Motivasi Intrinsik dalam Bahasa Kedua

Posted by on May 11, 2012 0

Salah satu prinsip dalam pembelajaran bahasa kedua adalah motivasi intrinsik (motivasi dari dalam).

Menurut Brown, dalam Teaching by Principles, kalau motivasi intrinsik sudah muncul, siswa tidak perlu guru. Ha ha …. Terus gurunya ngapain dong? You can perform a great service to learners and to the overall learning process …., kata Pak Brown.

Lebih sulit, karena kita harus merancang kelas agar memenuhi kebutuhan intrinsik, yang tak terlihat itu. Bagaimana agar tugas yang kita berikan dirasakan menyenangkan, menantang dan bermanfaat. Hmm … jauh lebih sulit daripada mengubah anak-anak yang semula selalu izin snack time atau menggeleng dan membisu bila saya masuk kelas untuk mengajar bahasa Inggris (lihat: Twinkle, Twinkle Little Stars ).

Kini setelah mereka tertarik, muncul lagi tantangan yang lebih tinggi.

Contohnya saja, ketika dua hari lalu saya masuk untuk melihat Kelas Langit berlatih menari, seorang anak berkomentar, “Bahasa Inggris.”  Waduh, saya sudah dilabel sebagai guru bahasa Inggris. Bagaimana kalau yang saya ajarkan membuat dia kecewa ya?

Lalu Andra bertanya, “Besok bahasa Inggrisnya apa?” Hmm … Andra adalah anak yang sebelumnya selalu snack time. “We’ll learn about elephants,” kata saya sambil memajukan tangan membentuk belalai gajah.

Elephant!” beberapa anak ikut berteriak.

Yeah. Be sure to come. Don’t miss it,” kata saya.

Tiba-tiba saja, di depan saya terjadi keributan. Tino mengambil buku dan meninggalkan kursinya. Ketika dia kembali, tempat duduknya sudah diduduki Rio.  Tino protes, menghendaki tempat duduknya, namun Rio pura-pura tidak mendengar, malah melipatkan kedua tangan di dada.

Rio dibujuk tidak bisa, dan tiba-tiba … tuing-tuing, muncul ide terkait dengan motivasi intrinsik itu. Saya berkata kepada Rio, “Rio, will you listen to me If I speak in English?”

Rio menoleh ke arah saya.

Please move here. Give the seat to Tino,” kata saya sambil menunjukkan kursi kosong di sebelahnya.

Rio yang semula wangkeng pun pindah. Hi hi …. The power of English.

Bagi Rio, mungkin terasa berbeda menerima instruksi dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, karena dia tengah bersemangat belajar bahasa Inggris. Kalau dalam hierarki Maslow, mungkin Rio berada dalam level merasakan adanya self-esteem dengan bisa memahami bahasa Inggris.

Untuk anak lain, mungkin level yang dirasakan adalah belongingness atau affection. Dengan belajar bahasa Inggris, ia merasa jadi kelompok tertentu (baca: kelompok anak yang dapat bermain dan bernyanyi seru dalam bahasa Inggris). Ia juga merasakan adanya afeksi, karena dengan belajar bahasa Inggris dia mendengarkan cerita yang menarik, menyanyikan lagu yang gembira, dan bergerak dengan lucu.

Ketika saya bertemu dengan Andra di pagi hari sebelum jam mengajar, dia bertanya, “Itu buku gajah ya?” Dia melihat saya turun tangga membawa buku.

“Bukan, Andra. Ini buku Bu Tisna,” kata saya. Bu Tisna adalah bagian administrasi kami.

“Tapi kita belajar gajah kan?” tanyanya.

“Ya.”

Saat saya masuk kelas, anak-anak sudah siap duduk di lingkaran. Untuk kelas yang aktif, sungguh sebuah “keajaiban” mereka bisa duduk tenang seperti itu. Motivasi intrinsik sedang bekerja, kata saya dalam hati, dan menjadi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan itu.

Mungkin kebutuhan itu terpenuhi, mata mereka menatap saya saat saya mengajak mereka menyanyikan lagu One Elephant Went Out to Play.

One elephant went out to play, 
Upon a spider’s web one day. 
He had such enormous fun,
That he called for another elephant to come! 

Two elephants went out to play…

Lagu itu mempunyai nada yang mudah dinyanyikan, namun dari keraguan yang muncul di mata mereka saat menyanyi, saya melihat mereka menemui kesulitan. Dalam sekejap saya analisis bahwa hal yang menjadi sulit adalah bentuk lampau (went out, had), kata-kata yang tidak lazim didengar (he had such enormous fun), dan adanya sentence stress yang menyebabkan lidah jadi terpeleset  (that he called for another elephant to come) (lihat: Kilir Lidah pada Heal the World  ).

Mereka tetap berusaha bernyanyi, tapi ketika sudah terjadi keributan (entah karena  soal tempat berdiri atau lengan tersenggol), saya merasa, motivasi intrinsik itu terganggu.

Maka saya pun mengajak mereka duduk dan bercakap-cakap soal gajah dan sarang laba-laba. Kebanyakan mereka punya laba-laba di rumah, dan sebagian mengaku punya gajah (mainan).

Saat mereka sudah berebut bicara, saya ajak mereka dengan action song.

Walking, walking. Walking, walking.
Hop, hop, hop. Hop, hop, hop.
Running, running, running. Running, running, running.
Now let’s stop. Now let’s stop.

Kata-katanya saya ganti, dengan swimming, dan jump, sampai akhirnya ketika saya merasa jantung saya yang berusia 50 tahun minta istirahat, saya pun mengakhiri lagu dengan, “Now, let’s sleep.” Kami tiduran di lantai, dan saya menarik napas panjang.

Tiba-tiba di pintu terdengar ketukan. Seseorang memberi tahu bahwa tamu saya dari kantor Diknas sudah datang. Saya pun mengajak anak-anak untuk bangun dan menyanyikan lagu “Bye Bye See You Again“.

Saya tinggalkan mereka dengan motivasi intrinsik yang tetap terjaga, seperti saya memegang pesan Brown:

Some day your students will no longer be in your classroom. Make sure you are preparing them to be independent learners and manipulators of language “out there.”

Insya Allah!

Taksonomi Bloom pada “Five Little Monkeys” 4

Bagaimana menciptakan kelas bahasa Inggris yang tidak hanya menyenangkan, tapi juga berbobot? Santai tapi ngelmu? Kelas seolah berisik padahal sedang berproses?

Kuncinya ada di level berpikir apa yang kita tuju.

Di dunia pendidikan dikenal taksonomi Bloom untuk tujuan pendidikan. Kata “taksonomi” berasal dari kata Yunani tassein, yang berarti untuk mengelompokkan, dan nomos yang berarti aturan. Jadi taksonomi berarti pengelompokan suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum, dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih spesifik (definisi dari Om Wiki).

