Apakah anak autis bermimpi? Saya mendapat jawaban “ya” tanpa sengaja ketika suatu hari Lukman tantrum.

Di hari itu Lukman baik-baik saja sejak pagi, namun tiba-tiba menjelang makan, dia marah. Lukman sedang ditenangkan di ruang terapi, ketika saya lewat. Di antara sesenggukannya dia bercerita putus-putus mengenai kemarahannya. Kak Indah, terapis, memberi kode dengan matanya. Oh saya pikir ada masalah saat dia diterapi. Pastinya saya tidak akan intervensi ataupun berada di pihak yang berseberangan dengan Kak Indah. Namun saya juga ingin Lukman tahu bahwa saya berada di sisinya. Karena melihat dia sedang memegang gelas kosong, saya mengajaknya pergi ke dispenser.

Setelah Lukman mengisi air, kembali dia berteriak dan menunjuk pada seorang kakak yang kebetulan lewat. Si kakak memberi kode tertentu, dan saya pun mahfum apa yang terjadi.

Pertanyaan saya adalah, mengapa Lukman menjadi marah? Biasanya ada suatu pemicu, namun tidak untuk hari itu. Namun yang kami temukan akhir-akhir ini adalah: Lukman sudah bisa menunda kemarahannya. Artinya, dia tidak langsung menyatakan kemarahannya, namun menunggu momen tertentu. Entah itu bertemu dengan seseorang atau bila teringat sesuatu.

Saya pun berpikir, apakah ada sesuatu di rumah yang membuat Lukman marah dan baru muncul beberapa jam kemudian? Saya pun bertanya, “Lukman, ada sesuatu tadi pagi di rumah?”

Masih berdiri di depan dispenser, dengan air mata yang masih tergantung di bulu-bulu matanya, Lukman bilang, “Tadi pagi tempat tidurku tidak nyaman.”

“Oh ya? Tidak nyaman kenapa?”

“Aku bermimpi buruk.”

Jreng. Saya mendapat sinyal untuk melakukan langkah berikutnya. Langkah yang harus saya lakukan dengan halus dan hati-hati, karena saya akan memasuki level mind yang lebih dalam.

“Mimpi buruk?” tanya saya lagi.

“Hijau,” kata Lukman.

Oke, saya pun menjentikkan jari dan mengatakan, “Go.” kepada diri sendiri.

“Lukman, kita gambarkan yuk mimpinya,” ajak saya.

Saya meminjam ruang terapi kepada Kak Indah, dan mengambilkan kertas serta spidol warna-warni dari kelas sebelah.

Lukman duduk di kursi dan mulai menggambar. Saya biarkan Lukman menjalani proses yang disebut sebagai a journey of self-discovery, oleh Bruce Moon dalam Existential Art Therapy.

Saya tidak bertanya maupun melakukan interpretasi terhadap karyanya. Saya hanya menempatkan diri saya sebagai pengamat dan pembimbing terhadap pengembaraan yang hanya dirasakan dan dimiliki Lukman.

Lukman mengatakan, “Mimpiku tidak jelas.” Ya, mimpi memang mempunyai berbagai lapisan yang tak selalu dapat kita visualisasikan dengan mudah, tapi kita dapat menangkap warna, bentuk dan perasaan yang muncul. Begitu pula Lukman, dia menggambar seorang anak di atas daun hijau.

“Aku takut,” katanya.

Begitu asyiknya dia menggambar, dia tak menoleh ketika Pak Ronny, satpam kami, mengatakan, “Bundanya Lukman sudah jemput.”

Setengah jam berlalu, Lukman belum mau berhenti juga menggoreskan spidol dan pensil. Oh ya dia hanya menggunakan pensil dan spidol hijau tua dan hijau muda.

Ketika melihat Ebo, boneka gajahnya,  di gambar itu, saya pun tahu Lukman sudah keluar dari ranah mimpinya, dan saya pun sudah bisa “masuk.” Maka saya pun bertanya, “Lukman, Lukman kasih tau nggak sama Mama tentang mimpi ini?”

Dia menggeleng. “Aku kebangun. Takut. Terus aku memejamkan mata.”

Saya tidak ingin memberi nasihat atau berinterpretasi lebih jauh mengenai mimpinya. Ini adalah kesempatan Lukman untuk bercerita tentang mimpinya. Dia bilang bahwa Ebo mengatakan, “Kamu mimpi buruk” seperti yang dituliskannya di gambar itu.

Saya tidak ndremimil bertanya ini dan itu yang ada di gambarnya, karena prinsip, “Don’t go to a place you are not invited to” dalam coaching yang menggunakan gambar.

Ketika tampaknya sudah tak ada lagi yang akan diceritakannya, saya pun bilang, “Lukman Mama sudah jemput. Kita rapikan yuk.”

Lukman membantu saya memasukkan dua spidol ke wadahnya, dan mengembalikan ke kelas sebelah.

Saya bersyukur Lukman dapat mengurai lapisan mimpinya, dan pulang dengan ceria.