Di tema Bumi di bulan April, saya memilih lagu Heal the World Michael Jackson untuk diajarkan kepada siswa kelas 1 dan kelas 2 SD. Mengajarkan lagu Heal the World tidak hanya memberikan pesan moral lewat lagu dan membuat anak mengenal kata-kata yang terkait dengan perdamaian, namun dalam tataran linguistik lagu ini dapat dipakai untuk memperkenalkan masalah penekanan (stress) pada bahasa Inggris.

Bahasa Inggris mempunyai penekanan berbeda dengan bahasa Indonesia. Misalnya, kalau mengucapkan kata heal the world,  kita –penutur Indonesia– cenderung memberi tempo yang sama pada ketiga kata. Yah, bahasa kita (seperti halnya Spanyol dan latin), adalah  syllable timing language: suku kata diucapkan dengan rerata konstan.  Berbeda dengan bahasa Inggris yang adalah a stress-timed language (suku kata yang diberi penekanan diucapkan dengan panjang waktu yang konstan, sedangkan kata yang tidak diberi penekanan diperpendek).

Karena itu, untuk dapat menyanyikan lagu Heal the World dengan  baik, maka kita perlu mengetahui mana kata yang diberi penekanan, dan mana yang tidak. Dalam bahasa Inggris, kata-kata yang diberi penekanan disebut dengan content words, sedangkan kata-kata yang tidak diberi penekanan disebut dengan function/structure words.

Kata-kata yang diberi penekanan dalam Heal the World, misalnya:

verbs know, heal, stop
nouns world, place, hurt, sorrow
adjectives brighter, little, better
adverbs really, much

 

Kata-kata yang tidak diberi penekanan disebut dengan function words atau structure words. Misalnya, pada lagu Heal the World, function words adalah:

pronouns I, you, there
prepositions in, for
articles a, the
conjunctions and, or
auxiliary verbs could, be

 

Keuntungan belajar sentence stress dengan lagu adalah, kita akan terbawa oleh pengucapan penyanyinya. Bila tanpa nada, kita akan cenderung memakai tempo bahasa kita.  Tak heran bila anak Indonesia (di kelas saya) memproduksi tempo suku kata yang berbeda saat mengucapkan kata-kata dalam Heal the World, bila tanpa nada dan dengan nada. Saat diminta mengucapkan tanpa nada, mereka cenderung memakai tempo bahasa Indonesia, dan ketika memasukkan nada ke dalamnya barulah terasa kilir lidah, karena ada kata yang harus diselipkan untuk mengejar kata berikutnya.

Seorang anak perempuan selalu tersenyum menggeleng-gelengkan kepala dan memejamkan mata setiap kali mengucapkan “and this place could be much better than tomorrow“, karena terjadi kilir lidah. Ya, kita orang Indonesia akan mengucapkan kalimat itu dengan rerata tempo sama pada setiap suku kata, tapi penutur asli bahasa Inggris (Michael Jackson dalam lagu itu) hanya memberi tempo agak panjang pada kata place, better, tomorrow. Kata-kata yang lain diucapkan dengan tempo pendek, sehingga bagi telinga kita terasa berdesak-desakan:)

Penutur Indonesia juga akan mengalami kilir lidah saat mengucapkan “you’ll find there’s no need to cry“. Kita akan merasa kalimatnya terlalu panjang untuk nada yang ada. He he … lagi-lagi itu karena kita mengucapkan dengan tempo yang sama untuk setiap suku kata, sementara dalam lagu itu memberi penekanan yang agak panjang pada kata find, need, cry.

Setiap bahasa punya keunikan, dan jadi tantangan menarik bila penutur suatu bahasa mempelajari bahasa lain.