Bagaimana rasanya jatuh cinta? Tak tergambarkah dengan kata-kata? Pastinya menjadi tantangan bagi saya untuk mengekspresikannya dalam kata-kata. Oh, tapi perlukah itu? Saya pikir tidak ….  Ketika kita jatuh cinta, maka kita tengah melakukan hubungan terdalam dengan Sang Segala Maha. Dan itu tak perlu digambarkan, diceritakan atau apa pun.

Ya, saat ini saya merasa sedang dalam posisi “online” dengan Dia; bahkan saat saya terjaga pun saya menyadari bahwa saya jatuh cinta. Kalau kita jatuh cinta maka kita ingin terlihat menjadi yang terbaik di mata sang kekasih, maka saat ini saya pun ingin terlihat baik, dengan cara malah tidak menjadi siapa-siapa, dan apa-apa.

Misalnya, saat Family Gathering Sabtu lalu, saya menikmati posisi dalam keheningan. Saya mengobrol dengan para juri Lomba Stan Ramah Lingkungan, dan saya persilakan Kak Wiwik untuk memberikan hadiah. Saat memberikan sambutan, saya juga mengedepankan Kak Wiwik, dan menyampaikan kepada audiens bahwa Kak Wiwik berbeda dengan saya karena punya power menggerakkan massa secara verbal.

Saya juga mengelak ikut rapat persiapan Family Gathering dengan orang tua murid, agar mereka lebih melihat guru-guru daripada saya. Kalau saya di sana, pasti saya jadi dominan. Sesungguhnya saya bukan tipe dominan, tapi somebody who enhances,  memberikan penguatan kepada lingkungan. Saya kemudian memang terlihat dominan, tapi itu lebih karena saya punya dasar dalam melakukan sesuatu.

Salah satu hal yang saya kuatkan kepada lingkungan adalah mendengarkan kata hati. Misalnya saja, saat menerima seorang guru, saya akan mengarahkannya agar dia tumbuh dengan passion-nya. Saya percaya bahwa langkah kita dipandu oleh panggilan hati. Akan tetapi kerap kita tidak mengindahkan suara hati karena terserap oleh patokan yang dipegang oleh pihak luar.

Ini kemudian yang menjadikan Tetum menjadi unik, kalau tidak dikatakan aneh. Ada yang kontra, tetapi lebih banyak lagi yang pro. Artinya, kami menjadi lebih selektif memilih orang tua yang sejalan dengan paradigma kami. Kabar baiknya adalah, kurikulum pemerintah yang baru, disebut K13, mirip dengan apa yang kami lakukan, karena mengedepankan great fun, great learning dan great teaching.

Penguatan yang saya berikan adalah agar setiap orang mengenali diri, dan berkontribusi pada bumi. Alhamdulillah di kegiatan Family Gathering para orang tua mengikuti arahan. Mereka membawa tikar, tas belanja, dan para pemiik stan tidak menggunakan plastik kresek.

Yah, buat saya go green bukan slogan kulit. Rumah saya hampir mirip rumah pemulung, dengan barang-barang yang dicuci kembali apabila habis dipakai. Alhamdulillah, saya tidak pernah konflik dan Pak Sampah RT yang sering datang terlambat, karena tong sampah saya kering.

Saya memang sedang jatuh cinta pada bumi, kehidupan, lingkungan, pengetahuan …. Just name it ….

Tapi itu belum apa-apa dibandingkan apa yang saya peroleh.

Misalnya, di suatu hari di tanggal 10 Juni … masuklah serombongan anak ke ruang saya. Kemudian serombongan lagi, serombongan lagi. Mereka membawa kue, dan hasil karya berupa kartu ucapan. Bahkan sampai di pintu-pintu gerbang, untuk antre. Semua menyalami, sampai saya secara otomatis mencium semua pipi, termasuk pipi seorang guru lelaki muda, yang kemudian saya dorong ketika saya sadar. Yah, sebetulnya tidak apa-apa, karena dia hampir seumuran anak saya. Tapi secara profesi seharusnya tidak demikian:)

Hari itu saya menyadari bahwa begitu banyak yang diberikan Tuhan kepada saya, tapi kadang tidak cukup cinta saya untuk membalas semua itu.

God, thank you for this beautiful life. Forgive me if I don’t love it enough.