Catatan

Saya baru pulang dari empat hari pelatihan Exploring My Inner World yang diselenggarakan oleh PRH (Personnalite et Relations Humaines) Indonesia. Bersama 10 peserta, saya dibimbing oleh Magda dan Maarten Cuyvvers, educator PRH dari Belgia, untuk mengembangkan keterampilan dalam analisis diri PRH. Analisis diri terdiri dari tiga fase: mengidentifijasi penginderaan (sensasi). melakukan eksplorasi, dan melakukan pendalaman. Tujuannya adalah untuk mengenali diri lebih baik dan agar bisa bertumbuh lebih efesien, 

Saat ini saya ingin kembali menguak pengalaman yang padat saat mengikuti pelatihan Exploring My Inner World. Tulisan ini memakai metode penulisan analisis diri (self-analysis) PRH. Karena di dalam analisis diri PRH harus ada nama untuk subjek yang saya eksplorasi, kalimat yang saya ketik dengan huruf tebal di awal paragraf ini menjadi nama dari analisis saya. Tulisan ini penting untuk diri saya karena mengidentifikasi kembali proses bertumbuh selama empat hari itu. Tujuan saya menulis analisis diri ini adalah agar saya bertambah yakin bahwa saya dapat menjalani proses bertumbuh selama pelatihan analisis diri.

Saat membaca lagi tulisan saya pada momen pertama pelatihan, saya merasa lega pada kejujuran saya. Saya menulis bahwa saya mengikuti pelatihan karena mengikuti alur saja. Grup PRH saya mengikuti pelatihan lanjutan, ya saya ikut, Setelah mengikuti pelatihan PRH yang pertama, bertajuk Who Am I, saya tetap tidak merasa dapat mempraktikkan pelajaran yang diberikan. Bahkan pagi sebelum berangkat, saya merasa panik karena tidak dapat menjalankan rencana seperti sebelumnya. Saya pun tidak punya harapan apa-apa dari pelatihan yang kedua ini, karena belum terlalu paham apa yang akan diperoleh. Kejujuran yang muncul dalam diri saya merupakan pintu yang memungkinkan saya dengan mudah memasuki tahap berikutnya. Saya tidak punya tuntutan dalam diri dan dalam kondisi apa adanya.

Saat menulis tentang Me and My Inner World pun saya mengatakan bahwa saya tidak dapat menjabarkan hal itu karena jarang mendengarkan apa yang terjadi pada my inner world.  Ada dua hal yang terjadi saat saya menulis di bagian ini. Saya merasa berjarak dengan tema yang diberikan, namun di sisi lain saya melakukan metaanalisis. Saya gembira dapat menganalisis sikap saya ketika diminta menjabarkan what I live concerning my inner world.

Saya gembira ketika dapat membedakan apakah pengalaman yang saya ceritakan itu merupakan impresi, emosi, perasaan, kenangan, gagasan atau pengindraan. Hal ini mudah, karena yang saya lakukan adalah memberi contoh berdasarkan tipologi. Saat saya memberikan contoh “I grumbled that the local education board did not have good management system” sebagai contoh gagasan, Magda mengatakan, “Good example“. Saya gembira di tahap ini telah dapat melakukan kategorisasi pengalaman.

Pada tahapan awal membuat analisis, Maarten mengatakan, “You’ve made an analysis already,” atas analisis saya: I love to help special needs children. It is relevant for me because my mission in life is to make contibutions for others. My objective is to ascertain me that I have the potentials to help people with certain conditions.”  Analisis diri itu pendek saja, tapi saling mengikat.

Pada hari kedua, saat benar-benar berlatih membuat analisis diri, saya menghadapi kegalauan antara menulis analisis diri tentang anak spesial atau kebiasaan menunda (prokrastinasi). Saya ingin tulisan saya mendatangkan manfaat untuk saya.  Maka, saya pun memilih topik prokrastinasi dengan harapan dapat melihat sisi dasar prokrastinasi saya, dan kemudian dapat mengubahnya. Saya lega ketika itu saya cukup percaya diri untuk menyampaikan analisis saya. Analisis saya dikatakan kurang elaborasi dan kurang “psychological content“. Di saat menulis catatan ini, saya telah dapat menerima masukan itu dengan legowo.

Berikutnya, saat menulis tentang pain sensation, saya menulis ketidakmampuan saya menulis pain, sehingga saya tulis tujuan saya adalah mencari akar dari painless pain. Saya gembira bahwa bahwa saya dapat mengidentifikasi penginderaan yang terkait dengan pain saya, menulis relevansi untuk pertumbuhan saya, dan objektif saya menulis penginderaan itu. Saya pun mengurai konten psikologis terkait dengan penginderaan itu. Namun saya terpeleset pada temuan di belakang, karena tidak terkait dengan objektif saya. Walaupun saat mendapat komentar saya merasa malu dan sedih, hari ini saya gembira bahwa saya dapat menerima momen itu sebagai proses belajar saya.

Tulisan terakhir, tentang wonderment, saya fokuskan untuk menulis tentang blog saya. Saya gembira bahwa saya dapat mengidentifikasi penginderaan untuk dianalisis, yaitu blog pribadi saya. Saya dapat menyebutkan relevansinya untuk pertumbuhan saya; My blog contains my writing pieces about my daily life at school; it connects me with the human side of education. Saya juga menuliskan tujuan menganalisis blog: I have left the blog for some years when my focus was on the management. This holiday I went back to my blog, and realized that writing was my calling to voice the human side of education. So the objective is to ascertain me that writing is my calling to voice the human side of education. Saya pun menjabarkan wonderment saya pada blog dengan menceritakan kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah. Saya mengeksplorasi dengan menceritakan bagaimana seorang siswa autis mengucapkan kata “tidak” untuk pertama kali pada usia 4 tahun dan kami merayakannya, sebuah fakta yang menunjukkan ikatan saya dengan perkembangan bahasa dan anak berkebutuhan khusus.

Pada saat ini saya melihat bahwa cerita saya tentang epilepsi merupakan penginderaan kedua. Saya gembira telah dapat melihat bahwa saya kurang mulus menuliskan penginderaan kedua untuk mendukung analisis ini. Saya juga lega bahwa dalam diskusi dengan Magda, saya dapat merasakan bahwa temuan saya tidak hanya bahwa menulis itu panggilan untuk menyuarakan sisi kemanusiaan dari pendidikan, tetapi juga merupakan panggilan saya untuk mempraktikkan pendidikan yang manusiawi dan penuh cinta.

Pelatihan empat hari yang padat berlalu, dan saya pun menemukan bahwa saya dapat menjalani proses bertumbuh selama pelatihan,  dan menyerap hal yang perlu dikembangkan.