikelilingi bayangan cucu-cucunya. Yang memberikan cintanya, sekaligus dicintai cucu-cucunya. Dan saya sudah punya feeling demikian, sehingga ketika mendengar Oma masuk rumah sakit, saya ingin cucunya membuatkan hadiah sesuatu yang dijahit untuk omanya. Jahitan adalah keterampilan klasik, sehingga tepat untuk seorang yang sudah sepuh. Lebih dari itu, jahitan itu dibuat oleh cucu laki, dengan spektrum autisme ringan. Tentu sebuah pencapaian besar bagi cucunya untuk bisa duduk tenang dan berkonsentrasi menghasilkan karya hingga selesai.

Saat bersama Oma, diam-diam saya penasaran, jahitan apa ya yang dibuat cucunya untuk omanya di sekolah? Atau mungkin dia tidak membuat apa-apa karena sudah lelah berlatih manasik haji? Ternyata tidak. Ketika saya tiba di sekolah, gurunya mengatakan bahwa hari ini Sang Cucu menyelesaikan jahitan bandonya. Dan bando itu untuk Oma, katanya (padahal beberapa hari sebelumnya dia bilang buat Mama).

Pasti Oma akan tersenyum bangga melihat hasil karya cucunya.

Di malam harinya, saya menelepon seorang oma lain, oma dari murid di sekolah saya juga. Beliau sudah dua kali menelepon pada jam sekolah untuk bicara dengan cucunya, namun saya bilang bahwa saya akan bicara dulu dengan ibu si anak, sebagai walimurid kami. Siang itu saya sudah bertemu dengan ibu si anak, dan karena itu saya pun menelepon oma. Beliau menangis, karena katanya sudah hampir setahun tidak mendengar kabar cucunya. Beliau mendapatkan nomor telepon sekolah kami dari anaknya di luar negeri, yang mencari tahu di website. Saya persilakan kepada beliau untuk datang ke sekolah bertemu cucunya, namun kata oma itu beliau sudah terlalu tua untuk bepergian. Di akhir pembicaraan, beliau berpesan agar saya mendidik cucunya menjadi anak yang baik.

Waw, amanah yang tidak ringan dari seorang nenek. Tentu saja tugas sekolah mendidik anak menjadi seseorang yang baik. Tapi  kalau harapan itu disampaikan dengan cucuran air mata dari seorang yang renta (’70-an tahun kata beliau), tentu dalem banget rasanya.

Dari nada bicaranya –sekalipun bicara terputus-putus oleh tangis– tersirat bahwa beliau lega karena “menemukan” cucunya kembali.

Dua oma yang saya temui hari itu berada dalam kondisi yang berbeda. Yang pertama dalam keadaan berbahagia,  yang kedua dalam keadaan bersedih karena kehilangan kontak akan cucunya. Meskipun demikian, keduanya sama: cucu adalah harapan mereka. Cucu menjadi sosok yang membuat mereka bersemangat.

Dan beberapa hari silam, di hadapan saya, seorang konselor lupus membesarkan hati adik ipar saya –seorang perempuan muda– yang tengah galau setelah didiagnosis lupus. Ini nasihatnya, “Kamu punya anak masih 10 bulan kan? Ingin kan melihat dia besar dan menikah? Kalau bisa, melihat anaknya menikah juga. Jadi ayo bangun. Kamu harus bisa bertahan.”

Adik ipar saya menggigit bibir menahan tangis. Mungkin proyeksi ke depan masih kabur baginya, tapi konselor  itu membesarkan hatinya, bahwa melihat anaknya punya anak adalah sesuatu yang indah, dan harus diperjuangkan.

Mudah-mudahan adik ipar saya pun kelak bisa betul betul merasakan seperti kedua oma  yang saya temui hari itu: energi cinta kepada cucu dan semangat yang diperoleh dari pancaran energi itu.

