Saya sedang duduk di sebuah tenda soto menunggu pesanan soto mi dibungkus. Di depan saya berdiri dua orang ibu dan seorang anak perempuan. Salah satu ibu menelepon dan bertanya di mana tempat seminar. Karena telinga saya tidak berdinding, saya tahu di mana tempatnya. Maka saya bilang kepada ibu yang satu lagi untuk jalan bersama saya dan saya tunjukkan Tetum Bunaya. Seperti halnya Rayi, otak saya isinya adalah Tetum Bunaya, yang kemudian mengajak kaki saya melangkah bersama ibu-ibu itu … dan lupa akan soto mi bungkus yang saya pesan.

SMS itu dikirim siang, dan baru saya baca usai Magrib. Sebuah SMS yang menunjukkan kedekatan ibu Rayi dengan Tetum, terlebih ketika mereka harus pindah kota, dan sudah sejak sebulan lalu Rayi menjadi galau karena akan meninggalkan sekolahnya yang tercinta. Rayi mengatakan kepada bapaknya bahwa kalau dia ulang tahun di bulan November nanti, dia harus dan harus merayakannya di Tetum, tidak peduli ulang tahun  itu jatuh pada hari Senin. Ketika ayahnya mengatakan, “Itu kan hari kerja, Dik,” Rayi pun menangis, menganggap ayahnya tidak paham akan dirinya.

Bagi Rayi, Tetum adalah “sesuatu”, dan dia akan berjuang untuk mendapatkannya, usaha yang dilakukannya sejak bayi, ketika dia menghentakkan kaki agar mbaknya berbelok ke rumah saya.

Setelah dia bersekolah di Tetum, dia pun keukeuh untuk masuk SD Tetum Bunaya. Dia sengaja bangun siang di hari tes di suatu SD, dan malah mengajak ayahnya membeli sarapan, lalu pulangnya melewati gedung Tetum yang sedang dibangun.

Bagi Rayi, Tetum adalah cinta pertama pada dunia di luar keluarga. Tetum adalah sekolah yang pertama dikenalnya ketika dia belum berusia 2 tahun. Saat saya ajak ke sekolah, matanya berbinar-binar melihat buku, teman dan mainan. Saya menjadi orang pertama yang menyaksikan kehausannya pada ilmu.

 

Rayi, 1,5 tahun, datang ke Tetum untuk pertama kali.

 

Cukup pede bersama teman-teman yang lebih besar.

 

Usai “sekolah”. Digandeng Kak Ria.


Tertidur di mobil sepulang sekolah.

Foto-foto di atas saya simpan dalam blog http://aryorayi.wordpress.com/yang saya buat sebagai hadiah ulang tahun untuk ibunya. Saya bersahabat dengan bapak dan ibunya sebelum Rayi lahir, dan mungkin Rayi merasakan itu, Karena itu, bila dia diajak jalan-jalan oleh mbaknya, kakinya selalu dihentak-hentakkan, entah dalam gendongan atau stroller, agar dia berbelok ke rumah kami.

Rayi ketika bayi, selalu ingin berbelok ke rumah saya.

Rayi menjadi bagian dari keluarga kami, dan memanggil saya “mama”. Tak heran bila dia menjadi dekat dengan Bibi, asisten rumah tangga saya sejak bertahun-tahun lalu.

Saat akan meninggalkan Jakarta kemarin, ibu Rayi mengatakan bahwa Rayi menangis karena belum sempat berfoto dengan Bibi.Ya, Bibi, Tetum dan semua yang dikenalnya sejak bayi menjadi kenangan di hatinya.

Ibunya juga mengatakan bahwa kartu pos yang saya kirim dari Vietnam akan ditempelnya di kamar. Kartu pos itu saya kirim ketika saya ke Saigon. Bukan hanya Rayi, semua anak di kelas saya kirim kartu itu sebagai bagian dari pembelajaran geografi.