Taksonomi untuk tujuan pendidikan diciptakan oleh Benjamin Bloom (1913-1999), sehingga kerap disebut sebagai Taksonomi Bloom.

Bloom membagi ranah berpikir dalam enam tingkatan, yaitu:

  • Pengetahuan (Knowledge)
  • Aplikasi (Application)
  • Analisis (Analysis)
  • Sintesis (Synthesis)
  • Evaluasi (Evaluation)

Taksonomi Bloom berlaku untuk segala level pendidikan. Apakah itu di level pascasarjana atau anak usia dini.

Khusus untuk bahasa Inggris, taksonomi ini dapat diterapkan untuk materi sesederhana Five Little Monkeys, nursery rhyme terkenal dalam khasanah sastra anak berbahasa Inggris.

Dalam Five Little Monkeys diceritakan lima ekor monyet main lompat-lompatan di tempat tidur. Seekor monyet jatuh, dan kepalanya benjol. Ibu monyet pun menelepon dokter, dan dokter menasihati agar jangan main lompat-lompatan.

Biasanya anak-anak senang diajarkan nursery rhyme ini karena mereka melakukannya sambil menyanyi dan menggerakkan tubuh.

Five little monkeys (mengacungkan kelima jari)
jumping on the bed – (melompat-lompat)
and bumped his head! (tangan di kepala)
Mama called the doctor (jari di telinga)
and the doctor said -
“No more monkeys (mengayunkan kelima jari)
jumping on the bed!”

Ini dilalukan berurutan mundur, dari five monkeys, ke four monkeys, three, two dan akhirnya one.

Untuk anak-anak dengan level berpikir yang mulai kompleks, Five Little Monkeys dapat dipakai sebagai sarana dengan cara sebagai berikut:

Setelah menyanyi sambil menggerakkan tubuh, mereka diminta membuat buklet FLM atau membaca buku FLM, dan dilakukanlah diskusi ini:

Menyebutkan tokoh di dalam cerita. (Pengetahuan/Knowledge)

Menjelaskan apa yang dilakukan setiap monyet di dalam cerita (anak, ibu, dokter. (Pemahaman/Comprehension)

Melakukan drama dengan melakukan percakapan antara ibu dan dokter. (Aplikasi/Application)

Membandingkan kata-kata dokter “no more monkeys jumping on the bed“, dengan versi lain (misalnya, “that’s what you get for jumping on the bed“). (Analisis/Analysis)

Menciptakan akhir cerita baru, misalnya dengan menghadirkan monyet keenam. (Sintesis/Synthesis)

Menilai masing-masing buklet yang dibuat di kelas. (Evaluasi/Evaluation)

Aktivitas itu saya pakai sewaktu saya menjadi guru pengganti di Octopus English Club. Saya lihat anak-anak sudah fasih melantunkan dan menggerakkan tubuh dengan lagu Five Little Monkeys. Karena itu, FLM saya perkaya dengan mengikuti runutan berpikir ala Bloom.

Anak-anak pun pulang dengan tersenyum, membawa buklet FLM, dan kemampuan berpikir yang lebih kaya.

Sekolah Berstandar Internasional 2

Bagaimana jika seorang tamu –calon klien–  mengatakan bahwa beliau berminat pada SD Tetum Bunaya, tapi juga pada SD RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional)?

Sekilas saya akan merasa bangga, karena Tetum disamakan dengan sekolah yang secara struktural legal formal sudah mapan. Hmm …

Tapi jauh di lubuk hati saya tidak bangga. Saya akan meminta ibu/ayah tersebut untuk mencari ketetapan hati, memilih sekolah yang mana….

Pasalnya, RSBI dan Tetum punya filosofi berbeda. Filosofi utama adalah pada pendekatan budaya. Budaya, menurut Wikipedia, adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bahasa adalah salah satu unsur budaya, yang diwariskan secara genetis. “Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari,” kata Wikipedia.

Kalau RSBI menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, Tetum justru dengan segala kerendahan hati mengklaim sebagai sekolah berbahasa Indonesia ….

Filosofi Tetum dilandasi  atas kesadaran adanya keterkaitan bahasa dengan perkembangan manusia.

Bahasa adalah anugrah Tuhan yang membedakan manusia dari hewan. Menurut Aitchison, dalam Linguistics, bahasa manusia mempunyai delapan ciri, yaitu:  a)  Menggunakan sinyal bunyi,  b)  Arbitrer,  c) Perlu dipelajari,  d) Dualitas,  e)  Tidak terbatas pada ruang dan waktu, f) Kreatif (produktif),  g) Berpola,  dan h) Bergantung pada struktur.

Sistem bahasa ini yang mesti kita hargai dalam berkomunikasi di dalam suatu masyarakat. Sistem bahasa ini muncul sebagai hasil konvensi suatu masyarakat, dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga tidak dapat dipaksakan.

Sebuah sekolah yang memilih suatu kultur tentu akan tunduk pada definisi bahasa di atas. Sekolah yang memang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa utama, tentu menciptakan atmosfer bahwa penuturnya memperlakukan bahasa Inggris dalam kerangka “pemerolehan bahasa”, bukan ‘bahasa yang dipelajari” (baca: Over-Users & Under-Users) Dalam bahasa awam, penutur di sekolah itu menggunakan bahasa Inggris dalam konteks apa pun, dalam situasi emosi yang bagaimana pun, dan secara spontan berbahasa Inggris, bukan kalimat Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Tetum, karena berada di tengah wilayah tertutup (baca: perkampungan), merasa bahwa budaya yang perlu dikembangkan adalah bahasa Indonesia. Dengan mengenal sistem bahasa sendiri, anak akan memiliki logika berpikir yang runut. Ya, bahasa adalah sistem, dan sistem adalah sesuatu yang logis. Dengan mengenal sistem dalam diri sendiri secara mendasar, insya Allah mereka dapat diajak berpikir secara runut.

Saya pribadi bangga menjadi orang Indonesia,  menjadi penutur bahasa Indonesia, dan merasa mendapat penghargaan sejajar dengan penutur bahasa asing (mana pun), ketika saya bergabung dengan suatu himpunan penerjemah internasional. Ketentuan dalam himpunan itu adalah pekerjaan menerjemahkan ke dalam bahasa target hanya diberikan kepada penutur bahasa target. Jadi saya tidak boleh menerjemahkan teks dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, sedangkan penutur bahasa Inggris tidak boleh menerjemahkan teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Wow, saat itu saya merasa melihat bendera merah putih berkibar sejajar dengan bendera Amerika Serikat.

Anak-anak Tetum sengaja kami jadikan sangat Indonesia, justru agar kelak mereka dapat bersaing secara internasional. Ya, anak-anak harus punya akar yang kuat tentang budaya sendiri, agar punya rasa percaya diri yang tinggi ketika berhadapan dengan orang asing. Anak-anak Tetum belajar berkebun, pergi ke cagar budaya, membuat makanan lokal, dan kalau pulang Lebaran, mereka diminta membawa sesuatu dari kampung.