Kambing untuk Lukman 4

Lukman


1 November 2011, 09:03 (saya mengirim SMS kepada mama Lukman, salah seorang murid SD kami yang memiliki kecenderungan autistik)

Mama Lukman, mau mengajarkan konsep kurban ke Lukman? Tapi lebih ke sensasi membeli kambing, merawat, mengenali bagian kambing, dan menyerahkan ke mesjid ya, bukan pemotongannya.

1 November, 09:07 (setelah dibalas oleh Mama Lukman: “Mau, tapi gimana caranya?”)

Kalau berkenan, boleh kambingnya di sini? Tapi kalau memang mau memotong kurban ya, dan tidak ada tempat khusus yang dituju.

1 November, 09:14 (setelah dibalas lagi, bahwa akan ditanyakan ke papanya. Mama Lukman menambahkan bahwa Reza, kakak Lukman, mungkin akan senang saja bila kambing mereka dikirim ke Tetum, sekalipun papa mamanya belum pernah berkurban di sekolahnya. Reza ketika TK bersekolah di Tetum, dan kini kelas IV SD di Depok).

Iya, seandainya bisa buat Lukman, mungkin akan berarti, karena dia lagi menikmati bersama teman. Meskipun akan ada kambing yang direncanakan akan “dibeli” oleh Kelas Merkurius, akan berbeda kalau Lukman “punya kambing”. Di rumah dia mendengar diskusi tentang hewan kurban. Saya terinspirasi ini setelah lihat Lukman begitu tekunnya menggambar di antara Pandya dan Raffi.  Dan tadi saya berpapasan dengan Lukman saat berjalan bersama teman-temannya ke kebun untuk bermain musik.

(melakukan kegiatan motorik halus, ataupun kegiatan bersama kelompok adalah “sesuatu” dengan proses panjang, dan tidak mudah, bagi Lukman sejak dia berada di Kelas Darat, empat tahun lalu).

1 November 2011, 09:28 (setelah dibalas oleh Mama Lukman bahwa beliau senang Lukman mulai berteman, dan beliau akan memberi jawaban ASAP setelah bertanya kepada papa Lukman).

Ya, seandainya aja ya …

1 November 2011, 09:33 (saya lupa jawaban mama Lukman karena sudah saya hapus)

Ya, tadi saya tanya Kak Indah (terapis kami) apakah momen ini baik dipakai untuk memperkenalkan kurban kepada Lukman, dan Lukman mengisi pertemanan itu dengan sesuatu yang dia punya. Kak Indah matanya berbinar-binar setuju:). Mudah-mudahan papanya setuju juga, ya.

1 November 2011, 09:51 (mamanya bilang, beliau berbinar-binar juga matanya)

Lukman bikin semua jadi semangat:) Ngebayang dia dan teman-teman naik angkot (carter), terus pilih kambing, bayar, bawa kambing pulang. Tapi sebelumnya sudah ada nego harga sama tukang kambing dan sudah dipilih juga kambing yang akan dibeli, Beli kambingnya di Timbul III, soalnya di tempat yang dulu tidak jualan lagi.

(Pada realisasinya, kami memindahkan tempat penjualan kambing ke lokasi yang tidak terlalu jauh dan tidak banyak kendaraan lalu-lalang. Mereka pun cukup berjalan satu kilo, dan tidak perlu naik angkot).

1 November 2011, 10:29 (mama Lukman bilang, “Ow lutuna… Semangat deh Lukman.” )

Alhamdulillah. Kelas Merkurius beli hari Kamis. Tadi Lukman sudah minta belajar dengan control cards tentang bagian-bagian kambing. Sayang mintanya pas mau berangkat ke mesjid, jadi belum terlaksana.

1 November 2011, 17:31 (mama Lukman mengirim SMS bahwa Reza senang kambing mereka dikirim ke Tetum, dan dia akan diajak menengok sepulang sekolah).

Waw, Reza kapan mau datang?

