Hari ini untuk pertamanya Manda tersenyum kepada saya, dan kepada orang lain dia mengatakan, “Hari ini seru. Aku tidur di kelas.”

Perlu lima atau enam minggu untuk mengambil hatinya.

Manda anak yang cerdas, dan menjadi salah satu murid Kelas Langit (TK A). Pada pertemuan pertama, dia masih ceria di kelas saya. Pada dua atau tiga pertemuan berikutnya, dia menggeleng ketika menyanyi,  membungkam kalau diajak mengucapkan sesuatu, dan menolak kalau diajak bermain. Ini terjadi ketika salah seorang teman dekatnya –sebut saja Andra– tiba-tiba mengatakan, “Aku mau snack time.” Dan sekelas pun melakukan Gerakan Tutup Mulut. Seingat saya ini terjadi sewaktu mereka saya ajarkan lagu Rain, Rain Go Away.

Pada pertemuan berikutnya, ketika mereka masih seperti itu, saya ajak mereka menggambar hujan. Satu demi satu mereka saya dekati, dan saya ajak bercerita tentang hujan. Manda pun dengan ceria bercerita tentang gambarnya.

Minggu berikutnya, saya katakan kepada guru kelasnya agar Kelas Langit Bulan dan Kelas Langit Bintang dijadikan satu pada kegiatan bahasa Inggris, agar kelas yang sebelah dapat menularkan semangatnya kepada kelas Manda.

Cukup berhasil. Manda cs mau ikut menyanyi bersama dan menjawab. Namun ketika tiba giliran perorangan atau per kelompok kecil untuk menyanyi, lagi-lagi dia dan gengnya menggeleng. Saya pun putar otak segera. Nah, saya mendapat akal yang membuat mereka tidak bisa mengelak. Mula-mula saya mengatakan, “Now, boys. Who are boys here?” Teman Manda –Andra, yang biasa “snack time” kalau pelajaran bahasa Inggris– tunjuk tangan. Lalu saya katakan, “Okay, you, boys, please stand up and sing the song.” Mau tidak mau, semua anak laki berdiri. Gengsi kan mereka, kalau tidak berdiri:)

Setelah anak laki selesai bernyanyi, saya katakan, “Now, it’s girls’ turn. Who are girls? Good …. Let’s sing the song.” Manda pun berdiri, menyanyi bersama teman-temannya.

Saya bersyukur dalam hati, bahwa tidak hanya usia saya yang 10 kali lipat lebih banyak daripada Manda, tetapi saya juga dikaruniai akal panjang untuk menaklukkannya.

Tapi “ujian” belum selesai, untuk seorang perempuan dengan rentang usia, dan jejak kehidupan lebih banyak daripada anak yang usianya masih bisa dihitung dengan sebelah jari tangan ini:)

Ada sajaaa penolakan Manda, yang membuat saya harus putar otak (padahal, di saat-saat menunggu dijemput dia kerap menggumamkan lagu yang saya ajarkan).

Minggu lalu, dia menolak memberi nama pada bintang yang dibuat saat kami menyanyikan lagu Twinkle Little Stars. Hmm … Sampai akhirnya dicapai kesepakatan: dia mau memberi nama dengan pensil dan dalam ukuran keciiiiil.

Hari ini bintang bersinar saat kami mengulang kegiatan Twinkle Little Stars. Saya mengajak anak-anak membawa bintang yang sudah mereka buat di minggu sebelumnya, dan berbaris menuju gedung Kelompok Bermain. Sambil berbaris membawa bintang, mereka saya ajak menyanyi Playing with the Stars dengan nada A Farmer in the Dell.

Playing with the stars/Playing with the stars/Heigh-ho we love it so/Playing with the stars ….

Mereka berbaris rapi dan tertib, dan berjalan pelan sambil menaruh telunjuk di jari sewaktu melintasi jendela Kelas Darat. Mereka senang dengan “permainan tidak mengganggu Kelas Darat” ini.

Lalu satu demi satu mereka masuk ke “ruang bintang”: ruang yang ditempeli bintang di langit-langit. Di ruang itu sambil tidur, mereka bermain pagi dan malam. Menjelang lampu dipadamkan, mereka saya minta berpegang tangan dengan teman bila takut, namun jangan menjerit dan berlari. Mereka saya minta tenang, dan mengucapkan doa mau tidur, lalu pandangi bintang di langit sambil menyanyikan Twinkle Little Stars.

Ruangan terlihat indah dengan bintang berpendar dan suara nyanyian anak (termasuk Manda, tentunya). Sebelum menyalakan lampu, saya katakan bahwa hari sudah pagi, dan kita akan menyanyikan lagu Brother John.

Beberapa kali kegiatan itu dilakukan.

Saat pulang, Manda dan teman-temannya mengatakan, “Seru ya!”

Rupanya hari ini menjadi momen yang mengesankan bagi Manda. Senyumnya berpendar dan wajahnya secerah bintang.