Pengalaman hidup itu yang membuat kita bisa setara ketika berada di suatu komunitas internasional. Pengalaman saya sendiri ketika berinteraksi dengan editor internasional adalah ketertarikan mereka saat membahas budaya lokal Indonesia. Misalnya, kebiasaan memberikan oleh-oleh setelah bepergian, yang tidak ada di budaya Barat.

Saya tidak direndahkan dengan pengetahuan-pengetahuan daerah saya, tapi justru mereka memberi penghargaan yang tinggi, dan saya bisa mengobrol sebagai saya, bukan sebagai seseorang yang ingin menjadi mereka.

Mungkin bisa dikatakan sebagai suatu hipotesis, bahwa kita harus memasuki ranah internasional lewat budaya lokal.

Think locally, act globally.

 

 

Over-Users & Under-Users 3

Ada momen indah di pelajaran Bahasa Inggris di Kelas Venus kemarin. Kelompok anak laki ngeriung di depan teks yang mereka baca. Teks itu sampai tertutup oleh tubuh dan kepala mereka.

Mereka sedang … menyanyi. Saat itu giliran anak laki menyanyi lagu Heal the World secara keseluruhan diiringi lantunan suara MJ, penyanyinya.

Saya mengajarkan lagu itu baris demi baris, agar mereka dapat mengucapkan dengan bunyi dan tekanan yang mendekati ketepatan (lihat: Kilir Lidah pada “Heal the World”). Memutarkan suara MJ seperti mendatangkan penutur asli, dan anak-anak saya biarkan menyerap bagaimana seorang penutur asli mengucapkan kata-kata itu.

Beberapa anak, misalnya, saya dengar masih mengucapkan /pleis/ “place” dengan /e/ seperti pada /ember/, bukan /tempe/, tapi pada kesempatan ini masih saya biarkan.

Sekarang yang akan dibangun adalah rasa percaya diri mereka.

Ini penting, karena dalam mengajarkan bahasa kedua ini saya memakai pendekatan pemerolehan bahasa (language acquisition), bukan struktural.

Dalam pendekatan yang pertama, sistem bahasa adalah produk dari proses yang tidak disadari, seperti halnya mereka memperoleh sistem bahasa ibu. Dalam pendekatan kedua, pembelajaran bahasa adalah produk instruksi formal, terdiri dari proses disadari yang menghasilkan pengetahuan sadar tentang bahasa. Misalnya, pengetahuan tentang tata bahasa.

Kebanyakan kita orang Indonesia belajar bahasa Inggris dengan pendekatan kedua, yang akibatnya, kita tidak bisa bicara, menulis, dan mendengar pun terpatah-patah.

Dalam pendekatan pertama, siswa berkonsentrasi pada tindak komunikatif, bukan pada bentuk wicara.

Namun ketika kita belajar bahasa kedua, pastilah kita akan menyadari adanya sistem bahasa yang berbeda pada bahasa kedua itu. Karena itu dalam diri kita akan muncul “editor” yang mengarahkan kita pada aturan-aturan. Misalnya saja, ketika anak-anak sampai pada baris yang belum dibahas, mereka lebih banyak menggumam saat mengikuti suara MJ. Itu adalah fungsi “editor” yang mencegah mereka mengucapkan kata-kata yang tidak dipahami.

Yang perlu dijaga adalah agar mereka tidak menjadi “over-users“, terlalu berhati-hati terhadap perbedaan bahasa, yang bisa membuat mereka tidak percaya diri dalam berbahasa Inggris.

Saya boleh GR karena ketika saya masuk kelas, mereka bilang, “Asyik, bahasa Inggris.” Padahal ketika itu, saya hanya mengambil buku yang akan saya berikan kepada seorang tamu. “Lima belas menit lagi ya,” kata saya, saat melihat kekecewaan di wajah mereka. Oh ya salah satu yang mengucapkan itu adalah anak yang dulu tidur-tiduran jika ada bahasa Inggris, atau malah menyerang teman secara verbal.

Saya juga bahagia ketika melihat reriungan anak laki di teks alat peraga: salah satunya adalah anak yang tidak pernah mengeluarkan suaranya jika diminta bercerita atau mengucapkan kata dalam bahasa Inggris.

Keberhasilan dalam belajar bahasa Inggris sangat ditentukan oleh motivasi, rasa percaya diri, dan citra diri yang baik. Tanpa ketiga hal itu akan muncul mental block yang mencegah datangnya pemerolehan bahasa.

Lalu di mana peran tata bahasa? Tentu tatabahasa penting, apalagi kalau di level pendidikan tinggi (misalnya, akan mengikuti tes potensi akademik untuk memasuki jenjang pendidikan tinggi), namun di tingkat dasar ini yang perlu diperkenalkan adalah keindahan berbahasa, bukan kompleksitas bahasa.

Buku 1

Some books are to be tasted, others to be swallowed, and some few to be chewed and digested.

Francis Bacon, sastrawan Inggris, mengibaratkan perilaku membaca buku seperti makan. Ada makanan yang hanya untuk icip-icip kan, maka ada buku yang juga hanya untuk dibaca sebagian atau sambil lalu (dia menjelaskan di baris berikutnya: some books are to be read only in parts). Ada makanan yang kita telan tanpa dikunyah, maka buku pun ada yang dibaca tanpa ketertarikan besar (… to be read but not curiously). Dan ada makanan yang kita kunyah, nikmati dan telan, maka, menurut Bacon, some few to read wholly, and with dilligence and attention. 

Saya senang sekali dengan baris-baris pada prosa Of Studies itu, yang ditulis di abad ke-17  itu,  meskipun saya bukan tipe kedua pembaca buku yang disebutnya: membaca hanya untuk menelan, tanpa ketertarikan. Yah, kalau tidak tertarik, saya tidak akan membacanya. Rugi kan, … he he ….

Semua buku yang saya miliki adalah buku yang saya beli dan baca dengan penuh cinta. Tapi memang, ada yang saya baca selintas, dan ada yang menjadi diolah untuk diwujudkan menjadi karya.

Saya akui, saya seorang kutu buku sejati, one who takes every opportunity to put her nose in a book:D.

Saat saya menulis ini pun, siku kiri saya bertumpu di atas buku, dan di sebelah kanan saya, 30 cm dari tubuh saya bertumpukan buku-buku, ada yang terbuka dan tertutup. Di belakang saya, di meja, ada beberapa (tumpukan) buku. Menengok ke kanan, ada dua lemari berisi buku-buku. Dan di balik lemari itu ada lemari buku lagi. Hadooh ….

