Vivat Academia

Lagi, lagu Gaudeamus Igitur melantun, dan saya memberikan ijazah Diknas kepada orang tua murid. Berbeda dengan biasanya, kali ini para ibu menangis dan kami berpelukan erat. Mata mereka basah, terutama yang akan pergi meninggalkan kami, pindah ke SD lain.

Emosi mereka sudah terguncang, sepertinya, menyaksikan putra-putri mereka menari dan menyanyi –dengan keseseriusan, rasa malu ataupun kesalahan sehingga diingatkan teman. Beberapa mengusap mata, yang tersembunyi di balik kacamata, ketika anak-anak menyanyikan lagu “Untuk Mama”. Mereka tambah menangis lagi ketika putra-putri mereka memberikan hadiah, berupa ucapan terima kasih.

Ini adalah momen yang menjadi ujung pengalaman bersekolah di “sekolah Totto-Chan”, begitu julukan seorang ibu di acara itu kepada saya.

Ups, ternyata seorang anak, bingung tidak dapat memberikan hadiah itu karena ibundanya sudah pulang, menghadiri acara wisuda kakaknya. Saya pun teringat pada anak bungsu saya ketika SD. Acara wisudanya berbarengan dengan wisuda sekolah kami, sehingga dia baru bisa mengalungkan melati ke leher saya, sesudah acara berlalu. Dia datang menjemput saya dengan mata berlinangan memberikan kalung itu. Pastinya saya merasa bersalah karena tidak hadir pada acara pentingnya. Tapi ada hal penting yang dipelajarinya: berbagi hal penting dengan orang banyak.

Pastinya wisuda menjadi sebuah milestone dalam kehidupan seseorang yang menjalani pendidikan. Wisuda di level TK, menjadi awal dari wisuda-wisuda berikutnya yang datang kelak …. Menjadi momen bagi orang tua untuk merenungi langkah yang mereka ambil. Merayakan apa yang sudah dilakukan …. Memikirkan langkah berikutnya lagi untuk buah hati tersayang ….

Sepasang ayah bunda bercerita kepada kami, bahwa mereka akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan kembali putri tersayangnya ke sekolah kami setelah semula berencana memasukkannya ke SD Negeri. Si anak mengangguk setuju untuk masuk sekolah negeri ketika diajak berbicara mengenai sekolah lanjutannya. Akan tetapi saat bertengkar dengan kakaknya terdengar kalimat ini, “Kakak ngalah dong. Kan Kakak udah enak sekolah di SD Tetum. Aku kan nggak ….”

Wow …. Itu yang membuat mereka akhirnya mendaftar di SD kami, di sekolah Totto-Chan. Mereka takut mengambil langkah yang salah, bukan karena kami sekolah “ter”, tapi karena tidak mengikuti keinginan terdalam si kecil ….

Mungkin hal itu pun menjadi renungan saat prosesi ijazah dan mengalun stanza

Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quodlibet;
Vivant membra quaelibet;
Semper sint in flore.

Selamat jalan … Semoga pengalaman di “sekolah Totto-Chan” akan menjadikanmu kelak seberhasil Tetsuko Kuroyanagi.

Negeri Eksotis

Hari ini Unit SD mengadakan syukuran berakhirnya tahun 2013-2014. Seorang anak, ketika diminta ke depan, mengatakan, “Aku nggak tau mau bilang apa. Pokoknya aku seneng banget di Tetum.” Dia menangis sesenggukan, menulari teman-temannya.

Seorang anak Kelas 1 mengatakan, “Aku seneng banget diajak ke xxx (tempat karyawisata).” Tiba-tiba dia melanjutkan, “Pak Roni makasih ya udah turunin aku dari motor.” Lalu dia memanggil, “Bu Tisna, Bu Tisna …. makasih ya ….”

