Dua ribu tujuh belas. Saya merasakannya sebagai tahun yang istimewa. Saya merasa banyak berkah yang saya rasakan. Di awal tahun ini saya ingin menulis analisis diri dengan metode PRH mengenai perjalanan di tahun 2017, dengan tujuan untuk mengenali pencapaian di tahun lalu dan menjadi tonggak untuk melakukan pencapaian yang lebih baik di 2018.

Saya mengamati foto-foto di Instagram untuk mengingat kembali peristiwa yang berkesan untuk saya.

Tahun ini kami kembali ke rumah pertama kami, setelah “berkelana” ke berbagai rumah dengan berbagai alasan, mengikuti kehendak suami. Bisa karena sudah terlalu banyak buku sehingga kami pindah, bisa karena ada rumah baru yang lebih nyaman untuk ditempati, dan pada akhirnya saya lega rumah kami selesai direnovasi dan “memanggil” kami untuk pulang. Saya merasa damai berada di rumah pertama tempat anak-anak, suami dan saya tumbuh. Perjalanan kehidupan kami menjadi bekal untuk melangkah ke depan. Anak saya masih di SMA, SMP dan SD ketika berada di rumah ini, dan kami masih mengejar mimpi-mimpi kehidupan untuk membangun rumah tangga yang kokoh. Saat ini dua dari mereka sudah lulus,  suami saya sudah pensiun, dan saya melanjutkan tugas kehidupan yang tidak lagi bersifat materialistik. Kembali ke rumah asal membuat saya tenang untuk terus melangkah, melanjutkan tugas yang maknawi untuk sesama, dengan bekal pencapaian yang sudah kami lakukan.

Awal tahun ini saya menyatakan keseriusan saya untuk belajar autisme, dengan menempuh perjalanan jauh yang memakan waktu, memerlukan keberanian besar dan kesehatan prima. Saya menjadi yakin tentang penanganan autisme yang baik dan pas dengan misi saya dan karakteristik sekolah. Saat ini saya rindu menangani anak autis lagi, from the scratch, mengajak orang tuanya untuk bersama-sama menggali potensi yang ada dalam diri mereka dan berfokus kepada anak. Dengan bekal keyakinan bahwa hanya cinta dan perhatian dari orang-orang di sekeliling yang dapat membuat anak berkembang, saya akan membuka pelatihan gratis penanganan anak berkebutuhan khusus untuk orang tua dan guru. Iklannya sudah saya buat Desember lalu, dan saya gembira pembina pendidikan di wilayah Cipedak  memberikan dukungan, dan peminat pun sudah menghubungi saya.

Saat ini saya terikat pada suatu proyek penelitian bahasa untuk anak autis. Dengan berbagai peran yang saya jalani, peran ini terasa berat. Tetapi saya harus tegak dan terus melangkah, karena saya telah memulai. Proyek ini terkait dengan perkembangan bayi saya, sekolah yang saya dirikan. Kalau saya gol dengan proyek ini, sekolah saya akan bertumbuh lebih sehat, karena saya dapat menancapkan brand sebagai suatu lembaga pendidikan yang berperhatian pada perkembangan bahasa anak spesial.

Di awal tahun ini suami saya menjadi ketua RW, sehingga mau tidak mau saya menjadi “Buerwe”. Semula saya melakukan penolakan dalam diri karena merasa ini adalah jabatan konyol. Saya diangkat bukan karena kemampuan saya, tetapi karena saya istri seseorang. Penolakan itu membawa saya untuk membaca Suara dari Desa karangan seorang dosen FISIP UI yang mengatakan bahwa PKK harus direvitalisasi karena merupakan satu-satunya lembaga pemerintah yang dapat masuk ke pelosok-pelosok. Ketika saya mendapat kesempatan untuk melakukan perubahan, kenapa tidak? Mengapa harus merasa sombong hanya mau mengerjakan sesuatu yang dipupuk dengan tangan sendiri? Bukankah menjadi istri dari seseorang adalah perjuangan? Bukankah mempertahankan hubungan tidak didapat dengan membalik tangan. Perjuangan ini membias keluar, dan kami mendapat amanah untuk memimpin suatu komunitas kecil. Ya, kami, bukan saya atau suami saya tunggal. Kami harus berduet melakukannya, seperti duet yang kami lakukan di hampir 30 tahun ini. Hari ini sudah hampir setahun menjadi Buerwe, dan saya bangga bahwa saya dapat menggerakkan ibu-ibu dan warga untuk bersatu. Saya bangga melihat penghargaan yang kami peroleh satu demi satu, dan pujian-pujian dalam pertemuan yang membuat saya tersipu. Peran yang membuat saya muncul sebagai sosok berbeda ini akan saya lanjutkan.

Tahun lalu saya membuat tiga buku anak yang saya tulis, dan terbitkan sendiri. Saya lega hari ini bahwa saya dapat mewujudkan keinginan yang semula terbenam di dalam mimpi-mimpi. Buku-buku itu merupakan pemenuhan atas panggilan untuk menyuarakan sudut pandang anak. Panggilan itu akan saya rawat, jaga dan tumbuh kembangkan terus di tahun ini. 

Catatan ini memverbalkan perjalanan yang saya tempuh, dan saya gembira mendapatkan temuan-temuan yang akan saya bawa dalam melangkah ke hari-hari berikutnya.