Mungkin buku-buku memberi energi bagi saya, karena sesungguhnya kita tidak pasif saat membaca buku. Dari Teaching Reading Skills, karya Christine Nuttall, kita akan paham bahwa dalam proses membaca kita memiliki keterlibatan aktif. Hal pertama dari keaktifan itu adalah, kita mencoba menggali makna dari teks yang kita baca, yang kadang kita lalui dengan mudah, dan kadang dengan sulit. Kedua, saat kita membaca, kita tahu bahwa kita punya tujuan dan harapan dari teks yang kita hadapi. Misalnya saja, saat membaca Jejak-Jejak Pendidikan Islam di Indonesia karya Khozin, kita berharap akan mendapatkan informasi tentang sejarah pendidikan Islam dari masa kedatangan pedagang-pedagang Gujarat di Nusantara hingga terbentuknya organisasi Islam –seperti Muhammadiah dan NU– di abad ke-20. Ketiga, kita melakukan proses interaktif dengan penulisnya. Masalahnya, penulis itu tidak ada di hadapan kita, sehingga ketika kita tidak paham, kita hanya mengandalkan apa yang kita ketahui.

Apa yang kita ketahui, atau gagasan yang ada di pikiran kita disebut dengan skemata. Apabila skemata kita kaya, maka proses interaktif antara penulis dan pembaca akan terbangun dengan semakin baik. Dan dengan membaca, kita bisa menambah skemata kita. Misalnya saja, 20 tahun lalu saya tidak memiliki gagasan apa pun tentang kesusasteraan Inggris sewaktu membaca Ikhtisar Sejarah Kesusasteraan Inggris. Apalagi saya membacanya di setiap Senin pagi dengan dosen yang menurut saya berwajah dingin. Saat itu, saat membaca teks Of Studies, saya menyerapnya hanya sebagai pengetahuan, alias mendapat nilai baik.

Kini, setelah pengalaman membaca saya semakin banyak, dan tentunya skemata saya semakin bertambah, saat membaca Of Studies Francis Bacon kembali, saya mencernanya secara berbeda, sampai saya bisa mengatakan bahwa saya bukan orang yang menelan buku tanpa menikmatinya. Pendapat ini tentu saja baru muncul bertahun-tahun setelah saya banyak membaca, dan tidak lagi seculun di masa kuliah:D.

Akhir-akhir ini saya ingin berbagi tentang kesukaan membaca kepada orang-orang di sekeliling saya. Kepada komunitas saya –guru bahasa Indonesia tingkat SD hingga SMA– saya dorong untuk membaca. Kesulitan mereka adalah pada teks bahasa Inggris. Sesuatu yang disayangkan, karena sumber ilmu yang baik (sepengetahuan saya lho) ada dalam buku berbahasa Inggris. Teman-teman saya itu,  sebagai guru berarti sebagai agen pembaharu, tentunya akan mengubah generasi berikutnya menjadi lebih baik kalau mereka memperkaya diri dengan buku-buku sumber berbahasa Inggris itu. Di komunitas kami ada ada begawan-begawan bahasa dan sastra (baca: profesor), yang punya buku-buku sumber yang dipakai di dunia pendidikan bahasa dan sastra internasional (kita bisa mengeceknya di Goodreads). Sayang kan bila kesempatan pertemuan dengan beliau-beliau itu  tidak dimanfaatkan untuk mengambil ilmu dan meminjam bukunya. Karena itu, bila kami mengadakan pertemuan, saya biasanya membawakan tas seorang ibu profesor yang sudah sangat sepuh usai pertemuan, dan dengan senyum manis saya katakan bahwa saya ingin meminjam buku yang dibahasnya hari itu. Dan kalau memang ada tawaran untuk membaca buku dari para senior di komunitas kami, maka saya buru-buru maju. Teman-teman saya biasanya enggan, bukannya tidak mau membaca, namun kendala bahasa.

Namun kini sudah ada tiga orang berhasil saya bujuk untuk membaca buku berbahasa Inggris, dengan janji saya akan membantu menguraikan makna kalimatnya.

Kepada orang tua murid pun saya mulai berbagi. Kepada seorang ibu yang saya tahu senang membaca dan belajar, saya pinjamkan buku-buku Montessori saya. Tepatnya: saya buatkan fotokopi. Saya cenderung membuatkan fotokopi daripada meminjamkan buku. Saya selalu gelisah bila buku saya keluar dari rak (ya itu tadi, saya membelinya dengan penuh cinta). Lagipula, ada joke tentang buku yang betul-betul lucu buat saya: orang yang bodoh adalah orang yang meminjamkan buku; dan orang yang lebih bodoh adalah orang yang mengembalikan buku yang dipinjamnya. Ha ha …. Saya tidak mau ada dua orang bodoh, jadi lebih baik dibuatkan fotokopinya:D

Saya juga mengajak ibu tersebut untuk suatu saat membedah isi buku itu, di bagian-bagian yang dengan istilah Bacon, telah saya kunyah dan cerna (chew and digest), alias sudah dipraktikkan di sekolah, dan terlihat hasilnya.

Berbagi buku, adalah berbagi ilmu, agar semakin banyak kearifan menyebar di sekeliling kita.

Reading maketh a full man …, kata Bacon lagi.

Twinkle, Twinkle, Little Stars 1

Hari ini untuk pertamanya Manda tersenyum kepada saya, dan kepada orang lain dia mengatakan, “Hari ini seru. Aku tidur di kelas.”

Perlu lima atau enam minggu untuk mengambil hatinya.

Manda anak yang cerdas, dan menjadi salah satu murid Kelas Langit (TK A). Pada pertemuan pertama, dia masih ceria di kelas saya. Pada dua atau tiga pertemuan berikutnya, dia menggeleng ketika menyanyi,  membungkam kalau diajak mengucapkan sesuatu, dan menolak kalau diajak bermain. Ini terjadi ketika salah seorang teman dekatnya –sebut saja Andra– tiba-tiba mengatakan, “Aku mau snack time.” Dan sekelas pun melakukan Gerakan Tutup Mulut. Seingat saya ini terjadi sewaktu mereka saya ajarkan lagu Rain, Rain Go Away.

Pada pertemuan berikutnya, ketika mereka masih seperti itu, saya ajak mereka menggambar hujan. Satu demi satu mereka saya dekati, dan saya ajak bercerita tentang hujan. Manda pun dengan ceria bercerita tentang gambarnya.

Minggu berikutnya, saya katakan kepada guru kelasnya agar Kelas Langit Bulan dan Kelas Langit Bintang dijadikan satu pada kegiatan bahasa Inggris, agar kelas yang sebelah dapat menularkan semangatnya kepada kelas Manda.

