Bila bertemu saya, Andra –siswa TK A– selalu bertanya, “Kak, hari Kamis bahasa Inggrisnya apa?”

Andra hanyalah satu dari beberapa anak yang –sepertinya– menunggu kelas bahasa Inggris. Ini saya lihat dari respon mereka bila bertemu saya, atau reaksi mereka di kelas.

Selasa lalu Neysia menari-nari mengikuti gerakan dan bibirnya bergerak-gerak menyanyi. Saat diminta memeragakan, dia termasuk yang pertama tunjuk tangan. Biasanya Neysia hanya tersenyum malu saat kegiatan bahasa Inggris.

Kalau saja Pak James Asher tahu, pasti beliau bangga bahwa karyanya memberi inspirasi kepada anak-anak non-English-speakers untuk belajar bahasa Inggris.  Saya tidak kenal dengan Pak Asher, he he …., namun saya tahu beliau dari buku-buku language teaching.

James Asher adalah penemu metode pengajaran bahasa yang disebut dengan Total Physical Response (TPR). Metode ini didasarkan pada teori bahwa memori dapat diperkuat bila dilakukan gerakan fisik. TPR juga terkait dengan teori pemerolehan bahasa ibu pada anak: anak merespon kata-kata orang tua secara fisik. Misalnya, bayi pun tersenyum ketika ibunya mengatakan, “Mana senyumnya?”

Dalam TPR pun anak melakukan apa yang diperintahkan guru. Misalnya, “Walk to the door.”

Asher adalah seorang psikolog, dan tampaknya beliau penganut aliran behaviorisme, suatu aliran dalam psikologi yang menyatakan bahwa respon dihasilkan karena adanya stimulus.

Maka bila pemerolehan bahasa pertama pada anak muncul karena adanya stimulus alami, begitu pula seharusnya pemerolehan bahasa kedua. Stimulus itu berupa kata-kata yang diinput melalui pendengaran. Ya, bukankah kemampuan bahasa manusia yang berkembang pertama adalah mendengar, dan kemudian baru berbicara, bukan?

Kemampuan berbicara berkembang, bila sudah diperoleh pemahaman. Pengalaman dengan anak dengan gangguan pendengaran di sekolah menunjukkan bahwa kemampuan berbicara mereka akan muncul bila mereka paham.

Begitu pula dalam belajar bahasa kedua. Menurut TPR, kemampuan berbicara dalam bahasa asing akan berkembang secara alami dan tanpa susah payah bila pemahaman sudah berkembang.

Asher juga memakai penjelasan secara neurologis. Bicara dan pemahaman terletak di bagian otak yang berbeda. Kemampuan berbicara berasal dari area Broca yang terletak di lobus frontal pada otak sebelah kiri. Pemahaman terletak di area Wernicke di lobus  temporal.  Posisi otak ini berpengaruh pada pembelajaran bahasa kedua.

Biasanya, di kelas belajar bahasa Inggris guru mengatakan “Listen and repeat after me!” Menurut Asher, ini bukan cara belajar bahasa yang baik, karena otak akan kelebihan beban. Baik lobus frontal maupun temporal bekerja berbarengan sehingga gerakan menjadi lambat. Guru mungkin puas karena murid dalam sekejap bisa mengikuti, namun di kemudian hari di saat memori dari  kegiatan “listen and repeat after me” itu harus dibangkitkan, tidak ada yang tersisa. Berapa kali kita cuma ah-uh-ah-uh ketika harus bicara dalam bahasa Inggris, kan?

Mengajarkan bahasa kedua, tidak semata seperti mengisi air ke gelas kosong. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, karena kita berhadapan dengan anugrah Tuhan yang tak tertandingi: pemerolehan bahasa manusia.

Alhamdulillah dengan bimbingan Pak Asher –dan pemikir pembelajaran bahasa kedua yang lain– saya bisa mendapatkan mata yang berbinar-binar saat diajak berputar, meniru gerakan hewan, atau bahkan snack time.

Kalau sebelumnya snack time adalah bentuk tidak nyaman terhadap pembelajaran bahasa asing, maka kini  snack time adalah perlambang pemahaman mereka terhadap bahasa Inggris. Kenapa? Karena sebelum minum, mereka diminta untuk minta izin dalam bahasa Inggris, “May I have a drink?” Dan mereka bangga saat bisa mengucapkannya. Mereka duduk di kursi minum, membuka botol, menyeruput sedikit, lalu kembali ke tempat semula, karena mendengar saya berbicara kepada temannya yang juga ingin minum, “Wait until Fira is back.”