Peristiwa itu sangat mahal bagi saya. Tak terbeli. Karena kepercayaan anak adalah murni, dan tak bisa didapat dengan mudah. Bukan berarti kami selalu “memanjakan” mereka, maka mereka menyampaikan perasaannya seperti itu. Tidak. Perjalanan dari hari ke hari penuh naik dan turun, kadang ada ulat, kadang ada jalan setapak licin, seperti bukit yang ada di halaman kami.

Tahun ajaran lalu mengajak saya ke titik ke terendah. Sekalipun demikian, saya tidak boleh memperlihatkan apa pun perasaan saya kepada orang lain. Sometimes, terbersit keinginan mewujudkan cita-cita lama saya — traveling ke negeri-negeri eksotis dan membuat buku, di saat menemui jalan buntu yang menghujam. Tapi tidak, pikiran itu tidak saya suburkan. Saya harus menghadapi segala hal, apa pun yang terjadi.

Di saat terjepit, ada rasa seperti saat-saat  saya akan melahirkan dahulu. Takut, kabut, dan kelu yang tak dapat saya hindari karena saya berada di tahap point of no return. Proses itu harus saya jalani, sekalipun sakit.

Kini pun saya demikian ….

Kalau orang bisa dengan mudah mengatakan ingin pindah kerja, maka saya tetap di sana. Tegak. Melanjutkan suatu hal yang sudah saya mulai ….

Saya kerap berkaca pada perusahaan penerbangan. Risiko yang mereka hadapi lebih besar daripada mengelola sekolah, tapi tokh mereka tetap berjalan, dan mengisi “perbekalan” dengan lebih baik.

Penghayatan itu saya rasakan ketika sendirian berada di bandara. Hilangnya pesawat, terlambatnya jadwal, berita di media massa, hujatan masyarakat …. tak mempengaruhi kehidmatan perusahaan itu dalam bekerja.

Kenapa saya harus bepergian mencari negeri eksotis untuk mengisi diri?

Sebuah tempat di antara rimbunan bambu adalah negeri eksotis, tempat saya melakukan perjalanan jauh. Sangat jauh, dan hanya saya yang merasakannya.

Pernyataan anak-anak hari ini adalah jawaban dari langit mengenai perjalanan saya.

 

Yes, I am in Love

Bagaimana rasanya jatuh cinta? Tak tergambarkah dengan kata-kata? Pastinya menjadi tantangan bagi saya untuk mengekspresikannya dalam kata-kata. Oh, tapi perlukah itu? Saya pikir tidak ….  Ketika kita jatuh cinta, maka kita tengah melakukan hubungan terdalam dengan Sang Segala Maha. Dan itu tak perlu digambarkan, diceritakan atau apa pun.

Ya, saat ini saya merasa sedang dalam posisi “online” dengan Dia; bahkan saat saya terjaga pun saya menyadari bahwa saya jatuh cinta. Kalau kita jatuh cinta maka kita ingin terlihat menjadi yang terbaik di mata sang kekasih, maka saat ini saya pun ingin terlihat baik, dengan cara malah tidak menjadi siapa-siapa, dan apa-apa.

Misalnya, saat Family Gathering Sabtu lalu, saya menikmati posisi dalam keheningan. Saya mengobrol dengan para juri Lomba Stan Ramah Lingkungan, dan saya persilakan Kak Wiwik untuk memberikan hadiah. Saat memberikan sambutan, saya juga mengedepankan Kak Wiwik, dan menyampaikan kepada audiens bahwa Kak Wiwik berbeda dengan saya karena punya power menggerakkan massa secara verbal.

Saya juga mengelak ikut rapat persiapan Family Gathering dengan orang tua murid, agar mereka lebih melihat guru-guru daripada saya. Kalau saya di sana, pasti saya jadi dominan. Sesungguhnya saya bukan tipe dominan, tapi somebody who enhances,  memberikan penguatan kepada lingkungan. Saya kemudian memang terlihat dominan, tapi itu lebih karena saya punya dasar dalam melakukan sesuatu.

