<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Endah&#039;s Plain Scrapbook</title>
	<atom:link href="http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://endah.sekolahtetum.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Apr 2010 23:26:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kartini, Ngasirah, Montessori dan Gio</title>
		<link>http://endah.sekolahtetum.org/?p=52</link>
		<comments>http://endah.sekolahtetum.org/?p=52#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 23:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endahws</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endah.sekolahtetum.org/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Hari Kartini ada acara pakai baju daerah di Tetum?&#8221; seseorang  bertanya kepada saya.
Pertanyaan yang membuat saya bertanya balik (dalam hati): kenapa pakai  baju daerah (baca kebaya)? Saya tidak (pernah) berpikir tentang hal itu.
Terlalu banyak yang dapat kita pelajari dari Kartini, dibanding dengan  sempitnya langkah ketika ber-jarik (jarik = bahasa Jawa untuk  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><big>&#8220;Hari Kartini ada acara pakai baju daerah di Tetum?&#8221; seseorang  bertanya kepada saya.</p>
<p>Pertanyaan yang membuat saya bertanya balik (dalam hati): kenapa pakai  baju daerah (baca kebaya)? Saya tidak (pernah) berpikir tentang hal itu.</p>
<p>Terlalu banyak yang dapat kita pelajari dari Kartini, dibanding dengan  sempitnya langkah ketika ber-<em>jarik </em>(jarik = bahasa Jawa untuk  kain batik yang dipakai sebagai padanan kebaya). Terlalu dalam pemikiran  Kartini, dibanding dengan dalamnya tusukan jepit rambut di konde.  Terlalu luas wawasan Kartini, dibanding dengan simbol kebaya mewakili  daerah tertentu.</p>
<p>Itu dimungkinkan karena Kartini punya kepekaan terhadap dirinya dan  lingkungannya.</p>
<p>Pencapaian spiritual dan batin Kartini tentulah karena andil ibunya,  Ngasirah, seorang perempuan desa.  Ya, bukankah masa depan seorang anak  ditentukan oleh fondasi yang dimilikinya ketika balita, seperti yang  dikutip oleh Montessori:  <em>the child is the father of the man</em>. Apa  yang dijalani seseorang di masa dewasanya bergantung pada masa  kanak-kanaknya.</p>
<p>Saya membayangkan, Ngasirah yang sederhana dan tidak bersekolah pastilah  telah memberi kesempatan kepada putri kandung satu-satunya kesempatan  untuk menghayati sekelilingnya.  Dalam pemikiran Montessori, Ngasirah  sepertinya telah memungkinkan Kartini menjalani periode sensitifnya  dengan baik.  Periode sensitif mengacu kepada periode penting dalam  perkembangan manusia.</p>
<p>Bayangan saya tentang periode sensitif Kartini muncul, ketika sehari  sebelum hari Kartini saya melakukan observasi terhadap seorang anak yang  akan masuk sekolah kami.</p>
<p>Anak itu –sebut saja Gio&#8211; telah bersekolah di TK lain. Ibunya ingin  memindahkan Gio ke sekolah kami karena Gio terlihat jenuh di sekolahnya.   Anak-anak di sekolah itu sepanjang hari menghabiskan waktu dengan  mengerjakan soal –dalam istilah pendek: calistung (baca-tulis-hitung).  Menjelang habis semester II, Gio sudah enggan bersekolah, dan ibunya  menjajagi kemungkinan pindah. Kebetulan –dalam perjalanan <em>shopping  around</em>-nya—dia mampir ke sekolah kami. Ketika saya jelaskan program  kami, dia merasa cocok.</p>
<p>Tibalah hari Gio menjalani asesmen. Saya dibantu seorang terapis okupasi  dalam menjalankan asesmen itu. Gio diminta masuk ke gulungan karpet,  melompat, melakukan tindakan ulangan tanpa diperintah, mewarnai,  menggunting, menempel.</p>
<p>Saat mengamati Gio, saya menjadi prihatin. Inilah profil anak Indonesia  masa kini. Anak-anak yang digenjot kegiatan calistung dengan duduk diam  di kursi dan melaksanakan perintah. Gio mampu melaksanakan semua  instruksi, tetapi terlihat ragu dalam pengambilan keputusan, pemahaman  konsep, dan kegiatan motorik kasar. Tubuhnya (saya yakin ibunya tidak  tahu) menunjukkan ketidakseimbangan antara sisi kiri dan kanan (karena  kurang stimulus gerak mungkin).</p>
<p>Saya pikir banyak anak seperti Gio: anak-anak yang didorong pada <em>end-product</em> dengan kegiatan mewarnai dan lembar kerja, tapi tidak menghayati apa  yang terjadi di dirinya dan di lingkungannya.</p>
<p>Anak-anak ini kehilangan kesempatan untuk mengecap periode sensitifnya.  Mereka didudukkan di baby walker, tidak dibiarkan menjelajah dengan  merangkak; mereka disuapi, tidak dibiarkan menggunakan tangannya untuk  memenuhi kebutuhan paling mendasar dalam hidupnya; mereka dikejar-kejar  supaya makan, tidak dibiarkan menghayati aliran rasa lapar dan kenyang  dalam tubuhnya; mereka dimandikan-dipakaikan baju-disisiri, tidak  dibiarkan memenuhi kebutuhannya sendiri.</p>
<p>Dengan tidak menghayati tubuhnya, bagaimana mereka dapat menghayati  lingkungannya? Bagaimana kelak kita akan mendapat seseorang yang punya  kedalaman pemikiran seperti Kartini?</p>
<p>Apakah Kartini dulu mendapat stimulasi yang cukup ketika balita? Apakah  dia merangkak? Kemungkinan besar, ya, karena dulu tidak ada baby walker  kan.</p>
<p>Apakah dia berlari-lari? Kemungkinan ya, karena waktu itu tidak ada  televisi.</p>
<p>Apakah dia melayani kebutuhan pribadinya sendiri ketika kecil?  Kemungkinan ya, kalau kita lihat kemampuan motorik halusnya dalam  membatik dan menulis.</p>
<p>Apakah dia punya rentang konsentrasi yang baik?  Kemungkinan ya, karena  dia mampu menulis berjam-jam.</p>
<p>Jadi, apakah dia belajar calistung ketika balita? Tidak: Kartini punya  perkembangan emosi yang baik (dia mampu beradaptasi dengan tuntutan  lingkungan) dan punya perkembangan intelektual yang sangat, sangat baik.  Seseorang yang mendapat kesempatan untuk mengembangkan serabut saraf di  batang otak ketika balita, akan bisa mengembangkan serabut saraf di  otak tengah (yang berkaitan dengan emosi) dan otak luar (yang berkaitan  dengan intelektualitas).</p>
<p>Para Ngasirah Modern (baca: ayah dan bunda yang hidup di era masa kini),  ada kesempatan besar untuk menjadikan anak kita seorang Kartini.  Kuncinya adalah satu: tidak melawan kodrat alam. Tuhan telah menciptakan  blueprint perkembangan manusia, namun kerap kita langgar, atas nama  tuntutan zaman (SD sekarang menghendaki anak yang bisa baca tulis; anak  tetangga sudah bisa ini dan itu; anak saya harus jadi manusia unggul) ….</p>
<p>Bukan hanya manusia, ulat pun punya blueprint perkembangan hidupnya.  Ilmuwan Belanda Hugo De Vries mengamati bahwa secara instinktif ulat  betina menempatkan telurnya di suatu sudut yang terlindung di pohon.  Ketika bayi ulat menetas, apa yang dilakukannya untuk mendapatkan  dedaunan muda (ulat dewasa makan daun-daunan dengan rakus)?  Bayi ulat  mengikuti cahaya. Ia memiliki kepekaan, dan tertarik pada cahaya, dan  dengan cara itu ia mendapatkan makan untuk pertahanan hidupnya. Ketika  ia sudah makan banyak dan menjadi besar, periode kepekaannya terhadap  cahaya pun pudar. Ia menempuh cara lain untuk pertahanan hidupnya.</p>
<p>Temuan De Vries yang kemudian membuahkan pemikiran Montessori tentang  periode sensitif.   Montessori yakin bahwa manusia menapaki serangkaian  lompatan kuantum (quantum leaps) dalam tahap prasekolah. Dalam tahapan  itu anak sangat sensitif pada stimulus tertentu. Pada periode sensitif  itu anak sangat mudah mendapatkan kemampuan tertentu.  Namun begitu  periode itu berlalu, anak sudah terpuaskan, dan berkembang ke  perkembangan berikutnya.</p>
<p>Kepekaan itu adalah (menurut versi MontessoriMom.com)<br />
* 0-3 tahun:  Anak menyerap informasi seperti spons. Di tahap ini ia  mendapatkan pengalaman dan pembelajaran sensori: menyentuh, mencecap,  mencium, melihat dan mendengar informasi dari lingkungan.<br />
* 1,5-3 tahun: Anak membangun dasar bahasa (Ini adalah bahasa ibu, dan  bahasa kedua yang diberikan dengan cara yang sama dengan bahasa ibu,  tidak sepotong-sepotong).<br />
*1 ½- 4 tahun: Perkembangan dan koordinasi kemampuan otot besar dan  kecil (karena itu penting bagi anak untuk menggunakan kedua tangannya).<br />
*2- 4 tahun: Mobilitas, koordinasi gerakan dan kehalusan gerakan, minat  pada bahasa dan komunikasi , peka pada hubungan spasial, mencocokkan,  mengurutkan, dan logika berpikir lain.<br />
*2 ½-6 tahun: Menggunakan indra untuk belajar dan beradaptasi dengan  lingkungan.<br />
*3-6 tahun: Minat dan kekaguman pada dunia orang dewasa: ingin meniru  perilaku orang dewasa.<br />
*4-5 tahun: Menggunakan tangan dan jari untuk memotong, menulis dan  menggambar.  Indra peraba berkembang dengan sangat baik di tahap ini.<br />
*4 ½-6 tahun: Siap dengan keterampilan membaca dan matematika.</p>
<p>Apabila periode sensitif ini tidak dipenuhi, anak akan berontak dengan  berbagai cara. Gio, misalnya, dengan mogok sekolah. Pemberontakan Gio  merupakan sinyal alam bahwa telah terjadi penyimpangan dalam  perkembangan hidup seorang anak manusia. Alhamdulillah, ibunya menangkap  hal itu, terpanggil menjadi Ngasirah: mengasuh anak dengan kodrat alam.</p>
<p><em>Referensi:</em></p>
<p>The Secret of Childhood, Maria Montessori, New York: Balantine Books,  1972<br />
Panggil Aku Kartini Saja, Pramoedya Ananta Toer, Jakarta: Hasta Mitra,  1972<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;1c4c2&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.montessorimom.com/sensitive-periods-learning/" target="_blank"><span>http://www.montessorimom.c</span><span>om/sensitive-periods-learn</span>ing/</a></big></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2&amp;p=52</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marching Math</title>
		<link>http://endah.sekolahtetum.org/?p=40</link>
		<comments>http://endah.sekolahtetum.org/?p=40#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 16:03:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endahws</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endah.sekolahtetum.org/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Pukul stik ke atas empat kali
(Tik tik tik tik)
Pukul stik bersamaan di drum tiga kali …
(Drum drum drum)
…….
