K, tahukah kamu bahwa kamu adalah murid istimewa saya? Kamu tidak pernah menyatakan bahwa kamu tahu itu, saya pun tidak pernah mengatakannya. Secara profesi saya memang tidak boleh mengekspresikan perasaan saya.

Dua hari lalu saat Pelepasan Kelas 6, saya merasakan haru melihatmu melakukan presentasi dengan gambar. Kamu menggambar semua teman, dan memanggil mereka satu per satu. Tidak terlalu jelas lafalmu, namun orang-orang di deretan belakang saya mengulang nama yang kamu sebut, seperti dalam chorus. Penampilanmu memang menjadi penutup acara hari itu untuk menunjukkan dukungan kami terhadap perbedaan. Tak urung saya tetap ingin menangis menyaksikan penampilanmu.

Saya ingin menangis, mempertanyakan kembali seberapa jauh saya telah memberimu ruang untuk tumbuh sebagai remaja. Sepanjang kehadiranmu di Tetum, saya berupaya agar kamu diterima teman sebayamu, dan yang juga penting: kamu menerima sekolah ini di hatimu.

Hal terakhir ini yang menjadi penyebab kehadiranmu dalam kehidupan saya. Lima tahun lalu bundamu mengatakan bahwa kamu telah tiga kali kali pindah sekolah. Bundamu mengatakan bahwa di sekolah lama kamu kerap berdiri di pojokan sambil mendelikkan mata ke arah guru dan melipat tangan.

Saat saya bicara dengan bundamu, kamu hanya mengamati. Pada saat pulang, kamu –di boncengan motor ibumu– melambaikan tanganmu kepada saya.

Setelah dua kali pertemuan dengan orang tuamu, kamu resmi bersekolah di Tetum. Kamu mengikuti alur kegiatan, yang diawali dengan duduk di lingkaran dan setiap anak disapa dan mendapat hak untuk bicara. Kamu bermain dengan teman sekelas, sekalipun tak dapat dipungkiri bahwa kamu bisa terlibat dalam “pembicaraan” yang intens bila bertemu H atau D yang juga mempunyai gangguan pendengaran. Bila pulang sekolah kamu dan H selalu main kebut-kebutan dengan motor. Kamu meminta Bunda untuk ngebut, dan H pun meminta penjemputnya untuk mendahului motormu.

Ah, itu adalah kenangan manis bagimu, bundamu dan kami. Kita sama-sama kehilangan bundamu yang dipanggil Allah agar terbebas dari penderitaan sakitnya.

Bundamu mungkin tidak pernah tahu ketika kamu mulai naksir-naksiran dengan kakak kelas. Kamu sering kedapatan mengintip kakak kelasmu dari jendela. Begitu pula kakak kelasmu yang jadi sering punya alasan ke toilet agar dapat melirikmu di kelas. Saya dan tim guru tidak melarang ataupun memberi peluang. Kami tidak melarang karena ini adalah kesempatanmu mengembangkan perasaan yang dialami oleh banyak remaja (usiamu dua tahun lebih tua, jadi wajar kalau kamu mengalami masa pubertas lebih cepat daripada teman sekelasmu). Kami juga tidak membiarkan, dalam arti kami membuatmu lebih sibuk dengan kegiatan sehingga teralih dari bisikan-bisikan cinta yang mulai muncul di hatimu.

Kamu tumbuh ceria, dan kami tak pernah mendapatkan sosok yang mendelik di sudut ruangan. Memang ada kalanya kamu menunjukkan wajah tak nyaman. Tapi karena kamu ekspresif, kami segera dapat melakukan tindakan.

Saya mendapatkan bahwa kamu dapat mengontrol emosimu (kecuali di seputaran hari-hari haidmu). Kalau dulu kamu uring-uringan di sekolah lama, itu hanya karena komunikasi yang tidak klop. Kamu tidak dapat menyatakan isi hatimu, dan para guru itu tidak paham. Ya, mereka bekerja dengan kendaraan kurikulum dan sistem yang tidak ditujukan untukmu.

Kami pun memakai kurikulum dasar yang terlalu sulit bagimu ketika sudah sampai ke hal abstrak. Akan tetapi kami bisa “ngulik” sehingga kamu paham tatabahasa dasar, matematika dasar, dan lingkungan sosial. Untuk hal terakhir ini, kamu adalah bintangnya. Bila ada temanmu berulang tahun, kamu menulis ucapan di papan tulis. Kamu juga membuat gambar-gambar untuk guru-guru sehingga mereka tersanjung.

Saya sudah bertemu dengan orang tuamu, Papa dan Umi (ibu barumu yang sangat peduli kepadamu). Kami memutuskan untuk tidak menyertakanmu di ujian sekolah. Proses belajarmu berbeda dengan teman sebayamu.  Saya katakan bahwa sebaiknya kamu belajar keterampilan, tidak masuk SMP. Sambil ikut ujian paket kelak agar kamu bisa melanjutkan pendidikan ke suatu sekolah seni rupa level SMA.

Ya, kamu punya bakat menggambar yang besar. Saya pun ingin mengajakmu dalam proyek buku-buku saya. Semoga Bundamu pun bahagia di alam sana.

(Ditulis dengan hati tercabik-cabik pada pendidikan yang ternyata hanya diukur dengan angka).