Lagi, lagu Gaudeamus Igitur melantun, dan saya memberikan ijazah Diknas kepada orang tua murid. Berbeda dengan biasanya, kali ini para ibu menangis dan kami berpelukan erat. Mata mereka basah, terutama yang akan pergi meninggalkan kami, pindah ke SD lain.

Emosi mereka sudah terguncang, sepertinya, menyaksikan putra-putri mereka menari dan menyanyi –dengan keseseriusan, rasa malu ataupun kesalahan sehingga diingatkan teman. Beberapa mengusap mata, yang tersembunyi di balik kacamata, ketika anak-anak menyanyikan lagu “Untuk Mama”. Mereka tambah menangis lagi ketika putra-putri mereka memberikan hadiah, berupa ucapan terima kasih.

Ini adalah momen yang menjadi ujung pengalaman bersekolah di “sekolah Totto-Chan”, begitu julukan seorang ibu di acara itu kepada saya.

Ups, ternyata seorang anak, bingung tidak dapat memberikan hadiah itu karena ibundanya sudah pulang, menghadiri acara wisuda kakaknya. Saya pun teringat pada anak bungsu saya ketika SD. Acara wisudanya berbarengan dengan wisuda sekolah kami, sehingga dia baru bisa mengalungkan melati ke leher saya, sesudah acara berlalu. Dia datang menjemput saya dengan mata berlinangan memberikan kalung itu. Pastinya saya merasa bersalah karena tidak hadir pada acara pentingnya. Tapi ada hal penting yang dipelajarinya: berbagi hal penting dengan orang banyak.

Pastinya wisuda menjadi sebuah milestone dalam kehidupan seseorang yang menjalani pendidikan. Wisuda di level TK, menjadi awal dari wisuda-wisuda berikutnya yang datang kelak …. Menjadi momen bagi orang tua untuk merenungi langkah yang mereka ambil. Merayakan apa yang sudah dilakukan …. Memikirkan langkah berikutnya lagi untuk buah hati tersayang ….

Sepasang ayah bunda bercerita kepada kami, bahwa mereka akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan kembali putri tersayangnya ke sekolah kami setelah semula berencana memasukkannya ke SD Negeri. Si anak mengangguk setuju untuk masuk sekolah negeri ketika diajak berbicara mengenai sekolah lanjutannya. Akan tetapi saat bertengkar dengan kakaknya terdengar kalimat ini, “Kakak ngalah dong. Kan Kakak udah enak sekolah di SD Tetum. Aku kan nggak ….”

Wow …. Itu yang membuat mereka akhirnya mendaftar di SD kami, di sekolah Totto-Chan. Mereka takut mengambil langkah yang salah, bukan karena kami sekolah “ter”, tapi karena tidak mengikuti keinginan terdalam si kecil ….

Mungkin hal itu pun menjadi renungan saat prosesi ijazah dan mengalun stanza

Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quodlibet;
Vivant membra quaelibet;
Semper sint in flore.

Selamat jalan … Semoga pengalaman di “sekolah Totto-Chan” akan menjadikanmu kelak seberhasil Tetsuko Kuroyanagi.