Saya percaya bahwa buatan tangan tak akan tergantikan dengan mesin. Artinya, buatan tangan yang dilakukan dengan niat khusus, perhatian dan kehati-hatian.

Prinsip itu yang jadi diskusi kami siang ini, dan saya untuk pertama kalinya menunjukkan kemarahan di dalam email: Please, tolong jangan sebut A untuk sebuh antaran yang terkait dengan peristiwa penting. 

Peristiwa penting yang saya sebut itu adalah hajatan di dekat sekolah yang kebetulan bersamaan dengan acara pelepasan (baca: wisuda sekolah). Karena sahibul baitnya Pak RT, saya merasa kami perlu memberikan antaran sekalian meminta izin adanya acara di sekolah. Saya pun menulis di email: Waktu nganter surat sebaiknya bawa makanan yang wadahnya nggak usah dikembalikan (jadi dibeliin wadah khusus).  Misalnya, puding buatan Kakak-Kakak. 

Tapi mungkin dirasa bahwa membuat puding adalah sebuah tambahan tugas, maka yang diusulkan adalah bronis A.

Saya pun meradang, dan menulis seperti ini:

Untuk kiriman makanan,  saya ingin yang personal, bukan buatan toko. Kalaupun buatan bakery, harus yang spesifik dan berkelas (bukan berarti mahal, tapi punya tampilan unik seperti TLJ. Bahkan kalau diusulkan B pun saya tidak setuju).  

 Mohon diinterpretasikan “buatan Kakak” dengan luas (dan cerdas). Artinya, Kakak2 bisa pesan kan untuk membuatkan puding atau apalah.

 Ketika memberi sesuatu kepada orang lain, nilainya akan tinggi kalau itu “buatan sendiri”.

Nah itu diskusi siang itu. Alhamdulillah, berhasil berakhir dengan baik, karena kemudian tercapai pemahaman tentang nilai dari benda yangg dibuat sendiri. Tidak perlu mahal, tetapi menjadi mahal kalau dipikirkan dan spesial. Tempe bacem hangat atau pisang goreng bertabur keju hangat pastinya akan dirasakan lebih berharga daripada kue yang dijual massal di tepi jalan.