Salah satu hal yang saya kuatkan kepada lingkungan adalah mendengarkan kata hati. Misalnya saja, saat menerima seorang guru, saya akan mengarahkannya agar dia tumbuh dengan passion-nya. Saya percaya bahwa langkah kita dipandu oleh panggilan hati. Akan tetapi kerap kita tidak mengindahkan suara hati karena terserap oleh patokan yang dipegang oleh pihak luar.

Ini kemudian yang menjadikan Tetum menjadi unik, kalau tidak dikatakan aneh. Ada yang kontra, tetapi lebih banyak lagi yang pro. Artinya, kami menjadi lebih selektif memilih orang tua yang sejalan dengan paradigma kami. Kabar baiknya adalah, kurikulum pemerintah yang baru, disebut K13, mirip dengan apa yang kami lakukan, karena mengedepankan great fun, great learning dan great teaching.

Penguatan yang saya berikan adalah agar setiap orang mengenali diri, dan berkontribusi pada bumi. Alhamdulillah di kegiatan Family Gathering para orang tua mengikuti arahan. Mereka membawa tikar, tas belanja, dan para pemiik stan tidak menggunakan plastik kresek.

Yah, buat saya go green bukan slogan kulit. Rumah saya hampir mirip rumah pemulung, dengan barang-barang yang dicuci kembali apabila habis dipakai. Alhamdulillah, saya tidak pernah konflik dan Pak Sampah RT yang sering datang terlambat, karena tong sampah saya kering.

Saya memang sedang jatuh cinta pada bumi, kehidupan, lingkungan, pengetahuan …. Just name it ….

Tapi itu belum apa-apa dibandingkan apa yang saya peroleh.

Misalnya, di suatu hari di tanggal 10 Juni … masuklah serombongan anak ke ruang saya. Kemudian serombongan lagi, serombongan lagi. Mereka membawa kue, dan hasil karya berupa kartu ucapan. Bahkan sampai di pintu-pintu gerbang, untuk antre. Semua menyalami, sampai saya secara otomatis mencium semua pipi, termasuk pipi seorang guru lelaki muda, yang kemudian saya dorong ketika saya sadar. Yah, sebetulnya tidak apa-apa, karena dia hampir seumuran anak saya. Tapi secara profesi seharusnya tidak demikian:)

Hari itu saya menyadari bahwa begitu banyak yang diberikan Tuhan kepada saya, tapi kadang tidak cukup cinta saya untuk membalas semua itu.

God, thank you for this beautiful life. Forgive me if I don’t love it enough.

 

Untuk Langit

Langit, kenalkah kamu pada harapan? Oh oke, kamu masih terlalu muda untuk mengenal kata itu. Harapan adalah sesuatu yang menyenangkan yang membuat kita bersemangat. Misalnya, kamu bersemangat pergi ke sekolah karena ada harapan akan bermain dengan teman-temanmu.

Oh maaf mungkin contoh itu salah, karena saya dengar kamu tidak bahagia bersama teman-temanmu. Kamu merasa diejek terus oleh teman-temanmu …

Oke-oke, Langit, saya tak akan bertanya apakah kamu pernah menangis ataupun pernah merasakan kesedihan. Bolehkah saya menduga, bahwa  kamu tidak pernah mengetahui perbedaan antara kesedihan, kepedihan, dan kepahitan?

Bahwa yang kamu ketahui adalah keharusan menerima segala hal sebagai kodrat. Kamu harus menerima bahwa kaki kesakitan di sepatu (yang kekecilan) adalah biasa. Kamu harus menunggu uang tabungan tercukupi untuk membeli mainan. Kamu harus merasakan tamparan tangan sebagai ungkapan kasih sayang. Kamu harus melihat orang kesayanganmu membentur-benturkan kepala ke dinding sebagai ungkapan kemarahan.

Oh ya Langit,  pastilah kamu tidak pernah marah. Pastilah marah, sedih, tertawa, gembira adalah satu garis lurus yang sepi bagimu.