Sambil memukulkan stik drum ke atas-bawah-atas-bawah dengan ritme  tertentu, anak menyerap informasi yang diberikan oleh mata, telinga,   kulit, dan gerakan mengangkat dan menurunkan tangan.  Jalur saraf pun  terbentuk, memungkinkan ia menggunakan informasi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><big><em>Pukul stik ke atas empat kali<br />
(Tik tik tik tik)<br />
Pukul stik bersamaan di drum tiga kali …<br />
(Drum drum drum)<strong><br />
</strong>…….</em></big></p>
<p><big>Sambil memukulkan stik drum ke atas-bawah-atas-bawah dengan ritme  tertentu, anak menyerap informasi yang diberikan oleh mata, telinga,   kulit, dan gerakan mengangkat dan menurunkan tangan.  Jalur saraf pun  terbentuk, memungkinkan ia menggunakan informasi yang diserap  untuk  memahami dunia. Dengan menatap ke pelatih yang memainkan melodi dengan  belira, anak menaikkan dan menurunkan stik, mendengarkan irama, lebur  dalam harmoni.<br />
<span id="more-40"></span><br />
Saat mengikuti kegiatan marching band, ia membangkitkan kembali potensi  alaminya sebagai matematikawan sejati.</big></p>
<p><big>Ya, setiap manusia diciptakan dengan kemampuan sebagai matematikawan,  kemampuan menghayati pola-pola dan ritme dalam kehidupannya. Sejak umur  sembilan minggu dalam kandungan, ia telah mendengar pola bunyi yang  dihasilkan oleh detak jantung, aliran darah, napas, pencernaan dan suara  ibunya. Pada usia 12 minggu ia mulai mampu mendengar bunyi-bunyi  itu  sebagai irama yang teratur. Di usia 24 minggu (enam bulan), ia  dapat  merespon musik dengan mengerdipkan mata dan melakukan gerakan seperti  menari.</big></p>
<p><big>Keterampilan matematika tidak hanya didasarkan pada kemampuan mendengar  bunyi, namun juga pada kemampuan mengatur gerakan dan keseimbangan, yang  dikendalikan oleh sistem vestibular.  Sistem sensori ini berkembang  ketika manusia  berumur  lima bulan dalam kandungan, dan merupakan  sistem sensori yang pertama berkembang penuh.</big></p>
<p><big>Sejak konsepsi hingga usia 15 bulan pertama kehidupannya, sistem  vestibular sangat aktif.  Di saat itu anak menyerap kepekaan terhadap  gravitasi dan pengetahuan tentang lingkungan fisik melalui gerakan.  Setiap gerakan yang dilakukan anak akan menstimulasi sistem  vestibularnya, dan menstimulasi otak terhadap adanya hal baru yang  dipelajari. Diawali dengan gerakan refleksif ketika lahir, anak belajar  berdiri, berjalan, berlari.</big></p>
<p><big>Dengan sistem ini, seorang anak yang bermain drum dapat berdiri tegak,  dan berjalan. Di saat ia berbaris, matanya  statis menatap ke pelatih,  namun seluruh tubuhnya bergerak. Pada saat itu sistem tubuhnya bekerja  keras menjaga level pandangan dengan kepala yang terus bergerak, dan  menjaga keseimbangan tubuh terhadap gravitasi.</big></p>
<p><big>Faktor lain yang penting adalah propriosepsi, yaitu kepekaan tubuh  terhadap ruang.  Seluruh otot memiliki reseptor proprioseptif yang  merasakan tingkat peregangan otot. Reseptor peregangan ini membuat kita  tahu tentang posisi fisik kita, dan memberi umpan balik untuk bergerak  dan menjaga keseimbangan. Di saat bayi kita bergerak dengan otot yang  ada di dalam dada. Proprioseptor terus memberi umpan balik kepada otak  bagian motor korteks yang memungkinkan kita terus melakukan gerakan yang  bertambah sulit. Dari telungkup bayi berbalik, duduk, berdiri dan  kemudian berjalan.</big></p>
<p><big>Saat mengikuti kegiatan marching band, maka anak mendapatkan pengalaman  sensori yang luar biasa. Dengan kegiatan itu otak terus mendapat  stimulus melalui seluruh indra.</big></p>
<p><big>Dan tentunya stimulus itu berkaitan dengan kemampuan akademik. Ya,  setidaknya itu yang kami alami.</big></p>
<p><big>Bergerak dan mengikuti ritme adalah dua hal yang disukai anak-anak, dan  merupakan dua kemampuan  dasar matematika. Sayangnya, kedua hal itu  kerap tak tersentuh dalam pembelajaran matematika anak usia dini.</big></p>
<p><big>Sumber: <em>Smart Moves, Why Learning is Not All in Your Head</em>, Carla  Hannaford, Salt Lake City: Great River Books, 2005</big></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2&amp;p=40</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Calistung &amp; Refleks Primitif</title>
		<link>http://endah.sekolahtetum.org/?p=44</link>
		<comments>http://endah.sekolahtetum.org/?p=44#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 16:08:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endahws</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endah.sekolahtetum.org/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[“Jadi di sini tidak diajarkan membaca dan menulis?” tanya seorang ibu yang akan mendaftarkan anaknya ke TK A.
Pertanyaan itu muncul setelah saya jelaskan bahwa yang membedakan sekolah kami dengan sekolah lain adalah: tidak menggegas. Artinya, kami memberikan stimulasi edukasi sesuai dengan perkembangan anak. Contoh gampangnya, di sekolah lain anak-anak TK A sudah diajarkan membaca secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Jadi di sini tidak diajarkan membaca dan menulis?” tanya seorang ibu yang akan mendaftarkan anaknya ke TK A.</p>
<p>Pertanyaan itu muncul setelah saya jelaskan bahwa yang membedakan sekolah kami dengan sekolah lain adalah: tidak menggegas. Artinya, kami memberikan stimulasi edukasi sesuai dengan perkembangan anak. Contoh gampangnya, di sekolah lain anak-anak TK A sudah diajarkan membaca secara visual dan sudah diberi PR, namun pada tingkat TK A kami lebih menaruh fondasi pada rentang konsentrasi, sikap belajar, kemampuan memegang pensil yang matang dan postur tubuh.</p>
<p><span id="more-44"></span>Saya tidak menjawab pertanyaannya, tapi menoleh kepada Ando, putra si ibu. Ando tengah menarik pengikat pena berbentuk spiral hingga menjadi tali lurus. Kemudian ia menggesek-gesekkan mobil-mobilan di atas meja sampai menimbulkan bunyi berdecit, dan baru berhenti ketika matanya melihat palu dan pasak di rak. Bunyi talu pun menghias ruangan.</p>
<p>Setengah merasa bersalah, si ibu berkata kepada Ando, “Ando, tadi janjinya kalau di sekolah mau diem.”</p>
<p>Saya tersenyum. Tidak akan saya meminta Ando untuk diam. Seperti juga tidak akan saya melabel dia dengan “nakal”. Malah saya bersyukur bahwa dia dibawa ke sekolah kami …. Sekolah yang “tidak mengajarkan calistung”, menurut dugaan ibu itu.</p>
<p>Bagaimana mau calistung, anak seperti Ando masih berkutat dengan refleks primitifnya. Dalam sekejap saya melihat kebutuhan bergeraknya yang sangat besar, dan saya memprediksi di kelas kelak ia akan sulit diam di kursi, sehingga melakukan kompensasi dengan menggoyang-goyangkan badan, memainkan kursi, atau berbicara.</p>
<p>Di sekeliling kita banyak ’kan Ando-Ando lain: anak-anak yang punya kecenderungan bergerak tinggi. Sayangnya, bahasa gerak mereka kerap dikontraskan dengan bahasa diam. Ada yang diminta gurunya berlatih konsentrasi dengan mengerjakan soal-soal latihan. Ada yang dileskan matematika dan setiap sore harus duduk membuat pekerjaan rumah.</p>
<p>Oh ya yang menyedihkan, kemarin pagi saya mendapat cerita dari seorang ibu yang mengatakan bahwa minggu lalu anaknya diancam tidak boleh ikut try out SD karena di kelas memain-mainkan kursi.</p>
<p>Hmm … meminta anak mengerjakan soal dan hukuman tidaklah akan menyelesaikan masalah, karena akarnya tidak dibabat habis. Ya, pokok persoalannya adalah adanya perkembangan saraf yang tidak sempurna.</p>
<p>Penelitian menunjukkan adanya kaitan antara kesulitan belajar dengan masih adanya refleks primitif. Refleks primitif adalah pola gerakan yang muncul di masa janin, dan mempunyai peran penting bagi bayi lahir sampai dengan beberapa bulan kehidupannya untuk pertahanan hidupnya. Reflleks ini merupakan perangkat gerakan lembut, terkontrol dan seketika. Dengan bertambahnya usia dan berkembangnya sistem saraf, seharusnya refleks ini terintegrasi secara penuh pada usia sebelum tiga tahun. Jika refleks ini tidak terintegrasi (atau ‘menetap), akan terjadi hambatan pada kontrol motorik, persepsi sensori, koordinasi mata tangan, kognisi, perilaku, dan perilaku keseluruhan.</p>
<p>Reflek itu, di antaranya:</p>
<p>Refleks Moro. Muncul pada masa janin di minggu ke-9-12, dan menghilang pada bulan ke-2 sampai 4 setelah kelahiran. Refleks Moro adalah respons fisiologis tubuh terhadap sumber stress yang mendadak atau berpotensi mengancam. Menyadari akan adanya bahaya, otak secara otomatis mengkomando respon refleksif, yang menyebabkan bayi membuka tangannya ke arah atas dan belakang tubuh. Gerakan membuka ini memicu regukan udara seketika, sehingga paru-paru dalam kapasitas siaga di saat bayi menangis minta perlindungan.</p>
<p>Refleks Moro yang menetap di usia berikutnya, akan menyebabkan anak menjadi impulsif (senang menyenggol teman atau mengejek dengan kata-kata yang membuat teman menangis), hiperaktif (terus bergerak seperti yang dilakukan Ando), tidak menyelesaikan tugas dengan rapi, tidak mampu duduk diam, tidak mampu menaruh perhatian, mudah teralih, seolah tidak mendengar, menarik diri atau malu, dan menunda pekerjaan.</p>
<p>Gejala lain masih menetapnya refleks Moro:<br />
-Koordinasi yang lemah, terutama pada saat bermain bola – yang dapat mengarah ke keterampilan mengurutkan dan mengingat<br />
-Masalah keseimbangan<br />
-Sensitif terhadap sinar<br />
-Tak nyaman dengan suara keras<br />
-Alergi dan imunitas yang lemah<br />
-Tak nyaman dengan perubahan</p>
<p>Asymmetrical Tonic Neck Reflex (ATNR). Muncul di usia 18 minggu masa janin, dan menghilang pada usia 3-9 bulan setelah lahir. Refleks ATNR terlihat saat bayi menolehkan kepala ke satu sisi tubuh, lengan di sisi itu lurus, dan lengan di bagian lain membengkok.</p>
<p>ATNR yang menetap akan mengganggu proses belajar. Anak-anak dengan ATNR yang masih menetap akan sulit menulis. Setiap kali ia mengarahkan kepala ke salah satu sisi halaman, lengannya akan lurus dan jari membuka. Ia juga sulit memegang pensil untuk jangka waktu lama, dan melakukan kompensasi dengan memegang pensil dengan sangat erat. Energi besar yang diarahkan ke kegiatan menulis akan mengalihkan perhatian pada hal yang akan ditulisnya. Ada pula anak yang melakukan kompensasi dengan memutar halaman buku 90 derajat untuk “mengakomodasi” efek ATNR.</p>
<p>Dalam kegiatan membaca, mata tidak bergerak mulus dari satu sisi ke sisi lain, dan anak kerap &#8220;kehilangan&#8221; bagian yang tengah dibacanya.</p>
<p>Anak-anak dengan ATNR yang masih menetap juga sulit dengan arah kanan dan kiri.</p>
<p>Symmetrical Tonic Neck Reflex (STNR). Muncul pada usia 6-9 bulan setelah kelahiran, dan menghilang pada 9-11 bulan setelah lahir. Refleks ini memungkinkan bayi meluruskan lengan dan membengkokkan kaki ketika mendongak. STNR muncul dalam rentang yang singkat, dan terkait dengan koordinasi tubuh.</p>
<p>Kemampuan ini akan penting untuk membaca tanpa kehilangan tulisan yang dibaca, dan secara visual dapat menggerakkan tangan ketika menulis. Memfokuskan arah dan keterampilan untuk mengkoordinasikan mata tangan yang digunakan pada saat merangkak adalah keterampilan sama yang digunakan saat menulis dan membaca.</p>
<p>Gejala lain dengan adanya STNR:<br />
-Sulit duduk diam di kursi<br />
-Sulit belajar berenang<br />
-Sulit dalam permainan bola<br />
-Postur yang lemah<br />
-Kecenderungan untuk duduk ndelosor, terutama bila di depannya ada meja<br />
-Makan berantakan<br />
-Lambat ketika mengkopi dari papan tulis</p>
<p>Tonic Labyrinthine Reflex (TLR). Muncul di saat lahir, dan menghilang 2-4 bulan setelah lahir. TLR adalah kebalikan dari STNR. Ketika bayi mendongak, TLR menyebabkan bayi melipat lengan dan meluruskan kaki. Refleks ini aktif dalam proses kelahiran. Pada usia 3 bulan TLR memungkin bayi tengkurap dan mengangkat kepala. Refleks ini terkait dengan keseimbangan dan tonus otot. TLR memberi bayi dengan kemampuan untuk mengontrol leher dan kepala. Dengan refleks ini bayi mengenal keseimbangan; meningkatkan tonus otot; dan mengembangkan indra propriosepsi dan keseimbangan. Jika refleks ini masih ada, keterampilan keseimbangan dan motorik kasar dapat terganggu.</p>
<p>Gejala adanya refleks ini mencakup:<br />
-Postur lemah<br />
-Jalan jinjit<br />
-Lemah dalam bermain bola<br />
-Artikulasi buruk – karena kemampuan meluruskan lidah terganggu.<br />
&#8211;</p>
<p>Refleks-refleks primitif menetap karena adanya berbagai bentuk trauma, baik itu fisik, kimiawi maupun emosional. Trauma fisik mencakup proses kelahiran yang lama dan sulit, atau penggunaan forceps, vakum atau induksi. Trauma kimiawi adalah akibat terpaparnya kimia berbahaya baik untuk kesenangan maupun pengobatan. Trauma emosi dapat terjadi karena kehilangan anggota keluarga, lingkungan rumah yang penuh stres, penganiayaan fisik atau seksual.</p>
<p>Apa yang bisa dilakukan untuk mengintegrasikan refleks neonatal yang masih menetap ini? Dengan memakai analogi komputer, proses ini sama dengan meng-update perangkat lunak: memperbaharui program tubuh agar kemampuan anak untuk mengarungi lingkungan sekitarnya lebih meningkat.</p>
<p>Kerja sama dengan ahli okupasi terapi, fisioterapi anak, ahli saraf anak dan pendidik yang memahami tumbuh kembang anak usia dini dapat mengatasi masalah ini.</p>
<p>Jadi pertanyaan, “Apakah di sini anak belajar baca tulis?” akan saya kembalikan dengan apa yang telah dilakukan ibu untuk untuk menstimulasi anaknya: bagaimana relasi ayah dan ibu, bagaimana proses kelahiran, apakah langsung menangis, apakah langsung menyusui ketika baru lahir, apakah merangkak … dan sebagainya dan sebagainya.</p>
<p>Kemampuan calistung tidak instan didapat dari sekolah, karena persiapannya sebetulnya berlangsung sejak dari janin dan melibatkan seluruh proses alamiah tubuh.</p>
<p>Saya bersyukur ibu Ando datang ke sekolah kami. Kami akan mendapat kesempatan mengubah paradigma berpikir seorang ibu, dan dapat menyelamatkan seorang anak agar dapat berkembang sesuai dengan fitrahnya.</p>
<p>Sumber:<br />
http://abettereducation.blogspot.com/2009/05/interview-with-sally-goddard-blythe-on.html<br />
http://www.primarymovement.org/background/index.html<br />
http://www.thelearningclinic.ie/?page_id=192<br />
http://www.inpp.org.uk/learning_difficulties/coordination_problems.php<br />
http://www.rhythmicmovement.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=11&amp;Itemid=18<br />
http://www.masgutovamethod.com/index.htm<br />
http://www.moving-towards-balance.com.au/MTB_Neonatal_Reflexes.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2&amp;p=44</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Bunda Ci yang Putranya tidak Lulus Tes Masuk SD</title>
		<link>http://endah.sekolahtetum.org/?p=46</link>
		<comments>http://endah.sekolahtetum.org/?p=46#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 16:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endahws</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endah.sekolahtetum.org/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Bunda Ci, saya baru saja membaca suratmu tentang keputusanmu memasukkan  putramu ke SD kami. Saya terharu membacanya, membayangkan diri saya di  posisimu, dalam kegundahan mempersiapkan masa depan Le. Hati kecilmu  memilih kami, sekalipun keluargamu mempengaruhimu agar mencari sekolah  beragama yang bonafid.