1 November 2011, 17:47 (Mama Lukman bilang hari Kamis sore kalau tidak hujan)

Kambing Lukman dibeli hari Kamis, dan Jumat dibawa ke mesjid. Kalau datang Kamis bisa dilihat di sini. Biarpun datang malam, ditunggu:)

1 November 2011, 17:49 (Mama Lukman memastikan Reza akan dijemput dari sekolah dan langsung diajak ke Tetum)

Siip … Kambingnya atas nama siapa? RezaLukman? Hari Kamis saya tunggu ya.

1 November 2011, 18:06

Oke saya tunggu ya.

2 November 2011, 06:26 (setelah Mama Lukman mengirim SMS bahwa Reza ingin domba. Mamanya mengatakan bahwa kalau ada stok, akan dibelikan domba)

Oke, Dek Reza!

2 November 2011 20:39 (begitu pulang dari aktivitas panjang, saya teringat kambing Lukman).

Tadi Lukman sudah mulai sounding “kambing aku”, dan cari-cari Kak Samsul (Ketua Panita Qurban). Jadi, perlu diganti domba gak ya? Saya takut jadi kabur antara kambing dan domba buat Lukman. Tadi sih saya sudah pesan untuk dicarikan domba yang tanduknya melingkar.

2 November 2011 21:57 (Mama Lukman membalas: “Oh hihihi kayanya nggak masalah, boleh kambing. Sudah dibilangin ke Reza kalau nggak ada domba boleh kan diganti kambing & Reza setuju.”)

Tadi Lukman bilang “Kami mau membeli kambing” (kadang Lukman memakai kata ganti “kami” sebagai pengganti “aku”) dan peluk Kak Wiwik (gurunya).

Mama Lukman membalas, Waduuuh senengnya… Kak Endah, jadi kepingin difoto boleh nggak? (biasa deh, maniak dokumentasi) Seandainya boleh, saya menunggu ditempat beli kambingnya, gitu?” Saya balas, boleh.

Apa yang terjadi pada Lukman menunjukkan bahwa dia telah menyerap konsep  ”memiliki” kambing. Berbeda dengan tahun lalu: dia diam saja dan hanya menggandeng lengan gurunya saat bersama teman-temannya membeli kambing.

Pada hari Kamis, ketika datang ke sekolah dia mengatupkan jari-jarinya dan mengatakan kepada setiap kakak yang ditemuinya, “Mohon boleh membeli kambing.”

Ya, tentu boleh, Lukman …. Momen Idul Adha ini pemahaman Lukman naik setapak lebih tinggi …. Memang belum sampai “membeli” (karena tempat jual beli yang berbeda daripada yang biasa dikenal Lukman, apalagi sampai mengaitkannya dengan kurban. Tapi ada hal penting: Lukman menjalin hubungan emosi yang dekat dengan hewan kurbannya, lebih dekat daripada biasanya …. Dia mempersiapkan diri untuk membeli, dia memilih domba daripada kambing (yang sebetulnya memang dipersiapkan untuknya), dia berjalan bersama-sama teman ke kandang hewan di lapangan, dia berjalan membawa tali pengikat domba (walaupun dibantu), dia memberi makan domba di sekolah, dan sorenya dia kembali lagi ke sekolah untuk menunjukkan dombanya kepada kakaknya.

Kalau Lukman belajar mengenal hewan kurban, saya belajar tentang bagaimana memperkenalkan hewan kurban kepada anak dengan kecenderungan autistik. Tidak mudah, tetapi indah dan penuh tantangan, dengan hipotesis yang patah di lapangan, dan menuntut saya untuk meraih kesabaran Ibrahim.

RezLuk

(Foto: pinjam koleksi Mama Lukman)

Surat untuk Biru*) 5

Biru, sore ini kami datang ke rumahmu di tengah hujan deras.  Kami baru mendengar berita tentang dirimu tadi pagi, karena Nino baru masuk sekolah hari ini.

