Some books are to be tasted, others to be swallowed, and some few to be chewed and digested.

Francis Bacon, sastrawan Inggris, mengibaratkan perilaku membaca buku seperti makan. Ada makanan yang hanya untuk icip-icip kan, maka ada buku yang juga hanya untuk dibaca sebagian atau sambil lalu (dia menjelaskan di baris berikutnya: some books are to be read only in parts). Ada makanan yang kita telan tanpa dikunyah, maka buku pun ada yang dibaca tanpa ketertarikan besar (… to be read but not curiously). Dan ada makanan yang kita kunyah, nikmati dan telan, maka, menurut Bacon, some few to read wholly, and with dilligence and attention. 

Saya senang sekali dengan baris-baris pada prosa Of Studies itu, yang ditulis di abad ke-17  itu,  meskipun saya bukan tipe kedua pembaca buku yang disebutnya: membaca hanya untuk menelan, tanpa ketertarikan. Yah, kalau tidak tertarik, saya tidak akan membacanya. Rugi kan, … he he ….

Semua buku yang saya miliki adalah buku yang saya beli dan baca dengan penuh cinta. Tapi memang, ada yang saya baca selintas, dan ada yang menjadi diolah untuk diwujudkan menjadi karya.

Saya akui, saya seorang kutu buku sejati, one who takes every opportunity to put her nose in a book:D.

Saat saya menulis ini pun, siku kiri saya bertumpu di atas buku, dan di sebelah kanan saya, 30 cm dari tubuh saya bertumpukan buku-buku, ada yang terbuka dan tertutup. Di belakang saya, di meja, ada beberapa (tumpukan) buku. Menengok ke kanan, ada dua lemari berisi buku-buku. Dan di balik lemari itu ada lemari buku lagi. Hadooh ….

Mungkin buku-buku memberi energi bagi saya, karena sesungguhnya kita tidak pasif saat membaca buku. Dari Teaching Reading Skills, karya Christine Nuttall, kita akan paham bahwa dalam proses membaca kita memiliki keterlibatan aktif. Hal pertama dari keaktifan itu adalah, kita mencoba menggali makna dari teks yang kita baca, yang kadang kita lalui dengan mudah, dan kadang dengan sulit. Kedua, saat kita membaca, kita tahu bahwa kita punya tujuan dan harapan dari teks yang kita hadapi. Misalnya saja, saat membaca Jejak-Jejak Pendidikan Islam di Indonesia karya Khozin, kita berharap akan mendapatkan informasi tentang sejarah pendidikan Islam dari masa kedatangan pedagang-pedagang Gujarat di Nusantara hingga terbentuknya organisasi Islam –seperti Muhammadiah dan NU– di abad ke-20. Ketiga, kita melakukan proses interaktif dengan penulisnya. Masalahnya, penulis itu tidak ada di hadapan kita, sehingga ketika kita tidak paham, kita hanya mengandalkan apa yang kita ketahui.

Apa yang kita ketahui, atau gagasan yang ada di pikiran kita disebut dengan skemata. Apabila skemata kita kaya, maka proses interaktif antara penulis dan pembaca akan terbangun dengan semakin baik. Dan dengan membaca, kita bisa menambah skemata kita. Misalnya saja, 20 tahun lalu saya tidak memiliki gagasan apa pun tentang kesusasteraan Inggris sewaktu membaca Ikhtisar Sejarah Kesusasteraan Inggris. Apalagi saya membacanya di setiap Senin pagi dengan dosen yang menurut saya berwajah dingin. Saat itu, saat membaca teks Of Studies, saya menyerapnya hanya sebagai pengetahuan, alias mendapat nilai baik.

Kini, setelah pengalaman membaca saya semakin banyak, dan tentunya skemata saya semakin bertambah, saat membaca Of Studies Francis Bacon kembali, saya mencernanya secara berbeda, sampai saya bisa mengatakan bahwa saya bukan orang yang menelan buku tanpa menikmatinya. Pendapat ini tentu saja baru muncul bertahun-tahun setelah saya banyak membaca, dan tidak lagi seculun di masa kuliah:D.

Akhir-akhir ini saya ingin berbagi tentang kesukaan membaca kepada orang-orang di sekeliling saya. Kepada komunitas saya –guru bahasa Indonesia tingkat SD hingga SMA– saya dorong untuk membaca. Kesulitan mereka adalah pada teks bahasa Inggris. Sesuatu yang disayangkan, karena sumber ilmu yang baik (sepengetahuan saya lho) ada dalam buku berbahasa Inggris. Teman-teman saya itu,  sebagai guru berarti sebagai agen pembaharu, tentunya akan mengubah generasi berikutnya menjadi lebih baik kalau mereka memperkaya diri dengan buku-buku sumber berbahasa Inggris itu. Di komunitas kami ada ada begawan-begawan bahasa dan sastra (baca: profesor), yang punya buku-buku sumber yang dipakai di dunia pendidikan bahasa dan sastra internasional (kita bisa mengeceknya di Goodreads). Sayang kan bila kesempatan pertemuan dengan beliau-beliau itu  tidak dimanfaatkan untuk mengambil ilmu dan meminjam bukunya. Karena itu, bila kami mengadakan pertemuan, saya biasanya membawakan tas seorang ibu profesor yang sudah sangat sepuh usai pertemuan, dan dengan senyum manis saya katakan bahwa saya ingin meminjam buku yang dibahasnya hari itu. Dan kalau memang ada tawaran untuk membaca buku dari para senior di komunitas kami, maka saya buru-buru maju. Teman-teman saya biasanya enggan, bukannya tidak mau membaca, namun kendala bahasa.

Namun kini sudah ada tiga orang berhasil saya bujuk untuk membaca buku berbahasa Inggris, dengan janji saya akan membantu menguraikan makna kalimatnya.

Kepada orang tua murid pun saya mulai berbagi. Kepada seorang ibu yang saya tahu senang membaca dan belajar, saya pinjamkan buku-buku Montessori saya. Tepatnya: saya buatkan fotokopi. Saya cenderung membuatkan fotokopi daripada meminjamkan buku. Saya selalu gelisah bila buku saya keluar dari rak (ya itu tadi, saya membelinya dengan penuh cinta). Lagipula, ada joke tentang buku yang betul-betul lucu buat saya: orang yang bodoh adalah orang yang meminjamkan buku; dan orang yang lebih bodoh adalah orang yang mengembalikan buku yang dipinjamnya. Ha ha …. Saya tidak mau ada dua orang bodoh, jadi lebih baik dibuatkan fotokopinya:D

Saya juga mengajak ibu tersebut untuk suatu saat membedah isi buku itu, di bagian-bagian yang dengan istilah Bacon, telah saya kunyah dan cerna (chew and digest), alias sudah dipraktikkan di sekolah, dan terlihat hasilnya.

Berbagi buku, adalah berbagi ilmu, agar semakin banyak kearifan menyebar di sekeliling kita.

Reading maketh a full man …, kata Bacon lagi.