n1263964708_172131_4962Reza dalam brosur Sekolah Tetum pada tahun 2008.  Semoga doa di dalam brosur terwujud.

Bertemu Reza kembali seperti bertemu dengan seseorang yang sangat saya kenal. Karena itu, di kali kedua dia datang, saya mengatakan, “Reza, Kak Endah peluk ya.” Dia tertawa menjauhkan badannya.  Ya, itu adalah perasaan orisinal saya, dan saya berani mengatakannya karena Reza tidak dalam kapasitas sebagai murid di sekolah.

Reza sedang menghabiskan waktu liburannya di sekolah ini, karena dia baru masuk lagi seminggu kemudian. Menawari seorang anak kelas 3 SD untuk berlibur di sekolah TK-nya yang baru punya kelas 1 SD, tentu harus dengan cara halus. Mamanya cukup pandai dalam hal ini. Mula-mula mamanya mengajaknya ke sekolah, tanpa direncanakan, setelah Reza les berenang. Kebetulan waktu itu saya sedang menemani Pak Iis –penjaga sekolah– mengecat sekolah.

Saya pun mengajaknya melihat kura-kura yang sudah dikenal Reza ketika dia di TK, empat tahun lalu. Komentarnya adalah: “Reza pernah digigit.” Hi hi … kata kakak-kakak, Reza sering membalik kura-kura itu sehingga mungkin kura-kuranya marah.

Reza punya kelekatan dengan alam — yang dalam teori Howard Gardner disebut kecerdasan naturalistik, yaitu kemampuan mengenali pola-pola alam. Waktu saya ke rumahnya untuk besuk Lukman yang sakit, sebulan sebelumnya, dengan sibuk dia mengambil biji tanaman dan berpesan agar saya menanamnya di sekolah. Dia juga meminta saya melihat laba-laba di depan jendela kamar mamanya. Yah tentunya saya tidak mau masuk ke kamar mamanya. Jadi saya hanya berdiri di pintu, dan mengatakan, “Ya, keliatan dari sini.” Reza cukup puas dengan respon saya, dan menambahkan, “Laba-labanya bisa makan kupu-kupu.” Lalu dia menunjukkan pohon sukun di halaman rumahnya.

Kebetulan sekolah kami masih alami (kata halus untuk “belum diolah”), jadi cukup banyak “sajian” yang bisa diberikan ke Reza pada kunjungan mendadaknya sehabis berenang itu. Memberi makan ikan nila dan lele, memberi makan ikan mas koki, dan sekadar duduk di saung.

Alhamdulillah dia langsung mengangguk ketika ditawari untuk bermain bersama kelas Merkurius (kelas 1 SD di sekolah kami) dari hari Senin sampai Jumat, ketika dia tidak berenang.

Reza pun datang sesuai rencana. Kebetulan tema di awal semester ini adalah hewan, jadi pas kan untuk Reza!

Di hari Senin saat Reza datang, Kak Wiwik sudah punya cara untuk menyambutnya. Pada saat kegiatan circle time, Kak Wiwik menunjukkan poster buatan mamanya Reza, yang membuat Reza tersenyum lepas. Poster itu dibawa Reza ke sekolah empat tahun silam, pada waktu dia di kelas Antariksa (TK B), dan masih disimpan Kak Wiwik. Dulu mamanya senang membuat tulisan dan foto-foto bila mereka bepergian, dan mengirimnya ke sekolah, lalu kami tempel di majalah dinding.

Kegiatan hari itu cukup seru untuk Reza, karena mereka berkeliling sekolah untuk melihat hewan-hewan yang ada di sana.

Reza juga gembira ketika mengikuti kegiatan menggambar bersama Kak Pras. Selama liburan Reza di sekolah, Kak Wiwik melihat Reza agak menghindari kegiatan menulis.

Ya, Reza memiliki masalah dalam hal motorik halus, yang membuat dia harus mengikuti terapi menulis. Dulu hal ini membuat saya merasa bersalah, karena tidak mempersiapkan Reza dengan baik dalam keterampilan itu. Namun kemudian, saya melihat bahwa masalah motorik halus menjadi sebuah fenomena. Tonus otot yang lemah, postur tubuh yang cenderung miring saat menulis, dan goresan yang terlalu dalam atau tipis, menjadi hal yang lazim pada anak saat ini. Perlu dikaji lebih lanjut mengapa hal ini terjadi, dalam kaitan dengan perkembangan anak sejak lahir, dan kaitannya dengan rentang konsentrasi (sudah jadi topik tesis deh … he he).

