Sepatu merek C warna hitam itu saya beli tiga tahun lalu, dan sampai puasa ini menjadi solmet kaki saya.

Sampai puasa ini? Ya, saya mulai berencana mencari solmet yang lain. Bukan lebay kalau saya bilang soul mate, tapi memang saya nggak suka keulilingan cari sepatu. Jadi bila saya sudah jatuh cinta pada sepatu, ya harus beli saat itu juga. Soul mate memang tidak bisa dicari bukan? Ia datang sendiri, dan terasa adanya chemistry.

crocs1

Tiga tahun lalu begitu melihat sepatu itu di gerai suatu mal, saya langsung pengen. Entah kenapa, sepatu balet slingback itu rasanya oke banget. Saya mencobanya, dan kemudian membujuk anak bungsu saya untuk merayu ayahnya untuk membelikan sepatu itu. Saya paham reaksi suami saya. Pertama, kami ke sana tidak berencana untuk beli sepatu saya, dan kedua sepatu itu plastik doang, yang nggak sepadan dengan harganya.

Saya meyakinkannya bahwa sepatu itu bukan plastik biasa –biarpun buatan Cina. Mendadak saya jadi SPG: “Sepatu ini ergonomis. Liat deh plastiknya beda.” Entah apa yang beda, kemudian saya baru tahu bahwa bahan sepatu itu –croslite– punya sirkulasi yang menstimulasi aliran darah. Bahan itu diklaim punya sel tertutup sehingga tidak akan membuat bakteri bersembunyi.

Ya, akhirnya saya merasakan wenaknya sepatu itu. Setidaknya tumit saya yang pecah-pecah jadi membaik (saya sempat memamerkan tumit saya kepada seorang konsultan ketika ia mengomentari sepatu saya).

Soal ergonomis ternyata berbahaya juga. Saking PW-nya itu sepatu, saya pernah tidak dapat membedakan apakah saya sudah bersepatu atau belum. Alkesah saya pergi ke suatu sekolah, dan ketika pulang, saya menutup pintu mobil tanpa sadar bahwa saya tidak bersepatu. Saya pun kembali lagi ke sana menjemput si solmet.

Soal ergonomis juga mendatangkan masalah, ternyata. Di negara asalnya memang ada peringatan, “Be careful if you are wearing C.” ¬†Kerap ada kasus pengguna sepatu itu terjepit di eskalator; saking wenaknya itu sepatu, tanpa sadar penggunanya menempelkan kakinya pada pinggir eskalator, sehingga tersangkut.

Wah serem juga ya. Tapi bukan itu yang membuat saya memutuskan untuk bye-bye dengan si C.

Saya merasa C sudah jadi sepatu “sejuta umat”. Bukan saya sok mau eksklusif, tapi karena saya sudah beberapa kali salah sepatu.

Pernah saya pergi ke klinik tumbuh kembang yang mengharuskan kita melepas sepatu. Yah, waktu datang saya santai saja melepas sepatu itu, tapi waktu pulang saya binun karena sudah ada kembarannya. Waduh, sepatu saya yang mana ya? Saya mencoba mengetes daya ingat di mana meletakkan sepatu pada waktu datang, tapi sulit karena posisi sepatu-sepatu tetangga sudah berubah. Mau mengingat titik ordinatnya kayaknya nggak banget deh. Jadi ya udah saya bawa aja sepatu yang saya pikir adalah si Solmet.

Kali kedua, saya pernah malu karena memakai sepatu C milik tamu –mahasiswa yang sedang observasi– di sekolah. Pemiliknya yang berada di belakang saya mungkin membatin, tapi pasti tidak enak hati untuk menegur. Saya baru sadar ketika merasa sepatu itu sempit dan ternyata berwarna biru tua. Langsung deh dengan wajah bersemu merah, saya minta maaf pada tamu itu.

Nah, lalu ini yang terlucu. Sepatu saya tak terlihat ketika saya menghadiri acara buka puasa di rumah saudara, yang dihadiri keluarga saya dan teman-teman sahibul bait. Yang tertinggal adalah sepatu C hitam berukuran lebih kecil. Saudara saya langsung memotret sepatu itu dan menanyakan kepada teman-temannya adakah yang salah bawa pulang sepatu. Tidak ada yang punya. Ternyata, kakak sayalah yang memakai sepatu saya. Dia bilang, dia tidak ngeh karena langsung seret saja sepatu itu. He he, jadi kehati-hatian bersepatu C, bukan cuma karena terjepit, tapi juga potensi tertukar.

Sampai hari ini saya dan kakak saya belum bertukar sepatu, karena jarak rumah kami berjauhan.

Sementara itu, di rumah saya ternyata sepatu itu punya sudah punya adik. Bi Juju, asisten rumah tangga saya, memakai tas berlogo C, ketika pulang kampung. Wow, ternyata dia memakai sepatu baru: sepatu balet slingback warna krem.

Mudah-mudahan di kampungnya hanya Bibi yang pakai sepatu itu, sehingga tidak perlu tertukar.