Kemarin Bu Tisna bercerita kepada saya bahwa seorang ibu ingin mendaftarkan anaknya di Tetum. Ya ya ya …. Saya mendengarnya sanbil lalu. Tapi kemudian saya menoleh dan menyimak ketika Bu Tisna melanjutkan ceritanya, “Ibu itu pengen banget anaknya di sini karena lihat Varo. Katanya, Varo itu bagus. Shalatnya juga rajin.”

Ada riak  bahagia dalam diri saya bahwa Varo sudah menjadi “seseorang”  di lingkungannya. Seseorang yang cukup terlihat untuk jadi benchmark.

Varo adalah sosok yang unik. Dia bukan anak spesial, tapi perlu mendapat treatment spesial. Banyak yang heran kenapa Varo menjalani terapi di sekolah. Sepintas tidak ada yang salah pada Varo. Dia cerdas, keinginan belajarnya tinggi, pengetahuannya luas (ketika saya menjelaskan tentang lagu Heal the World Michael Jackson di kelasnya, Varo bisa menjelaskan beda antara perang dan damai), dan dia bukan tipe anak yang senang usil mengganggu teman, bahkan cenderung menahan diri bila disakiti.

Varo punya potensi besar, namun kapasitas dan kapabilitasnya terhambat karena kesulitan belajar yang dimilikinya. Kesulitan belajar (biasa dikenal sebagai LD —Learning Disability) adalah kondisi dengan kemungkinan adanya disfungsi neurologis, adanya kesulitan dalam tugas-tugas akademik, ataupun adanya kesenjangan antara prestasi dan potensi.

Dua hal terakhir itu sangat nyata di sekolah. Kalau dia cerdas kenapa ya tugas akademik tidak terselesaikan dengan maksimal? Kalau dia berpotensi, mengapa ya prestasinya kurang terlihat?

Ciri yang nyata pada Varo adalah kesukaannya mendekati objek yang sedang dipelajari, atau “muter” di area belajar. Misalnya, ketika  guru menerangkan, maka dia akan maju untuk melihat alat peraga yang dipegang guru; saat upacara dia tidak bisa diam di tempat ….

Varo selalu patuh bila diingatkan, paling banter dia cemberut terus pergi. Ya, Varo hanya bisa mengekspresikan kemarahannya pada bundanya.

Nah, ini bab penting dari buku “Varo” yang saya petik. Dari Varo saya belajar tentang peran orang tua dalam perkembangan anak. Orang tua adalah tempat anak mengenal nilai-nilai dan struktur kehidupan. Varo membukakan mata saya mengenai kearifan dalam tatanan kehidupan tradisional: bahwa orang tua adalah sosok yang harus dihormati, bukan untuk kepentingan orang tua itu, tapi untuk kepentingan anak. Dengan menghormati orang tua, maka ia akan belajar bahwa dalam kehidupan ada struktur, dan posisinya berada di tempat tertentu yang sudah given.  Dengan memahami struktur, ia dapat menempatkan diri dengan pas, baik secara fisik maupun abstrak dalam kehidupannya sehari-hari.

Bukan berarti orang tua menjadi authoritative (orang tua mengatur dan selalu benar), namun juga tidak kebalikannya, pola pengasuhan liberal (anak punya kebebasan luas, dan dalam posisi sejajar dengan orang tua).

Interaksi antara Varo dan bundanya yang unik ini –yang saya saksikan sendiri saat berkunjung ke rumah mereka– mengantarkan Varo ke hari-hari di ruang terapi, dan jumlah pertemuan yang cukup besar antara sekolah dan orang tuanya. Pola asuh orang tua Varo berpengaruh besar pada masalah LD pada Varo.

Ayah dan bundanya adalah orang tua muda dengan semangat belajar yang baik. Mereka berupaya keras menjalankan konsistensi sebagai orang tua.

Varo pun berusaha keras menjadi lebih baik. Setiap kali habis terapi, dia menyorongkan laporan Kak Indah, terapis, untuk ditandatangani sambil tersenyum, dan kadang menunjukkan karyanya yang menandai bahwa kemampuan motorik halus dan konsentrasinya meningkat.

Hasilnya di kelas pun mulai terlihat. Varo mulai tenang, walau masih fluktuatif. Dua Rabu ini saya melihat Varo bermain sendiri usai sekolah, yang menandakan dia mulai dapat mengembangkan kemandirian. Dan yang lebih penting, dia dapat menghargai bundanya:  Bundanya mengajar ekskul renang, dan dia menunggu di sekolah dengan bermain balok atau apa pun dengan asyik.

Bagian tersulit dalam program pengembangan Varo ini adalah menjaga agar Varo tetap dapat mengendalikan diri dalam kondisi apa pun. Saya katakan “tersulit” karena mempertahankan sesuatu itu perlu komitmen besar.

Mungkin Tuhan ingin menunjukkan kepada kami –guru dan orang tuanya– mengenai tahapan usaha kami dengan mengirim seseorang yang mengatakan, “Ingin menyekolahkan anak saya di Tetum supaya bisa seperti Varo.”

Namun Tuhan juga mengingatkan kami bahwa tugas kami menjadi lebih berat: tetap konsisten dalam menjaga pencapaian ini. Insya Allah hal itu akan terjalankan kalau kami –lagi-lagi guru dan orang tuanya– mau terus belajar, mengkaji buku berjudul “Varo”.

PS: Selamat ulang tahun, Varo.