Undangan untuk “pulang” saya dapat dari Joanna Tan, seorang art therapist di Singapura, kenalan saya. Pulang? Ya, pulang ke diri sendiri: returning home to yourself, istilah Joanna, sang pencipta workshop itu.

Saya tertarik, tetapi tidak langsung mendaftar. Sungguh saya tidak adil kepada diri sendiri, karena tidak berjuang untuk menyisihkan waktu agar bisa kembalii mengenali diri (istilah Jo: set aside a quiet space to become reacquainted with yourself). 

Ketika akhirnya saya memutuskan untuk ikut, yang terbayang adalah rencana hari yang padat kegiatan yang padat. Saya mengambil penerbangan ke Singapura pukul 6, tiba pukul 9, kemudian ikut workshop mulai pukul 10. Pada jam istirahat, saya berencana kabur ke toko peralatan seni, Artfriend, yang terletak sekitar 15 menit berjalan taksi dari lokasi workshop. Workshop selesai pukul 17.00, dan saya pun terbang lagi ke bandara, untuk mengambil penerbangan ke Jakarta, pukul 20.00.

Ya, saya hanya sehari di Singapura, karena keesokan harinya, saya sudah ada workshop mural dengan orang tua TK.

Ini adalah ketiga kalinya saya mengikuti workshop art therapy bersama Joanna. Pengalaman itu membuat saya makin berminat pada pengembangan konseling dengan media seni. Saya tidak bisa menjadi seorang art therapist karena latar belakang saya bukan seni. Sekalipun demikian, saya merasa punya tools untuk melakukan konseling dan coaching dengan orang tua murid, anak, maupun guru.

Workshop kali ini, pastinya berguna untuk diri saya, tetapi saya yakin kelak dapat saya terapkan untuk orang lain juga.

Kami ber-10, delapan peserta dari Singapura, satu dari Malaysia, dan satu dari Indonesia, dibimbing Joanna untuk melakukan eksploras diri dengan seni: seni lukis, menulis, dan drama.

Kami melakukan berbagai kegiatan eksplorasi diri, dan sesi yang saya sukai adalah ketika kami berpasangan dan mengekspresikan siapa diri kami lewat gerak tubuh kepada partner kita. Saya mendapat partner seorang perempuan sekitar 30-an, berbusana micropants, dengan warna serba pink. Akan tetapi sorot matanya bersahabat. Saya optimis bahwa saya bisa mengekspresikan diri saya kepadanya.

Sebelum mulai, saya tanyakan kepadanya: Do you mind if I touch your hands? Dia tersenyum mengiyakan. Saya pun