Bagaimana jika seorang tamu –calon klien–  mengatakan bahwa beliau berminat pada SD Tetum Bunaya, tapi juga pada SD RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional)?

Sekilas saya akan merasa bangga, karena Tetum disamakan dengan sekolah yang secara struktural legal formal sudah mapan. Hmm …

Tapi jauh di lubuk hati saya tidak bangga. Saya akan meminta ibu/ayah tersebut untuk mencari ketetapan hati, memilih sekolah yang mana….

Pasalnya, RSBI dan Tetum punya filosofi berbeda. Filosofi utama adalah pada pendekatan budaya. Budaya, menurut Wikipedia, adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bahasa adalah salah satu unsur budaya, yang diwariskan secara genetis. “Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari,” kata Wikipedia.

Kalau RSBI menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, Tetum justru dengan segala kerendahan hati mengklaim sebagai sekolah berbahasa Indonesia ….

Filosofi Tetum dilandasi  atas kesadaran adanya keterkaitan bahasa dengan perkembangan manusia.

Bahasa adalah anugrah Tuhan yang membedakan manusia dari hewan. Menurut Aitchison, dalam Linguistics, bahasa manusia mempunyai delapan ciri, yaitu:  a)  Menggunakan sinyal bunyi,  b)  Arbitrer,  c) Perlu dipelajari,  d) Dualitas,  e)  Tidak terbatas pada ruang dan waktu, f) Kreatif (produktif),  g) Berpola,  dan h) Bergantung pada struktur.

Sistem bahasa ini yang mesti kita hargai dalam berkomunikasi di dalam suatu masyarakat. Sistem bahasa ini muncul sebagai hasil konvensi suatu masyarakat, dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga tidak dapat dipaksakan.

Sebuah sekolah yang memilih suatu kultur tentu akan tunduk pada definisi bahasa di atas. Sekolah yang memang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa utama, tentu menciptakan atmosfer bahwa penuturnya memperlakukan bahasa Inggris dalam kerangka “pemerolehan bahasa”, bukan ‘bahasa yang dipelajari” (baca: Over-Users & Under-Users) Dalam bahasa awam, penutur di sekolah itu menggunakan bahasa Inggris dalam konteks apa pun, dalam situasi emosi yang bagaimana pun, dan secara spontan berbahasa Inggris, bukan kalimat Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Tetum, karena berada di tengah wilayah tertutup (baca: perkampungan), merasa bahwa budaya yang perlu dikembangkan adalah bahasa Indonesia. Dengan mengenal sistem bahasa sendiri, anak akan memiliki logika berpikir yang runut. Ya, bahasa adalah sistem, dan sistem adalah sesuatu yang logis. Dengan mengenal sistem dalam diri sendiri secara mendasar, insya Allah mereka dapat diajak berpikir secara runut.

Saya pribadi bangga menjadi orang Indonesia,  menjadi penutur bahasa Indonesia, dan merasa mendapat penghargaan sejajar dengan penutur bahasa asing (mana pun), ketika saya bergabung dengan suatu himpunan penerjemah internasional. Ketentuan dalam himpunan itu adalah pekerjaan menerjemahkan ke dalam bahasa target hanya diberikan kepada penutur bahasa target. Jadi saya tidak boleh menerjemahkan teks dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, sedangkan penutur bahasa Inggris tidak boleh menerjemahkan teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Wow, saat itu saya merasa melihat bendera merah putih berkibar sejajar dengan bendera Amerika Serikat.

Anak-anak Tetum sengaja kami jadikan sangat Indonesia, justru agar kelak mereka dapat bersaing secara internasional. Ya, anak-anak harus punya akar yang kuat tentang budaya sendiri, agar punya rasa percaya diri yang tinggi ketika berhadapan dengan orang asing. Anak-anak Tetum belajar berkebun, pergi ke cagar budaya, membuat makanan lokal, dan kalau pulang Lebaran, mereka diminta membawa sesuatu dari kampung.

Pengalaman hidup itu yang membuat kita bisa setara ketika berada di suatu komunitas internasional. Pengalaman saya sendiri ketika berinteraksi dengan editor internasional adalah ketertarikan mereka saat membahas budaya lokal Indonesia. Misalnya, kebiasaan memberikan oleh-oleh setelah bepergian, yang tidak ada di budaya Barat.

Saya tidak direndahkan dengan pengetahuan-pengetahuan daerah saya, tapi justru mereka memberi penghargaan yang tinggi, dan saya bisa mengobrol sebagai saya, bukan sebagai seseorang yang ingin menjadi mereka.

Mungkin bisa dikatakan sebagai suatu hipotesis, bahwa kita harus memasuki ranah internasional lewat budaya lokal.

Think locally, act globally.