Hampir seminggu kepergianmu, di rumahmu tanda-tanda rumah duka masih ada. Di depan rumah ada papan bunga duka cita, yang terjatuh. Bersama seorang guru saya mengangkat dan menyandarkan papan bunga itu, agar mama Gema dapat parkir merapat ke pagar rumahmu.

Kami datang beramai-ramai. Guru-guru di sekolah Nino, baik yang tengah, pernah, ataupun belum pernah mengajar Nino, juga mama Gema, teman adikmu.

Ibumu jarang datang ke sekolah, tetapi selalu hadir bila saya minta datang untuk membahas perkembangan adikmu.  Saya –dan kakak-kakak kelas–  merasa adikmu perlu perhatian dari orang tuanya, agar rasa percaya dirinya berkembang baik. Untuk itu, saya selalu meminta agar ibumu menyempatkan hadir  pada acara Nino, entah  prosesi ulang tahun, atau di saat Nino jadi pemimpin, atau di acara-acara lain.

Mungkin di saat itu ibumu galau, karena harus membagi prioritas untuk putra-putrinya. Dan saya akui hari ini, tidak salah kalau beliau memprioritaskan dirimu. Perasaan seorang ibu tentu ingin melindungi anaknya, apalagi kalau keadaannya seperti dirimu, seorang autis nonverbal, dalam kondisi low function pula.

Keadaan seperti itu pula yang membuatmu sulit mengekspresikan rasa sakit, di hari-hari terakhirmu, bahkan mungkin kau pun tidak dapat merasakan dengan pasti bagian mana dari tubuhmu yang sakit. Kata ibumu, di malam hari kau kerap mandi dan minum, bahkan dengan air di kamar mandi. Adikmu dengan pikiran kanak-kanaknya bercerita pagi ini, bahwa kau sakit karena minum air mentah.

Di saat bercerita tentang  dirimu yang tak dapat mengekspresikan rasa sakit, ibumu tak dapat menahan air mata. Tapi saya melihat pancaran kebahagiaan karena tak pernah jauh darimu sejak kau lahir, menemanimu di hari-harimu di sekolah luar biasa, hingga membisikkan talqin di saat terakhirmu.

Ya, sore itu wajah beliau tampak bersih. Beliau mengakui bahwa beliau sering berdalih tentang dirimu sehingga tidak bisa datang ke sekolah Nino.  Tapi sekarang, beliau akan memberi perhatian kepada Nino. Beliau akan menghadiri upacara Sumpah Pemuda di sekolah lusa, untuk menyaksikan Nino menjadi petugas upacara. Ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi Nino karena dia akan menyandang peran penting, dan disaksikan ibunya, untuk pertama kalinya.

Bersamamu, ibumu telah belajar tentang mendampingi anak. Dan pastinya beliau akan melanjutkan tugas yang telah dijalankan dengan indah  itu bersama anak-anaknya yang lain.

Selamat jalan, Biru. Di usiamu yang baru 12 tahun, kau telah menorehkan pengalaman luar biasa dalam kehidupan seorang ibu. Maafkan saya, yang telah mengganggu kekhusukan itu, demi adikmu.

*) Semua nama adalah samaran

Makhluk Hidup 2

Sore ini dua kakak bercerita bahwa mereka kehilangan silinder terkecil dari perangkat balok silinder. Mereka menduga, kalau tidak X, ya Y yang menyembunyikannya. Sayangnya, karena keduanya anak berkebutuhan khusus, mereka tidak bisa ditanya di mana benda itu.

Balok silinder adalah salah satu alat peraga Montessori. Satu set terdiri dari empat balok, dan masing-masing balok berisi 10 silinder dengan dimensi berbeda. Alat itu digunakan untuk melatih kepekaan dimensi berat dan ukuran secara sensoris.

Balok itu tidak murah, tetapi heran, saya mendapatkan diri saya tenang saja mendengar laporan itu, dan hanya berkata, “Dicari dulu saja.”