Kau telah mengirim Le ke &#8220;medan perang&#8221;, bertempur dengan soal-soal tes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bunda Ci, saya baru saja membaca suratmu tentang keputusanmu memasukkan  putramu ke SD kami. Saya terharu membacanya, membayangkan diri saya di  posisimu, dalam kegundahan mempersiapkan masa depan Le. Hati kecilmu  memilih kami, sekalipun keluargamu mempengaruhimu agar mencari sekolah  beragama yang bonafid.</p>
<p>Kau telah mengirim Le ke &#8220;medan perang&#8221;, bertempur dengan soal-soal tes  masuk SD. Kau menaruh harapan pada dua sekolah, dan kau mendapat  kekecewaan dua kali pula: putramu tak lulus. Saudara-saudaramu pun  bereaksi lagi: akan mengajari si Le membaca dan menulis dalam waktu dua  bulan. Tapi kau sudah lelah untuk mencoba lagi, dan akhirnya kau menulis  surat kepada saya.<br />
<span id="more-46"></span><br />
Saya dapat merasakan kegundahanmu, membayangkan dirimu dalam kesendirian  dan tidak tahu bagaimana harus mengambil keputusan.</p>
<p>Pernahkah kau bertanya kepada Le, sekolah mana yang disukainya setelah  kau ajak dia berkeliling ke sekolah-sekolah? Sekalipun yang mengambil  keputusan adalah orang tuanya, pertimbangan Le perlu didengar juga.</p>
<p>Saya pun pernah jatuh hati pada sekolah yang kau pilih. Ketahuilah,  Bunda Ci, dulu (15 tahun lalu) saya  ingin sekali memasukkan anak sulung  saya ke sana. Saya tertarik pada sekolah itu karena di sana ada  tokoh-tokoh pendidikan berlevel nasional. Tapi saya terlambat dua hari  untuk membeli formulir, dan akhirnya berbelok ke sekolah lain.</p>
<p>Sekarang, saya mensyukuri hal itu. Sekolah itu ternyata tidak mengenal  individual differences. Baru-baru ini seorang teman saya bercerita bahwa  keponakannya yang bersekolah di sana diminta pindah ke sekolah lain  karena tidak dapat mengikuti kegiatan. Dari ceritanya, saya menduga  bahwa si anak tergolong special needs. Saya terperangarah. Sekolah yang  begitu megah dengan tokoh pendidikan berlevel nasional ternyata telah  menihilkan perkembangan seorang anak yang perlu perhatian khusus, dan  tidak melakukan antisipasi pula. Jadi apa artinya tes masuk SD?</p>
<p>Beruntunglah bila Le tidak lulus dalam tes. Sekolah itu sungguh tidak  beruntung, karena tidak memiliki  putramu yang begitu santun. Ya, kami  terkesan ketika semester lalu Le meminta maaf karena tidak lagi  mengikuti suatu kegiatan ekstrakurikuler. Suatu hal yang tak perlu ia  lakukan, tapi ia lakukan dengan spontan.</p>
<p>Kesantunan itu akan kami rawat di sekolah kami kelak. Bersama  teman-temannya, ia akan berada di lingkungan yang membuatnya berjalan  dengan tenang; berbicara dengan suara secukupnya; berbagi; menjaga  alat-alat belajar (termasuk mengambil dan mengembalikannya); menggunakan  bahasa yang baik; menghargai orang lain; dan menjaga kebersihan. Dia  juga akan disiplin karena lingkungannya membuat dia disiplin  (membersihkan kotoran dengan sapu kecil, membuang sampah, mengembalikan  barang ke tempatnya); dia dan teman-temannya berada di kelas yang hening  bukan karena tidak boleh berisik namun karena keasyikan bekerja; ia  akan memotivasi diri sendiri dengan mengerjakan tugas pilihannya, bukan  dimotivasi guru; ia mengoreksi sendiri pekerjaannya, bukan gurunya; ia  mempunyai kebebasan bergerak di kelas, tidak duduk di tempat  tertentu  dalam waktu tertentu; ia bebas melakukan penemuan, bukan diarahkan guru.</p>
<p>Ya, masih banyak lagi. Ia tak akan merepotkanmu dengan pekerjaan rumah,  tapi akan menyerap kehangatan dan cinta darimu dan ayahnya. Mendongeng,  makan bersama, mengobrol, bersepeda, bermain dan melakukan segala  sesuatu atas pilihannya akan jauh lebih berarti daripada memaksanya  duduk mengerjakan pekerjaan rumah.</p>
<p>Di sekolah ia tak akan dibandingkan dengan temannya dalam sistem  ranking, tapi akan dibandingkan antara dirinya yang sekarang dan  sebelumnya. Ia akan bertindak karena motivasi internalnya, bukan demi  survival mempertahankan hidup yang penuh persaingan.</p>
<p>Bunda Ci, kemarin saya mengunjungi suatu sekolah internasional, dengan  metode seperti yang saya impikan; sebuah sekolah yang memberikan  kebebasan berpikir kepada anak, berkreasi, dan peka terhadap lingkungan.  Saya melihat mereka berlatih mempresentasikan pelajaran yang mereka  dapat. Saat mereka presentasi, mereka duduk menunggu giliran, dan  bertepuk tangan ketika teman mereka selesai. Mereka menyapu,  membersihkan debu, mengelap meja basah. Mereka memilih pelajaran yang  mereka sukai, mengambil buku dan terdiam bekerja. Di akhir sesi, mereka  menunjukkan kepada teman-teman mereka apa yang telah mereka lakukan. Oh  ya, ketika makan bersama, seseorang menawarkan pepaya kepada saya.</p>
<p>Anak-anak ini berada dalam lingkungan yang tidak menggegas kognitif  mereka, dan gerak tubuh mereka menunjukkan bahwa mereka punya kematangan  dalam aspek sosial emosi, motorik dan kecerdasan.</p>
<p>Di lingkungan yang dimasuki Le kelak, dia akan berada dalam situasi  seperti itu.</p>
<p>Selamat datang dalam ketetapan hati, Bunda Ci. Rasakanlah senyum Paulo  Freire, Montessori, Piaget dan Helen Keller karena kau telah menjalin  hubungan batin dengan karya-karya mereka.</p>
<p>Endah Soekarsono &#8211; Sekolah Tetum<br />
(Tulisan ini adalah fiktif sekalipun mengambil inspirasi dari pengalaman  nyata &#8211; Terima kasih untuk Satori, Popay &amp; Fundi Montessori)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2&amp;p=46</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyiapkan Si Kecil Bersekolah</title>
		<link>http://endah.sekolahtetum.org/?p=48</link>
		<comments>http://endah.sekolahtetum.org/?p=48#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 16:18:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endahws</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endah.sekolahtetum.org/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar:
Si kecil menyerap informasi seperti spons. Dia senang menggambar dan  membuka buku cerita. Wah, pokoknya Anda dengan berbunga-bunga bercerita  tentang si kecil saat berkumpul dengan ibu-ibu lain.
Lalu Anda pun bertanya-tanya, sudah saatnyakah dia dimasukkan ke  sekolah? Apa sajakah yang perlu dipertimbangkan bila dia memasuki dunia  sekolah?
1. Kemandirian dan Tanggung Jawab
Pada acara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Pengantar:</em></strong><em></p>
<p>Si kecil menyerap informasi seperti spons. Dia senang menggambar dan  membuka buku cerita. Wah, pokoknya Anda dengan berbunga-bunga bercerita  tentang si kecil saat berkumpul dengan ibu-ibu lain.<br />
Lalu Anda pun bertanya-tanya, sudah saatnyakah dia dimasukkan ke  sekolah? Apa sajakah yang perlu dipertimbangkan bila dia memasuki dunia  sekolah?</em></p>
<p><strong>1. Kemandirian dan Tanggung Jawab</strong></p>
<p>Pada acara keluarga, Anda dengan bangga melirik pada si kecil yang  &#8211;meskipun belum bersekolah—sudah terampil mencoret-coret kertas bersama  sepupu-sepupunya yang lebih besar, dan di saat makan, dia makan sendiri  tanpa disuapi.</p>
<p>Anda pun membayangkan, jika masuk sekolah, si kecil tentu akan dengan  mudah mengikuti kegiatan kelas. Ya, Anda benar, perilaku balita seperti  itu menunjukkan bahwa independensi atau kemandiriannya berkembang dengan  baik. Ahli psikologi anak, Erik Erikson, mengatakan bahwa independensi  adalah isu yang penting pada anak yang usia dua tahun. Independensi ini  memungkinkan kemampuan motor dan mentalnya berkembang. Jadi anak tak  hanya berjalan, tetapi juga memanjat, membuka dan menutup, menjatuhkan  barang, menarik, mendorong, menahan dan melepas. Dia merasa bangga  dengan pencapaian baru itu, dan selalu ingin mencoba yang baru.</p>
<p>Bila Anda bereaksi berlebihan atau negatif bila dia mengompol,  menumpahkan air atau memecahkan sesuatu, maka –menurut Erikson—dalam  dirinya akan terbentuk rasa malu. Perkembangan independensi ini akan  memberinya keberanian untuk memikul tanggung jawab.</p>
<p>Berikut ini adalah ceklis dari Hopkins Welcoming Schools Program untuk  menentukan kesiapan anak<br />
bersekolah di usia 36 bulan dalam hal kemandirian. Anda bisa memakai  ceklis ini untuk mengecek sampai sejauh mana kemampuan anak Anda dan apa  harus Anda lakukan:<br />
<span id="more-48"></span></p>
<ul>
<li>Anak saya bisa :	Menggunakan sendok tanpa jatuh.</li>
<p>Saya bisa mengajarkannya dengan :	Membiarkannya makan sendiri dengan  sendok, dan bersabar.<br />
Alat bantu yang saya perlukan: Sendok kecil</p>
<li>Anak saya bisa: Memakai baju dan celana.</li>
<p>Saya bisa mengajarkannya dengan: Membiarkannya memakai baju dan celana  sendiri , dan bersabar. 	Alat bantu yang saya perlukan: Waktu yang cukup  untuk membiarkan anak berpakaian, kotak berisi pakaian yang akan  dipakai.</p>
<li>Anak saya bisa: Mendorong mainan beroda tanpa menabrak.</li>
<p>Saya bisa mengajarkannya dengan: Membiarkannya mendorong mainannya dan  menyingkirkan halangan-halangan.<br />
Alat bantu yang saya perlukan: Benda beroda.</p>
<li>Anak saya bisa: Bergiliran.</li>
<p>Saya bisa mengajarkannya dengan: Berguling ke depan dan belakang,  bergiliran dengan buku, pura-pura mengaduk kue.<br />
Alat bantu yang saya perlukan: Waktu untuk bermain dengan anak.</ul>
<p>(Sumber: Hopkins Welcoming Schools Program)</p>
<p>Di samping itu, ada pula metode Montessori yang bisa Anda terapkan di  rumah. Metode Montessori sangat menekankan pada kemandirian dan tanggung  jawab melalui latihan praktis sehari-hari. Jadi di rumah, Anda dapat  melibatkan dia dalam kegiatan sederhana sehari-hari, misalnya, membuka  dan menutup laci, menuang beras, membersihkan debu tipis di meja,  membawa mainannya, melipat serbet, menata meja, mencuci peralatan makan,  dan sebagainya.</p>
<p>Kemandirian yang berkembang baik akan membuat anak mudah mengikuti  program sekolah yang terstruktur.</p>
<p><strong>2. Keterampilan Motorik</strong></p>
<p>Mungkin Anda ingat, ketika anak Anda masih bayi dulu, Anda dengan  sengaja meletakkan telunjuk Anda di telapak tangannya agar digenggamnya,  dan Anda memberinya semangat ketika dia tertatih-tatih melangkah. Ya,  Anda sudah menyiapkan si kecil untuk memasuki dunia sekolah jauh-jauh  hari, mungkin tanpa Anda sadari. Kelak di sekolah, keterampilan motorik  itu dipakainya untuk membuka kotak bekal, memakai sepatu, meronce,  menggambar, berbaris … sebut saja semua kegiatan yang dilakukan anak  dari bel masuk hingga bel keluar.</p>
