Bagaimana menyatukan pengalaman libur dengan kurikulum?

Hmm, di hari pertama bersekolah setelah libur dua minggu, anak-anak masih dalam proses adaptasi antara kebiasaan sehari-hari di rumah di hari libur dengan aktivitas sekolah.  Karena itu, di hari pertama sekolah, harus dicari jembatan agar anak bisa “kembali ke sekolah.” Di kelas Bumi dan Mars, saya tanya kepada masing-masing anak pergi ke mana mereka selama libur. Kalaupun tidak pergi, tidak apa-apa. Yang diutamakan adalah tempat mereka berada ketika libur.

Untuk apa? Seseorang mengatakan akan diminta menulis karangan tentang libur. Saya tertawa dalam hati, karena itu adalah tugas klasik setelah libur.

Di kelas Bumi, mereka saya minta membuat denah dari rumah ke lokasi yang mereka datangi. Pertama, mereka mengingat jalan yang dilewati, kemudian mengingat tempat-tempat yang dilewati (landmark). Setiap anak punya landmark berbeda, tergantung pada peminatannya. Ada anak yang bilang dia melewati kantor polisi (ayahnya adalah polisi). Anak yang lain menyebutkan “penjual kelapa muda”, “warung”, karena masakan adalah hal penting dalam hidupnya (ibunya punya usaha katering). Menarik ya ….

Yang dipentingkan di sini adalah detail dari tempat-tempat yang disebutkan. Soal skala tidak menjadi persoalan, karena bobot pemahaman pada tahap ini lebih pada bayangan mental menuju ke satu titik.

Setelah membuat denah, mereka pun diminta menyesuaikan denah itu dengan arah mata angin. Caranya adalah melihat pada peta. Misalnya, Kebon Binatang Ragunan terletak di utara Cipedak. Jadi ketika membuat arah mata angin pada kertas denah, ada kemungkinan gambar yang mereka buat secara horizontal (Ragunan ada di sisi kiri kertas dalam posisi horizontal), kemudian menjadi vertikal, karena tempat yang dituju mengarah ke utara.

Hari itu mereka jadi sibuk luar biasa. Kelak kalau mereka pergi ke suatu tempat, mereka sudah bisa memikirkan ke arah mana gerak mereka.

Sementara itu, di Kelas Mars mereka diminta mencari tahu sistem pemerintahan dari tempat yang didatangi, apakah termasuk kecamatan, kabupaten/kota, atau provinsi. Kalau kecamatan, dicari tahu sistem pemerintahan yang ada di atasnya. Mereka mencari di internet juga di peta.

Wah, hari yang sibuk tapi juga menyenangkan.