Maaf Langit, saya sok tahu. Ya, Langit, saya terpaksa sok tahu, Langit, karena saat menatap mainan, kamu seperti tak tahu apa yang ada di depanmu. Posisi dudukmu itu, Langit, kamu bersimpuh tanpa meletakkan lututmu di lantai, sementara jari-jarimu menjadi tumpuan tubuhmu yang ringan.

Langit, kamu pasti tahu rahasia kan? Pastinya. Karena begitu banyak yang kamu rasakan dan pendam.

Jadi, saya berikan kamu satu rahasia lagi ya. Di dalam mainan ada rahasia. Rahasia itu adalah harapan. Kata “harapan” akan menjadi nyata kalau kamu menguaknya sendiri, kalau kamu merasakan keasyikan dengan memainkannya.

Perlu waktu bagimu untuk mendapatkannya, dengan riwayat kegetiranmu ….

Langit, saya pun hampir menjadi bagian dari catatan kegetiranmu ketika saya (berencana) menolak kehadiranmu di sekolah ini.

Maafkan saya, Langit. Berikan tanganmu dan akan saya ajak kamu menemui Harapan.

Mimpi Lukman

Apakah anak autis bermimpi? Saya mendapat jawaban “ya” tanpa sengaja ketika suatu hari Lukman tantrum.

Di hari itu Lukman baik-baik saja sejak pagi, namun tiba-tiba menjelang makan, dia marah. Lukman sedang ditenangkan di ruang terapi, ketika saya lewat. Di antara sesenggukannya dia bercerita putus-putus mengenai kemarahannya. Kak Indah, terapis, memberi kode dengan matanya. Oh saya pikir ada masalah saat dia diterapi. Pastinya saya tidak akan intervensi ataupun berada di pihak yang berseberangan dengan Kak Indah. Namun saya juga ingin Lukman tahu bahwa saya berada di sisinya. Karena melihat dia sedang memegang gelas kosong, saya mengajaknya pergi ke dispenser.

Setelah Lukman mengisi air, kembali dia berteriak dan menunjuk pada seorang kakak yang kebetulan lewat. Si kakak memberi kode tertentu, dan saya pun mahfum apa yang terjadi.

Pertanyaan saya adalah, mengapa Lukman menjadi marah? Biasanya ada suatu pemicu, namun tidak untuk hari itu. Namun yang kami temukan akhir-akhir ini adalah: Lukman sudah bisa menunda kemarahannya. Artinya, dia tidak langsung menyatakan kemarahannya, namun menunggu momen tertentu. Entah itu bertemu dengan seseorang atau bila teringat sesuatu.

Saya pun berpikir, apakah ada sesuatu di rumah yang membuat Lukman marah dan baru muncul beberapa jam kemudian? Saya pun bertanya, “Lukman, ada sesuatu tadi pagi di rumah?”

Masih berdiri di depan dispenser, dengan air mata yang masih tergantung di bulu-bulu matanya, Lukman bilang, “Tadi pagi tempat tidurku tidak nyaman.”

“Oh ya? Tidak nyaman kenapa?”

“Aku bermimpi buruk.”

Jreng. Saya mendapat sinyal untuk melakukan langkah berikutnya. Langkah yang harus saya lakukan dengan halus dan hati-hati, karena saya akan memasuki level mind yang lebih dalam.

“Mimpi buruk?” tanya saya lagi.

“Hijau,” kata Lukman.

Oke, saya pun menjentikkan jari dan mengatakan, “Go.” kepada diri sendiri.

“Lukman, kita gambarkan yuk mimpinya,” ajak saya.

Saya meminjam ruang terapi kepada Kak Indah, dan mengambilkan kertas serta spidol warna-warni dari kelas sebelah.

Lukman duduk di kursi dan mulai menggambar. Saya biarkan Lukman menjalani proses yang disebut sebagai a journey of self-discovery, oleh Bruce Moon dalam Existential Art Therapy.

Saya tidak bertanya maupun melakukan interpretasi terhadap karyanya. Saya hanya menempatkan diri saya sebagai pengamat dan pembimbing terhadap pengembaraan yang hanya dirasakan dan dimiliki Lukman.

