Langit, kenalkah kamu pada harapan? Oh oke, kamu masih terlalu muda untuk mengenal kata itu. Harapan adalah sesuatu yang menyenangkan yang membuat kita bersemangat. Misalnya, kamu bersemangat pergi ke sekolah karena ada harapan akan bermain dengan teman-temanmu.

Oh maaf mungkin contoh itu salah, karena saya dengar kamu tidak bahagia bersama teman-temanmu. Kamu merasa diejek terus oleh teman-temanmu …

Oke-oke, Langit, saya tak akan bertanya apakah kamu pernah menangis ataupun pernah merasakan kesedihan. Bolehkah saya menduga, bahwa  kamu tidak pernah mengetahui perbedaan antara kesedihan, kepedihan, dan kepahitan?

Bahwa yang kamu ketahui adalah keharusan menerima segala hal sebagai kodrat. Kamu harus menerima bahwa kaki kesakitan di sepatu (yang kekecilan) adalah biasa. Kamu harus menunggu uang tabungan tercukupi untuk membeli mainan. Kamu harus merasakan tamparan tangan sebagai ungkapan kasih sayang. Kamu harus melihat orang kesayanganmu membentur-benturkan kepala ke dinding sebagai ungkapan kemarahan.

Oh ya Langit,  pastilah kamu tidak pernah marah. Pastilah marah, sedih, tertawa, gembira adalah satu garis lurus yang sepi bagimu.

Maaf Langit, saya sok tahu. Ya, Langit, saya terpaksa sok tahu, Langit, karena saat menatap mainan, kamu seperti tak tahu apa yang ada di depanmu. Posisi dudukmu itu, Langit, kamu bersimpuh tanpa meletakkan lututmu di lantai, sementara jari-jarimu menjadi tumpuan tubuhmu yang ringan.

Langit, kamu pasti tahu rahasia kan? Pastinya. Karena begitu banyak yang kamu rasakan dan pendam.

Jadi, saya berikan kamu satu rahasia lagi ya. Di dalam mainan ada rahasia. Rahasia itu adalah harapan. Kata “harapan” akan menjadi nyata kalau kamu menguaknya sendiri, kalau kamu merasakan keasyikan dengan memainkannya.

Perlu waktu bagimu untuk mendapatkannya, dengan riwayat kegetiranmu ….

Langit, saya pun hampir menjadi bagian dari catatan kegetiranmu ketika saya (berencana) menolak kehadiranmu di sekolah ini.

Maafkan saya, Langit. Berikan tanganmu dan akan saya ajak kamu menemui Harapan.