Bagaimana menciptakan kelas bahasa Inggris yang tidak hanya menyenangkan, tapi juga berbobot? Santai tapi ngelmu? Kelas seolah berisik padahal sedang berproses?

Kuncinya ada di level berpikir apa yang kita tuju.

Di dunia pendidikan dikenal taksonomi Bloom untuk tujuan pendidikan. Kata “taksonomi” berasal dari kata Yunani tassein, yang berarti untuk mengelompokkan, dan nomos yang berarti aturan. Jadi taksonomi berarti pengelompokan suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum, dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih spesifik (definisi dari Om Wiki).

Taksonomi untuk tujuan pendidikan diciptakan oleh Benjamin Bloom (1913-1999), sehingga kerap disebut sebagai Taksonomi Bloom.

Bloom membagi ranah berpikir dalam enam tingkatan, yaitu:

  • Pengetahuan (Knowledge)
  • Aplikasi (Application)
  • Analisis (Analysis)
  • Sintesis (Synthesis)
  • Evaluasi (Evaluation)

Taksonomi Bloom berlaku untuk segala level pendidikan. Apakah itu di level pascasarjana atau anak usia dini.

Khusus untuk bahasa Inggris, taksonomi ini dapat diterapkan untuk materi sesederhana Five Little Monkeys, nursery rhyme terkenal dalam khasanah sastra anak berbahasa Inggris.

Dalam Five Little Monkeys diceritakan lima ekor monyet main lompat-lompatan di tempat tidur. Seekor monyet jatuh, dan kepalanya benjol. Ibu monyet pun menelepon dokter, dan dokter menasihati agar jangan main lompat-lompatan.

Biasanya anak-anak senang diajarkan nursery rhyme ini karena mereka melakukannya sambil menyanyi dan menggerakkan tubuh.

Five little monkeys (mengacungkan kelima jari)
jumping on the bed – (melompat-lompat)
and bumped his head! (tangan di kepala)
Mama called the doctor (jari di telinga)
and the doctor said –
“No more monkeys (mengayunkan kelima jari)
jumping on the bed!”

Ini dilalukan berurutan mundur, dari five monkeys, ke four monkeys, three, two dan akhirnya one.

Untuk anak-anak dengan level berpikir yang mulai kompleks, Five Little Monkeys dapat dipakai sebagai sarana dengan cara sebagai berikut:

Setelah menyanyi sambil menggerakkan tubuh, mereka diminta membuat buklet FLM atau membaca buku FLM, dan dilakukanlah diskusi ini:

Menyebutkan tokoh di dalam cerita. (Pengetahuan/Knowledge)

Menjelaskan apa yang dilakukan setiap monyet di dalam cerita (anak, ibu, dokter. (Pemahaman/Comprehension)

Melakukan drama dengan melakukan percakapan antara ibu dan dokter. (Aplikasi/Application)

Membandingkan kata-kata dokter “no more monkeys jumping on the bed“, dengan versi lain (misalnya, “that’s what you get for jumping on the bed“). (Analisis/Analysis)

Menciptakan akhir cerita baru, misalnya dengan menghadirkan monyet keenam. (Sintesis/Synthesis)

Menilai masing-masing buklet yang dibuat di kelas. (Evaluasi/Evaluation)

Aktivitas itu saya pakai sewaktu saya menjadi guru pengganti di Octopus English Club. Saya lihat anak-anak sudah fasih melantunkan dan menggerakkan tubuh dengan lagu Five Little Monkeys. Karena itu, FLM saya perkaya dengan mengikuti runutan berpikir ala Bloom.

Anak-anak pun pulang dengan tersenyum, membawa buklet FLM, dan kemampuan berpikir yang lebih kaya.