Hari ini saya memulai kegiatan Octopus English Club.  Perlu perencanaan matang untuk pembelajaran bahasa Inggris usai jam sekolah. Bukannya yang pagi tidak perlu ya, tapi kegiatan di siang hari itu mempunyai karakter berbeda.  Anak-anak sudah “menelan” begitu banyak informasi, sehingga yang diberikan di ujung waktu harus menjadi stimulus yang kuat.

Sejak awal, saya sudah berpikiran bahwa pendekatan yang pas untuk kegiatan adalah dengan Total Physical Response. Untuk kegiatan pagi, pendekatan lebih bersifat struktural (penekanan preskriptif, dengan aturan-aturan), sementara pembelajaran di siang hari lebih memanfaatkan fisik.

Saya sudah membeli buku-buku Total Physical Response karangan James Asher, tapi ternyata ada yang memberikan teknik yang lebih pas untuk anak, Genki English. Jadilah untuk kegiatan ekstrakurikuler saya memakai modul Genki English, karya Richard Graham.

Saya akui Graham seorang pengajar yang menarik, karena memiliki gerak tubuh yang dinamis. Sekalipun saya bukan seorang kinestetik seperti Graham, saya telah membuktikan bahwa modulnya berhasil membuat anak untuk belajar bahasa kedua dengan happy. Saya sudah mencobakan modulnya di kelas SD di pagi hari, dan mereka suka, walaupun saya harus terengah-engah mengejar mereka. Tapi modul itu berhasil membuat anak berbicara dan merespon. Dan mereka ketagihan minta main lagi. Foto di bawah ini menunjukkan kegembiraan siswa kelas 3, dan “kesulitan” saya untuk berlari menangkap mereka:)

Di hari pertama OEC pun salah seorang meminta permainan yang sama dengan yang pernah mereka lakukan. Akan tetapi di siang itu banyak penjemput siswa TK, sehingga kami tidak mungkin melakukan kegiatan di depan teras. Saya janjikan minggu depan, tapi tentunya dengan vocabulary tambahan.

Di hari ini mereka belajar tentang gerakan-gerakan tubuh. Pendekatan TPR memberi penekanan pada gerak tubuh, sebagai sarana pemahaman kosa kata. Pertama, mereka mempelajari gerakan dan kata-katanya (“hands up, hands down“), lalu saya perdengarkan lagu dan mereka menyanyi sambil menggerakkan tubuh.

Ketika saya lihat mereka sudah kehilangan konsentrasi karena banyaknya distraksi di halaman (siswa TK baru pulang lomba), mereka saya minta berpasangan: salah seorang memberi instruksi dan yang lain menjalankan instruksi yang diberikan. Misalnya, ketika yang satu mengatakan “stand up,”  dia pun berdiri. Ketika temannya mengatakan “sit down“, dia pun duduk.

Saya cek mereka menguasai 95% dari kata-kata yang diberikan hari itu. Itulah efektifnya pendekatan TPR.

Oh ya, saya juga mendapat tantangan karena Rais, penyandang autis, ikut dalam kelas ini. Bundanya ikut juga berlatih, dan mengajak Rais mengikuti kegiatan. Kehadiran Rais mendatangkan kegembiraan bagi peserta lain. “Rais lucu,” kata seorang anak. Pasalnya, ketika bundanya mengatakan “sit down,” Rais pun duduk di pangkuan bundanya.

Di minggu depan kita akan belajar What’s Your Name dengan games yang seru!

(Karena serunya kegiatan pertama hari ini, saya dan Kak Ita lupa membuat dokumentasi).

Gambar: karya Rakha