Lukman mengatakan, “Mimpiku tidak jelas.” Ya, mimpi memang mempunyai berbagai lapisan yang tak selalu dapat kita visualisasikan dengan mudah, tapi kita dapat menangkap warna, bentuk dan perasaan yang muncul. Begitu pula Lukman, dia menggambar seorang anak di atas daun hijau.

“Aku takut,” katanya.

Begitu asyiknya dia menggambar, dia tak menoleh ketika Pak Ronny, satpam kami, mengatakan, “Bundanya Lukman sudah jemput.”

Setengah jam berlalu, Lukman belum mau berhenti juga menggoreskan spidol dan pensil. Oh ya dia hanya menggunakan pensil dan spidol hijau tua dan hijau muda.

Ketika melihat Ebo, boneka gajahnya,  di gambar itu, saya pun tahu Lukman sudah keluar dari ranah mimpinya, dan saya pun sudah bisa “masuk.” Maka saya pun bertanya, “Lukman, Lukman kasih tau nggak sama Mama tentang mimpi ini?”

Dia menggeleng. “Aku kebangun. Takut. Terus aku memejamkan mata.”

Saya tidak ingin memberi nasihat atau berinterpretasi lebih jauh mengenai mimpinya. Ini adalah kesempatan Lukman untuk bercerita tentang mimpinya. Dia bilang bahwa Ebo mengatakan, “Kamu mimpi buruk” seperti yang dituliskannya di gambar itu.

Saya tidak ndremimil bertanya ini dan itu yang ada di gambarnya, karena prinsip, “Don’t go to a place you are not invited to” dalam coaching yang menggunakan gambar.

Ketika tampaknya sudah tak ada lagi yang akan diceritakannya, saya pun bilang, “Lukman Mama sudah jemput. Kita rapikan yuk.”

Lukman membantu saya memasukkan dua spidol ke wadahnya, dan mengembalikan ke kelas sebelah.

Saya bersyukur Lukman dapat mengurai lapisan mimpinya, dan pulang dengan ceria.

Buatan Tangan

Saya percaya bahwa buatan tangan tak akan tergantikan dengan mesin. Artinya, buatan tangan yang dilakukan dengan niat khusus, perhatian dan kehati-hatian.

Prinsip itu yang jadi diskusi kami siang ini, dan saya untuk pertama kalinya menunjukkan kemarahan di dalam email: Please, tolong jangan sebut A untuk sebuh antaran yang terkait dengan peristiwa penting. 

Peristiwa penting yang saya sebut itu adalah hajatan di dekat sekolah yang kebetulan bersamaan dengan acara pelepasan (baca: wisuda sekolah). Karena sahibul baitnya Pak RT, saya merasa kami perlu memberikan antaran sekalian meminta izin adanya acara di sekolah. Saya pun menulis di email: Waktu nganter surat sebaiknya bawa makanan yang wadahnya nggak usah dikembalikan (jadi dibeliin wadah khusus).  Misalnya, puding buatan Kakak-Kakak. 

Tapi mungkin dirasa bahwa membuat puding adalah sebuah tambahan tugas, maka yang diusulkan adalah bronis A.

Saya pun meradang, dan menulis seperti ini:

Untuk kiriman makanan,  saya ingin yang personal, bukan buatan toko. Kalaupun buatan bakery, harus yang spesifik dan berkelas (bukan berarti mahal, tapi punya tampilan unik seperti TLJ. Bahkan kalau diusulkan B pun saya tidak setuju).  

 Mohon diinterpretasikan “buatan Kakak” dengan luas (dan cerdas). Artinya, Kakak2 bisa pesan kan untuk membuatkan puding atau apalah.

 Ketika memberi sesuatu kepada orang lain, nilainya akan tinggi kalau itu “buatan sendiri”.