Padahal  di sekolah Rayi seolah tidak memperlihatkan adanya hubungan khusus di antara kami. Rayi memang pandai menyembunyikan perasaannya. Seperti ketika suatu hari Minggu, ketika tiba-tiba saja saya merindukan Rayi dan Bibi saya minta menjemputnya, kami pun berdiskusi tentang sekolahnya kelak di Yogya. Dan Rayi spontan mengatakan, “Tapi aku sebetulnya takut gurunya galak …. Eh, nggak, nggak, nggak.”

Itu khas Rayi, yang tidak mau orang lain tahu perasaannya sesungguhnya. Selama bersekolah di SD Tetum Bunaya, saya melihat bagaimana dia selalu berusaha menyembunyikan perasaannya bila dia sedih atau disakiti teman. Sebagai “ibunya” saya sebetulnya sedih ketika mendengar bagaimana seorang teman menginjak hasil karya yang dibanggakannya dengan sengaja, atau sebuah kejadian lain di saat kami buka puasa bersama, yang membuat dia menghentikan kegiatan makan (yang tidak dapat saya ceritakan di sini). Saya tahu Rayi tidak akan mau bercerita tentang kesedihannya, tapi saya juga tidak bisa masuk lebih dalam. Yang saya lakukan adalah melakukan komunikasi dengan orang tua dari anak yang melakukan tindak kekerasan itu.

Mungkin saya pun sama jaim-nya dengan Rayi. Saya tidak mau menunjukkan bahwa saya memperhatikan dia karena posisi saya. Kami sama-sama seperti tokoh-tokoh dalam film Remains of the Day, yang tidak mau menunjukkan perasaan dengan terus terang, tapi pada akhirnya menyadari bahwa kedua belah pihak saling membutuhkan.

Dan saya lebih bisa menyatakan perasaan saya secara tertulis. Terbukti, saya membuatkan blog untuk ibunya, yang menggambarkan “perjalanan” Rayi di TK Tetum, dan ketika Rayi lulus TK, di bulan Juni 2010, saya membuat tulisan lagi: Rayi.

Kini ada milestone lagi, ketika Rayi meninggalkan Tetum, mengikuti orang tua nya ke Yogya. Surat saya terakhir kepada Rayi dalam kartu yang saya kirimkan kepadanya: I don’t have a female child, but I’m grateful to have you. I will miss you when you are not around.

Saya bersyukur “dititipi” seorang anak perempuan, dan terlibat dalam pendidikannya dari usia 2 tahun hingga kelas 2 SD. Melihat dia yang selalu haus ilmu, dan dengan cepat menyerap apa pun yang diberikan. Melihat keceriaan dan semangatnya ketika diberikan apa pun.

Dalam note saya di FB, ibunya menulis:  “Mama”nya,Rayi dan Tetum adalah seperti sbuah segitiga..nyambung dan rekat dengan lem yang namanya cinta..dan kalopun sgitiga itu dtambah 2 garis lagi..tetaplah ada 3 elemen garis sgitiga itu,dan mnambahnya mjd segi berapapun..ato bahkan jika mungkin ktiganya mnyesuaikan diri dg mlengkung mjadi sbuah lingkaran utk mjadi ksatuan yg lebih besar..yang tak tputuskan..semoga..

Tidak, hubungan kami tidak hanya berupa segitiga, tapi juga segiempat, karena ibunya dan ayahnya adalah sahabat saya. Ya, dari SMS di atas, tergambar bukan, bahwa nama Tetum seperti sebuah tempat yang sangat dikenal ibunya ketika mendengar beberapa ibu mencari Tetum.

Menyitir ucapan ibu Rayi, kami adalah sebuah sebuah segiempat yang berkembang menjadi lingkaran. Lingkaran mempunyai fleksibilitas yang tinggi untuk menjadi apa pun. Begitu Rayi pun kelak akan bisa belajar beradaptasi di tempat baru. Mungkin sudah saatnya Rayi belajar  bahwa keindahan dunia tidak hanya ada di Tetum dan bersama “mamanya”.

Selamat jalan Rayi, semoga mendapatkan Tetum di tempat baru:)