<p>Ada dua macam keterampilan motorik, yang menggunakan otot halus (seperti  memegang mainan dan menggambar), dan yang menggunakan otot besar  (seperti menangkap bola dan tengkurap).</p>
<p>Perkembangan motorik adalah sesuatu yang alami. Anak sudah mempunyai  timetable kapan berguling, merangkak, ataupun berjalan. Kita tak perlu  menggulingkan tubuhnya supaya dia tengkurap, atau memaksanya berdiri  pada saat dia masih senang merangkak. Tindakan yang memaksa akan membuat  anak kehilangan daya eksplorasi terhadap tubuh yang tengah berlangsung.</p>
<p>Usia tiga tahun adalah usia yang teraktif di dalam rentang kehidupan  manusia. Anak terus bergerak ketika nonton TV, makan, bahkan saat tidur.  Pada tahap usia tiga tahun ini anak bangga dan menikmati gerakan  sederhana, seperti melompat dan berlari. Pada usia 4 tahun anak masih  menyukai aktivitas itu, tetapi ia lebih berpetualang lagi. Misalnya,  melompat-lompat tidak dengan kedua kaki, tetapi dengan satu kaki. Pada  usia lima tahun, anak lebih ingin mencoba yang lebih sulit lagi.  Misalnya, memanjat segala hal yang bisa dipanjat.</p>
<p>Dalam hal motorik halus, pada usia tiga tahun anak dapat mengambil  benda-benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk, tetapi masih canggung.  Di usia ini anak juga sudah dapat menyusun balok yang perlu konsentrasi  tinggi pada setiap tahap, meski hasilnya tidak selalu lurus. Anak di  usia ini sudah dapat bermain jigsaw puzzle, tetapi belum bisa  memasukkannya dengan tepat. Seringkali ia perlu mendorong agar suatu  keping bisa masuk pas ke dalam bagian yang berlubang.</p>
<p>Pada usia 4 tahun koordinasi motorik halusnya sudah meningkat baik dan  menjadi lebih pasti. Kadang-kadang anak usia 4 tahun kesulitan menyusun  balok, karena keinginan untuk cepat-cepat selesai malah membuat balok  yang tersusun jadi rusak.</p>
<p>Pada usia 5 tahun, koordinasi motorik halusnya jauh meningkat. Tangan,  lengan dan tubuh bergerak bersama dengan harmonis. Menyusun balok  sederhana tidak lagi menantang, tetapi yang lebih rumit seperti rumah  atau istana.</p>
<p>Mungkin anak Anda belum sampai di tahap perkembangan motorik yang  disebutkan di atas, mungkin juga melebihi. Yang terpenting adalah  fasilitasi perkembangan motoriknya – tetapi jangan memaksa. Isu penting  di area motorik bukanlah bagaimana anak itu berkembang lebih cepat  daripada yang lain, namun bagaimana dia menggunakan keterampilan yang  dimilikinya dan apakah ada peningkatan dalam menggunakan keterampilan  itu.</p>
<p>Oh ya, Anda tak perlu membedakan motorik anak laki dan perempuan. Anak  perempuan juga perlu tubuh yang kuat dan terlatih, seperti halnya anak  laki. Jadi apakah dia laki atau perempuan, biarkan dia bermain  lari-larian dan melompat.</p>
<p><strong>3. Kognisi</strong></p>
<p>“Lihat ikan yang kuning itu makan dengan lahap. Wah yang hitam  bersembunyi di balik pohon,” kata seorang guru kepada beberapa anak  berumur tiga tahun yang sedang berdiri di depan akuarium.</p>
<p>Hari itu mereka belajar tentang warna, dengan media ikan di akuarium.  Dengan cara itu terjadilah proses kognisi di otak anak. Anak  mengumpulkan informasi, mengorganisasinya, dan akhirnya menggunakannya.</p>
<p>Itulah yang terjadi pada anak usia 2 hingga 4 tahun. Mereka  mengkonstruksi pengetahuan – membangun informasi berdasarkan pengalaman.  Kemampuan itu, menurut Piaget dan Vygotsky, diperoleh karena mereka  sudah siap – sebelumnya sudah ada keterampilan untuk menyerap pelajaran  baru itu. Kedua ahli itu juga percaya bahwa bermain merupakan peluang  untuk mempelajari dan mempraktikkan keterampilan baru; bahasa adalah  signifikan bagi perkembangan kognitif; dan kognisi itu dipengaruhi oleh  nature (dibawa sejak lahir) dan nurture (pengasuhan/lingkungan).</p>
<p>Pada anak usia 2 hingga 4 tahun anak dapat membayangkan objek yang tidak  hadir. Mereka bisa mencoret-coret sosok yang mereka anggap sebagai  orang, mobil, dan sebagainya. Tetapi mereka tidak terlalu peduli  terhadap realitas. Jadi matahari bisa berwarna biru, atau mobil terbang  di awan.</p>
<p>Pada tahap ini mereka tidak dapat membedakan perspektif diri sendiri dan  orang lain. Pernah kan anak Anda menerima telepon tetapi hanya  mengangguk, tak bersuara? Ini adalah yang disebut sebagai egosentrisme  oleh Piaget, seorang ahli perkembangan anak. Anak tak dapat membedakan  antara perspektif dirinya dan orang yang menelepon. Dia menganggap orang  yang menelepon mengerti anggukannya.</p>
<p>Pada usia tahap prasekolah, bahasa anak berkembang pesat. Usia 24 bulan  dia sudah bisa menggunakan frase dua kata, bukan lagi bahasa bayi. Pada  usia 30 bulan, dia belajar kata-kata baru hampir setiap hari,  menggabungkan tiga atau lebih kata, memahami ucapan orang lain dengan  sangat baik, dan membuat kesalahan gramatikal. Pada usia 36 bulan, dia  sudah menguasai 1.000 kata, dan kadang-kadang membuat kesalahan tata  bahasa. Di usia 6 tahun kelak, dia akan menguasai 8.000 hingga 14.000  kata. Bila dia belajar kata sejak usia satu tahun, berarti selama tahap  prasekolah, rata-rata dia menguasai 22 kata baru sehari!</p>
<p>Tak perlu cemas bila perkembangan kognitif anak Anda belum seperti anak  lain. Anak Anda akan berkembang normal bila Anda memberinya rasa nyaman.  Menurut Gonzalez-Mena &amp; Eyer, rasa nyaman menjadi syarat untuk  meningkatkan perkembangan kognitif. Anak yang kebutuhannya terpenuhi  akan merasa nyaman, dan hal ini membuatnya percaya diri untuk  mengeksplorasi. Dengan eksplorasi terus-menerus berkembanglah  kognisinya.</p>
<p>Sebaiknya anak melakukan pemecahan masalah bersama teman. Seperti  dikatakan Piaget dan Vygotsky, interaksi –dengan objek dan teman,  terutama yang sebaya- dapat meningkatkan perkembangan kognitif.</p>
<p>Gonzalez-Mena &amp; Eyer mengingatkan agar kita tidak memakai konsep  akademik dalam memperkenalkan anak pada suatu konsep. Contohnya adalah  suasana kelas di atas. Guru menunjukkan bahwa di akuarium ada ikan  berwarna kuning yang sedang makan, dan ikan warna hitam yang sedang  bersembunyi. Pengalaman itu tentu lebih tertanam di benak anak.</p>
<p><strong>4. Sosioemosi</strong></p>
<p>Emosi merupakan reaksi dari dalam diri terhadap keadaan yang berasal  dari luar, kata Janet Gonzalez-Mena dan Dianne Widmeyer Eyer dalam  Infants, Toddlers, and Caregivers. Keduanya mengatakan ada emosi  “positif,” seperti senang, puas; dan ada emosi “negatif,” seperti marah,  cemas, sedih, takut. Dengan kedua jenis emosi ini anak belajar  bagaimana menumbuhkan percaya dirinya, melindungi diri dari bahaya dan  diterima lingkungan.</p>
<p>Pada usia 2 dan 3 tahun, kosa kata anak untuk mengungkapkan emosi  meningkat. Pada usia 4 hingga 5 tahun, anak tidak hanya mengungkapkan  istilah emotif, tetapi juga belajar tentang penyebab dan konsekuensi  dari perasaan. Pada masa ini anak juga belajar bagaimana mengontrol  emosi agar sesuai dengan standar sosial.</p>
<p>Dalam hal kesiapan sekolah, menurut Gonzalez-Mena &amp; Eyer, perhatikan  emosi “negatif” anak Anda, seperti cemas dan marah. Sebab, emosi  “negatif” ini kelak akan menuntut perhatian Anda maupun gurunya ataupun  memancing reaksi dari temannya.</p>
<p>Salah satu emosi “negatif” adalah rasa cemas. Kecemasan muncul,  misalnya, bila dia berpisah dengan Anda atau pengasuhnya. Hampir semua  anak mengalami kecemasan saat berpisah, namun dengan kadar berbeda. Bila  dia terus menangis bila berpisah dengan Anda atau pengasuhnya, Anda  perlu menumbuhkan rasa nyamannya terlebih dahulu. Jangan mengecilkan  perasaannya (misalnya, dengan kata-kata, “Jangan cengeng,” atau “Gitu  aja kok takut”). Anda harus dapat membuatnya yakin bahwa Anda memahami  perasaannya sebelum mengajaknya mengatasi perasaannya itu. Katakan,  misalnya, bahwa sehari-hari dia memang bersama Ibu atau Mbak, tetapi di  sekolah, ada bu guru dan teman-teman. Mereka pun menyayanginya seperti  Ibu atau Mbak.</p>
<p>Kemudian, bagaimana dia mengatasi emosi marahnya? Apakah dia memukul  anak lain bila berebut mainan? Apakah dia marah bila dilarang membawa  pulang krayon milik anak tuan rumah? Bila anak Anda masih seperti itu,  Anda perlu terlebih dahulu membantunya menata emosinya karena dalam  situasi sekolah kelak, dia tak akan bisa memakai kemarahan bila  berhadapan dengan anak lain atau guru.</p>
<p>Hargai anak dengan mengatakan bahwa apa yang dia rasakan itu penting.  Pada saat yang sama, Anda pun tak perlu berpura-pura dengan perasaan  Anda terhadapnya. Dengan modeling seperti itu, dia belajar mengenali  perasaannya dan bagaimana menatanya. Anda bisa mengatakan, “Ibu tahu  kamu ingin krayon itu, tetapi Ibu tak ingin kamu membawanya pulang.  Krayon itu punya X, dia akan memakai krayon apa kalau akan menggambar.”</p>
<p>Menurut Gonzalez-Mena &amp; Eyer, anak melakukan trial and error dalam  keterampilan sosial. Ketika ada reaksi dari luar terhadap perilaku  mereka, mereka pun belajar bahwa perilaku itu tidaklah baik.</p>
<p>*</p>
<p>Menyiapkan si kecil bersekolah merupakan proses keseharian yang wajar  sejak si kecil masih bayi. Tidak dengan memberikannya pensil dan kertas,  namun dengan stimulasi yang bersifat menyeluruh.</p>
<p><em> Endah Soekarsono &#8211; Sekolah Tetum</p>
<p>Tulisan pernah dimuat di majalah Ayahbunda &#8211; 2006<br />
Tulisan mengandung hak cipta</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2&amp;p=48</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Sekolah untuk Totto Chan</title>
		<link>http://endah.sekolahtetum.org/?p=50</link>
		<comments>http://endah.sekolahtetum.org/?p=50#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 16:21:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endahws</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endah.sekolahtetum.org/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali memasukkan anak ke sekolah adalah pengalaman luar  biasa bagi orang tua…. 
Sekolah A gurunya ramah tapi halamannya sempit, sekolah B fasilitasnya  bagus tapi lokasinya dekat menara tegangan tinggi, sekolah C dekat  rumah, tapi belum berpengalaman….