Beda dengan seminggu yang lalu ketika saya mendengar sekitar 10 butir telur ayam yang tengah dierami pecah, karena seorang anak menusuk-nusukkan bilah kayu ke dalam kandang. Saya sendiri melihat, bagaimana induk ayam berteriak keras. Saya membayangkan kecemasan seorang ibu yang ingin melindungi anaknya dari bahaya. Namun semakin keras ayam itu berteriak, semakin gembira tampaknya wajah si anak.

Saya sedih ayam itu merasa tersiksa. Ketika si anak diminta menghentikan, dia menaruh bilah kayu, tapi dengan cepat dia mengambil bilah itu lagi, dan menyodokkan ke dalam.

Segera saya meminta Bagian Administrasi untuk menyusun jadwal pertemuan dengan ibu anak itu, karena tampaknya ada perubahan dalam diri si anak, sehingga dia mencari respon dan meminta perhatian.

Apalagi beberapa hari sebelumnya dia juga mencabuti padi kami yang sedang tumbuh. Oh no …. itu adalah “megaproyek” sekolah, sesuatu yang diperjuangkan agar anak-anak tahu dari mana makanan yang mereka santap setiap hari berasal. Dan kami mendatangkan seorang ahli –Pak Choir– untuk menyulap lahan kecil menjadi sawah. Maka ketika selembar daun dibuang sia-sia, saya merasa sedih.

Saya baru menyadari kesedihan saya ketika makhluk hidup di lahan kami tidak mendapatkan kesempatan hidup seperti haknya. Sekalipun secara rupiah harga ayam dan bibit padi lebih murah daripada 1 set balok silinder –tidak termasuk ongkir dan bea cukai– nilai makhluk hidup tentu tak bisa dihitung dengan rupiah. Kalau salah satu persyaratan alat peraga Montessori adalah dalam hal presisi (ketepatan bentuk, berat dan warna), maka presisi buatan Tuhan tidak perlu dipertanyakan. Suara petoknya yang keras sudah menunjukkan ada rasa ketakutan. Dari posisi tubuhnya yang langsung berdiri sudah terlihat sikapnya yang siaga. Dari seekor ayam, banyak yang bisa dipelajari.

Begitu juga dari sebatang daun padi. Saat anak-anak menanam padi mereka merasakan bagaimana lumpur tempat padi itu tumbuh, dan mereka melihat bagaimana padi itu berkembang dari minggu ke minggu. Sebuah proses yang menjadi sumber ilmu bagi siapa pun yang ingin belajar.

Begitu besar kontribusi hewan dan tumbuhan bagi perkembangan daya pikir, kemampuan taktil (raba), serta kemampuan visual dan auditori anak. Karena itu kehidupan makhluk-makhluk Tuhan itu perlu dihargai, kan?

Teringat Hamdi 8

Hari Minggu lalu teman-teman SMP saya bertandang ke sekolah. Saya memang menawarkan mereka untuk bersilaturahmi di sekolah. Daripada di mal atau saung kuring kenapa tidak di saung sekolah?

Sesimpel itu.

Ternyata tidak. Mereka bertanya tentang sekolah saya, dan saya pun bercerita bahwa di sekolah saya ada beberapa anak berkebutuhan khusus dalam berbagai kasus.

Saat bercerita, tiba-tiba saya teringat pada Hamdi, teman SMP kami juga. Hamdi tidak ada dalam acara-acara reuni, karena dia sudah tiada. Saya tidak tahu kapan dia meninggal, karena kami tidak pernah saling kontak. Ah, jangankan setelah lulus, pada saat masih SMP pun saya tidak pernah berbicara dengannya.

Saya memang “kurang gaul”, dan hanya berteman dengan orang yang mau menyapa saya.

Hamdi tidak pernah menyapa saya. Bahkan besar kemungkinan dia tidak pernah menyapa teman lain, sekalipun bertipe hore. Dengan kondisinya, pastilah dia harus berperang melawan keberanian untuk menyapa teman.