Cukup berhasil. Manda cs mau ikut menyanyi bersama dan menjawab. Namun ketika tiba giliran perorangan atau per kelompok kecil untuk menyanyi, lagi-lagi dia dan gengnya menggeleng. Saya pun putar otak segera. Nah, saya mendapat akal yang membuat mereka tidak bisa mengelak. Mula-mula saya mengatakan, “Now, boys. Who are boys here?” Teman Manda –Andra, yang biasa “snack time” kalau pelajaran bahasa Inggris– tunjuk tangan. Lalu saya katakan, “Okay, you, boys, please stand up and sing the song.” Mau tidak mau, semua anak laki berdiri. Gengsi kan mereka, kalau tidak berdiri:)

Setelah anak laki selesai bernyanyi, saya katakan, “Now, it’s girls’ turn. Who are girls? Good …. Let’s sing the song.” Manda pun berdiri, menyanyi bersama teman-temannya.

Saya bersyukur dalam hati, bahwa tidak hanya usia saya yang 10 kali lipat lebih banyak daripada Manda, tetapi saya juga dikaruniai akal panjang untuk menaklukkannya.

Tapi “ujian” belum selesai, untuk seorang perempuan dengan rentang usia, dan jejak kehidupan lebih banyak daripada anak yang usianya masih bisa dihitung dengan sebelah jari tangan ini:)

Ada sajaaa penolakan Manda, yang membuat saya harus putar otak (padahal, di saat-saat menunggu dijemput dia kerap menggumamkan lagu yang saya ajarkan).

Minggu lalu, dia menolak memberi nama pada bintang yang dibuat saat kami menyanyikan lagu Twinkle Little Stars. Hmm … Sampai akhirnya dicapai kesepakatan: dia mau memberi nama dengan pensil dan dalam ukuran keciiiiil.

Hari ini bintang bersinar saat kami mengulang kegiatan Twinkle Little Stars. Saya mengajak anak-anak membawa bintang yang sudah mereka buat di minggu sebelumnya, dan berbaris menuju gedung Kelompok Bermain. Sambil berbaris membawa bintang, mereka saya ajak menyanyi Playing with the Stars dengan nada A Farmer in the Dell.

Playing with the stars/Playing with the stars/Heigh-ho we love it so/Playing with the stars ….

Mereka berbaris rapi dan tertib, dan berjalan pelan sambil menaruh telunjuk di jari sewaktu melintasi jendela Kelas Darat. Mereka senang dengan “permainan tidak mengganggu Kelas Darat” ini.

Lalu satu demi satu mereka masuk ke “ruang bintang”: ruang yang ditempeli bintang di langit-langit. Di ruang itu sambil tidur, mereka bermain pagi dan malam. Menjelang lampu dipadamkan, mereka saya minta berpegang tangan dengan teman bila takut, namun jangan menjerit dan berlari. Mereka saya minta tenang, dan mengucapkan doa mau tidur, lalu pandangi bintang di langit sambil menyanyikan Twinkle Little Stars.

Ruangan terlihat indah dengan bintang berpendar dan suara nyanyian anak (termasuk Manda, tentunya). Sebelum menyalakan lampu, saya katakan bahwa hari sudah pagi, dan kita akan menyanyikan lagu Brother John.

Beberapa kali kegiatan itu dilakukan.

Saat pulang, Manda dan teman-temannya mengatakan, “Seru ya!”

Rupanya hari ini menjadi momen yang mengesankan bagi Manda. Senyumnya berpendar dan wajahnya secerah bintang.

Kilir Lidah pada “Heal the World” 2

Di tema Bumi di bulan April, saya memilih lagu Heal the World Michael Jackson untuk diajarkan kepada siswa kelas 1 dan kelas 2 SD. Mengajarkan lagu Heal the World tidak hanya memberikan pesan moral lewat lagu dan membuat anak mengenal kata-kata yang terkait dengan perdamaian, namun dalam tataran linguistik lagu ini dapat dipakai untuk memperkenalkan masalah penekanan (stress) pada bahasa Inggris.

Bahasa Inggris mempunyai penekanan berbeda dengan bahasa Indonesia. Misalnya, kalau mengucapkan kata heal the world,  kita –penutur Indonesia– cenderung memberi tempo yang sama pada ketiga kata. Yah, bahasa kita (seperti halnya Spanyol dan latin), adalah  syllable timing language: suku kata diucapkan dengan rerata konstan.  Berbeda dengan bahasa Inggris yang adalah a stress-timed language (suku kata yang diberi penekanan diucapkan dengan panjang waktu yang konstan, sedangkan kata yang tidak diberi penekanan diperpendek).

Karena itu, untuk dapat menyanyikan lagu Heal the World dengan  baik, maka kita perlu mengetahui mana kata yang diberi penekanan, dan mana yang tidak. Dalam bahasa Inggris, kata-kata yang diberi penekanan disebut dengan content words, sedangkan kata-kata yang tidak diberi penekanan disebut dengan function/structure words.

Kata-kata yang diberi penekanan dalam Heal the World, misalnya:

verbs know, heal, stop
nouns world, place, hurt, sorrow
adjectives brighter, little, better
adverbs really, much

 

Kata-kata yang tidak diberi penekanan disebut dengan function words atau structure words. Misalnya, pada lagu Heal the World, function words adalah:

pronouns I, you, there
prepositions in, for
articles a, the
conjunctions and, or
auxiliary verbs could, be

 

Keuntungan belajar sentence stress dengan lagu adalah, kita akan terbawa oleh pengucapan penyanyinya. Bila tanpa nada, kita akan cenderung memakai tempo bahasa kita.  Tak heran bila anak Indonesia (di kelas saya) memproduksi tempo suku kata yang berbeda saat mengucapkan kata-kata dalam Heal the World, bila tanpa nada dan dengan nada. Saat diminta mengucapkan tanpa nada, mereka cenderung memakai tempo bahasa Indonesia, dan ketika memasukkan nada ke dalamnya barulah terasa kilir lidah, karena ada kata yang harus diselipkan untuk mengejar kata berikutnya.

Seorang anak perempuan selalu tersenyum menggeleng-gelengkan kepala dan memejamkan mata setiap kali mengucapkan “and this place could be much better than tomorrow“, karena terjadi kilir lidah. Ya, kita orang Indonesia akan mengucapkan kalimat itu dengan rerata tempo sama pada setiap suku kata, tapi penutur asli bahasa Inggris (Michael Jackson dalam lagu itu) hanya memberi tempo agak panjang pada kata place, better, tomorrow. Kata-kata yang lain diucapkan dengan tempo pendek, sehingga bagi telinga kita terasa berdesak-desakan:)

Penutur Indonesia juga akan mengalami kilir lidah saat mengucapkan “you’ll find there’s no need to cry“. Kita akan merasa kalimatnya terlalu panjang untuk nada yang ada. He he … lagi-lagi itu karena kita mengucapkan dengan tempo yang sama untuk setiap suku kata, sementara dalam lagu itu memberi penekanan yang agak panjang pada kata find, need, cry.

Setiap bahasa punya keunikan, dan jadi tantangan menarik bila penutur suatu bahasa mempelajari bahasa lain.

Arsip 1

Keinginan punya sekolah dengan pengarsipan yang baik mendorong saya mendaftarkan diri pada pelatihan  Advanced Documents & Electronic Records Management System – Based on ISO 15489 & UU No. 43 2009, yang berlangsung dua hari.

