Tulisan di bawah ini saya muat di Facebook Page Sekolah Tetum Bunaya, dan mendapat 1.036 kunjungan, 57 likes dan beberapa komentar dalam waktu tiga hari:

Dua tahun lalu seorang ibu datang membonceng putrinya ke sekolah kami. Ibu itu berharap putrinya bisa diterima, mengingat sudah beberapa sekolah dimasuki putrinya, dan si anak mogok.

Kami melakukan asesmen untuk si anak, dan memutuskan menurunkan kelasnya hingga dua tingkat. Ibu itu menerima, karena baginya yang penting anaknya mau bersekolah.

Kemudian, setiap kali menjemput, beliau mengutarakan kelegaannya bahwa anaknya gembira bersekolah di Tetum. Dia juga bercerita tentang “balap motor” antara dirinya dan penjemput anak lain di saat pulang sekolah. Putrinya memakai alat bantu dengar (ABD), dan selalu ingin dulu-duluan dengan anak lain yang juga memakai ABD.

Lama tak terlihat ibu itu, dan kami mendengar beberapa kali beliau keluar masuk rumah sakit karena kanker.

Bulan lalu kami menjenguk di rumahnya. Beliau penuh semangat bertutur tentang ketiga putrinya, terutama putri sulungnya yang mempunyai gangguan pendengaran dan bersekolah di tempat kami. Beliau bercerita bagaimana beliau dan putrinya tidur berpandang-pandangan, lalu putrinya berkata, “Jangan sakit.” Beliau begitu pandai menirukan cara bicara putrinya yang khas, seperti halnya beliau sangat memahami putrinya.

Itulah yang mungkin mendorong beliau mencarikan datang ke tempat kami dua tahun lalu, dan berusaha keras agar putrinya diterima. Upayanya mengingatkan kami pada film Who Will Love My Children, yang berkisah tentang seorang ibu yang sadar usianya tak panjang lagi dan berupaya mencarikan orang tua angkat untuk anak-anaknya.

Ibu itu pun mencarikan tempat yang nyaman untuk putrinya. Bahkan ketika kami besuk, beliau mengatakan akan pindah ke dekat sekolah putrinya.

Tadi malam kami kembali ke rumahnya, dan kami mendapat kabar bahwa mereka akan segera pindah ke dekat sekolah kami. Sang ibu tidak ikut pindah ke rumah baru, karena beliau pulang ke rumah abadinya. Beliau sudah berjuang yang terbaik untuk Khansa, putrinya dan adik-adiknya.

Selamat jalan Bunda Khansa, mudah-mudahan kami bisa menjaga amanahmu.