Hamdi menderita epilepsi. Epilepsi adalah gangguan pada otak yang menimbulkan serangan mendadak, dalam bentuk kejang. Seingat saya, Hamdi selalu kejang bila kami akan ulangan. Dia akan menggelepar-gelepar di lantai, dengan mulut berbusa, dan kami pun lari keluar kelas.

Jujur saja, ada rasa gembira –terutama bila saya merasa tidak siap– ketika Hamdi kejang, dengan mulut berbusa, dan guru pun jadi sibuk, lalu ulangan ditunda.

Kini saya merasa bersalah. Serangan pada Hamdi termasuk grand mal (serangan besar), yang ditandai dengan keadaan jatuh ke lantai, dan kemudian berangsur-angsur berkurang, dan  melemah.  Yah, waktu itu kami masih SMP kelas 1, tidak tahu apa-apa tentang epilepsi, dan tidak ada sosialisasi tentang pertolongan pertama. Seharusnya dulu ketika Hamdi jatuh, tubuhnya perlu dibalik atau dimiringkan agar tidak tersedak, lalu mulutnya digigitkan sendok atau serbet agar lidahnya tidak tergigit, dan dijauhkan dari meja dan kursi agar tidak cedera. Seharusnya juga Hamdi dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Tapi waktu itu kami berlari keluar, dan kemudian mengintip ke dalam untuk melihat apa yang dilakukan guru. Ketika kami masuk, Hamdi sudah duduk tepekur. Pastilah badannya dalam keadaan tidak nyaman. Tapi seingat saya, dia tidak diajak pulang.

Yah, di tahun ‘70-an penanganan anak berkebutuhan khusus tidak seperti sekarang. Tidak ada terapi, tidak ada sosialisasi tentang pertolongan pertama (bahkan kami kabur karena takut tertular bila terkena busa dari mulutnya).

Hamdi di awal remajanya mungkin hidup dalam sunyi. Mungkin juga dia mengalami gangguan kognitif atau motorik yang biasanya menyertai penderita epilepsi (meskipun belum tentu). Pada saat kami membina persahabatan, mulai naksir-naksiran, membuat grup vokal, atau ikut Pramuka, Hamdi entah ada di mana.

Kini ketika kami bereuni, tertawa dan saling ejek, Hamdi berada di tempat yang tenang.

Siang itu, saat teman-teman datang ke sekolah, saya kembali teringat kepada Hamdi. Seandainya saya bisa menulis untuk dia, maka saya akan mengatakan bahwa di sekolah kami ada seorang penderita epilepsi ringan. Dia seorang yang cerdas, namun mengalami gangguan hemiplegi (gangguan pada satu sisi tubuh). Kami membuat program agar dia  melakukan kegiatan sehari-hari –membuka sepatu, membuka tas, mengambil buku, serta mengambil alat peraga– dengan tangannya yang selama ini tidak berfungsi. Kami juga melatihnya untuk melompat dengan dua kaki. Dua minggu lalu, saat berkenalan dengan tamu dari Diknas, dia dengan bangga menunjukkan kemampuan melompatnya. Anak itu tumbuh dengan rasa percaya diri sama dengan anak lain.

Hamdi dan anak itu hidup di era yang berbeda. Kalau Hamdi hidup dengan minim pertolongan, maka anak-anak berkebutuhan khusus saat ini mempunyai kemungkinan mendapat bantuan lebih besar untuk berkembang optimal.

Di antara riuhnya gelak tawa teman-teman, dan anehnya menjadi senyap ketika saya berbagi tentang ABK, saya berdoa untuk Hamdi.  Dia tidak mendapatkan apa yang seharusnya dinikmati anak seusianya. Tapi semoga kekurangan di dunia itu menjadi syafaat baginya.  Amiin.