Jujur saja ini nekad. Saya tidak pernah tahu tentang records management system, ISO 15489 (saya tahunya ISO 9000) ataupun UU no sekian sekian (memangnya ada ya undang-undang tentang kearsipan?).

Memang nekad, apalagi saya mengajak Bu Admin kami, Bu Tisna, untuk ikut nyebur juga. Tapi ya pastinya Bu Tisna kalau sudah nyebur akan berusaha terus berenang sampai ke seberang.

Dari pengalaman, suatu kebijakan di sekolah  akan berjalan baik, kalau bagian pelaksana dikirim ke pelatihan juga: Dia akan berusaha mati-matian agar konsep itu terlaksana. Dari sisi biaya terlihat sebagai kerugian, tapi dari sisi investasi, banyak keuntungan yang diperoleh. Keterlibatan SDM menjadi lebih besar, saya bisa berfokus pada perencanaan dan pemantauan, dan tentunya tujuan lebih tercapai.

Ikut pelatihan ini, seperti menguak dosa-dosa sendiri:) Saya termasuk orang yang sayang membuang barang. Segala sesuatu punya makna historis. Misalnya saja, buku-buku saya yang memenuhi hampir seluruh ruang tamu, dan menjadi bahan komentar saudara-saudara. Bukan hanya mertua, tapi juga keponakan yang balita: “Di rumah Bu Endah banyak buku.” Yah semua buku itu saya beli dengan penuh cinta. Sebagian sudah saya hibahkan kepada saudara-saudara, tetapi yang tersisa masih banyak juga.

Menurut Pak Ma’sum instruktur pelatihan records management, semua benda yang saya simpan dan “dibuang sayang” itu termasuk kategori dokumen, artinya yang penting dan tidak penting ada di sana. Seharusnya saya memilahnya menjadi record, yaitu yang punya nilai hukum dan nilai guna.  Tapi record ini ada batasan waktu. Mestinya ada masa dimusnahkan. Ini kejadian sih sama buku-buku bapak saya. Sampai hari ini di rak buku saya masih tersimpan buku-buku Almarhum. Mau dibuang … sayang, mau dibaca tulisannya Arab gundul. Yah akhirnya jadi pajangan berteman debu.

Walaupun buku pribadi, tapi manajemennya seharusnya sama dengan lembaga. Misalnya, saya pernah bercita-cita membuat buku traveling untuk anak, tapi hingga hari ini tidak kelakon. Nah, buku-buku traveling itu buanyak di rumah. Yah, supaya punya nilai guna, yo wis saya misalnya saya hibahkan ke sekolah saja.

Soal hibah ke sekolah pun selama ini bukan pilihan. Pasalnya, ada nilai emosi pada buku, dan bila saya menemukansuatu  buku yang saya hibahkan tidak diperlakukan dengan baik oleh guru, saya merasa gimanaaaa … gitu. Jadi daripada saya melihat buku cintaku lepas sampulnya, penuh lipatan, robek dan sebagainya, lebih baik tetap tersimpan di rumah.

Tapi belajar dari Pak Ma’sum, hal-hal yang emosional itu bisa dikontrol kok kalau kita punya sistem. Artinya, kalau hibah buku, ya ada tanda terimanya. Ada peraturan perawatan, dsb. Gitu aja kok repot … ha ha …. Memang kalau tidak ada ilmu, kita jadi repot:)

Dalam masalah pengarsipan, unsur emosi memang dikesampingkan. Yang ada adalah nilai guna dan nilai hukum. Titik. Tapi ya itu kalau kita mau hidup kita lebih efisien. Bayangkan dengan dokumen yang acak adul, kan kita perlu wadah, perlu tempat, perlu waktu buat membersihkan.

Sekarang saja saya lagi berpikir menambah lemari buku di rumah untuk koleksi buku linguistik. Juga berpikir meminta OB di sekolah yang dulu bekerja di cleaning service untuk membersihkan rumah saya. Nah, itu biaya kan ….

Di sekolah pun rasanya gatal dengan dokumen-dokumen. Pernah saya membeli beberapa box untuk menyimpan barang sesuai tahun. Tapi ternyata pelaksanaannya tidak semudah itu. Perlu ada orang khusus untuk memilah, dan (setelah saya belajar) perlu ada STOR (Standar Operational Records) alias juklak pemilahan, penyimpanan dan pemilahan barang.

Teman satu pelatihan kami adalah corporate secretary dari BRI Syariah. Saya cukup iri dengan berkas tata kelola dokumen dari BRI. Tapi tentunya karena sudah lulus ISO 15489, standarisasi records management, tentunya berkas-berkas mereka sudah lengkap. Wow … seandainya Tetum punya STOR seperti itu, dengan format yang lebih user friendly buat Tetum tentunya. Ya, salah satu syarat STOR yang efektif adalah user friendly.

Kehadiran lembaga mini seperti Tetum dan lembaga besar seperti BRI di pelatihan itu menunjukkan bahwa masalah arsip adalah masalah semua. Bahkan, di tingkat pemerintah pun ada undang-undangnya lho. Misalnya saja, UU No 43 tahun 2009 (yang jadi bagian judul pelatihan itu) Bab 1 pasal 2  menyebutkan tentang penyusutan arsip, UU no 7 tahun 1971 tentang Pokok-Pokok Kearsipan, dan lain-lain. Arsip adalah masalah negara dan masalah pribadi.

Dalam perjalanan pulang, saya ajak Bu Tisna membuat perencanaan tentang record management di sekolah, dengan target bulanan. Alhamdulillah, Bu Tisna bersemangat.

Malamnya, saat googling “records management” saya mendapatkan ungkapan menarik tentang arsip: Control your records before they control you

 

 

I Know that It is Love 2

Saya seperti pertapa turun gunung. Saya sudah lama tidak mengajar, dan tiba-tiba harus masuk kelas ketika guru Bahasa Inggris hamil dan perlu beristirahat.

Ya, mungkin sudah saatnya saya masuk kelas lagi ….

Kelas yang saya tangani adalah Bahasa Inggris, dan ini menjadi sebuah tantangan. Sekolah saya mengklaim diri sebagai sekolah berbahasa Indonesia, sehingga Bahasa Inggris menjadi bahasa kedua. Tantangannya adalah bagaimana membuat mereka tidak berpikir dalam bahasa Indonesia dan kemudian menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris saat berbicara atau menyimak bahasa Inggris?

Kalau kita mengajar bahasa kedua, maka pengalaman kita sebagai siswa juga menjadi pertimbangan. Ketika kita mengajar bahasa kedua, kita tidak hanya berkaitan dengan ‘how to teach‘ tapi juga “how to learn“. Bahasa adalah keterampilan yang kompleks, yang pada anak berkembang dengan spontan, tanpa usaha sadar, dan tanpa pengajaran formal. Ketika kita belajar bahasa kedua, kondisinya berbeda dengan ketika kita belajar bahasa pertama. Kita belajar karena ada tujuan, kita berhadapan dengan sistem yang berbeda dengan bahasa kita, kita mungkin takut berbuat kesalahan karena malu pada teman dan takut pada guru.