Nah itu diskusi siang itu. Alhamdulillah, berhasil berakhir dengan baik, karena kemudian tercapai pemahaman tentang nilai dari benda yangg dibuat sendiri. Tidak perlu mahal, tetapi menjadi mahal kalau dipikirkan dan spesial. Tempe bacem hangat atau pisang goreng bertabur keju hangat pastinya akan dirasakan lebih berharga daripada kue yang dijual massal di tepi jalan.

Selamat Datang, Dunia tanpa Kata

Kemarin gambar saya dinyatakan oke oleh tutor gambar saya, Mas Guntur. Artinya, yang saya tangkap, boleh untuk tidak diperbaiki lagi. Beliau tidak bicara banyak, dan saya pun tidak bertanya: saya merasa tidak hanya tak layak untuk bertanya, tapi juga tidak perlu berbicara. Ekspresi wajah dan gesturnya sudah bicara banyak mengenai kesannya terhadap gambar saya.

Ini hal baru yang saya pelajari setelah sekitar 10 minggu belajar menggambar: Kita tidak perlu kata-kata dalam berbahasa …. Sungguh suatu hal yang paradoks untuk seorang yang menekuni linguistik dan pernah menjalani hidup sebagai penulis. Sekalipun demikian, saya tidak melakukan judgement sejak awal. Saya membiarkan diri saya menjauh dengan dunia kata yang saya pahami sejak hari pertama saya mendapat pensil dan buku gambar sebagai sarana lain untuk berbicara.

Saya pikir ini yang terjadi pada diri saya, seperti kata Betty Edwards dalam Drawing on the Artist Within: ... drawing requires a cognitive shift in brain from the dominant verbal, conceptual L-mode, to the subdominant visual, perceptual R-mode.  Dari verbal yang dominan yang dilakukan dengan kesadaran ke visual yang berasal dari ketidaksadaran.

Di awal kegiatan menggambar kami, saya pernah menyampaikan kepada Mas Guntur bahwa saya menemukan kejujuran dalam menggambar. Saya tidak bisa membohongi apa pun yang akan saya gambar, entah itu lekukan telinga atau bias cahaya di botol beling. Oh bukan karena saya menggambar dengan genre realisme maka segala yang nyata harus dituangkan dalam gambar. Kejujuran itu saya rasakan karena adanya monolog di level unconcious saya. Kejujuran adalah hal yang hakiki dan inheren pada manusia, dan kita bisa menemui hal itu di tahap meditatif.

Keleluasaan melakukan monolog itu yang membuat saya terus bergerak. Seperti Bintang di saat TK (Bintang saat ini kuliah di Seni Rupa ISI),  saya menggambar tanpa henti. Bahkan meja makan saya ubah menjadi meja gambar (alhamdulillah, suami saya tidak protes). Tanpa sadari kemudian semakin memerlukan meja besar karena ukuran kertas yang saya pakai seperti seorang bayi yang tumbuh melebar dan meninggi.

Ya, ada yang bergerak dalam diri saya yang membuat saya ingin melakukan dan mendapatkan yang terbaik. Ketika mengetahui bahwa pensil berpengaruh pada hasil gambar, saya pun membeli artist’s pencils. Saya membeli pensil artis kelas menengah, meskipun rasanya ingin membeli yang kelas premium. Hati kecil saya tidak tega. Saya teringat pada Bintang yang pastinya tidak berani meminta fasilitas terbaik untuk keperluan kuliahnya. Kalaupun dia meminta dan saya mengizinkan, pastinya akan terlihat aneh di kampusnya. Bukankah seniman identik dengan kesederhanaan, dan dari keniscayaan mereka bisa tumbuh?

Seandainya saya seumur Bintang, saya akan kuliah seni rupa dan sekarang telah menjadi art therapist.  Sungguhkah? Tidak tahu juga. Yang terjadi dalam kehidupan kadang tidak terduga kan. Sekalipun kedua anak saya kuliah seni, saya merasa bukan seorang yang artistik. Tapi mungkin juga karena saya lebih mengembangkan diri dengan otak kiri.

