Sehari setelah mural selesai, saya datang ke sekolah untuk membawa amanah pembuat mural: mengamati karya mereka. Namun saya dalam kerugian bila datang dengan judgement untuk memberikan masukan. Tidak. Saya datang dengan mengosongkan diri saya, untuk lebur bersama keindahan yang agung.

Saya berjalan, berhenti, berdiri di berbagai sudut, bahkan duduk dan berdiri di atas steger  untuk menikmati galeri alam yang menyediakan beragam bingkai dedaunan yang sudah hadir sebelum mural itu tercipta. Ambience pohon-pohon yang mulai gering, daun-daun yang melayu, dan tanah yang mengeras kehausan menarik saya untuk menyatu dengan rasa.

Penyatuan dengan rasa artinya menembus ke yang hakiki, adanya pendalaman terhadap suatu subyek. Mungkin juga kita sudah tidak dapat membedakan antara subyek yang satu dengan yang lain, antara diri kita dengan mural, ataupun dengan pohon dan tanah. Semuanya menjadi nada rasa yang selaras.

Dalam keselerasan itu saya seolah melihat konstelasi bintang-bintang  yang bergerak di langit. Semua bersinar, dalam jalurnya, sehingga bersama-sama dapat memberikan makna di alam.

Bintang-bintang itu adalah individu di dalam mural, baik anak-anak maupun orang dewasa. Masing-masing, dalam proses pengerjaan itu, muncul dengan keutuhan pribadinya: mengikuti dinamika kebutuhan pribadinya, dan kemudian berkontribusi dengan kemaksimalan potensinya.

Kebutuhan berekspresi itu menyesuaikan dinamika emosi masing-masing. Di Kelompok Bermain ada anak menangis karena ibunya pulang. Bulu mata dan pelupuk matanya masih basah saat dia menggoreskan jarinya ke kertas. Seorang anak lain marah ketika dia akan difoto bersama karyanya. Di TK, seorang anak menelungkupkan tubuhnya ke lantai ketika permintaannya untuk bermain tepuk diabaikan. Di SD, seorang anak tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya ketika dia tidak ikut dalam karya painting, karena sudah masuk dalam kelompok pembuat peta.  Anak  yang lain merasa malu dengan karyanya.

Bagaimana dengan yang dewasa? Para pelukis mural itu akan datang ketika mereka merasa nyaman untuk datang. Artinya, mereka dapat meninggalkan tugas masing-masing, dan mereka dapat bersama-sama datang untuk saling mendukung.

Saya sendiri akan pulang, ketika merasa ingin pulang. Tetap berada di sekolah bersama mereka, ketika ingin tetap di sana. Saya juga menyampaikan ketika tidak nyaman terhadap warna atau bentuk yang muncul di mural.

Sungguh sebuah kejujuran dan keterbukaan yang bening, yang menyebabkan setiap orang bagai bintang yang bergerak di jalurnya. Karena masing-masing pelaku mengenal, mengakui dan mengekspresikan emosinya, maka masing-masing dapat berkontribusi total untuk penciptaan mural sesuai peran masing-masing. Dalam dinamika itu masing-masing menyumbangkan makna untuk membentuk konfigurasi khusus.

Anak-anak dengan tekun mencelupkan tangan dan jari, mencetak daun, membuat karya 3D, melukis maupun membuat peta, dengan ekspresi yang sama khusuknya dengan para pelukis mural itu.

Setap orang di proyek mural adalah bintang yang membentuk konstelasi dalam nada rasa yang selaras.

Rasa ergo sum. Saya merasa karena itu saya ada.

 Josh Reynolds Jersey