Seperti petugas riset saya datangi TK-TK di dekat rumah saya. Di kepala  saya sudah ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><big><em>Pertama kali memasukkan anak ke sekolah adalah pengalaman luar  biasa bagi orang tua…. </em></p>
<p>Sekolah A gurunya ramah tapi halamannya sempit, sekolah B fasilitasnya  bagus tapi lokasinya dekat menara tegangan tinggi, sekolah C dekat  rumah, tapi belum berpengalaman….</p>
<p>Seperti petugas riset saya datangi TK-TK di dekat rumah saya. Di kepala  saya sudah ada daftar pertanyaan, serta ceklis untuk mengobservasi  fasilitas sekolah dan guru. Tentu saja saya juga siap untuk mengendus  apakah di sekolah itu ada kesan menyenangkan seperti sekolah Tomoe di  buku Totto-Chan. Saya harus punya data lengkap untuk bos saya… tak lain  diri saya sendiri, seorang ibu yang pertama kali akan menyekolahkan  anaknya.<br />
<span id="more-50"></span><br />
Itu terjadi bertahun-tahun silam. Kini, ketika terlibat dalam  pengelolaan lembaga prasekolah, saya seperti melihat diri saya lagi  setiap kali bertemu dengan ayah dan ibu, yang mencarikan sekolah untuk  Totto-Chan mereka. Saya bisa merasakan kegembiraan, kecemasan sekaligus  kebanggaan orang tua saat balita mereka memasuki dunia sekolah. Oh ya,  saya juga bisa “membaca” <em>template</em> pertanyaan di benak mereka;  sekalipun tidak mereka ungkapkan, tetapi bisa terlihat dari sorot mata  dan bahasa tubuh mereka.</p>
<p><strong>Sekolah yang baik seperti apa?</strong></p>
<p>Sekalipun sudah berkeliling ke berbagai sekolah, terkadang orang tua  tidak mendapatkan sekolah ideal yang mereka cari. Ya, seperti pengalaman  saya dulu ketika “riset”: sekolah A gurunya ramah tapi halamannya  sempit, sekolah B fasilitasnya bagus tapi sayang berlokasi di dekat  menara tegangan tinggi, sekolah C dekat rumah, tapi baru dibuka tahun  ini….</p>
<p>Ketika itu, setelah lelah berkeliling, akhirnya saya putuskan untuk  meniru ibunda Totto-Chan: mencari sekolah yang bisa membuat anak saya  bahagia. Pilihan saya jatuh pada suatu sekolah yang ketika saya dan anak  saya datang, para guru langsung berdiri menyambut kami, serta menyapa  anak saya dengan ramah. Sekalipun tidak berani berharap para guru itu  akan seideal Pak Kobayashi, guru Totto-Chan, saya merasakan setidaknya  di sekolah itu dikembangkan iklim bahwa anak adalah subjek.</p>
<p>Bukankah kebahagiaan anak pula yang dulu diimpikan oleh &#8220;Bapak Taman  Kanak-Kanak&#8221;, Friedrich Froebel, ketika menciptakan “kindergarten” di  tahun 1840-an? Kindergarten berarti taman untuk anak-anak, dan, menurut  Froebel, anak bagaikan tanaman yang sedang tumbuh, sehingga perlu  dirawat dengan baik.</p>
<p>Masalahnya, sekarang banyak TK yang sudah tidak menjadi taman sejati,  tetapi semacam bimbel (bimbingan belajar). Sekolah-sekolah “bimbel” itu  menitikberatkan pada prestasi, bukan kenyamanan anak. Ada sekolah yang  memberi PR, ada pula yang mengirim anak pada lomba yang diikuti ribuan  anak. Dalam kasus seperti ini, ada yang terlupakan: bahwa dalam  perkembangan anak, yang penting adalah proses yang dia jalani, bukan  hasilnya. Ketika anak mengerjakan PR atau kelelahan mengikuti prosesi  lomba, adakah proses bereksperimen, menjelajah, menemukan, mencoba,  menyusun, berbicara dan mendengar? Proses-proses seperti itu, menurut  John W. Santrock, dalam buku <em>Life-Span Development</em>, adalah yang  krusial dalam tumbuh kembang anak.</p>
<p>Sekolah kami tidak mempunyai deretan piala yang didapat dari lomba di  luar sekolah, tetapi menyediakan penghargaan untuk setiap anak.  Penghargaan itu berupa kesempatan menjadi <em>child of the month</em> setiap bulan. Sebagai <em>child of the month</em>, seorang anak akan  mendapat kesempatan memimpin senam dan doa di kelas, membantu guru,  bercerita tentang diri dan kelas di depan teman-teman, membawa mainan  atau hewan kesayangan, serta memajang display karya bersama bunda dan  ayah di depan kelas. Cara  menumbuhkan rasa percaya diri anak yang  alamiah, bukan?</p>
<p><strong>Apa yang harus disiapkan sebelum anak masuk sekolah?</strong></p>
<p>Jika sebelumnya anak hanya mengenal ayah, ibu, kakek, nenek, dan mbak,  maka ketika sekolah ia akan bertemu dengan orang-orang di luar rumah.  Karena itu, anak perlu dipersiapkan dengan keadaan di luar rumahnya  sebelum sekolah. Membawa anak mengunjungi calon sekolahnya adalah satu  cara agar anak tahu bahwa sekolahnya adalah tempat yang menyenangkan,  bahwa dia akan mempunyai guru yang menyayanginya dan banyak teman  bermain.</p>
<p>Dalam buku <em>Human Development</em> karangan Papalia, dkk, disebutkan  bahwa anak-anak yang menunjukkan perilaku prososial lebih disukai  lingkungannya. Sebaliknya, anak-anak yang tidak menunjukkan perilaku  prososial kerap mengalami konflik dengan guru, kurang partisipatif dan  kurang berprestasi.</p>
<p>Di samping keterampilan sosial, keterampilan motorik dan kognitif pun  perlu dipersiapkan sejak anak belum masuk sekolah. Apa yang kita lakukan  kepada anak sejak bayi sesungguhnya merupakan persiapan baginya untuk  masuk ke dunia sekolah. Ketika dia baru beberapa bulan, misalnya, kita  melatih motorik halusnya dengan menaruh mainan di telapak tangannya  untuk dia genggam; kita menstimulasi motorik kasarnya dengan memberinya  semangat ketika dia merangkak; dan kita menstimulasi kognitifnya dengan  memperkenalkannya pada warna.</p>
<p>Sayangnya ketika si anak lancar berjalan, semangat kita untuk  menstimulasinya cenderung tidak sebesar sebelumnya. Kalau dia mau makan,  kita menyuapinya; agar dia tenang, kita mengambilkan mainannya; usai  dia mandi kita ambilkan bajunya. Apalagi kalau kita punya baby sitter  atau pembantu yang terampil, kita cenderung membiarkan si kecil jadi  raja yang dilayani 24 jam.</p>
<p>Akibatnya, ketika mulai sekolah dia mungkin akan kesulitan melakukan  berbagai hal, seperti menutup tas, membuka tempat makan, atau memasukkan  kaki ke dalam sepatu. Keterampilan semacam itu tidak bisa diperoleh  secara instan di sekolah, tetapi melalui pembiasaan di rumah.</p>
<p><strong>Berproses, bukan menguasai</strong></p>
<p>Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen tempat Totto-Chan bersekolah,  tidak mengajarkan murid-muridnya menguasai sesuatu, tetapi berproses  dengan sesuatu itu.</p>
<p>Di salah satu bagian, Tetsuko Kuroyanagi, penulis Totto-Chan, bercerita  bagaimana Pak Guru mengajarkan murid-muridnya tentang makanan bergizi  dengan meminta mereka membawa bekal “sesuatu dari laut” atau “sesuatu  dari darat”. Totto tidak tahu apakah denbu yang dibawanya berasal dari  darat atau laut. Maka, Pak Guru pun bercerita bahwa denbu berasal dari  laut, karena dibuat dari ikan yang tulangnya dibuang, dibakar sebentar,  dan dipotong-potong agar bentuknya bagus.</p>
<p>Dengan metode pendidikan yang menghargai alam dan bertujuan membiarkan  karakter murid tumbuh natural, murid-murid Kobayashi mengalami proses  yang luar biasa dan akhirnya menjadi sesuatu. Salah satunya, Tetsuko  Kuroyanagi, si tokoh Totto-Chan itu sendiri, yang kemudian belajar opera  di Tokyo College of Music,  menjadi sosok TV Jepang yang terkenal, dan  aktris dengan sederet penghargaan. Mungkin dia tidak akan mencapai  sukses seperti itu bila dia tidak bersekolah di Tomoe.</p>
<p>Meskipun sekolah Tomoe beroperasi pada masa Perang Dunia II, di Jepang  sistem pendidikan di tingkat dasar yang tidak mengedepankan akademis  masih berlaku hingga kini. Dalam suatu penelitian yang diungkap buku  Life Span Development ditemukan bahwa kebanyakan TK di Jepang tidak  memberi penekanan pada instruksi akademis. Hanya dua persen yang  menjawab bahwa tujuan TK adalah “memberi anak awal yang baik secara  akademis”. Jadi untuk menyiapkan anak agak sukses di sekolah dasar,  sekolah-sekolah di Jepang tidak mengajarkan membaca, menulis, dan  matematika, tetapi justru keterampilan seperti konsentrasi dan  bersosialisasi.</p>
<p>Sayangnya, di Indonesia keterampilan akademis dianggap penting.  Lihat  saja, salah satu tes masuk SD adalah kemampuan membaca dan menulis.  Akibatnya TK-TK pun mengajarkan murid untuk baca tulis. Dan orang tua  menjadi resah bila anak mereka belum bisa membaca dan menulis pada saat  akan masuk SD.</p>
<p>Santrock mengemukakan bahwa praktik yang tepat dalam pendidikan anak  adalah yang didasarkan pada perkembangan anak dalam rentang usia  tertentu (<em>age appropriateness</em>), di samping keunikan anak itu  sendiri (<em>individual differences</em>). Dalam hal perkembangan bahasa,  praktik yang tepat adalah memberi kesempatan pada anak untuk melihat  bahwa membaca dan menulis itu bermanfaat bagi mereka. Caranya, misalnya,  dengan mendengarkan dan membacakan cerita dan puisi; field trip; main  drama; berbicara; dan bereksperimen dengan menulis. Santrock menambahkan  bahwa praktik yang tidak tepat adalah bila membaca dan menulis  diajarkan dengan mengenalkan huruf, membaca alfabet, mewarnai di dalam  pola dan membuat formasi huruf dalam garis.</p>
<p><strong>Perlukah kelompok bermain?</strong></p>
<p>Ketika anak sulung saya berumur dua tahun, saya ingin memasukkannya ke   sebuah kelompok bermain dekat rumah. Saya tidak jadi mendaftar karena  kelompok bermain itu ternyata mengarah ke agama tertentu. Seandainya  saya jadi menyekolahkannya, mungkin saya akan menyesal karena terus  terang motivasi saya saat itu adalah agar dia tak mengganggu adiknya  yang baru lahir.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, saya memang merasa tertohok saat membaca sebuah  buku yang mengutip perkataan filsuf Swiss, Jean-Jacques Rousseau.  Begini katanya: Anda terganggu si kecil tidak melakukan apa-apa. Ya  ampun! Bukankah dia sedang bergembira? Tidakkah dia hanya melompat,  main, lari sepanjang hari? Tak akan pernah dalam hidupnya dia akan  sesibuk usia itu.</p>
<p>Ya, itu saya banget, yang merasa terganggu pada kesibukan anak sulung  saya yang senang menyiprat-nyipratkan air mandi adik bayinya, ataupun  naik-naik ke punggung kursi di saat saya menyusui. Sesungguhnya yang  bermasalah adalah saya, bukan anak saya.</p>
<p>Ketika anak saya yang bungsu berusia tiga tahun, saya pun memasukkannya  ke kelompok bermain. Kali ini, karena saya melihat ada banyak segi  positif dengan memasukkan anak ke sana. Namun setelah empat bulan, dia  mogok. Alasannya sepele, saya memakaikan sepatu terbalik.</p>
<p>Karena saya sudah tahu program-program yang diberikan di sekolah itu,  saya buat program sendiri di rumah. Saya pun menggambar di batu bersama  anak saya, bermain lompat kodok, dan berbagai aktivitas lain.</p>
<p>Menurut ahli perkembangan anak David Elkind dalam buku <em>Life Span  Development</em>, isunya memang bukan soal penting atau tidaknya kelompok  bermain, tetapi apakah pendidikan di rumah dapat menggantikan program  yang ditawarkan di kelompok bermain. Jika orang tua mempunyai kemampuan  dan sumber daya untuk memberikan berbagai pengalaman belajar dan  kesempatan bersosialisasi kepada anak, serta kesempatan bermain, maka  home schooling dapat memberi pendidikan yang cukup bagi anak. Tetapi  jika orang tua tidak mempunyai komitmen, waktu, energi dan sumber yang  setara dengan program yang diberikan kelompok bermain, kelompok bermain  adalah alternatif yang baik.</p>
<p>Belajar dari pengalaman sendiri, dan melihat kegelisahan para orang tua  di sekeliling saya, saya pikir ada baiknya kita selalu membuka  Totto-Chan, buku kecil sederhana namun sangat inspiratif bagi orang tua  maupun pekerja pendidikan.</p>
<p><em>Endah Soekarsono &#8211; Sekolah Tetum<br />
Tulisan ini sudah dimuat di majalah Reader&#8217;s Digest Indonesia, edisi  Maret 2006. Tulisan mengandung hak cipta. </em></big></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2&amp;p=50</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilham yang Istimewa</title>
