Salah satu prinsip dalam pembelajaran bahasa kedua adalah motivasi intrinsik (motivasi dari dalam).

Menurut Brown, dalam Teaching by Principles, kalau motivasi intrinsik sudah muncul, siswa tidak perlu guru. Ha ha …. Terus gurunya ngapain dong? You can perform a great service to learners and to the overall learning process …., kata Pak Brown.

Lebih sulit, karena kita harus merancang kelas agar memenuhi kebutuhan intrinsik, yang tak terlihat itu. Bagaimana agar tugas yang kita berikan dirasakan menyenangkan, menantang dan bermanfaat. Hmm … jauh lebih sulit daripada mengubah anak-anak yang semula selalu izin snack time atau menggeleng dan membisu bila saya masuk kelas untuk mengajar bahasa Inggris (lihat: Twinkle, Twinkle Little Stars ).

Kini setelah mereka tertarik, muncul lagi tantangan yang lebih tinggi.

Contohnya saja, ketika dua hari lalu saya masuk untuk melihat Kelas Langit berlatih menari, seorang anak berkomentar, “Bahasa Inggris.”  Waduh, saya sudah dilabel sebagai guru bahasa Inggris. Bagaimana kalau yang saya ajarkan membuat dia kecewa ya?

Lalu Andra bertanya, “Besok bahasa Inggrisnya apa?” Hmm … Andra adalah anak yang sebelumnya selalu snack time. “We’ll learn about elephants,” kata saya sambil memajukan tangan membentuk belalai gajah.

Elephant!” beberapa anak ikut berteriak.

Yeah. Be sure to come. Don’t miss it,” kata saya.

Tiba-tiba saja, di depan saya terjadi keributan. Tino mengambil buku dan meninggalkan kursinya. Ketika dia kembali, tempat duduknya sudah diduduki Rio.  Tino protes, menghendaki tempat duduknya, namun Rio pura-pura tidak mendengar, malah melipatkan kedua tangan di dada.

Rio dibujuk tidak bisa, dan tiba-tiba … tuing-tuing, muncul ide terkait dengan motivasi intrinsik itu. Saya berkata kepada Rio, “Rio, will you listen to me If I speak in English?”

Rio menoleh ke arah saya.

Please move here. Give the seat to Tino,” kata saya sambil menunjukkan kursi kosong di sebelahnya.

Rio yang semula wangkeng pun pindah. Hi hi …. The power of English.

Bagi Rio, mungkin terasa berbeda menerima instruksi dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, karena dia tengah bersemangat belajar bahasa Inggris. Kalau dalam hierarki Maslow, mungkin Rio berada dalam level merasakan adanya self-esteem dengan bisa memahami bahasa Inggris.

Untuk anak lain, mungkin level yang dirasakan adalah belongingness atau affection. Dengan belajar bahasa Inggris, ia merasa jadi kelompok tertentu (baca: kelompok anak yang dapat bermain dan bernyanyi seru dalam bahasa Inggris). Ia juga merasakan adanya afeksi, karena dengan belajar bahasa Inggris dia mendengarkan cerita yang menarik, menyanyikan lagu yang gembira, dan bergerak dengan lucu.

Ketika saya bertemu dengan Andra di pagi hari sebelum jam mengajar, dia bertanya, “Itu buku gajah ya?” Dia melihat saya turun tangga membawa buku.

“Bukan, Andra. Ini buku Bu Tisna,” kata saya. Bu Tisna adalah bagian administrasi kami.

“Tapi kita belajar gajah kan?” tanyanya.

“Ya.”

Saat saya masuk kelas, anak-anak sudah siap duduk di lingkaran. Untuk kelas yang aktif, sungguh sebuah “keajaiban” mereka bisa duduk tenang seperti itu. Motivasi intrinsik sedang bekerja, kata saya dalam hati, dan menjadi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan itu.

Mungkin kebutuhan itu terpenuhi, mata mereka menatap saya saat saya mengajak mereka menyanyikan lagu One Elephant Went Out to Play.

One elephant went out to play, 
Upon a spider’s web one day. 
He had such enormous fun,
That he called for another elephant to come! 

Two elephants went out to play…

Lagu itu mempunyai nada yang mudah dinyanyikan, namun dari keraguan yang muncul di mata mereka saat menyanyi, saya melihat mereka menemui kesulitan. Dalam sekejap saya analisis bahwa hal yang menjadi sulit adalah bentuk lampau (went out, had), kata-kata yang tidak lazim didengar (he had such enormous fun), dan adanya sentence stress yang menyebabkan lidah jadi terpeleset  (that he called for another elephant to come) (lihat: Kilir Lidah pada Heal the World  ).

Mereka tetap berusaha bernyanyi, tapi ketika sudah terjadi keributan (entah karena  soal tempat berdiri atau lengan tersenggol), saya merasa, motivasi intrinsik itu terganggu.

Maka saya pun mengajak mereka duduk dan bercakap-cakap soal gajah dan sarang laba-laba. Kebanyakan mereka punya laba-laba di rumah, dan sebagian mengaku punya gajah (mainan).

Saat mereka sudah berebut bicara, saya ajak mereka dengan action song.

Walking, walking. Walking, walking.
Hop, hop, hop. Hop, hop, hop.
Running, running, running. Running, running, running.
Now let’s stop. Now let’s stop.

Kata-katanya saya ganti, dengan swimming, dan jump, sampai akhirnya ketika saya merasa jantung saya yang berusia 50 tahun minta istirahat, saya pun mengakhiri lagu dengan, “Now, let’s sleep.” Kami tiduran di lantai, dan saya menarik napas panjang.

Tiba-tiba di pintu terdengar ketukan. Seseorang memberi tahu bahwa tamu saya dari kantor Diknas sudah datang. Saya pun mengajak anak-anak untuk bangun dan menyanyikan lagu “Bye Bye See You Again“.

Saya tinggalkan mereka dengan motivasi intrinsik yang tetap terjaga, seperti saya memegang pesan Brown:

Some day your students will no longer be in your classroom. Make sure you are preparing them to be independent learners and manipulators of language “out there.”

Insya Allah!