“Jauh, tuh,” teriak seorang pengemudi ojek kepada temannya, begitu saya muncul di pangkalan ojek Warung Silah-Brigif, dekat sekolah.

Itu adalah branding terbaru saya: pengendara ojek jarak jauh. Bahkan saat di ojek kemarin, sang pengemudi bertanya, “Ibu kerjaannya keliling-keliling ya?”

Weets …. ternyata ada yang mengamati apa yang saya lakukan.  Saya pun jadi mendata perjalanan saya dari Warung Silah dengan ojek:  Mal Taman Anggrek-Slipi, Hotel Ibis-Slipi, Hotel Sahid-Sudirman, Uhamka-Limau, Menara Kuningan-Kuningan, Kompas-Palmerah, Aditya Mansion-Adityawarman, MAN IV Ciputat, Bakmi GM Melawai …. Tempat-tempat megah dan dikenal orang … tapi saya datang dengan ojek. Justru karena saya menghargai orang-orang yang saya temui, maka saya berojek. Mereka sudah menyelenggarakan acara, menyediakan waktu, memesan tempat, dan mengeluarkan biaya, maka saya harus hargai itu dengan datang tepat waktu, atau sedikit meleset dari waktu yang ditentukan.

Nah ini masalahnya: waktu. Buat saya, bukan alasan klise dengan mengatakan kurang waktu. Tapi saya memang perlu memberi waktu yang cukup untuk banyak hal yang saya lakukan. Dengan ojek, saya hanya perlu 30-45 menit untuk tiba di suatu tempat, dalam kondisi macet ataupun hujan. Dengan mobil sendiri saya perlu 2 jam, ditambah stres karena akan terlambat, dan stres mencari tempat parkir (saya pernah memutari gedung Menara Kuningan lima kali untuk mendapatkan tempat parkir, dan akhirnya parkir di Setiabudi Building yang  berjarak satu gedung dari tempat itu).  Naik taksi menjadi pilihan kedua kalau masih ada waktu, tapi menunggu taksi pada jam-jam tertentu menjadi stres yang lain.

Memang dengan ojek, saya merasa ditempeli asap knalpot, padahal untuk menghargai orang yang saya temui, saya selalu mengenakan batik tulis.  Belum lagi rasa risih memakai helm tukang ojek. Alhamdulillah, Bunda Hegar memberi saran yang jitu: pakai pashmina untuk menutupi kepala, badan dan hidung.

Itu yang saya praktikkan sampai kemarin:)

Dan kemarin adalah pengalaman naik ojek paling seru. Saya ada janji makan siang dengan teman-teman SMP di Bakmi GM Melawai, dan berangkat setelah 1001 urusan beres. Saat kami berangkat hujan mulai rintik-rintik, dan tukang ojek mengajak saya untuk mampir ke rumah temannya.

“Ngapain?” tanya saya.

“Pinjam mantel,” katanya.

“Oh nggak usah,” tukas saya. Ngebayang  … dengan tactile imbalance (menurut perkiraan Kak Indah, terapis) saya akan tidak nyaman bila tubuh saya tertempel dengan benda milik orang lain.

“Jadi lanjut aja kehujanan?”

“Lanjut!” kata saya memberi semangat, membayangkan teman-teman saya sudah menunggu.

Tukang ojek pun menerabas tetesan hujan, nggrobyok genangan banjir di Kemang dan meliuk di antara bumper-bumper mobil yang hanya berjarak dua senti dari betis saya. Dan yang saya lakukan adalah melindungi tas laptop dengan mukena:)

Hujan reda ketika kami tiba di Melawai. Saya lihat serombongan perempuan tengah baya menyeberang dari GM ke Pasaraya. Saya kejar mereka, dan kami berpelukan dan bercoleteh seperti gadis-gadis belasan tahun. Oh, mereka akan shalat di Masjid ALatief di Pasaraya. Saya bersyukur langsung mendapat kesempatan menenangkan diri dengan shalat setelah menempuh perjalanan yang tidak mudah. Mukena saya sudah basah di bagian tertentu, namun masih bisa dipakai.

Saya perlu bersujud syukur, bahwa di hari itu masih dikaruniai tubuh yang sehat untuk menyelesaikan tugas kepedulian kepada anak-anak dan bersilaturahmi dengan teman.