Jahit baju lebaran kembaran Rei & Rani sama eyangnya, atau beli jadi ya ? 

Itu bunyi status Bunda Rania yang membuat saya ingin berkomentar. Biasanya saya tidak comel membaca status FB, tapi kali ini berbeda, karena statusnya pun berbeda.

Ya, hari gini siapa yang masih menjahit baju? Baju jadi dijual di mana-mana, dan dengan harga murah. Menjahit baju, kalau tidak passion tinggi, tentu tidak akan dilakukan. Perlu waktu, usaha, tenaga dan dedikasi. Tapi itulah passion.

Saya ingin berkomentar di sana karena di balik itu ada passion tinggi. Seorang perempuan menjahit baju dengan ketekunan dan cinta.

Saya pun berkomentar, “Jahit aja Bunda Rania, supaya ada kenangan kalau mereka besar. Kalau melihat Rani memakai baju jahitan sendiri, saya ingat dengan masa kecil saya yang semuanya serba jahitan ibu. Dan sekarang jadi kenangan manis:)”

Karena dibuat dengan cinta, insya Allah cinta yang melekat di baju itu akan melekat dalam kenangan sampai Rania besar.

Rania adalah salah seorang murid kami saat di Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak. Saat Rania memakai baju bebas, saya kerap melihat diri saya sendiri. Rania memakai baju yang saya tahu buatan rumah. Ya, karena saya pun selalu memakai baju buatan rumah sejak kecil hingga menikah.

Baju Lebaran kembaran dengan kakak-kakak laki-laki dan adik saya, baju ke ulang tahun teman, baju perpisahan sekolah, rok dan blus untuk UMPTN di Senayan, baju overgooier untuk reuni, gaun kotak-kotak untuk hari pertama kerja, official look dress untuk mewawancara istri Dutabesar Mesir (dan mendapat pujian dari beliau), dan lain-lain …

Bergaya di studio foto dengan baju jahitan ibu.

Semua dibuat khusus, terutama bila saya menghadapi hari-hari penting dalam hidup saya. Karya tangan seorang ibu saya yang tentunya diiringi doa agar putrinya percaya diri saat menghadapi dunia luar.

Ada juga yang tidak dibuat khusus, yaitu daster dan baju rumah. Tapi baju-baju itu berarti khusus. Saya ingat, ketika saya kelas 3 SD, di sebelah rumah ada tetangga baru, dan saya pun berdiri di teras  memakai baju berbeda-beda setiap sore. Jahitan ibu memenuhi kebutuhan narsis saya saat itu.

Mesin jahit, benang dan jarum menjadi bagian dari masa kecil saya. Saya bermain di kolong meja kerja ibu saya, membuat boneka kain perca sejak logika saya terbentuk. Atau karena menjahit maka logika saya terbentuk?

Menjahit membentuk logika, karena dalam menjahit terdapat urutan yang jelas. Saya percaya itu, karena itu anak-anak di TK Tetum diajarkan menjahit: untuk melihat logika mereka, sekaligus mendorong terbentuknya logika mereka. Seorang anak yang logikanya terbentuk dengan baik akan melakukan jelujur dengan pola tusuk ke atas, dan dari atas ke bawah.

Saya tahu, di balik kesederhanaannya (saya menulis ini dengan air mata berlinang), ibu saya telah menorehkan kemampuan berlogika kepada anak-anaknya. Kalau kakak saya menjadi arsitek, itu karena kemampuan berpikir terstruktur dipadu dengan sense of art yang diturunkan oleh ibu saya, sang penjahit. Kalau kakak saya yang lain menjadi pianis, itu karena kemampuan isolasi jari dan perencanaan motorik spontan yang terbentuk sejak kecil (Bunda Rania pun seorang arsitek –meskipun tidak bekerja di bidangnya– yang lahir dari seorang ibu penjahit).

Saya baru menyadari itu ketika berhadapan dengan berbagai masalah anak yang terkait dengan logika, pengurutan dan perencanaan motorik. Saya memberikan jalan keluar tidak dengan worksheet, tapi dengan meminta mereka menjahit dengan berbagai pola. Cara sederhana, tidak biasa dan mungkin dianggap kuno, tapi saya sudah membuktikan bahwa pola pendidikan tidak harus mengikuti yang mainstream kok. Tokh dengan cara seperti itu anak-anak kami bisa mendapat peringkat tertinggi saat mengikuti tes di mana pun.

Hei, ada yang kerap terlupakan. Saat guru-guru saya mengajarkan menjahit, mereka melakukannya dengan suara lembut dan tatapan penuh cinta, tidak dengan suara keras mengejar target kemampuan.

Perasaan cinta  ibu saya yang saya rasakan lewat jahitannya, saya biaskan untuk mencerdaskan mereka yang pernah hadir dalam hidup saya.

NB: Untuk Bunda Rania, yang membuat saya terkenang kepada ibu saya almarhum.