Jadilah suatu hari, muncul keinginan menelepon suatu lembaga dan bertanya apakah orang awam boleh belajar menggambar dasar. Tiba-tiba saja, dan kemudian saya malu dengan diri saya. Siapakah saya berani-beraninya ingin belajar seni rupa? Mungkin unconcious mind saya yang menggerakkan. Ia sudah terlalu lama menunggu, sementara saya dari hari ke hari selalu di tahap concious, jarang sekali memberi kesempatan pada diri untuk berhenti dari perputaran tuntutan hidup.

Dan saya pun dipertemukan dengan Mas Guntur, yang usianya jauh lebih muda daripada saya. Meskipun demikian, saya menghormati beliau sebagai seorang tempat belajar, dan saya betul-betul mengosongkan diri saya ketika mendapat arahan. Dari hari ke hari saya mengasah kepekaan terhadap level tekanan goresan, kehalusan arsiran, dimensi, perspektif, dan tentunya … rasa.

Meskipun otak kiri saya sedang saya tidurkan, ia masih menyelinap dan membisikkan kepada saya: Mas Guntur seorang seniman yang memegang janji waktu sehingga saya nyaman. Oh ya, pesan keduanya, Mas Guntur tidak banyak bicara sehingga saya punya kesempatan besar untuk melakukan kontemplasi di seni rupa.

Kontemplasi itu saya perlukan, untuk merasakan proses persiapan, inkubasi, iluminasi dan verifikasi dalam berkreasi (oh, otak kiri masih juga mengajak saya menganalisi art process). Dengan penghayatan proses itu, kelak saya bisa memberi kesempatan kepada orang lain untuk merasakannya juga: membantu anak-anak mengekspresikan diri, orang tua memulai jurnal, dan guru-guru merasakan kebebasan dalam berkarya. Saya tidak mengajak mereka melakukan kegiatan seni rupa, karena saya bukan seniman ataupun guru seni rupa, tapi saya mengajak mereka berproses seperti saat seseorang merasakan momen kedalaman dalam berkarya. Membimbing mereka mencapai tahap unconcious, berbicara dengan diri … tanpa kata-kata.

Kesengsem “A Beautiful Mess”

Sebelum berangkat ke Jepara untuk proyek Kartini, saya membeli buku A Beautiful Mess di toko buku Books and Beyond. Buku itu tentang tip-tip fotografi yang dibuat oleh dua wanita muda cantik, Emma dan Elsie. Yang saya suka, mereka menulis seperti teman kita yang kebetulan punya hobi foto, punya mata yang “nyeni”, dan dengan kamera yang tidak bikin kita (saya tepatnya, he he) jadi minder dan ngiler.

Ketika di Jepara, saya pun menerapkan jadi Emma dan Elsie.

Ini hasilnya:

 

 

Tempat untuk Anakku

Tulisan di bawah ini saya muat di Facebook Page Sekolahh Tetum Bunaya, dan mendapat 1.036 kunjungan, 57 likes dan beberapa kmentar dalam waktu tiga hari:

Dua tahun lalu seorang ibu datang membonceng putrinya ke sekolah kami. Ibu itu berharap putrinya bisa diterima, mengingat sudah beberapa sekolah dimasuki putrinya, dan si anak mogok.

Kami melakukan asesmen untuk si anak, dan memutuskan menurunkan kelasnya hingga dua tingkat. Ibu itu menerima, karena baginya yang penting anaknya mau bersekolah.

Kemudian, setiap kali menjemput, beliau mengutarakan kelegaannya bahwa anaknya gembira bersekolah di Tetum. Dia juga bercerita tentang “balap motor” antara dirinya dan penjemput anak lain di saat pulang sekolah. Putrinya memakai alat bantu dengar (ABD), dan selalu ingin dulu-duluan dengan anak lain yang juga memakai ABD.

Lama tak terlihat ibu itu, dan kami mendengar beberapa kali beliau keluar masuk rumah sakit karena kanker.

