Pukul stik ke atas empat kali
(Tik tik tik tik)
Pukul stik bersamaan di drum tiga kali …
(Drum drum drum)
…….

Sambil memukulkan stik drum ke atas-bawah-atas-bawah dengan ritme tertentu, anak menyerap informasi yang diberikan oleh mata, telinga, kulit, dan gerakan mengangkat dan menurunkan tangan. Jalur saraf pun terbentuk, memungkinkan ia menggunakan informasi yang diserap untuk memahami dunia. Dengan menatap ke pelatih yang memainkan melodi dengan belira, anak menaikkan dan menurunkan stik, mendengarkan irama, lebur dalam harmoni.

Saat mengikuti kegiatan marching band, ia membangkitkan kembali potensi alaminya sebagai matematikawan sejati.

Ya, setiap manusia diciptakan dengan kemampuan sebagai matematikawan, kemampuan menghayati pola-pola dan ritme dalam kehidupannya. Sejak umur sembilan minggu dalam kandungan, ia telah mendengar pola bunyi yang dihasilkan oleh detak jantung, aliran darah, napas, pencernaan dan suara ibunya. Pada usia 12 minggu ia mulai mampu mendengar bunyi-bunyi itu sebagai irama yang teratur. Di usia 24 minggu (enam bulan), ia dapat merespon musik dengan mengerdipkan mata dan melakukan gerakan seperti menari.

Keterampilan matematika tidak hanya didasarkan pada kemampuan mendengar bunyi, namun juga pada kemampuan mengatur gerakan dan keseimbangan, yang dikendalikan oleh sistem vestibular. Sistem sensori ini berkembang ketika manusia berumur lima bulan dalam kandungan, dan merupakan sistem sensori yang pertama berkembang penuh.

Sejak konsepsi hingga usia 15 bulan pertama kehidupannya, sistem vestibular sangat aktif. Di saat itu anak menyerap kepekaan terhadap gravitasi dan pengetahuan tentang lingkungan fisik melalui gerakan. Setiap gerakan yang dilakukan anak akan menstimulasi sistem vestibularnya, dan menstimulasi otak terhadap adanya hal baru yang dipelajari. Diawali dengan gerakan refleksif ketika lahir, anak belajar berdiri, berjalan, berlari.

Dengan sistem ini, seorang anak yang bermain drum dapat berdiri tegak, dan berjalan. Di saat ia berbaris, matanya statis menatap ke pelatih, namun seluruh tubuhnya bergerak. Pada saat itu sistem tubuhnya bekerja keras menjaga level pandangan dengan kepala yang terus bergerak, dan menjaga keseimbangan tubuh terhadap gravitasi.

Faktor lain yang penting adalah propriosepsi, yaitu kepekaan tubuh terhadap ruang. Seluruh otot memiliki reseptor proprioseptif yang merasakan tingkat peregangan otot. Reseptor peregangan ini membuat kita tahu tentang posisi fisik kita, dan memberi umpan balik untuk bergerak dan menjaga keseimbangan. Di saat bayi kita bergerak dengan otot yang ada di dalam dada. Proprioseptor terus memberi umpan balik kepada otak bagian motor korteks yang memungkinkan kita terus melakukan gerakan yang bertambah sulit. Dari telungkup bayi berbalik, duduk, berdiri dan kemudian berjalan.

Saat mengikuti kegiatan marching band, maka anak mendapatkan pengalaman sensori yang luar biasa. Dengan kegiatan itu otak terus mendapat stimulus melalui seluruh indra.

Dan tentunya stimulus itu berkaitan dengan kemampuan akademik. Ya, setidaknya itu yang kami alami.

Bergerak dan mengikuti ritme adalah dua hal yang disukai anak-anak, dan merupakan dua kemampuan dasar matematika. Sayangnya, kedua hal itu kerap tak tersentuh dalam pembelajaran matematika anak usia dini.

Sumber: Smart Moves, Why Learning is Not All in Your Head, Carla Hannaford, Salt Lake City: Great River Books, 2005