		<link>http://endah.sekolahtetum.org/?p=24</link>
		<comments>http://endah.sekolahtetum.org/?p=24#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 02:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endahws</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endah.sekolahtetum.org/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Ilham berbeda dari teman-temannya. Dia berada di Tetum sejak menghirup oksigen awal. Dia belajar merangkak di teras Tetum, dia belajar berjalan di konblok Tetum. Dia melatih pendengaran dengan menangkap suara anak-anak di halaman sekolah. Dia melatih penglihatan dari warna-warni tas, seragam dan ayunan. Dia mengembangkan hubungan emosi dengan Kakak-Kakak, yang terkadang mencari hiburan dengan menggendongnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ilham berbeda dari teman-temannya. Dia berada di Tetum sejak menghirup oksigen awal. Dia belajar merangkak di teras Tetum, dia belajar berjalan di konblok Tetum. Dia melatih pendengaran dengan menangkap suara anak-anak di halaman sekolah. Dia melatih penglihatan dari warna-warni tas, seragam dan ayunan. Dia mengembangkan hubungan emosi dengan Kakak-Kakak, yang terkadang mencari hiburan dengan menggendongnya ke kantor, atau melepas kejenuhan menunggu angkot dengan memangkunya di depan gerbang Tetum. Ilham mengembangkan rasa ingin tahunya dari aktivitas Tetum. Ketika usianya beberapa bulan, dia menangis ingin keluar dari rumahnya (yang terletak di samping kantor Tetum) bila mendengar suara musik olahraga di hari Rabu.  Setelah umur dua tahun, dia kerap duduk di teras mengamati anak-anak Tetum berolahraga.</p>
<p><span id="more-24"></span></p>
<p>Ilham menyerap bahwa seorang anak harus membawa tas di pagi hari, bermain, dan berada di kelas, tapi dia hanya menonton dan memakai sandal jepit. Dia tak tahu mengapa dirinya berbeda, seperti halnya dia tak tahu bahwa tawaran masuk ke Kelas Darat telah diberikan kepada orang tuanya namun ayahnya menolak.</p>
<p>Dia tak protes apa pun, sampai ketika ibunya menjadi pegawai tetap Sekolah Tetum, setahun kemudian. Dia cemburu ketika ibunya menggandeng anak lain ke toilet. Dia terluka ibunya menjadi milik anak-anak lain. Kondisi ini mendatangkan berkah baginya. Ayahnya luruh dan akhirnya setuju dia masuk Kelas Laut.</p>
<p>Hari pertama Ilham bersekolah, 18 Juli 2007, saya mencatat di jurnal saya:</p>
<p><em>Ekspresi Ilham waktu diberi tahu boleh sekolah oleh ibunya … wah tak terlukiskan. Senyumnya tak lepas dari wajahnya yang berbedak tak rata, dan matanya berbinar. Sangat berbeda dari hari sebelumnya sewaktu digendong Pak Warno menjauh dari ibunya yang sedang menggandeng anak-anak ke kamar mandi.  Setelah memakai baju rapi, bersepatu tali dan menenteng tas, Ilham mengekor di belakang ibunya. Ibunya saya minta mengambil lemper dari meja guru untuk dimasukkan ke kotak makannya. Ilham mungkin tak suka lemper, tapi itu menjadi tak penting baginya yang sedang merasakan kegembiraan menjadi murid Kelas Laut. Dia tak lagi berbeda dari anak lain.</em></p>
<p><em>Dia dengan pede berjalan menenteng tas. Langkahnya panjang-panjang sehingga bahunya turun naik. Pada hari pertama bersekolah, Ilham menaruh tasnya di loker Kelas Antariksa, karena di sana ada beberapa anak yang sering mengajaknya main.</em></p>
<p><em>Selama kelas berlangsung, Ilham juga sering menghilang ke kelas anak-anak yang lebih besar. Di waktu jam bebas, dia kerap berada di bawah pohon bersama anak-anak yang berseragam kotak dan peach.</em></p>
<p><em>Ilham tidak rewel lagi, karena merasa setara dengan anak lain.</em></p>
<p>Setelah memasuki Kelas Langit, Ilham mengembangkan kebiasaan unik: dia baru menyalami Kakak-Kakak bila telah memakai seragam Tetum. Jadi bila dia masuk siang, dia baru menghampiri Kakak-Kakak untuk bersalaman setelah berganti baju dan bersepatu.</p>
<p>Sejak tahun lalu Ilham tak lagi tinggal di halaman Tetum. Ayahnya tak lagi bekerja di Tetum, tapi ibunya tetap bersama kami, dan Ilham tetap bersekolah di tempat kami.</p>
<p>Alhamdulillah Ilham mempunyai perkembangan psikologis yang cukup baik, sekalipun dia &#8220;berbeda&#8221; dari yang lain. Pertumbuhan Ilham yang baik juga dipengaruhi oleh persepsi orang tuanya yang baik terhadap Tetum. Ya, Bu Warno adalah bagian terpisahkan dari kami. Dia tekun bekerja dan tak pernah mengeluh. Bahkan yang membuat kami gembira, Bu Warno punya sikap seperti pendidik. &#8220;Ayo, ber-gi-lir-an,&#8221; adalah salah satu kalimat khasnya yang ditujukan kepada anak-anak bila mereka berebut cuci tangan.</p>
<p>Pagi ini kami meminta Bu Warno memasak nasi kuning, sebagai makan siang terakhir sebelum puasa. Itu sesungguhnya  hanyalah alasan kami untuk menutupi rencana mengadakan syukuran bagi ulang tahun Ilham yang ke-5.</p>
<p>Kami ingin membahagiakan Bu Warno dan memberi kenangan manis bagi Ilham, anak kami yang istimewa.</p>
<p>Selamat ulang tahun, Ilham. </p>
<p><em>(Dimuat di Notes FB Sekolah Tetum &#8211; 21 Agustus 2009)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2&amp;p=24</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mama, Rumah SBY di Mana, Sih?</title>
		<link>http://endah.sekolahtetum.org/?p=19</link>
		<comments>http://endah.sekolahtetum.org/?p=19#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 02:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endahws</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endah.sekolahtetum.org/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Setahun lalu Reza bertanya kepada mamanya di mana rumah SBY dan JK, karena ingin bertemu mereka, dan hari ini harapan itu terwujud: Dia akan membacakan puisi di hadapan RI I. Ini menjadi kegiatan puncak dari serangkaian acara membacakan puisi di depan para calon presiden, setelah Mega dan JK.

Reza seperti selebriti cilik yang riuh dengan tawaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setahun lalu Reza bertanya kepada mamanya di mana rumah SBY dan JK, karena ingin bertemu mereka, dan hari ini harapan itu terwujud: Dia akan membacakan puisi di hadapan RI I. Ini menjadi kegiatan puncak dari serangkaian acara membacakan puisi di depan para calon presiden, setelah Mega dan JK.</p>
<p><span id="more-19"></span></p>
<p>Reza seperti selebriti cilik yang riuh dengan tawaran manggung, dan menjadi pusat perhatian kerabat orang tuanya. Tapi berbeda, dengan selebriti cilik, Reza menjalani semua itu dengan wajar, sepolos ekspresi wajahnya ketika membacakan puisi di samping JK dan Wiranto, sepolos jawabannya ketika ditanya mamanya: Reza ingin baca puisi didampingi siapa? Jawaban Reza adalah Aurora dan Kania, dua teman semasa di TK, dan kini berbeda sekolah.</p>
<p>Secara kebetulan memang mereka bersekolah di Tetum, dari sekitar tahun 2004-2008. Kebetulan pula ketiganya cukup menonjol dalam berekspresi. Jadi ketika mama Reza bertanya kepada saya, apakah Aurora dan Kania yang dipilih, saya menjawab, &#8220;Keduanya sama baiknya, tapi kalau kita memilih Aurora, kita mendukung kemampuannya berpuisi.&#8221; Tapi Tuhan tidak ingin membedakan Aurora dan Kania. Aurora mendapat kesempatan mendampingi Reza dalam acara membacakan puisi di hadapan Mega dan kemudian JK, tapi dalam kesempatan dengan SBY, Kania yang maju, karena Auora mudik.</p>
<p>Rasanya baru kemarin melihat mereka bermusuhan-berbaikan-bertengkar-tertawa-bermain, namun kini mereka bekerja sama, agar acara yang melibatkan pemimpin-pemimpin negara ini berlangsung sukses. Tidak mudah tentu, karena mereka masih anak-anak. Ibu Reza dan Aurora bercerita bagaimana kedua anak itu bertengkar dengan duduk berjauhan, tapi juga bisa akrab kembali; bagaimana mereka ngambek karena harus menunggu. Namun di saat membacakan puisi mereka menunjukkan penampilan terbaik, dengan rasa percaya diri yang mengagumkan. Rasa percaya diri seperti itu tidak muncul seketika, tetapi dengan stimulasi sesuai tahapan usia dan dan lingkungan yang kondusif.</p>
<p>Reza, Kania dan Aurora beruntung karena berasal dari keluarga yang membiarkan mereka tumbuh wajar, bahkan <em>happy</em> anak-anak mereka bersekolah di sekolah yang tidak mendorong ke arah akademis. Sikap semacam itulah yang mengantar mereka ke prestasi yang tidak dimiliki semua anak. Ya, Radio Female memilih Reza sebagai pembaca puisi dalam pertemuan dengan calon-calon presiden karena kemampuan verbal dan kognisi serta kepolosannya dalam acara-acara tanya jawab dengan Paman Gery di pagi hari. Prestasi ini tidak akan terulang dua kali, karena dalam pemilihan presiden di tahun 2014 mereka akan berusia 12 tahun, sudah terlalu gede untuk acara semacam itu. Belum tentu pula akan ada acara serupa.</p>
<p>Kalau ada yang bertanya, kok bisa ya Reza terpilih?  Ini karena <em>network</em> ibunya yang wajar dengan Radio Female. Ibunya &#8220;hanyalah&#8221; salah seorang pendengar radio yang setia dan sering mengirim SMS yang melibatkan Reza. Dulu ketika TK, sebelum berangkat sekolah Reza kerap mendapat telepon dari Paman Gery di acara Your Morning Coffee, dan mendapat pertanyaan sehari-hari semacam &#8220;Sudah makan Reza?&#8221;, dan Reza menjawab, &#8220;Sudah, makan nasi goreng.&#8221; Tapi Reza membuat kejutan ketika &#8220;berceramah&#8221; soal pemanasan global: pulau Sumatra akan tenggelam dan Padang menghilang dari bumi (keluarganya dari Minang). Dia memang punya kepedulian khusus terhadap lingkungan. Di sekolah TK-nya dia cerewet mengingatkan gurunya mematikan lampu ketika keluar ruangan, dan memakai payung karena matahari makin menyengat.</p>
<p>Sekalipun berpikiran <em>out-of-the-box</em>,  Reza tetap tumbuh wajar, seperti percakapan dengan ibunya di bawah ini, yang dimuat di <a title="Reza &amp; Pemanasan  Global" href="http://tetum.wordpress.com/2008/01/25/reza-ingin-bicara-dengan-sby-jk-soal-pemanasan-global">Reza Ingin Bicara dengan SBY-JK Soal Pemanasan Global</a>/. Percakapan ini merupakan kutipan dari surat yang dikirim ibunya ke Tetum. Dalam cerita itu, R adalah Reza, M adalah Mama, dan P adalah Papa.</p>
<p><em> R: ‘Mama, rumahnya SBY dimana sih?’ </em></p>
<p><em>M: ‘Di Cikeas, Bogor. Kenapa?’ </em></p>
<p><em>R: ‘Kapan-kapan kita kesana kalau SBY lagi dirumah ya’ </em></p>
<p><em>M: ‘Mau ngapain?’ </em></p>
<p><em>R: ‘Kasih tahu tentang pemanasan global ini sama SBY’ </em></p>
<p><em>M: ‘Ooo, SBY sih sudah tahu tentang pemanasan global. Malahan baru-baru ini ada pertemuan para pemimpin dunia, Global warming Conference di Bali, SBY jadi tuan rumahnya’  </em></p>
<p><em>R: ‘Jusuf Kalla datang juga? </em></p>
<p><em>M: ‘Duh, Mama lupa, kayanya enggak deh’ </em></p>
<p><em>R: ‘Rumahnya Jusuf Kalla dimana?’ </em></p>
<p><em>M (sambil nahan ketawa, udah tau Reza pasti bilang mau kesana, mau kasih tahu tentang pemanasan global ini sama JK): “Sepertinya di Menteng rumahnya’ </em></p>
<p><em>R: ‘Nomor berapa rumahnya?&#8217; </em></p>
<p><em>M: ‘Wah jalan apa sama nomor berapa Mama nggak tahu. Papa barangkali tahu” </em></p>
<p><em>R: ‘Reza tanya sekarang ya’</em></p>
<p><em>M: ‘Iya’ (karena udah gak tahan mau ketawa)</em></p>
<p><em>P: ‘Lho kok belum bobo, Reza?’                                                                                                                                                                                   R: ‘Papa tau nggak rumahnya Jusuf Kalla dimana?’ </em></p>
<p><em>P: ‘Papa nggak tahu. Kenapa?’ </em></p>
<p><em>R: ‘Reza mau kasih tahu tentang pemanasan global sama Jusuf Kalla’</em></p>
<p><em>P: (bingung, kok tau2 Reza ngomongin pemanasan global) ‘Mama mana, sayang?’  </em></p>
<p><em>R: ‘Dikamar’ </em></p>
<p><em>P: ‘Ya sekarang bobo dulu sama Mama ya’ </em></p>
<p>Ternyata harapan Reza terpenuhi. Dua minggu lalu dia bertemu JK, dan hari ini bertemu SBY, sekalipun tidak membahas masalah pemanasan global.   Harapan yang polos ternyata diprioritaskan untuk menjadi kenyataan oleh Sang Pencipta.</p>
