Ada momen indah di pelajaran Bahasa Inggris di Kelas Venus kemarin. Kelompok anak laki ngeriung di depan teks yang mereka baca. Teks itu sampai tertutup oleh tubuh dan kepala mereka.

Mereka sedang … menyanyi. Saat itu giliran anak laki menyanyi lagu Heal the World secara keseluruhan diiringi lantunan suara MJ, penyanyinya.

Saya mengajarkan lagu itu baris demi baris, agar mereka dapat mengucapkan dengan bunyi dan tekanan yang mendekati ketepatan (lihat: Kilir Lidah pada “Heal the World”). Memutarkan suara MJ seperti mendatangkan penutur asli, dan anak-anak saya biarkan menyerap bagaimana seorang penutur asli mengucapkan kata-kata itu.

Beberapa anak, misalnya, saya dengar masih mengucapkan /pleis/ “place” dengan /e/ seperti pada /ember/, bukan /tempe/, tapi pada kesempatan ini masih saya biarkan.

Sekarang yang akan dibangun adalah rasa percaya diri mereka.

Ini penting, karena dalam mengajarkan bahasa kedua ini saya memakai pendekatan pemerolehan bahasa (language acquisition), bukan struktural.

Dalam pendekatan yang pertama, sistem bahasa adalah produk dari proses yang tidak disadari, seperti halnya mereka memperoleh sistem bahasa ibu. Dalam pendekatan kedua, pembelajaran bahasa adalah produk instruksi formal, terdiri dari proses disadari yang menghasilkan pengetahuan sadar tentang bahasa. Misalnya, pengetahuan tentang tata bahasa.

Kebanyakan kita orang Indonesia belajar bahasa Inggris dengan pendekatan kedua, yang akibatnya, kita tidak bisa bicara, menulis, dan mendengar pun terpatah-patah.

Dalam pendekatan pertama, siswa berkonsentrasi pada tindak komunikatif, bukan pada bentuk wicara.

Namun ketika kita belajar bahasa asing atau bahasa kedua, pastilah kita akan menyadari adanya sistem bahasa yang berbeda pada bahasa yang tengah kita pelajari itu. Karena itu dalam diri kita akan muncul “editor” yang mengarahkan kita pada aturan-aturan. Misalnya saja, ketika anak-anak sampai pada baris yang belum dibahas, mereka lebih banyak menggumam saat mengikuti suara MJ. Itu adalah fungsi “editor” yang mencegah mereka mengucapkan kata-kata yang tidak dipahami.

Yang perlu dijaga adalah agar mereka tidak menjadi “over-users“, terlalu berhati-hati terhadap perbedaan bahasa, yang bisa membuat mereka tidak percaya diri dalam berbahasa Inggris.

Saya boleh GR karena ketika saya masuk kelas, mereka bilang, “Asyik, bahasa Inggris.” Padahal ketika itu, saya hanya mengambil buku yang akan saya berikan kepada seorang tamu. “Lima belas menit lagi ya,” kata saya, saat melihat kekecewaan di wajah mereka. Oh ya salah satu yang mengucapkan itu adalah anak yang dulu tidur-tiduran jika ada bahasa Inggris, atau malah menyerang teman secara verbal.

Saya juga bahagia ketika melihat reriungan anak laki di teks alat peraga: salah satunya adalah anak yang tidak pernah mengeluarkan suaranya jika diminta bercerita atau mengucapkan kata dalam bahasa Inggris.

Keberhasilan dalam belajar bahasa Inggris sangat ditentukan oleh motivasi, rasa percaya diri, dan citra diri yang baik. Tanpa ketiga hal itu akan muncul mental block yang mencegah datangnya pemerolehan bahasa.

Lalu di mana peran tata bahasa? Tentu tatabahasa penting, apalagi kalau di level pendidikan tinggi (misalnya, akan mengikuti tes potensi akademik untuk memasuki jenjang pendidikan tinggi), namun di tingkat dasar ini yang perlu diperkenalkan adalah keindahan berbahasa, bukan kompleksitas bahasa.