Jujur saja ketika saya belajar bahasa Inggris di tempat kuliah, saya merasa tertekan. Saya merasa dosen Speaking memiliki tatapan mata dingin, tarikan bibir ke bawah, dan dengan segera mengoreksi kalau kita berbuat kesalahan. Saya pun tambah takuuuut berbicara. Entah metode apa yang dipakainya …. Hi hi ….

Jadi rule no. 1 adalah menghilangkan rasa takut, tapi juga tidak membuat anak “menerjemahkan” kata-kata Indonesia menjadi bahasa Inggris. Target saya adalah membuat mereka terbiasa mendengar bunyi-bunyi dalam bahasa Inggris, sebelum mereka melangkah ke membaca dan menulis. Karena itu saya sebisa mungkin berbicara dalam bahasa Inggris, menjelaskan dengan alat peraga gambar, gerak tubuh, dan nyanyian. Berbeda dengan dosen Speaking saya, saya berusaha membuat setiap orang terlibat.  Mulai dari Hello Song yang menyebut nama mereka, meminta mereka mengulangi kata atau memeragakan suatu tindakan, main drama, menyanyi berdua-bertiga-bersama-sama, dan lain-lain.

Penuh dinamika. Ada kelas yang tadinya penuh dalih kalau saya ajak menyanyi atau mengikuti perintah. Salah seorang beralasan, “Mau snack time“, dan berjalan keluar mengambil makanan. Teman-temannya ikut membungkam dan menggeleng ketika diminta menyanyi. Saya putar otak … dan saya minta membuat gambar dari kata-kata yang sudah diajarkan. Sambil mengamati gambar satu demi satu, setiap anak saya ajak bercerita tentang gambarnya.

Minggu berikutnya kelas ini saya gabung dengan kelas paralelnya yang aktif dan penuh semangat bila belajar bahasa Inggris. Sekalipun di awal mereka tertular semangat anak-anak kelas yang lain, tapi ketika diminta bergiliran menirukan atau menyanyi, anak-anak yang biasanya menggeleng ini kembali  menggelengkan kepala. Hmm …. Datanglah akal: “Now boys. So if you are boys, stand up.” Gotcha! Anak yang selalu “snack time”, akhirnya berdiri, dan menyanyi. Teman-teman perempuannya pun berdiri juga, sewaktu saya katakan, “Now, it’s girls’ turn.” Kemudian saya bagi menjadi kelompok asal kelas mereka. Beres ….

Di kelas lain, semula setiap kelompok dibuat bergiliran. Apa yang terjadi? Kelompok yang belakangan berjalan mondar-mandir, sehingga cukup menjadi distraksi bagi kelompok yang sedang belajar. Ketika kelompok yang belakangan ini mendapat giliran, mereka terlihat sangat bersemangat. Oh, rupanya ada rasa cemburu pada kelompok yang belajar duluan. Akhirnya, kedua kelompok digabung pada minggu berikutnya. Mereka saling menularkan semangat, dan berebut tunjuk tangan ketika datang giliran untuk demo. Ya … anak yang aktif kadang didahulukan, dan kadang saya minta belakangan, karena saya ingin memberi kesempatan pada anak yang tidak aktif untuk berperan juga.

Di suatu kelas SD ada seorang anak yang dulu selalu tidur-tiduran atau melakukan verbal abuse terhadap temannya bila ada pelajaran bahasa Inggris. Anak ini mempunyai gangguan dispraksia (gangguan pada perencanaan motorik), yang menyebabkan dia sulit melakukan pengurutan, atau kegiatan yang  memerlukan pengurutan. Misalnya, menari, menyanyi, matematika, ataupun untuk hal simpel, mengingat posisi duduk awal. Tak heran bila pada kegiatan bahasa Inggris dia akan menarik diri, dengan cara tidur-tiduran atau mengeluarkan kata-kata untuk menyerang teman, ataupun membanggakan materi yang dimilikinya. Setelah dilakukan terapi, kemampuan perencanaannya membaik, dan dia mulai mau duduk di lingkaran pada kegiatan bahasa Inggris. Tetapi dia masih belum mau berpartisipasi.

Dalam suatu sesi ketika kelasnya saya ajarkan lagu Heal the World, Michael Jackson, dia mendadak jatuh cinta pada bahasa Inggris. Sewaktu diminta terapi yang waktunya bersamaan dengan bahasa Inggris, dia cemberut. “Mau bahasa Inggris,” katanya. Ha? Kami terkejut, dan gembira, karena dia sudah menjadikan kelas bahasa Inggris sebagai hal yang menyenangkan. Minggu berikutnya, dia mau aktif ketika kami membuat Word Wall, walaupun masih berpikir dalam fonetik bahasa Indonesia, ketika saya bertanya, “Do you know what jump is?” Matanya melirik ke jam di dinding …. Tidak apa-apa, setidaknya dia paham bahwa saya bertanya tentang /djam/, dan terlibat. Berkat Michael Jackson:)

Michael Jackson juga menjadi kunci untuk membuat seorang anak di kelas lain menerima saya sebagai “English teacher“. Setelah diajak mendengarkan lagu Heal the World, dia menghampiri saya di akhir kelas, “Kak Endah, aku suka lagunya.” Ha ha … padahal pada pertemuan sebelumnya dia selalu menasihati saya, bila saya berbahasa Inggris. Pada pertemuan pertama, dia hanya duduk di kursi menatap saya sambil makan bekal.  Lima menit kemudian, dia berdiri, dan membisiki saya, “Berbahasa Indonesia.”

Usai kelas, pada waktu antre makan, seorang anak perempuan bercerita bahwa dia menaruh gambar di meja saya. Saya pun berkata, “Thank you, girl. It’s so sweet.” Tiba-tiba ada yang mengingatkan saya, “Ini saat antre makan. Berbahasa Indonesia.”

Minggu-minggu berikutnya masih seperti itu, sampai kejadian Michael Jackson itu. Semua kejadian di kelas saya sampaikan kepada ibunya, dan saya mengatakan bahwa dulu saya termasuk yang mendukung agar dia tidak diberi stimulus bahasa Inggris, sebelum penguasaan bahasa ibunya berkembang sempurna. Ternyata dikotomi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris melekat kuat, sehingga ketika kemampuan bahasa ibu sudah berkembang, dia tetap menolak bahasa Inggris. Apalagi label saya bukanlah guru bahasa Inggris!

