Ilham berbeda dari teman-temannya. Dia berada di Tetum sejak menghirup oksigen awal. Dia belajar merangkak di teras Tetum, dia belajar berjalan di konblok Tetum. Dia melatih pendengaran dengan menangkap suara anak-anak di halaman sekolah. Dia melatih penglihatan dari warna-warni tas, seragam dan ayunan. Dia mengembangkan hubungan emosi dengan Kakak-Kakak, yang terkadang mencari hiburan dengan menggendongnya ke kantor, atau melepas kejenuhan menunggu angkot dengan memangkunya di depan gerbang Tetum. Ilham mengembangkan rasa ingin tahunya dari aktivitas Tetum. Ketika usianya beberapa bulan, dia menangis ingin keluar dari rumahnya (yang terletak di samping kantor Tetum) bila mendengar suara musik olahraga di hari Rabu. Setelah umur dua tahun, dia kerap duduk di teras mengamati anak-anak Tetum berolahraga.

Ilham menyerap bahwa seorang anak harus membawa tas di pagi hari, bermain, dan berada di kelas, tapi dia hanya menonton dan memakai sandal jepit. Dia tak tahu mengapa dirinya berbeda, seperti halnya dia tak tahu bahwa tawaran masuk ke Kelas Darat telah diberikan kepada orang tuanya namun ayahnya menolak.

Dia tak protes apa pun, sampai ketika ibunya menjadi pegawai tetap Sekolah Tetum, setahun kemudian. Dia cemburu ketika ibunya menggandeng anak lain ke toilet. Dia terluka ibunya menjadi milik anak-anak lain. Kondisi ini mendatangkan berkah baginya. Ayahnya luruh dan akhirnya setuju dia masuk Kelas Laut.

Hari pertama Ilham bersekolah, 18 Juli 2007, saya mencatat di jurnal saya:

Ekspresi Ilham waktu diberi tahu boleh sekolah oleh ibunya … wah tak terlukiskan. Senyumnya tak lepas dari wajahnya yang berbedak tak rata, dan matanya berbinar. Sangat berbeda dari hari sebelumnya sewaktu digendong Pak Warno menjauh dari ibunya yang sedang menggandeng anak-anak ke kamar mandi. Setelah memakai baju rapi, bersepatu tali dan menenteng tas, Ilham mengekor di belakang ibunya. Ibunya saya minta mengambil lemper dari meja guru untuk dimasukkan ke kotak makannya. Ilham mungkin tak suka lemper, tapi itu menjadi tak penting baginya yang sedang merasakan kegembiraan menjadi murid Kelas Laut. Dia tak lagi berbeda dari anak lain.

Dia dengan pede berjalan menenteng tas. Langkahnya panjang-panjang sehingga bahunya turun naik. Pada hari pertama bersekolah, Ilham menaruh tasnya di loker Kelas Antariksa, karena di sana ada beberapa anak yang sering mengajaknya main.

Selama kelas berlangsung, Ilham juga sering menghilang ke kelas anak-anak yang lebih besar. Di waktu jam bebas, dia kerap berada di bawah pohon bersama anak-anak yang berseragam kotak dan peach.

Ilham tidak rewel lagi, karena merasa setara dengan anak lain.

Setelah memasuki Kelas Langit, Ilham mengembangkan kebiasaan unik: dia baru menyalami Kakak-Kakak bila telah memakai seragam Tetum. Jadi bila dia masuk siang, dia baru menghampiri Kakak-Kakak untuk bersalaman setelah berganti baju dan bersepatu.

Sejak tahun lalu Ilham tak lagi tinggal di halaman Tetum. Ayahnya tak lagi bekerja di Tetum, tapi ibunya tetap bersama kami, dan Ilham tetap bersekolah di tempat kami.

Alhamdulillah Ilham mempunyai perkembangan psikologis yang cukup baik, sekalipun dia “berbeda” dari yang lain. Pertumbuhan Ilham yang baik juga dipengaruhi oleh persepsi orang tuanya yang baik terhadap Tetum. Ya, Bu Warno adalah bagian terpisahkan dari kami. Dia tekun bekerja dan tak pernah mengeluh. Bahkan yang membuat kami gembira, Bu Warno punya sikap seperti pendidik. “Ayo, ber-gi-lir-an,” adalah salah satu kalimat khasnya yang ditujukan kepada anak-anak bila mereka berebut cuci tangan.

Pagi ini kami meminta Bu Warno memasak nasi kuning, sebagai makan siang terakhir sebelum puasa. Itu sesungguhnya hanyalah alasan kami untuk menutupi rencana mengadakan syukuran bagi ulang tahun Ilham yang ke-5.

Kami ingin membahagiakan Bu Warno dan memberi kenangan manis bagi Ilham, anak kami yang istimewa.

Selamat ulang tahun, Ilham. 

(Dimuat di Notes FB Sekolah Tetum – 21 Agustus 2009)