Bulan lalu kami menjenguk di rumahnya. Beliau penuh semangat bertutur tentang ketiga putrinya, terutama putri sulungnya yang mempunyai gangguan pendengaran dan bersekolah di tempat kami. Beliau bercerita bagaimana beliau dan putrinya tidur berpandang-pandangan, lalu putrinya berkata, “Jangan sakit.” Beliau begitu pandai menirukan cara bicara putrinya yang khas, seperti halnya beliau sangat memahami putrinya.

Itulah yang mungkin mendorong beliau mencarikan datang ke tempat kami dua tahun lalu, dan berusaha keras agar putrinya diterima. Upayanya mengingatkan kami pada film Who Will Love My Children, yang berkisah tentang seorang ibu yang sadar usianya tak panjang lagi dan berupaya mencarikan orang tua angkat untuk anak-anaknya.

Ibu itu pun mencarikan tempat yang nyaman untuk putrinya. Bahkan ketika kami besuk, beliau mengatakan akan pindah ke dekat sekolah putrinya.

Tadi malam kami kembali ke rumahnya, dan kami mendapat kabar bahwa mereka akan segera pindah ke dekat sekolah kami. Sang ibu tidak ikut pindah ke rumah baru, karena beliau pulang ke rumah abadinya. Beliau sudah berjuang yang terbaik untuk Khansa, putrinya dan adik-adiknya.

Selamat jalan Bunda Khansa, mudah-mudahan kami bisa menjaga amanahmu.

Setelah Liburan

Bagaimana menyatukan pengalaman libur dengan kurikulum?

Hmm, di hari pertama bersekolah setelah libur dua minggu, anak-anak masih dalam proses adaptasi antara kebiasaan sehari-hari di rumah di hari libur dengan aktivitas sekolah.  Karena itu, di hari pertama sekolah, harus dicari jembatan agar anak bisa “kembali ke sekolah.” Di kelas Bumi dan Mars, saya tanya kepada masing-masing anak pergi ke mana mereka selama libur. Kalaupun tidak pergi, tidak apa-apa. Yang diutamakan adalah tempat mereka berada ketika libur.

Untuk apa? Seseorang mengatakan akan diminta menulis karangan tentang libur. Saya tertawa dalam hati, karena itu adalah tugas klasik setelah libur.

Di kelas Bumi, mereka saya minta membuat denah dari rumah ke lokasi yang mereka datangi. Pertama, mereka mengingat jalan yang dilewati, kemudian mengingat tempat-tempat yang dilewati (landmark). Setiap anak punya landmark berbeda, tergantung pada peminatannya. Ada anak yang bilang dia melewati kantor polisi (ayahnya adalah polisi). Anak yang lain menyebutkan “penjual kelapa muda”, “warung”, karena masakan adalah hal penting dalam hidupnya (ibunya punya usaha katering). Menarik ya ….

Yang dipentingkan di sini adalah detail dari tempat-tempat yang disebutkan. Soal skala tidak menjadi persoalan, karena bobot pemahaman pada tahap ini lebih pada bayangan mental menuju ke satu titik.

Setelah membuat denah, mereka pun diminta menyesuaikan denah itu dengan arah mata angin. Caranya adalah melihat pada peta. Misalnya, Kebon Binatang Ragunan terletak di utara Cipedak. Jadi ketika membuat arah mata angin pada kertas denah, ada kemungkinan gambar yang mereka buat secara horizontal (Ragunan ada di sisi kiri kertas dalam posisi horizontal), kemudian menjadi vertikal, karena tempat yang dituju mengarah ke utara.

Hari itu mereka jadi sibuk luar biasa. Kelak kalau mereka pergi ke suatu tempat, mereka sudah bisa memikirkan ke arah mana gerak mereka.

Sementara itu, di Kelas Mars mereka diminta mencari tahu sistem pemerintahan dari tempat yang didatangi, apakah termasuk kecamatan, kabupaten/kota, atau provinsi. Kalau kecamatan, dicari tahu sistem pemerintahan yang ada di atasnya. Mereka mencari di internet juga di peta.

Wah, hari yang sibuk tapi juga menyenangkan.