Kemarin kami ada kesibukan luar biasa. Usai tugas di sekolah, kami meluncur ke rumah bersalin: Kak Leli melahirkan. Kami mencuci tangan dan berebut menggendong Ken.

Rasanya senang bertemu dengan sosok yang selama ini tidak kami lihat, tapi nyata ada. Di minggu terakhir menjelang kelahirannya, kami ke Gramedia, dan saya mengantar Kak Leli pulang, minum teh poci di rumahnya dan mengobrol. Saya mendorong Kak Leli untuk menulis buku kehamilan dan kelahiran ala Montessori. Tapi tunggu sampai Ken lahir ya ….

Ya, ini yang dikhawatirkan. Kadang di detik persalinan, sesuatu terjadi, dan rencana untuk melahirkan selembut dan sealami mungkin tidak terjadi. Tingkat operasi Caesar meningkat 26% (Mothering Magazine, edisi Maret/April 2004. Kelahiran lebih dipersepsi sebagai proses yang menyakitkan bagi ibu dan memberikan peran besar pada intervensi medis. Suatu survei nasional kelahiran di AS menyebutkan bahwa 93% proses kelahiran menggunakan alat monitor janin, 86% menggunakan cairan yang dialirkan melalui darah, 53% menggunakan obat induksi, dan 63% menggunakan obat untuk menghilangkan rasa sakit (Mothering Magazine, Maret/April 2004).

Saat besuk Ken, saya lega mendengar Kak Leli berhasil melahirkan dengan alami. Dia menandatangani perjanjian tidak akan menjalani proses induksi dan anastesi, dan bayinya akan menjalani proses IMD (inisiasi menyusui dini) dan dirawat sendiri oleh ibu di kamar.

Kak Leli berhasil menjalani proses kelahiran dengan cara Montessori. Kak Leli bertahan untuk tidak menggunakan bahan kimia apa pun untuk mengurangi rasa sakitnya, dan Ken dalam kondisi penuh darah dibiarkan merangkak dalam tubuhnya untuk mencari puting ibunya. Di saat itu ayahnya membisikkan azan. Dan dokter pun meninggalkan mereka bertiga di ruangan. Indah sekali!

Ken beruntung bahwa proses awal hidupnya berjalan seperti blueprint dari Sang Pencipta. Dengan proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini), refleks mencari dan mengisapnya insya Allah akan terintegrasi menjadi refleks lain.

Ya, hak anak perlu dijaga sejak dia lahir.

Dalam pandangan Montessori, proses persalinan sama dengan proses belajar di kelas, dalam hal:

  • Seorang ibu seharusnya dibiarkan menjalani sealami mungkin–tanpa penggunaan obat dan alat tertentu– seperti halnya anak yang seharusnya belajar alami –tanpa pengetesan maupun penilaian.
  • Staf medis ada di dekat ibu untuk membantu saat diperlukan, seperti halnya guru Montessori yang hanya mengamati dan membiarkan instink anak berjalan, dan turun tangan di saat tertentu.
  • Lingkungan di ruang bersalin seharusnya membuat bayi rileks dan nyaman, seperti halnya di kelas, anak adalah “pemilik” ruangan kelasnya, yang telah disiapkan untuknya (dan bukannya untuk kemudahan guru).
  • …dan seperti halnya anak di kelas yang bekerja dengan ritme dan pola unik, ibu pun demikian halnya ….

Pendidikan persalinan seharusnya ditanamkan ketika seorang ibu mulai hamil, bahwa ia terpilih untuk dititipi calon khalifah di muka bumi, dan bahwa tubuhnya dipersiapkan ke sana. Pada delapan minggu terakhir, misalnya, janin di rahimnya tengah bersiap untuk bertemu dengannya. Mempersiapkan diri untuk menghadapi suhu di luar rahim yang berbeda (dengan menambah lemak di bawah kulitnya), dan untuk menghadapi lingkungan yang tidak sebersih di dalam rahim (dengan menambah antibodi). Posisinya pun berubah, berotasi mengarah ke jalan lahir, dan dia pun mulai berkomunikasi melalui gerakan yang makin kuat.

Ya, di minggu-minggu terakhir Kak Leli sering menyatakan keterkejutannya merasakan tendangan Ken di perutnya. Dulu di saat saya melahirkan, saya selalu memilih rumah sakit di dekat rumah ibu saya. Saya merasa nyaman melahirkan di dekat ibu, karena mungkin di saat itu ada jalinan perasaan yang kuat antara saya dan ibu saya, untuk mengenang proses agung yang sangat pribadi, di saat saya lahir. Alhamdulillah, saya melahirkan tiga kali didampingi ibu saya, setidaknya dengan doa beliau di rumah.

Namun Kak Leliย  melahirkan tanpa didampingi ibunya, karena beliau telah berpulang. Mungkin itu sebabnya di hari-hari terakhir menjelang kelahiran Ken, saya selalu ingin mengantar Kak Leli pulang, dan saya baru meninggalkan rumahnya ketika yakin dia sudah menapaki tangga menuju pintu. Saya juga membiarkan Kak Leli tiduran di sekolah bila dia merasa lelah, bahkan saya merasa lebih lega Kak Leli berada di sekolah daripada di rumah. Bila dia di sekolah, kami langsung siaga kapan pun Kak Leli butuh ke rumah sakit.

Kami pun pernah “melarikan” Kak Leli ke rumah sakit, ketika dia mengalami flek beberapa bulan lalu. Kami segera melarangnya bergerak, sekalipun Kak Leli protes mengapa dia perlu pakaiย  kursi roda segala saat dibawa ke ruang UGD. Terus terang, saya was-was saat itu, dan khawatir Kak Leli keguguran (lagi, seperti pernah dialaminya ketika belum bergabung dengan kami). Saat itu saya berdoa semoga tidak terjadi apa pun, dan saya begitu ingin kehamilan itu bertahan.

Alhamdulillah Ken bertahan di perut ibunya ….

Kami pun melakukan doa dan syukuran karena Kak Leli dan janinnya dinyatakan sehat oleh dokter. Kalau biasanya di hari Selasa kami mengaji di sekolah, hari itu kami mengaji di rumah Kak Leli.

Di saat itu saya merasa bahwa suaminya begitu mengenal kami, karena –seperti penuturannya– Kak Leli bisa bercerita 1.000 kali tentang pengalaman di sekolah, termasuk saya (he he)

Ya kami adalah keluarga besar.

Bahkan begitu “pomahnya” Tetum bagi kami semua, sampai-sampai ari-ari Ken pun dikubur di halaman sekolah. Suami Kak Leli menguburnya dibantu Pak Yus, Pak Mochtar dan Kak Ita. Sementara itu, saya di rumah sakit menemani Kak Leli bersama Mbak Uci, asisten belia Kak Leli.

Kami bersama-sama melatih Ken untuk mengisap puting ibunya, dan melihat bagaimana Ken yang tadinya menangis akhirnya tidak mau lepas dari tubuh ibunya, seolah menemukan sosok yang dikenalnya. Saya perbaiki kain bedongnya bila dia mulai rewel, dan dia pun tenang saat tubuhnya terbungkus hangat, lalu dipeluk ibunya. Lampu pun saya redupkan agar Ken merasakan penerangan seperti di rahim.

Selamat datang, Ken.