Seminggu setelah menyanyi lagu Michael Jackson, dia mau bergabung di lingkaran, dan mau mengucapkan dengan fonetik sempurna frase The Leaking Tap. Saya katakan sempurna, karena dia dapat mengucapkan /t/ dengan letupan, dan /ae/. Beberapa anak saya minta mengulang ketika mengucapkan /t/ seperti /t/ dalam bahasa Indonesia, dan /ae/ yang mengarah ke /e/.

Saat saya mendongeng The Leaking Tap, dia pun duduk di belakang saya. Dia membuka-buka jilbab belakang saya, dan mengambil kartu-kartu yang telah saya baca. Saya pun memberi kode kepada asisten untuk memindahkan dia ke meja. Dia mau pindah ke meja, tapi saya lihat tarikan bibirnya yang menandakan dia tidak suka. Dan kemarahannya pun dilampiaskan kepada teman yang kebetulan menyenggolnya.

Hmm … saat melihat bekas gigitan di lengan temannya, saya seperti melihat jejak teori how to learn L2. Artinya, saya mesti memahami dinamika mempelajari bahasa kedua lebih dalam lagi. Mungkin ketika kuliah, saya hanya tidak nyaman terhadap guru Speaking saya. Saya kesampingkan rasa sebel dan malu, karena saya sadar bahwa keberhasilan pembelajaran bahasa kedua didasarkan pada penguasaan bentuk-bentuk bahasa. Yah, saya kan berangan-angan jadi linguis waktu itu. Nah, pada anak-anak, ketidaknyamanan terhadap pembelajaran bahasa kedua mereka ekspresikan dengan berbagai cara. Dengan “snack time“, tidur-tiduran, mengganggu teman, mondar-mandir, melarang saya berbahasa Inggris, membuka jilbab belakang dan menggigit teman. Ketidaknyamanan bukan berarti penolakan, tetapi juga keinginan besar untuk menjadi a successful L2 learner.

Seandainya pembelajaran bahasa Inggris diibaratkan menjadi sebuah dunia yang penuh dinamika, maka bagian awal dari lagu Heal the World ini akan tepat.

There’s a place in your heart
and I know that it is love

And this class could be much better than before
And If  you really try
You’ll  find there’s no place to cry
In this class you’ll feel
there’s no hurt or sorrow

….

Amira 0

Amira kini selalu tersenyum lebar bila bertemu saya. Bahkan kata guru kelasnya, pada hari pembahasan perkembangan SD (baca: rapor) di hari Minggu lalu, orang tuanya bercerita bahwa kata Amira dia senang belajar matematika dengan saya (catatan: saya akan tuliskan kelak hubungan antara linguistik dan matematika).

Saya lega, hubungan saya dengan Amira akhirnya membaik. Perlu waktu sekitar empat-lima tahun untuk mendapatkan trust Amira.

Luka pada hubungan kami berawal dari ketidaktahuan kami (saya, pastinya) tentang asesmen. Saya ingat, saya menerima kedatangan ibunya di tahun 2007, yang mengatakan anaknya yang bungsu akan masuk sekolah kami, menyusul kakaknya yang baru lulus. Saya iya iya saja, tidak curiga ketika ibunya bercerita bahwa putrinya menyebut “sekolah” dengan “oah”, dan tidak mempunyai suatu feeling ketika ibunya tidak membawa anaknya ke sekolah.

Tanpa asesmen, atau sekadar pengamatan, saya menempatkan Amira di Kelas Langit (TK A).

Nah ternyata di sini persoalannya. Setelah Amira bersekolah, para guru merasa kesulitan. Amira lebih banyak berdiam diri ketika temannya mengerjakan soal-soal. Dia tidak punya teman, dia tidak bisa berlari dan dia tidak bisa bicara selancar teman-temannya. Sampai akhirnya gurunya mengusulkan bagaimana kalau Amira belajar di kantor dengan saya.

Saya dengan sok pahlawan menerima usulannya, dan membuat program-program khusus untuk Amira. Saya melihat, pada waktu itu Amira tidak bisa menghitung 1-3, dan tidak bisa melompat dua kaki. Suatu program tidak akan berhasil kalau tidak “masuk” ke hati anak. Ya, Amira menjadi terluka karena dikeluarkan dari kelas. Dia tidak mau belajar bersama saya.

Setiap guru pasti akan patah hati kalau ditolak oleh murid. Jujur saja saya sedih. Apalagi Amira kemudian memusuhi saya. Dalam suatu acara, dia marah ketika saya potret. Saat mengikuti kegiatan lomba, perlu 1001 bujuk rayu lewat ibunya agar dia mau ikut dan naik mobil saya.

Saat dilakukan observasi oleh psikolog, ada kecurigaan bahwa Amira menyandang retardasi mental, yang ditandai dengan keterlambatan dalam perkembangan bicara, kekurangan dalam daya ingat, kesulitan mempelajari aturan sosial (dalam hal ini Amira cenderung lebih menarik diri), dan kesulitan dalam pemecahan masalah.

Di tahun berikutnya, ketika teman-temannya naik ke TK B, Amira kami turunkan ke Kelompok Bermain, atas saran psikolog. Amira menjalaninya dengan gembira, karena pembelajaran di sana sesuai dengan kemampuannya, sekalipun usianya dua tahun lebih tua.

Amira tetap belum mau tersenyum kepada saya. Bahkan ketika dia sakit dan saya menjenguknya, dia bersembunyi di dapur, tidak mau menemui saya.

Namun Amira adalah pejuang yang tangguh untuk dirinya. Dia berupaya agar bisa menyamai teman-temannya, dan menjalani terapi tentunya. Ketika kemampuan dirinya semakin baik, dia mulai bisa mempersepsi dunia luar dengan lebih baik. Ketika kebutuhan akan sebaya mulai berkembang, dia pun melihat bahwa teman-temannya menerima saya dengan baik.

Amira pun mulai mengembangkan rasa percaya kepada saya. Pertanyaan pertama yang diajukannya kepada saya adalah ketika dia TK B.  Dia bertanya, ke mana X, teman sekelasnya. Walaupun singkat pertanyaannya, saya merasa terbang tinggi. Amira sudah mau membuka komunikasi dengan saya.

Minggu lalu saat saya menayangkan foto-foto berkemah, saya meminta setiap kelompok melakukan yel-yel seperti saat kemah. Amira dengan malu-malu melirik kepada saya dan tersenyum malu memperlihatkan giginya yang putih, saat kelompok ungu diminta beryel-yel.

Kini tidak ada lagi batas antara saya dan Amira. Apakah itu dalam pelajaran bahasa Inggris atau matematika, Amira selalu bersemangat. Di saat saya menunduk atau melihat ke suatu arah, saya merasakan tatapan matanya yang meminta balasan tatapan mata saya, sebagai afirmasi bahwa saya mengakui eksistensinya.

Ya, Amira, saya menerima kehadiranmu, bahkan sejak hari pertama kamu datang di sekolah ini.

 

 

Next Page »
WordPress design by 3 Roads Powered by WordPress 3.3.1