Masalah Reza mempunyai dampak psikologis. Dia jadi tertekan pada saat ulangan, dan tidak dapat berkreasi saat tugas mengarang. Yah, seorang Reza yang IQ-nya 144, menjadi tak terlihat kelebihannya karena sistem pendidikan yang mengharuskan dia melakukan performa yang justru menjatuhkannya.

Kalau melihat soal yang dikerjakannya, nggak ke mana-mana ….  Misalnya saja, salah satu tugasnya adalah menulis teks Sumpah Pemuda. Kalau diminta menghapal secara lisan, pastilah Reza bisa.  Tapi apakah itu make sense? Seseorang yang pernah belajar pendidikan pasti pernah membaca tentang taksonomi Bloom, dan menghapal adalah kemampuan kognitif yang mendasar.

Yah, ketika TK saja dia sudah bisa membuat presentasi tentang istana Pagaruyung, Malin Kundang dan mengajari temannya cara menghitung dalam bahasa Minang. Di kelas 3 SD ini, pastilah Reza sudah bisa diajak membandingkan bahasa daerah tempat mama dan papanya berasal dengan bahasa Indonesia, dalam konteks berkomunikasi dan fungsinya. Dari sana bisa ditarik pemikiran tentang pentingnya bahasa yang sama dalam berbangsa. Seorang Reza sudah bisa diajak melakukan critical thinking tentang “berbahasa satu bahasa Indonesia”, ataupun “berbangsa satu bangsa Indonesia.”

Reza seharusnya dikembangkan dalam ranah kognitif taksonomi Bloom: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, menciptakan.

Dalam kasus Sumpah Pemuda, sejatinya Reza diarahkan agar kelak dia bisa menciptakan Sumpah Pemuda untuk masanya. Mencipta … level tertinggi dalam ranah kognitif.

Dalam berbagai hal, Reza sudah dapat memahami dan menerapkan. Hubungannya dengan sekitarnya sangat erat. Misalnya saja ketika TK, dia tidak hanya menonton kura-kura, tapi terlibat lebih jauh: dia memegangnya, tidak dalam posisi kepala di atas, tapi membaliknya hingga kura-kura marah dan menggigitnya. Karena seringnya bermain dengan kura-kura, Reza sampai pernah merasakan dipipisin.

Bila menjadi gurunya, apakah cukup dengan memberinya soal benar-salah semacam: kura-kura adalah hewan yang hidup di darat dan air. Pengalaman sensori Reza dengan kura-kura sudah lebih jauh dari itu. Sementara jutaan sel di otaknya sudah siap bergerak, kita hanya bermain di bagian yang paling dasar.

Yang mengagumkan untuk saya bukan kecerdasannya, tapi kerendahan hatinya. Ketika belajar bersama kelas Merkurius, dia tidak menunjukkan dirinya lebih tahu, lebih pintar, lebih besar, dan kelasnya lebih tinggi. Padahal … tidak ada yang menyangkal kemampuan verbalnya ketika dia dengan jernih menjelaskan tentang mengapung dan tenggelam dari hasil percobaaannya bersama teman-temannya. Dan dia mengamati dengan seksama ketika seorang temannya menjelaskan bagaimana merawat kelinci. Kekaguman Reza membuat dia menjuluki teman itu sebagai “ahli kelinci”. Reza menunjukkan karakter seorang ilmuwan — rendah hati dalam mereguk ilmu.

Perlu kerendahan hati kita pula dalam menguak “pesan” yang dibawa Reza. Kehadiran Reza merupakan sinyal bahwa belum tentu cara-cara yang kita ketahui dalam pendidikan adalah sebuah kebenaran.

Reza membuat kita berpikir tentang hal yang khas untuk diberikan kepada setiap anak.

Ketika saya ingin memeluknya, itu adalah bentuk keprihatinan saya pada sistem yang menganggap anak sebagai produk massal.