Ini adalah pertemuan pertama saya dengan kelompok TK. Mula-mula mereka datang dengan bersemangat, dan dengan manis duduk melingkar. Sedetik kemudian mereka mulai teralih, melihat ke sekeliling, memanggil teman yang akan pulang, berteriak kepada teman-teman di halaman bahwa mereka akan belajar bahasa Inggris, dan tentunya saling bercanda di antara mereka.

Saya lupakan rencana di kertas dan mencari akal untuk menarik perhatian mereka. Saya putar lagu disko Warm Up dengan volume cukup tinggi. Betul juga, mereka menengok dan menari-nari. Saya matikan musik dan mengajak mereka melakukan gerakan stand up dan sit down, lalu hands up dan hands down, sesudah itu clap, bow, dan cheer.

Lalu saya putar CD lagu Warm Up, dan meminta mereka bergerak dan mengucapkan kata-kata. Tentu mereka lebih cenderung untuk bergerak daripada berbicara. Mereka tersenyum ketika bergerak, yang menandakan bahwa mereka sudah bersama saya.

Untuk mengecek kemampuan mendengar, mereka saya bagi dalam kelompok, dan saya minta mengikuti instruksi secara acak. Lalu, untuk mengecek kemampuan bicara, mereka saya minta berpasang-pasangan. Yang satu memberi instruksi dan yang lain mengikuti, secara bergantian.

Cukup menarik bahwa D, seorang anak berkebutuhan khusus, punya pemahaman yang sangat baik. Dia dapat menirukan instruksi, dan memberi instruksi, dan mengoreksi gerakan temannya yang salah.

D mendapat privilege untukĀ  mengikuti kegiatan ini sekalipun dia seorang ABK dan masih di Kelas Langit. Sebagai seorang ABK D punya rentang peminatan khusus, dan kebetulan peminatannya adalah pada bahasa Inggris. Di kelas pagi, dia pernah mengambil flashcard saya, dan menunjukkan kepada teman-temannya dengan tubuh membungkuk, dan bertanya sambil menunjuk gambar, “Ini apa ini?” Lalu dia menjawab sendiri, “Ini ‘Wash your hands‘.”

Di hari itu pun D sibuk mencoret-coret papan tulis, seolah tidak memperhatikan. Kenyataannya, dia “lulus” ketika dites. D punya cara belajar berbeda.

Hari itu juga diisi dengan bermain kuda bisik. Saya membisikkan kata-kata yang dipelajari hari itu kepada anak yang duduk di kanan saya, dan meminta dia membisikkannya kepada teman di sebelahnya. Terus begitu sampai anak yang terakhir, yaitu yang duduk di kiri saya. Anak itu memgucapkan kata yang didengarnya. Apabila dia benar, berarti setiap orang telah membisikkan dengan benar.

Hari itu kami banyak tersenyum dan gembira.

(Gambar: Ata)