“Ternyata setiap hari kita mengucapkan bunyi sengau,” kata Gina.

“Aduh, lama sekali anak-anak laki itu menulis. Ayo, selesai tidak selesai kumpulkan,” kata Cahaya.

“Fardhan, Adan, ayo cepat,” kata yang lain.

Sebetulnya anak-anak perempuan itu juga ingin duduk lebih lama, mendata kata-kata mengandung bunyi sengau yang mereka kenal. tapi mereka merasa sudah cukup, karena rata-rata mereka sudah mengumpulkan 50-80 kata dengan bunyi sengau. Kemudian mereka mengobrol sambil tertawa-tawa saat menemukan kata-kata dengan bunyi sengau dalam percakapan mereka.

“Gina. Senja. Nadira. Wah nama kamu nggak ada Cahaya,” kata Gina.

Lalu mereka menyebut nama panjang Cahaya, dan berteriak, “Ada! Ham-mid.” Nama panjang Cahaya adalah Cahaya Pertiwi Putri Hamid.

Bunyi bahasa dapat dibedakan menjadi nasal (sengau) dan oral. Pembedaan ini didasarkan pada keluarnya udara. Bila melalui rongga mulut saja disebut bunyi oral, bila melalui rongga hidung disebut dengan bunyi nasal. Mula-mula mereka saya minta menaruh telapak tangan dan membunyikan [a]. [i], [o], lalu [m], [n], [ny], dan [ng], dan merasakan pada bunyi apa udara keluar melalui hidung. Mereka mengatakan pada bunyi di kelompok kedua. “Itu disebut bunyi sengau,” kata saya.

Lalu mereka saya minta mencari kata-kata dengan bunyi sengau, dengan melihat benda-benda yang ada di ruangan. Didapatlah: lantai, pintu, papan tulis, pensil, jam, dan … kemoceng!

Sebagai penutur bahasa mereka memang tidak sadar pada fenomena yang ada di bahasa mereka, dan itu hal yang biasa terjadi. Namun ketika dibukakan pintu bahwa ada hal menarik dalam bahasa mereka, mereka seperti terbelalak.

Mereka dengan asyik menuliskan daftar kata-kata yang mengandung sengau. Ketika diminta berhenti berlatih, mereka menolak karena “Lagi seru.”

“Nama teman di rumah boleh nggak, Kak?”

Saya pun menirukan ucapannya dengan memberi tekanan pada bunyi sengau: “Nama teman di rumah boleh nggak, Kak?”

Mereka tertawa mendengarnya.

Seorang anak yang memakai alat bantu dengar pun, akhirnya mengenali bunyi-bunyi sengau, sekalipun perolehannya tidak sebanyak anak lain.

Anak-anak itu mendapatkan “Aha Moment” saat belajar bunyi sengau, dan saya sebagai linguis merasa mendapat kemenangan karena dapat mentransfer ilmu fonetik kepada mereka.