<p>(<em>Dimuat di Notes Facebook Sekolah Tetum, 30 Juni 2009</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2&amp;p=19</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lukman: Sebuah Potret dalam Paradigma Pertumbuhan</title>
		<link>http://endah.sekolahtetum.org/?p=11</link>
		<comments>http://endah.sekolahtetum.org/?p=11#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 12:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endahws</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak Berkebutuhan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[growth paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[inklusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endah.sekolahtetum.org/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan ini dibuat untuk anak-anak istimewa di Tetum yang punya cara belajar berbeda, teman-teman sekelas yang mau menerima mereka, dan orang tua yang dapat menjawab dengan bijak tentang kehadiran anak-anak itu)
Lukman memandang kura-kura di air mancur, sementara teman-temannya sedang mendengar Kak Ria mendongeng di teras kelas. Ketika Kak Aas memegang lengan Lukman dan mengajaknya bergabung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>(Tulisan ini dibuat untuk anak-anak istimewa di Tetum yang punya cara belajar berbeda, teman-teman sekelas yang mau menerima mereka, dan orang tua yang dapat menjawab dengan bijak tentang kehadiran anak-anak itu)</em></p>
<p>Lukman memandang kura-kura di air mancur, sementara teman-temannya sedang mendengar Kak Ria mendongeng di teras kelas. Ketika Kak Aas memegang lengan Lukman dan mengajaknya bergabung dengan Kak Ria, Lukman berteriak,“Nggak!” Kak Aas terkejut. Hari itu, tanggal 23 Maret 2009, untuk pertama kalinya di sekolah Lukman mengeluarkan kata bantahan, “Nggak.” Di rumah dia sudah mengucapkan “Nggak” untuk pertama kalinya beberapa hari sebelumnya, yang membuat mamanya terkejut dan gembira.</p>
<p><span id="more-11"></span></p>
<p>Anak Indonesia pada umumnya dapat mengucapkan bentuk negatif (bukan-belum-jangan-nggak/ndak) pada usia dua tahun. Lukman untuk pertama kalinya memproduksi bentuk negatif beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-4.</p>
<p>Lukman mengalami perkembangan pemerolehan bahasa yang lebih lambat daripada anak lain. Dia mengalami kesulitan untuk memberikan respon dan menerima makna yang diberikan oleh sekelilingnya. Lukman tidak mengalami kelainan organik. Struktur organ wicara dan pendengarannya baik (hanya saja dia cenderung hipersensitif terhadap suara – terkadang Lukman menutup telinga pada saat kegiatan menonton film). Lukman juga mempunyai kemampuan kognitif yang baik. Misalnya, ketika mamanya mengajarinya mengenali globe dengan mengatakan, &#8220;Lukman disini ni, di In Do Ne Sia,&#8221; Lukman meniru, &#8220;Indonesia.&#8221; Lalu ibunya menjelaskan di mana penguin, gajah, beruang kutub, dan dinosaurus. Ketika globe diputar lagi, Lukman dapat menyebutkan dengan tepat di mana letak hewan-hewan itu dan dirinya.</p>
<p>Meski memiliki kemampuan kognitif yang baik, karena masalah-masalah yang dimiliki Lukman, dia cenderung memperlihatkan perilaku yang tidak sesuai norma umum. Bila diajak dalam kegiatan kelompok, tak jarang dia menendang, mencubit dan menggigit Kak Aas atau kak Ria atau melempar setumpukan buku atau balok.</p>
<p>Secara bercanda saya katakan kepada mama Lukman bahwa saya ingin digigit Lukman, yang menandakan dia sudah nyaman mengekspresikan perasaan kepada saya. Memang, pada akhirnya Lukman melayangkan tangan kecilnya ke pipi saya ketika saya mendekatinya karena dia menendang seorang teman yang ingin ikut membaca bukunya. Jumat lalu pun dia beberapa kali mengepalkan tangan dan mendorong lengan saya, ketika saya mengingatkannya agar tidak duduk di ujung dinding perosotan.</p>
<p>Menurut Ibu Alzena Masykouri, psikolog yang memantau perkembangan Lukman, bahwa Lukman menunjukkan perilaku agresif dalam menunjukkan kemarahan, menunjukkan bahwa dia mengalami kemajuan dalam mengenali dan mengekspresikan emosinya. Hanya saja Lukman masih perlu berlatih untuk meregulasi emosinya dan menunjukkan emosi dengan cara yang adaptif.</p>
<p>Tantrum Lukman tak luput dari perhatian teman-temannya. Ibu Vina menulis kepada saya bahwa hampir setiap pulang sekolah Vina bertanya kenapa Lukman selalu marah-marah. Dengan bijak ibu Vina menjelaskan bahwa Lukman tidak sama dengan Vina dan teman-teman lain, jadi Vina harus memahami.<br />
Tentu jawaban itu tidak memuaskan Vina. Dia pun bertanya lagi, “Lukman sakit apa?”</p>
<p>Ya, akan mudah menjelaskan kepada anak, bahkan kepada orang dewasa sekalipun, mengenai perbedaan yang nyata secara fisik. Kami pernah mengadakan sesi “Sehari Bersama Hegar” untuk menjelaskan kondisi Hegar yang perlu memakai alat bantu dengar. Bunda Hegar menjelaskan kepada anak-anak tentang riwayat Hegar sejak di kandungan dan mengapa Hegar sampai memakai alat yang ditanamkan di kepalanya. Acara itu berakhir dengan permainan tikus kucing yang digemari anak-anak Tetum, dengan Hegar sebagai tikus dikejar oleh Rayi sebagai kucing.</p>
<p>Acara itu sebetulnya merupakan “pengesahan MoU” antara kami, orang dewasa –sekolah dan orang tua Hegar—mengenai apa yang akan kami lakukan terhadap Hegar. Bagi teman sekelasnya, acara itu merupakan pengenalan terhadap alat bantu dengar Hegar, kebutuhan Hegar akan alat itu dan bahwa mereka harus ikut menjaganya. Secara sosial, tanpa acara itu mereka sudah menerima Hegar, dan Hegar pun menjadi bagian dari mereka. Tanpa bahasa verbal, mereka melakukan komunikasi dan menjalani kegembiraan tanpa hambatan. Hegar adalah anak yang penuh percaya diri dan memiliki kemampuan kognitif dan sosial yang baik.</p>
<p>Berbeda dengan anak-anak yang tidak secara nyata memiliki perbedaan, apalagi yang memiliki hambatan melakukan interaksi sosial. Yang tampak di mata anak-anak dan orang tua –ketika menjadi &lt;i&gt;visiting parents&lt;/i&gt; atau menjemput—adalah adanya seorang anak senang berjalan-jalan di halaman, tidak mau masuk kelas, dan kerap agresif.</p>
<p>Kami tahu ada tanya dalam pandangan orang tua ketika melihat Lukman, namun secara etika kami tidak bisa menjelaskan kondisi seorang anak kepada orang tua lain. Kami hanya dapat meyakinkan –secara tak langsung—bahwa kehadiran seorang anak berkebutuhan khusus tidak membuat putra-putri mereka menjadi terabaikan.</p>
<p>Karena surat ibu Vina, saya pun mengajak mama Lukman untuk membuka diri dengan kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus di Tetum, dimulai dari Lukman. Sebuah keterbukaan dapat mengajak orang tua untuk mempersepsi anak berkebutuhan khusus dalam paradigma pertumbuhan (<em>growth paradigm</em>), bukan paradigma defisit/kekurangan (<em>deficit paradigm</em>). Dalam paradigma pertumbuhan itu kita mempersepsi bahwa seorang anak berkebutuhan khusus adalah individu dengan cara belajar berbeda, bukan seseorang yang memiliki defisit kemampuan sehingga dia menjadi tidak bisa melakukan hal yang dilakukan <em>mainstream</em>. Orang di sekelilingnya –terutama orang tua dan guru&#8211; perlu membantunya agar dia dapat mengembangkan potensinya.</p>
<p>Cobalah kita telaah ketika Lukman berkeliling-keliling di halaman dan membuang muka dan menendang sewaktu diajak Kak Aas ke kelas. Dari segi pemahaman bahasa, tampaknya Lukman sudah memahami ajakan, “Ayo, Lukman ke kelas.” Ini terlihat dari reaksinya dengan membuang dan menendang. Apakah sungguh Lukman paham? Ya, bila dilihat dari kebiasaannya meninggalkan <em>crowd</em> (kelompok teman-temannya) dan keengganannya berada di kelas kecuali bila di kelas ada benda yang jadi fokus perhatiannya, misalnya, buku. Jadi, ketika berada di dalam kelas, Lukman tidak terlibat dalam kegiatan kelas. Bila ditegur, dia akan bereaksi keras. Reaksi keras itu menunjukkan bahwa Lukman masih perlu belajar dalam berekspresi. Masalahnya tak hanya terkait dengan produksi bahasa (dapat menyampaikan penolakan dengan manis), tapi juga masalah yang terkait dengan gangguan komunikasi, yaitu resistensi terhadap perubahan dan kecenderungannya pada kerutinan, interaksi sosial, pengaturan (<em>organizing</em>) dan keteralihan.</p>
<p>Lukman akan lebih bisa kooperatif bila resistensi terhadap perubahan berkurang. Dia menjadi stres bila keasyikannya saat menekuni suatu hal diputus (sedang mengamati kura-kura-kura, diajak ke kelas). Bila Lukman memiliki kebutuhan untuk interaksi sosial, dia juga akan kooperatif melakukan kegiatan bersama teman, baik di dalam maupun di luar kelas. Interaksi sosial ini tidak hanya berada di dalam suatu ruang bersama-sama, tetapi terjadi pertukaran komunikasi verbal maupun nonverbal. Lukman perlu stimuli untuk mengoptimalkan perkembangannya dengan terapi sensori integrasi di suatu klinik, di rumah dan di sekolah.</p>
<p>Menyekolahkan Lukman di sekolah umum merupakan bagian dari paradigma pertumbuhan: mempersepsi dia bahwa dia memiliki cara belajar berbeda dan berpotensi untuk berkembang. Persepsi ini harus dimiliki oleh orang-orang di sekelilingnya, sebagai wujud pengabdian kita terhadap Tuhan yang telah menciptakan manusia secara berbeda-beda. Bukan keinginan Lukman untuk menjadi seperti itu, bukan pula pilihan orang tuanya untuk memiliki anak yang pada awalnya seolah tak membutuhkan orang-orang di sekelilingnya.</p>
<p>Dari kasus Lukman kita malah jadi belajar menghargai anugrah Tuhan yang begitu berharga: kemampuan mengekspresikan diri. Mama Lukman dengan rajin mencatat perkembangan Lukman dari satu langkah ke langkah lain. Misalnya, ketika Lukman berebut Mama dengan Reza kakaknya; ketika mengamati bahwa spanduk Tetum yang dipasang di jalanan depan rumahnya tidak ada (“Ya, Tetum hilang”); ketika Lukman berpapasan dengan Sari, teman sekelasnya, dan mengatakan, “Hai tunggu”; atau ketika pertama kali minta tolong (“Mama tolong pasang Tupi ya Ping-Ping”). Saya pun jadi GR ketika kemarin bersalaman dengan Lukman, dan dia berpikir sejenak sebelum akhirnya mengucapkan, “Kak Endah.” Itu adalah pertama kali Lukman menyebut nama saya, berkat stimulasi yang diberikan ibunya.</p>
<p>Membesarkan Lukman menjadi hari-hari yang penuh tantangan bagi orang tua Lukman. Mereka dengan jujur mengakui tidak mudah. Memahami masalah Lukman adalah sebuah PR besar, dan mengatasi pergulatan diri adalah proses belajar yang lain. Ini komentar Mama Lukman tentang ajakan saya untuk membuka diri kepada orang tua teman-teman anaknya: <em>Monggo kak Endah, silakan ditulis. Saya pun ingin tahu bagaimana reaksi orang tua yang lain. Ini adalah suatu tahapan yang harus kami lalui di mana pun Lukman bersosialisai. Mungkin ada yang mendukung, mungkin ada yang tidak memahami dan memandang perbedaan tersebut seharusnya tidak perlu. Bukan sekali dua kali orang tua di milis anak berkebutuhan khusus yang saya ikuti mengeluh dan menangis karena masalah ini. Jadi kami pribadi sudah cukup tahu, dan mudah-mudahan cukup siap dengan reaksi para orang tua lain&#8230; </em></p>
<p>(Ditulis di Notes FB Sekolah Tetum, 18 Mei, 2009)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2&amp;p=11</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedang Apa Anda Saad Ini?</title>
		<link>http://endah.sekolahtetum.org/?p=7</link>
		<comments>http://endah.sekolahtetum.org/?p=7#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 10:50:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endahws</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[literasi anak]]></category>
		<category><![CDATA[literasi dini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endah.sekolahtetum.org/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Kalimat di atas ditulis oleh seorang anak bernama Reza di status Facebook-nya. Tulisan itu merupakan terjemahan dari ”What are you doing right now?”, tagline pada Facebook dalam desain yang lama.
