Apel merah datang, saya lega. Apel itu saya pesan pada Kak Erwin –petugas antarjemput– yang kakaknya berjualan buah. Kebetulan ketika saya menelepon, sang kakak sedang di pasar.

Apel pun masuk dalam daftar makanan Family Gathering, menjelang detik terakhir, agar Lukman mau datang. Empat hari sebelumnya, Kak Indah –terapis– memberikan social story tentang Family Gathering kepada Lukman, dan mendapat data “Aku tidak mau menyanyi”, “AkuĀ  tidak makan sate”, “Aku suka apel merah”.

Jreng …. Kak Indah buru-buru memberi tahu saya keesokan harinya tentang hasil dari social story itu.

Social story adalah cerita kecil yang digunakan untuk membantu pemahaman seseorang dengan spektrum autisme mengenai situasi sosial (yang bagi kita mudah memahaminya, namun tidak demikian halnya bagi seseorang dengan ASD).

Anak lain dengan mudah memahami kegiatan-kegiatan di sekolah, seperti menyanyi di panggung untuk Family Gathering, berpindah-pindah ruangan di acara pesantren kilat ataupun menyanyi Indonesia Raya pada saat upacara, namun seorang autistik tidak mudah mengerti mengapa sih kita melakukan itu?

Agar mereka dapat berperan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi anggota masyarakat yang produktif, jembatan yang dipakai adalah dengan social story.

Khusus dalam kasus Lukman, kami pernah memberikan social story agar dia paham yang dimaksud dengan upacara bendera. Pada upacara pertama yang diikutinya –tanpa diberikan social story— Lukman berjalan-jalan di lapangan, saat yang lain berkegiatan, dan kemudian bersembunyi di balik bukit karena kepanasan.

Menjelang upacara kedua, kami pun memberikan social story. Kak Wiwik, guru kelasnya, memberikan gambar situasi upacara secara bertahap. Ada tiang bendera, ada teman-teman menaikkan bendera, Lukman berbaris bersama teman-teman, Lukman menyanyikan lagu Indonesia Raya, Lukman melihat bendera naik.

Saat upacara berlangsung, Lukman bisa bertahan di dalam barisan.

Menjelang pesantren kilat, Kak Indah memberikan social story lagi, dan mendapatkan data bahwa Lukman hanya mau dengan Kak Samsul guru kelasnya. Apa daya, di pesantren kilat Kak Samsul sudah mendapat tugas sebagai guru tadarus, bukan guru pembimbing. Karena tidak bersama Kak Samsul, sepanjang kegiatan emosi Lukman menjadi naik turun.

Agar kejadian di pesantren kilat tidak terjadi, saya berpesan kepada Kak Indah untuk memberikan social story kepada Lukman agar kami bisa melakukan antisipasi.

Hasilnya? Ya, apel merah itu tadi. Lukman yang tadinya tidak tertarik datang pada acara Family Gathering akhirnya mau datang karena apel merah. Bahkan di malam sebelumnya, dia bilang bahwa “mama makan apel merah”.