syab

Ini masih cerita tentang Syabil, cucu saya. Suatu kali mamanya upload foto di FB. Lucu deh foto itu. Sementara teman-temannya (sepertinya) tekun dengan tugas yang diberikan bu guru TPA, Syabil menerawang …. Hi hi …. Kata mamanya di boks komentar, “Yang ada di benak Syabil cuma beli mainan di abang-abang depan mushollah.”

Syabil, 3 tahun, mungkin merasa belum mampu mengikuti kegiatan baca tulis Arab, jadi ya dia lebih asyik memikirkan mainan abang-abang di luar mushollah: tidak perlu keterampilan jari untuk menggerakkan alat tulis di huruf yang penuh liukan, tidak perlu duduk diam untuk menyelesaikan tugas, dan … tidak perlu berkompetisi dengan teman.

Perlu dipujikan konsistensi Syabil datang ke mushollah. Bahkan di saat hujan pun dia datang … dan ternyata ngajinya libur.

sy

Bagi Syabil, kehadiran ke mushollah adalah kegiatan rutin untuk bertemu teman, di luar rumah. Sayangnya wadah itu mengandung aroma akademis karena mengharuskan anak (tak peduli balita atau di atas lima tahun) untuk bisa menggoreskan alat tulis, membentuk huruf dan membacanya, tanpa melalui tahapan prasyarat: mengenal arah, mengenal bentuk geometri, mengenal bunyi.

Kegiatan TPA adalah kegiatan berbahasa, sehingga sejatinya para pembuat kurikulum TPA memperhatikan aspek perkembangan bahasa dan kognitif anak.

Aspek berbahasa mencakup empat unsur: mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Dua unsur pertama adalah bawaan sejak lahir, artinya merupakan perangkat yang diberikan Tuhan di dalam diri kita. Untuk kemampuan berbicara kita perlu waktu panjang sejak lahir hingga beberapa tahun sesesudahnya. Ini karena ada pusat bicara di otak, yang berkembang sesuai tahapan usia.

Namun di otak tidak ada pusat untuk membaca dan menulis. Ya, dua unsur bahasa yang lain, membaca dan menulis, adalah hasil  peradaban manusia. Tulisan pertama muncul 3.000 tahun sebelum Masehi di Mesopotomia, kini di wilayah Iraq.

Saat seorang anak membaca, beberapa bagian otak bekerja bersama. Membaca melibatkan pemrosesan visual, koordinasi sensorimotor, dan pemrosesan linguistik dan kognitif. Tak heran bila anak seusia Syabil lebih suka melayangkan pandang keluar, daripada melakukan usaha yang sangat-sangat sulit baginya.

Apalagi tulisan Arab mengandung bentuk liukan, yang tidak mudah bagi Syabil. Mengapa? Bentuk liukan dan diagonal menghendaki pemrosesan yang menyeberangi garis tengah tubuh. Berarti ada koordinasi antara dua sisi tubuh, yang perlu latihan untuk melakukannya.

Mengingat masalah crossing midlines ini, di TPA seharusnya ada program motorik, yang memungkinkan anak belajar mengenal arah (kanan-kiri serta atas-bawah), dan berlatih menggabungkan dua sisi tubuh, seperti kegiatan Brain Gym.

Kami di sekolah tidak mengenalkan aksara Arab kepada anak sebelum mereka mengenal arah kiri dan kanan dengan jelas, dan sudah cukup kokoh dengan arah penulisan Latin yang bergerak dari kiri ke kanan. Memberikan pengenalan tulisan Arab –yang berlawanan dengan Latin– akan mendatangkan kebingungan arah, bila kesadaran arah belum terbangun kokoh.

Karena anak seusia Syabil sedang berada di tahap kepekaan sensori, akan lebih mudah bagi mereka bila pengenalan Quran dilakukan secara auditori, visual dan taktil. Ya, mengaji adalah masalah bahasa, bukan, jadi kita dapat memperkenalkan bahasa Quran dengan pendekatan pengajaran bahasa yang sesuai dengan usia anak. Kepada anak dapat diperkenalkan kata-kata dalam bahasa Arab di lingkungan kelas, disertai gambar, dan kemudian dibuatkan tulisannya untuk diraba anak.

Setidaknya, itulah mimpi saya dalam membangun metode sensori untuk kegiatan iqra.

Mudah-mudahan kelak pandangan anak tidak lagi ke arah abang-abang penjual mainan, tapi pada kegiatan yang mengasyikkan.