Demam Facebook membuat Reza yang masih kelas 1 SD ingin berfesbuk juga, meski kemampuan baca tulisnya masih terbatas. Reza rajin mengganti statusnya, dan memberi komentar pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalimat di atas ditulis oleh seorang anak bernama Reza di status Facebook-nya. Tulisan itu merupakan terjemahan dari <em>”What are you doing right now?”</em>, <em>tagline</em> pada Facebook dalam desain yang lama.</p>
<p>Demam Facebook membuat Reza yang masih kelas 1 SD ingin berfesbuk juga, meski kemampuan baca tulisnya masih terbatas. Reza rajin mengganti statusnya, dan memberi komentar pada foto.</p>
<p>Reza adalah bagian dari masyarakat literasi: ia sadar bahwa tulisan adalah bagian dari  kehidupan.</p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p>Ya, bagi anak yang besar di masyarakat literasi (<em>literate society</em>), penguasaan terhadap  literasi merupakan tugas perkembangan yang penting. Dengan menguasai keterampilan literasi (yang mencakup kemampuan membaca dan menulis), ia dapat mengenal konsep-konsep dalam kehidupannya. Nama jalan, alamat rumah, judul buku, judul film, nama toko buku, nama koran, merek susu, iklan makanan, dan lain-lain, dapat dipahaminya dengan membaca tulisan yang hadir di sekitarnya.</p>
<p>Begitu pentingnya literasi dalam kehidupan masyarakat modern, sehingga kerap menjadi pertanyaan, kapan dimulai dan bagaimana cara keterampilan membaca dan menulis diajarkan kepada anak.</p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>Pemerolehan Literasi  dan Proses Neurologi</strong></p>
<p>Secara alami manusia mengembangkan keterampilan berbahasa dengan mendengarkan dan kemudian berbicara. Dalam psikolinguistik dibahas bahwa anak melakukan komprehensi (pemahaman) terlebih dahulu baru kemudian memproduksinya. Ketika bayi,  kita mendengar suara ibu kita, kemudian kita mengeluarkan bahasa bayi. Proses ini berkelanjutan terus sejalan dengan kematangan organ tubuh dan kognitif kita. Akhirnya ketika kita dewasa, mendengarkan dan berbicara menjadi proses pertukaran komunikasi yang bermakna dalam interaksi antarmanusia.</p>
<p>Dalam perkembangan peradaban manusa, keterampilan mendengar dan berbicara saja tidak cukup. Membaca dan menulis menjadi kebutuhan agar kita dapat berinteraksi dengan sekeliling. Contohnya saja Reza. Dia menikmati kemampuan baca tulisnya yang masih sederhana dengan melakukan <em>chat</em> dengan om-omnya atau siapa saja yang dilihatnya sedang online. Dia bertukar komentar dengan papanya yang berada di kantor. Dia menulis <em>nonsense words</em> untuk judul foto-fotonya.</p>
<p>Tidak semudah itu proses yang dijalani Reza. Saat melakukan<em> chat</em>, lawan bicaranya harus bersabar menunggu tulisannya muncul: Reza masih harus mengeja setiap kata yang ditulisnya.</p>
<p>Bagi Reza, kegiatan baca tulis tidaklah semudah bila bahasa oral. Saat mendapat input dalam bentuk lisan, maka bunyi-bunyi ditanggapi di korteks pendengaran. Setelah diterima, maka bunyi bahasa dikirim ke area Wernicke untuk diinterpretasikan. Setelah dipahami isinya, maka bunyi itu bisa disimpan di memori, bila perlu tanggapan secara verbal, maka dikirim ke area Broca.</p>
<p>Bila bekerja dengan tulisan, maka input diterima oleh korteks visual primer, karena tulisan diterima sebagai gambar. Setelah itu tulisan dikirim ke area Wernicke untuk dipahami. Bila perlu tanggapan verbal, maka input itu dikirim ke area Broca juga.</p>
<p>Begitu kompleksnya proses berbahasa di dalam otak, sehingga kita tidak dapat memaksakan seorang anak untuk dapat langsung membaca dan menulis tanpa memahami tumbuh kembangnya.</p>
<p><strong>Literasi Dini </strong></p>
<p>Di atas sudah disebutkan bahwa input tulisan dikirim ke area Wernicke untuk diberi makna. Jika area Wernicke sudah siap, maka seorang anak akan bahwa tulisan mempunyai makna. Memahami bahwa tulisan bermakna adalah pencapaian besar dalam literasi dini <em>(emergent literacy</em>). Literasi dini mencakup keterampilan, pengetahuan dan sikap yang terbangun sebelum anak belajar membaca dan menulis.</p>
<p>Seorang anak sudah menunjukkan “kematangan” untuk membaca ketika:</p>
<p>•	Menunjukkan kemampuan bahasa oral dengan mengeksplorasi maknanya, memperhatikan strukturnya dan melakukan uji coba dengan bunyi bahasa. Misalnya, anak sudah lancar berkomunikasi dan mengucapkan kalimat lengkap untuk mengungkapkan keinginannya. Ketika minta diambilkan minum, ia mengatakan, “Mama, aku ingin minum” bukan hanya “Minum”. Ia juga dapat bermain-main dengan bunyi bahasa. Misalnya, tahu rima kata dari “roda” adalah “kuda”. Atau kata-kata yang berawalan dengan “di” adalah “diri” dan “dinosaurus”.</p>
<p>•	Mengetahui makna dari simbol-simbol di sekitarnya. Misalnya, tanda-tanda lalu lintas, label makanan, billboard restoran siap saji favoritnya.</p>
<p>•	Berupaya memproduksi simbol atau huruf. Bunda Hegar bercerita bahwa begitu Hegar belajar menulis nama sendiri di sekolah, dia terus menulis di rumah. Dia mencontoh tulisan di buku-buku, bahkan buku-buku resep pun penuh dengan tulisannya.</p>
<p>•	Melakukan perilaku literasi orang dewasa, seperti pura-pura membaca atau menulis daftar belanja. Gerrard baru berumur 3,5 tahun tapi dia kerap “membaca” buku-buku yang habis dibacakan oleh gurunya.</p>
<p>•	Mengulangi proses sampai membaik, misalnya menyanyi dengan gerakannya.</p>
<p>•	Mulai mengaitkan tulisan dengan bunyi. Misalnya “Y-a” dibaca “ya”.<br />
Agar siap membaca, maka seorang anak harus terlebih dahulu mengembangkan kemampuan membedakan bentuk-bentuk geometris, mempunyai kemampuan spasial (dapat membedakan atas bawah dan kiri kanan), dan keteraturan bentuk.</p>
<p>Kegiatan meronce dalam berbagai pola, menyimpan benda pada tempatnya, menyusun sandal, memakai sepatu mulai dari kaki kanan dan melepas mulai dari kaki kiri, pembiasaan yang rutin, dapat membantuk anak memahami keteraturan. Dalam membaca, keteraturan itu akan selalu ditemuinya karena sifat bahasa adalah sistematis. Dalam bahasa ada suku kata dalam bentuk pola (entah itu konsonan-vokal, misalnya “ba” dan “da” maupun vokal-konsonan, misalnya “at” dan “is”), ada struktur kalimat (subjek-predikat-objek, dalam “Aku makan pisang”), ada kata-kata yang berawalan sama (“Iis” dan “ikan”) maupun berakhiran sama (“pantai” dan santai”).</p>
<p>Kegiatan matematika dalam kehidupan sehari-hari juga dapat membantu anak untuk siap membaca. Pemahaman bahwa bola itu bulat, pintu berbentuk kotak, mainan tertentu berbentuk segitiga akan membantu anak mengembangkan pemahaman bentuk. Kelak ketika belajar membaca, ia akan dengan mudah melakukan asosiasi bahwa bulat identik dengan O, segitiga dengan A, dan kotak dengan H.<br />
Kemampuan melakukan asosiasi ini berlangsung sejak seorang anak masih bayi. Ia melihat ibunya memakai daster atau bercelana panjang. Sekalipun berpenampilan berbeda, ia tetap tahu bahwa perempuan itu adalah ibunya.</p>
<p>Logika spasial juga penting karena kegiatan membaca memerlukan keteraturan dari kiri ke kanan, dan dari atas ke bawah. Agar anak dapat membedakan kiri-kanan, serta atas-bawah dapat dilatih dari kegiatan sehari-hari. Misalnya, saat ia menggunakan anggota tubuh kanan dan kiri atau saat berbelok ke arah tertentu.</p>
<p><strong>Stimulasi dalam literasi dini </strong></p>
<p>Persiapan agar seorang anak siap membaca berlangsung dalam rentang yang panjang, tanpa perlu menunggu dia melampaui tahap mendengar dan berbicara terlebih dahulu. Kematangan literasi dapat dibangun bersamaan dengan saat anak menyerap kemampuan mendengar dan mengembangkan kemampuan berbicara.</p>
<p>Agar anak siap membaca dan menulis, maka persiapannya sudah dilakukan sejak bayi dan dikembangkan sesuai dengan tumbuh kembang anak.</p>
<p>Berikut ini adalah tahap perkembangan dalam pemerolehan literasi, dan stimulasi yang dapat dilakukan:</p>
<p>•	Bayi hingga 3 tahun. Pada tahap ini anak mulai senang memperhatikan gambar pada buku, mendengarkan ketika ibunya menyanyi, dan mendengarkan cerita. Pada tahap sekitar 3 tahun dia mulai senang mencoret-coret sambil bercerita. Stimulasi yang dapat dilakukan ketika masih bayi adalah dengan mengajaknya bercakap-cakap (“Kita mandi dulu, yuk”). Ketika ia sudah dapat mengenggam, kita dapat memberikannya<em> soft book</em> atau mainan di bak mandinya. Permainan dengan benda-benda geometris (yang lembut tentunya) dapat membantu anak mengenal bentuk. Menyanyi dan bercerita adalah kegiatan yang dapat memperkaya keterampilan literasi anak. Definisi bercerita sangat luas, bukan hanya dongeng, tetapi segala kegiatan yang memperkaya kosa kata anak. Percakapan saat memakai baju, mandi, makan adalah kegiatan bercerita juga.</p>
<p>•	3-4 tahun. Di tahap ini anak sudah mengenal bahwa setiap huruf alfabet punya nama, sudah dapat mengenal tanda atau papan petunjuk yang ada di sekitar (misalnya, papan petunjuk &#8220;Keluar&#8221; di kebun binatang), menaruh perhatian pada bunyi-bunyi bahasa yang berbeda, menghubungkan peristiwa dalam cerita dengan pengalaman sendiri, membuat tulisan dalam bentuk coretan (scribble). Apa yang dapat dilakukan? Membacakan cerita dengan menunjuk huruf di dalam buku dan mengaitkan cerita dengan pengalaman si anak;  menunjukkan tulisan nama binatang saat ke kebun binatang, tulisan pada kaleng susunya; menanyakan pengalaman anak (Harus spesifik, tentunya. Misalnya, “Gajah yang kita lihat tadi warnanya apa ya?”), dan memberinya kesempatan menulis dan menggambar dengan bebas.</p>
<p>•	Taman Kanak-Kanak (5 tahun). Di tahap ini anak mengenal dan menyebutkan nama huruf besar dan kecil, dapat menyebutkan urutan bunyi dalam suatu kata, dapat menyebutkan judul buku dan pengarangnya, dapat membuat perkiraan cerita dengan melihat gambar, menggunakan tulisan untuk mengungkapkan pesan (dengan ejaan belum yang belum sempurna), dapat menulis nama sendiri; urutan huruf dalam suatu kata, dapat menulis huruf-huruf dan beberapa kata ketika didiktekan. Stimulasi apa yang dapat dilakukan? Pada tahap ini kegiatan membaca dan menulis sudah dapat dipahami sesuai konvensi bahasa, tetapi masih belum sempurna (misalnya, sudah dapat menulis kata, tetapi ejaan masih salah). Mereka juga dapat mengaitkan huruf dengan kata. Misalnya saja, setelah belajar kata-kata dengan huruf depan sama, anak-anak di Sekolah Tetum dengan gembira memanggil penjaga sekolah sambil berima, “Pak Iis. Ikan!” Mereka sudah paham bahwa huruf “i” yang ada pada nama Iis, sama dengan “i” pada “ikan”.</p>
<p>•	Kelas Satu (6 tahun).  Di tahap ini anak dapat dengan akurat melakukan dekoding terhadap suku kata (bahwa kata “ba” terdiri dari “b” dan “a”), dapat melanjutkan cerita di dalam buku, dapat mengenali kesalahan sendiri saat membaca sehingga suatu teks jadi bermakna, dapat menulis teks tertulis untuk dibaca orang lain. Bila stimulasi literasi sebelumnya berlangsung dengan menyenangkan, maka anak akan menunjukkan rasa haus terhadap kegiatan literasi. Contohnya adalah Reza dan anak-anak seusianya di era fesbuk. Mereka dapat menulis teks tertulis agar orang lain membaca, terkadang dengan ejaan yang  belum sempurna. Misalnya, saat chat, Izzan (5 tahun) mengakhiri obrolan dengan menulis, “akumaumakan” (tanpa spasi di antara kata). Reza menulis  kata “saat” dengan “saad” karena tulisan “Saad” sudah dikenalnya sejak kecil –nama keluarga ibunya adalah Saad. Stimulasi yang diberikan tentu memberi kesempatan seluasnya pada minat membaca anak, tanpa perlu mengoreksi langsung bila ia melakukan kesalahan. Dengan memberikan contoh, anak dapat menyerap dan mengoreksi kesalahannya sendiri.</p>
<p>Kegiatan baca dan tulis hanyalah bagian kecil dari literasi. Membuat anak menikmati kegiatan literasi menjadi lebih penting, karena kenikmatan dalam berproses akan memberi hasil yang lebih bermakna. ”Sedang apa Anda saad ini” adalah pertanyaan yang menggambarkan keasyikan seorang anak dalam proses literasi. Kita tidak perlu menjawabnya.</p>
<p><em>Tulisan ini dibuat sebagai wawancara tertulis untuk majalah Nakita dan dimuat di Nakita no 526, 27 April-3 Mei 2009, hal.  4-5 </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endah.sekolahtetum.org/?feed=rss2&amp;p=7</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
