“Tok, tok, tok.”

Ketukan di ruang tamu terdengar dari kamarku, di antara ingar bingar suara musik.

Samar-samar kudengar ibuku berkata, “Silakan masuk, Pak RT.”

Mereka berbicara.

Aku tak mendengar, dan tidak perlu mendengar kan. Itu pasti urusan orang dewasa.

Tak lama kemudian Pak RT pergi.

Lima menit setelah itu suara musik berhenti.

Aku menduga, apakah karena Pak RT datang, saudara-saudaraku berhenti bernyanyi?

Saudara-saudaraku itu adalah adik dan sepupu Papa dari Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara.

Mereka baru tiba kemarin sore, dan malam ini tampaknya mereka akan bersenang-senang.

Aku sudah pernah ke Tobelo, liburan tahun lalu. Kami sekeluarga naik pesawat selama lima jam, dengan pindah pesawat di Manado. Di bandara Kuabang Kao, kami naik taksi, mobil minibus, dua jam ke Tobelo.

Sopir taksinya ramah. Dia menawari kamu buah ngahe, yang mirip matoa. Keluarga papaku juga banyak tersenyum. 

Sopir mengemudikan mobil dengan ngebut, dan menyalakan musik dengan suara yang keras. Tapi dia mau mengecilkan volume suara ketika papaku menerima telepon. Sesudah itu, dia keraskan lagi.

Begitu pula malam itu ketika Pak RT datang. Keluarga papaku bernyanyi dengan iringan organ tunggal yang khusus didatangkan untuk menggembirakan para tamu. Semula aku duduk di ruang tamu, tapi pukul 9 aku mengantuk. Aku ingin tidur tapi terganggu oleh suara musik.  Ada lagu Indonesia, Barat, dan ada lagu Maluku.

Ada kemungkinan tetangga sebelah juga terganggu dan melapor ke Pak RT, dan Pak RT pun datang.

Yah, kami kan tinggal di kompleks, berbeda dengan perumahan keluarga papaku yang terletak di wilayah hijau, di pulau-pulau dengan jarak rumah berjauhan, di tepai pantai berpasir putih yang jernih.  Dengan jarak seperti itu, kita bisa berteriak sepuas hati.

Juga menyanyi sepuasnya.

Keluarga papaku memang senang musik. Kata Mama, sewaktu mereka menikah, keluarga Papa menari poco-poco, dari yang masih balita hingga yang sudah jadi nenek. Mereka menari dengan riang, dan memukau keluarga ibuku yang orang Jawa.

Dalam kesenyapan itu, aku berdoa semoga keluarga ayahku paham bahwa ini bukan di kampung mereka. Dan semoga Pak RT juga paham bahwa keluarga ayahku bukannya tidak sopan, tapi memang punya kebiasaan untuk berekspresi dengan bebas.