Ayo, Lihat Tiaz, Kak Endah 1

Hari ini ketika aku membaca buku perpustakaan, Tiaz tiduran di sofa. Ketika makan dia hampir muntah. Kak Wiwik memegang kening dan lehernya, lalu berkata, “Tiaz panas. Pulang saja, ya. ”

Aku segera ke ruang Kak Endah, dengan masih memakai kalung “Perpustakaan”. Aku membuka pintu, dan masuk. Kak Endah sedang di depan komputer.

“Kak Endah, Tiaz sakit. Ayo lihat.”

Kak Endah bilang, “Iya Lukman. Nanti Kak Endah ke sana.”

“Ayo cepat … Dia panas.” Aku memegang keningku untuk meyakinkan dia, lalu kembali ke kelas.

*) Lukman adalah murid kami di Kelas Merkurius yang memiliki kecenderungan autistik. Laporan yang disampaikannya menunjukkan bahwa dia sudah tahu peka pada keadaan genting, dan tahu siapa yang perlu dilapori kondisi itu:) Dia tidak ke kakak-kakak kelas di sebelahnya, juga tidak ke ruang Kak Indah, terapis. Hebat Lukman!

Tiaz makan apa? 0

Seperti biasa aku turun dari mobil dan masuk sekolah melalui gerbang samping, pintu kecil dari bambu, lalu mengitari kebun belakang, untuk masuk ke gedung sekolah. Itu adalah rute untuk anak-anak sekolah dasar di sekolah kami.

Jumat itu, aku melihat beberapa kakak di pintu belakang. Muncullah ideku …. Aku pura-pura berjalan ke luar lagi sambil melihat ke depan. “Tiaz*) mau ke mobil,” kataku.

Ha ha kena deh. Salah seorang kakak menegurku. “Kok Tiaz mau ke mobil lagi, ayo masuk,” kata salah seorang di antara mereka. Itu memang keinginanku. Aku ingin ditegur.

Lalu aku pun berjalan melintasi kakak-kakak dengan tatapan ke depan. Aku tidak ….

“Tiaz tidak salam?” tanya mereka. He he, itu memang yang kuinginkan. Aku ingin diajak bicara.

Setelah salam aku berkata, “Tiaz tadi sarapan apa?”

Hi hi … Salah seorang kakak bertanya, “Oh oke deh … Tiaz tadi sarapan apa?”

“Naget,” kataku. Puas, karena sudah ngobrol …

Aku pun melepas sepatu dan kaos kaki, meletakkan sepatu di rak, menyimpan tas, mengisi lembar absensi, lalu keluar lagi memakai sandal jepit.

Ketika melewati Kak Wiwik, dia bertanya, “Tiaz, sekarang tanggal berapa?”

“Dua puluh satu Oktober dua ribu sebelas,” kataku sambil berjalan ke kebun.

“Ini hari apa?” tanya Kak Wiwik lagi.

“Senin,” jawabku.

“Ini bukan Senin. Ini Jumat, Tiaz. Kalau hari Jumat Tiaz pakai baju apa?”

“Bebas.”

“Waw, hebat … Tiaz udah bisa tanya jawab panjang,” kata seorang kakak.

Lalu aku pun berkata, “Tiaz sarapan apa?”

“Oh Tiaz ingin ditanya sarapan apa? Ya deh … Tiaz sarapan apa?”

“Ayam,” jawabku.

“Lho tadi katanya naget, sekarang ayam. Naget ayam ya?”

Aku melompat-lompat di kebun. Aku gembira. Aku senang mengobrol.

*) Tiaz adalah salah seorang murid SD kami yang didiagnosis autis. Adalah sebuah proses panjang hingga dia sampai ke tahap tanya jawab panjang seperti di atas. Percakapan itu tidak hanya membuat Tiaz melonjak-lonjak gembira, tapi kami pun gembira dan takjub pada peristiwa di pagi itu.

Next Page »
WordPress design by 3 Roads Powered by WordPress 2.8.4