“Aku ingin jadi anak spesial aja.”

Mungkin itulah ungkapan hati saudara sekandung anak spesial. Setidaknya yang saya tangkap dari cerita-cerita orang tua anak spesial di sekolah. Biasanya saya bertemu dengan orang tua anak spesial, untuk membicarakan anak mereka yang bersekolah di tempat kami. Saat membahas perilaku di rumah, terungkaplah “sesuatu” dari hubungan anak spesial dengan saudara sekandungnya.

Dari cerita-cerita mengenai relasi anak spesial dengan adik/kakaknya, tertangkap bahwa saudara sekandungnya terlihat lebih usil.

Usil adalah istilah untuk perilaku spontan agar mendapatkan respon dari lingkungan. Keusilan yang dilakukan saudara kandung anak spesial, misalnya, mencubit kakak/adik yang spesial dengan ujung kuku, menggangu kakak/adik yang sedang tidur, atau mengambil mainan yang sedang dipakai.

Keusilan ini dilakukan bisa karena adik/kakak melihat saudara kandungnya yang spesial yang biasanya “seru” kemudian berangsur menjadi tenang (setelah mengikuti terapi), atau untuk mendapatkan perhatian dari ayah atau ibu yang jelas-jelas memberi perhatian besar pada kakak/adik yang spesial.

Betapa tidak, ia melihat ayah dan ibunya sibuk mengantar/mengatur jadwal saudara spesial ke tempat terapi, les berenang, les musik, atau datang ke undangan di sekolah. Sementara dia, kalaupun datang ke tempat terapi, ya hanya untuk mengantar saja, menunggu di lobi. Mungkin juga dia diikutkan les berenang dan musik, mungkin juga tidak. Kemungkinan juga, dia disekolahkan di sekolah yang “biasa-biasa” saja. Mungkin sekolahnya dekat rumah, berbeda dengan abang/adiknya yang bersekolah di tempat yang perlu upaya mengantar/menjemput. Mungkin juga sekolahnya secara fisik lebih kecil dan sederhana daripada sekolah kakaknya. Mungkin juga ayah/bundanya lebih sering hadir di sekolah kakak/adiknya yang spesial dibanding di sekolahnya.

Ada kemungkinan ia melihat pola komunikasi antara ayah/ibunya dengan kakak/adik spesial dengan dirinya yang jelas berbeda. Ibunya akan dengan bersemangat bertanya kepada kakak/adiknya yang spesial di sekolah tadi makan apa, dan kemudian memuji bila si kakak/adik menjelaskan bahwa makanannya sudah habis. Sementara ia tidak mendapatkan ekspresi yang sama dari ibunya saat bertanya soal makanan, atau mungkin tidak pernah ditanya soal makanannya.

Karena “ketidakseimbangan” perhatian dan penanganan, adakalanya saudara anak spesial menjadi lebih spesial. Kalau saudaranya yang spesial belajar memahami segala sesuatu  –motorik halus, motorik kasar, gelap terang, kasar halus, perencanaan motorik, ritme, komunikasi– secara terstruktur, maka ia dibiarkan tumbuh alami karena dianggap akan bisa berkembang dengan sendirinya. Akibat-akibat yang muncul (ini yang saya lihat dari pengalaman di sekolah), ada saudara sekandung anak spesial yang tidak berkembang relasi sosialnya, dan ada yang menjadi punya kecenderungan bereksplorasi besar.

Misbehavior saudara sekandung anak spesial akhirnya menjadi pemicu si adik/kakak yang spesial yang seharusnya sudah berkembang menjadi lebih baik dengan terapi. Akhirnya terjadilah siklus penularan perilaku.

Bila sudah terjadi penularan perilaku, kami akan meminta pertimbangan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di tempat kami, atau tetap di sekolah lama, namun gurunya belajar tentang penanganan anak di tempat kami, agar kakak dan adik mendapatkan pola penanganan yang sama. Misalnya, soal keteraturan dalam meletakkan tas, atau mengambil dan merapikan mainan.

Alternatif kedua tampaknya sulit, karena kita tidak bisa mengatur lembaga lain kan.Ya, pilihannya adalah menyekolahkan sibling itu di tempat kami. Kami sendiri merasa bila saudara sekandung anak spesial bersekolah di tempat kami juga, keduanya akan lebih bisa saling menularkan perilaku yang baik, karena keduanya akan bergerak dalam pola yang sama dan punya kesempatan yang sama untuk berkembang.

Soal kesempatan, ada hal yang mengharukan ketika seorang adik anak spesial yang baru masuk di sekolah kami berkata di hari pertama dia bersekolah, “Aku senang bersekolah di sekolah Abang.” Si adik yang tadinya selalu eksplor dan tidak bisa diajak bicara bila menjemput abangnya, sekarang menjadi seorang anak yang manis dan mengikuti kegiatan kelas dengan semangat. Bahkan menurut ibunya, untuk pertama kalinya dia mau menari di panggung, saat sudah pindah ke sekolah kami. Di sekolah lamanya, dia hanya berkeliling di arena bila ada acara pentas.

Bukan salah sekolah yang lama bila dia tidak mau pentas atau tidak berinteraksi dengan baik, tapi ada kebutuhan dalam dirinya untuk mendapatkan perhatian yang sama dengan abangnya, bersekolah di tempat abangnya yang dia lihat ada gawang dan tempat berlari.

Si adik mungkin tak lagi berpikir, “Lebih enak jadi Abang. Lebih enak jadi anak spesial.”