nada

Ini foto adik Syabil, cucu keponakan saya, Nada, satu tahun. Siapa pun akan berkomentar bahwa tertawanya kiut:)  Ayahnya pun berkomentar di bawah foto itu, “Ranca bana putri iko ….” Saya tidak tahu arti kata itu, yang saya tebak berbahasa Minang, dari kata “iko“, tapi saya kemudian menebak artinya karena ada lanjutan dari kalimat itu:

tapi kalo dah ngamuk …. MasyaAllah ….

Sengaja ditulis dengan centered align, karena masalah ngamuk yang akan dibahas di sini.

Maaf Aa Agung (ayah Nada), kalimatnya dibahas di sini, karena persoalan ini ada hampir di tiap keluarga …. Dan kerap kali memang komentar kita adalah, “Masya Allah.”

Di sekolah pun kami menghadapi anak tantrum, dan alhamdulillah tingkat tantrumnya bisa kami turunkan dengan teknik tertentu dan kerja sama dengan keluarga.Tantrum adalah kemarahan yang sepertinya tidak ada hentinya, disertai dengan teriakan, tendangan, tangisan dan lengkingan yang seolah menembus atap rumah atau sekolah.

Tantrum bisa membuat kita frustrasi dan merasa gagal sebagai orang tua atau guru. Tidak, kita tidak berada di moment of chaos yang tanpa pertolongan.  Tantrum bukanlah suatu katastrofi, tapi justru sebaliknya: tantrum adalah peluang untuk mengajarkan sesuatu.

Pertama, kita harus melihat tantrum sebagai bagian dari perkembangan anak. Kita pun bisa tantrum (pernah melihat orang dewasa a mengomel atau membanting barang/pintu?), tapi biasanya kita bisa mengendalikan diri. Nah, anak belum dapat melakukan pengendalian emosi, sehingga mereka pun mengekspresikan perasaan secara fisik: membanting kaki, berteriak, berguling….

Ada beberapa penyebab tantrum yang mungkin kita sudah kenali. Anak mencari perhatian karena lelah, lapar, atau tidak nyaman. Tantrum juga bisa merupakan pengungkapan rasa frustrasinya – mereka tidak berhasil membuat orang lain melakukan seperti yang mereka kehendaki, atau suatu benda bekerja seperti keinginan mereka.

Namun sesungguhnya dengan rasa frustrasi itu mereka pun belajar bagaimana orang lain, benda dan tubuh mereka bekerja.

Tantrum adalah lazim pada anak berumur dua tahun, di saat ia mulai mengembangkan kemampuan bahasa.  Di saat itu anak memahami lebih banyak daripada kemampuan untuk mengekspresikan diri.  Ketika kemampuan bahasa meningkat, tantrum bisa berkurang.

Ada kemungkinan tantrum muncul karena kebutuhan otonomi yang meningkat.  Anak ingin melakukan kontrol terhadap lingkungan  — lebih daripada kemampuan mereka. Ketika tidak bisa mendapatkannya, mereka pun tantrum.

Di sekolah kami pernah menghadapi anak tantrum –sebutlah namanya, Gonzo — karena dia tidak mendapatkan kesempatan main. Gonzo selalu datang di saat teman-temannya masuk kelas, sehingga dia tidak punya kesempatan bermain bebas. Ketika akses ke kebun ditutup, dia pun mengamuk, berteriak, menangis dan berguling.

Di antara teriakannya, Gonzo kemudian mengatakan, “Aku mau ambil daun di luar.” Oh, ternyata dia telah dapat melakukan negosiasi, tapi harga dirinya masih terkoyak, sehingga tidak serta merta dia mau masuk kelas. Sewaktu dikatakan bahwa di depan kelasnya ada daun, dia mengatakan dengan lantang, “Tidak! Aku mau ambil daun.” Dia berguling lagi, tapi dengan volume tangisan yang lebih turun.

Hal pertama yang perlu dilakukan dalam menghadapi anak tantrum adalah melindungi keamanan fisiknya, dan keamanan teman-temannya. Ketika Gonzo tantrum di tangga, kami berusaha menggiringnya ke aula yang luas, dan menyingkirkan benda-benda yang mungkin akan dilemparnya. Kalau dia mengamuk di ruangan yang banyak barang (misalnya, di kelas), kami akan memeluknya, dan berusaha mengajaknya ke  luar ruangan. Ya, Gonzo akan mengikuti kami bila kami pura-pura tidak mengindahkan tangisnya dan berjalan meninggalkannya.

Untuk mempermudah dia melakukan problem solving, kami mempersempit pilihan-pilihannya. Memberikan pilihan dapat membuatnya berpikir lebih jernih. Jadi yang kami berikan adalah: “Mau di kelas atau di sini?” Kami tidak memberikan pilihan ke kebun. Gonzo biasanya sambil berteriak akan bilang mau ke kelas.

Kadang kami juga memberikan distraksi agar dia teralih, dan emosinya turun. Ini bisa dengan mengganti guru yang menangani, mengajaknya (tepatnya, menggiring) pindah tempat, atau memberinya alternatif kegiatan, misalnya minum (Gonzo akhinya minum setelah menghantamkan botol minumnya beberapa kali ke meja).

Pada akhirnya, kami memberinya kesempatan untuk time out. Ini adalah peluang untuk “bernapas” bagi dirinya dan menstabilkan pikirannya.

Setelah anak selesai tantrum jangan memberi reward dengan memberikan apa yang diinginkannya. Dia akan berpikir bahwa tantrumnya efektif. Sebaiknya, katakan (bukan memuji) bahwa dia sudah bisa mengontrol diri.

Hal penting pada waktu menghadapi anak tantrum adalah: Keep cool. Jangan membuat masalah jadi lebih ruwet dengan rasa frustrasi kita. Sst … anak-anak bisa lho merasakan rasa frustrasi orang dewasa. Begitu pula anak tetap melihat kita sebagai contoh. Bila kita “main tangan”, dia akan berpikir bahwa kekerasan fisik adalah hal yang diperbolehkan. Jadi, tarik napas dan berpikir jernih.

Tantrum akan berkurang sejalan dengan kemampuan anak untuk memahami diri sendiri dan dunia luar. Tapi sekali lagi, tantrum adalah sarana untuk membuat dia belajar melakukan pemahaman itu.

Jadi suatu saat, ayah Nada juga akan membuat caption foto: Rancak bana putri iko, seyumnya manis, kelakuannya juga manis:)

 Josh Reynolds Jersey