Kemarin gambar saya dinyatakan oke oleh tutor gambar saya, Mas Guntur. Artinya, yang saya tangkap, boleh untuk tidak diperbaiki lagi. Beliau tidak bicara banyak, dan saya pun tidak bertanya: saya merasa tidak hanya tak layak untuk bertanya, tapi juga tidak perlu berbicara. Ekspresi wajah dan gesturnya sudah bicara banyak mengenai kesannya terhadap gambar saya.

Ini hal baru yang saya pelajari setelah sekitar 10 minggu belajar menggambar: Kita tidak perlu kata-kata dalam berbahasa …. Sungguh suatu hal yang paradoks untuk seorang yang menekuni linguistik dan pernah menjalani hidup sebagai penulis. Sekalipun demikian, saya tidak melakukan judgement sejak awal. Saya membiarkan diri saya menjauh dengan dunia kata yang saya pahami sejak hari pertama saya mendapat pensil dan buku gambar sebagai sarana lain untuk berbicara.

Saya pikir ini yang terjadi pada diri saya, seperti kata Betty Edwards dalam Drawing on the Artist Within: ... drawing requires a cognitive shift in brain from the dominant verbal, conceptual L-mode, to the subdominant visual, perceptual R-mode.  Dari verbal yang dominan yang dilakukan dengan kesadaran ke visual yang berasal dari ketidaksadaran.

Di awal kegiatan menggambar kami, saya pernah menyampaikan kepada Mas Guntur bahwa saya menemukan kejujuran dalam menggambar. Saya tidak bisa membohongi apa pun yang akan saya gambar, entah itu lekukan telinga atau bias cahaya di botol beling. Oh bukan karena saya menggambar dengan genre realisme maka segala yang nyata harus dituangkan dalam gambar. Kejujuran itu saya rasakan karena adanya monolog di level unconcious saya. Kejujuran adalah hal yang hakiki dan inheren pada manusia, dan kita bisa menemui hal itu di tahap meditatif.

Keleluasaan melakukan monolog itu yang membuat saya terus bergerak. Seperti Bintang di saat TK (Bintang saat ini kuliah di Seni Rupa ISI),  saya menggambar tanpa henti. Bahkan meja makan saya ubah menjadi meja gambar (alhamdulillah, suami saya tidak protes). Tanpa sadari kemudian semakin memerlukan meja besar karena ukuran kertas yang saya pakai seperti seorang bayi yang tumbuh melebar dan meninggi.

Ya, ada yang bergerak dalam diri saya yang membuat saya ingin melakukan dan mendapatkan yang terbaik. Ketika mengetahui bahwa pensil berpengaruh pada hasil gambar, saya pun membeli artist’s pencils. Saya membeli pensil artis kelas menengah, meskipun rasanya ingin membeli yang kelas premium. Hati kecil saya tidak tega. Saya teringat pada Bintang yang pastinya tidak berani meminta fasilitas terbaik untuk keperluan kuliahnya. Kalaupun dia meminta dan saya mengizinkan, pastinya akan terlihat aneh di kampusnya. Bukankah seniman identik dengan kesederhanaan, dan dari keniscayaan mereka bisa tumbuh?

Seandainya saya seumur Bintang, saya akan kuliah seni rupa dan sekarang telah menjadi art therapist.  Sungguhkah? Tidak tahu juga. Yang terjadi dalam kehidupan kadang tidak terduga kan. Sekalipun kedua anak saya kuliah seni, saya merasa bukan seorang yang artistik. Tapi mungkin juga karena saya lebih mengembangkan diri dengan otak kiri.

Jadilah suatu hari, muncul keinginan menelepon suatu lembaga dan bertanya apakah orang awam boleh belajar menggambar dasar. Tiba-tiba saja, dan kemudian saya malu dengan diri saya. Siapakah saya berani-beraninya ingin belajar seni rupa? Mungkin unconcious mind saya yang menggerakkan. Ia sudah terlalu lama menunggu, sementara saya dari hari ke hari selalu di tahap concious, jarang sekali memberi kesempatan pada diri untuk berhenti dari perputaran tuntutan hidup.

Dan saya pun dipertemukan dengan Mas Guntur, yang usianya jauh lebih muda daripada saya. Meskipun demikian, saya menghormati beliau sebagai seorang tempat belajar, dan saya betul-betul mengosongkan diri saya ketika mendapat arahan. Dari hari ke hari saya mengasah kepekaan terhadap level tekanan goresan, kehalusan arsiran, dimensi, perspektif, dan tentunya … rasa.

Meskipun otak kiri saya sedang saya tidurkan, ia masih menyelinap dan membisikkan kepada saya: Mas Guntur seorang seniman yang memegang janji waktu sehingga saya nyaman. Oh ya, pesan keduanya, Mas Guntur tidak banyak bicara sehingga saya punya kesempatan besar untuk melakukan kontemplasi di seni rupa.

Kontemplasi itu saya perlukan, untuk merasakan proses persiapan, inkubasi, iluminasi dan verifikasi dalam berkreasi (oh, otak kiri masih juga mengajak saya menganalisi art process). Dengan penghayatan proses itu, kelak saya bisa memberi kesempatan kepada orang lain untuk merasakannya juga: membantu anak-anak mengekspresikan diri, orang tua memulai jurnal, dan guru-guru merasakan kebebasan dalam berkarya. Saya tidak mengajak mereka melakukan kegiatan seni rupa, karena saya bukan seniman ataupun guru seni rupa, tapi saya mengajak mereka berproses seperti saat seseorang merasakan momen kedalaman dalam berkarya. Membimbing mereka mencapai tahap unconcious, berbicara dengan diri … tanpa kata-kata.

 Josh Reynolds Jersey