Badan saya agak meriang, dan saya pun meninggalkan sekolah di saat orang lain belum pulang. Saya tertidur. Ketika bangun di sore hari saya merasa bersyukur. Begitu banyak yang saya alami di minggu ini, begitu banyak pelajaran yang saya serap. Dengan alay saya pun mengubah status WA — growing is a pain, but every step is a celebration. Terus foto PP saya ganti dengan foto suatu sore di bale-bale depan sekolah.

Menjadi besar tidak mudah, tetapi indah ….

Dan ternyata dari mailist Pinterest saya mendapat email bahwa hari ini adalah Teacher Day (tentu di AS).

Di Teacher Day ini saya mendapat anugrah terindah, merasakan proses bertumbuh di dalam lembaga pendidikan.¬† Di dalam seminggu ini saja, begitu banyak yang saya alami ….

Di hari ini, misalnya, saya mengundang seseorang untuk memberi workshop mading¬† kepada anak-anak yang akan mengikuti lomba. Saya menikmati proses ini, karena bisa menjadi jembatan antara sang pemateri –seorang desainer grafis– dan anak-anak. Menerjemahkan apa yang disampaikannya tidak hanya dalam bahasa anak, tapi juga berusaha menyentuh kebutuhan setiap anak.

Di antara anak-anak itu ada seorang penyandang retardasi mental, yang disertakan dalam lomba ini untuk mendongkrak rasa percaya dirinya. Di akhir sesi dia bisa membuat rencana mading. Tidak rencana sungguhan, karena kemampuan antisipasinya belum berkembang dengan baik. Dia menggambar yang faktual. Dua anak bergandengan tangan, dan di sebelah kanannya dia menulis “bahasa”, “pulau”. Judul madingnya adalah “sayang teman”. Berbeda dengan teman-temannya yang membuat rencana mading seperti yang diinstruksikan. Di selembar kertas membuat rencana layout di mana letak cerita, di mana letak foto dan gambar. Isi cerita/foto bisa tentang bahasa, makanan, tempat, dll).

Di akhir sesi semua anak dengan pede bercerita tentang karyanya, termasuk anak berkebutuhan khusus itu. Bukan bercerita dalam arti sesungguhnya, tapi digiring untuk bercerita.

Itulah salah satu perayaan dalam teacher day hari ini.