Saya bertemu lagi dengan Endro (bukan nama sebenarnya), teman SD saya, setelah lebih dari 30 tahun berpisah. Endro bekerja di bagian akuntasi suatu perusahaan besar. Ini adalah kantor kedua sepanjang kariernya. Kantornya yang lama juga perusahaan nasional terkenal.

Kami mengobrol, dan Endro pun bercerita bahwa ketika SD dia dileskan pada gurunya, bahkan sampai menginap karena nilai-nilainya yang kurang baik. Saya tidak mengetahui bahwa Endro les sampai menginap. Saya berada di ekstrem berbeda. Saya selalu paling dahulu selesai kalau mengerjakan tugas sehingga Bu Guru kerap meminta saya belanja kebutuhan dapurnya di pasar.

Saya baru menyadari bahwa kami ada di level kognisi berbeda ketika kecil. Katakanlah dalam memahami pelajaran Endro perlu waktu lebih lama daripada saya. Namun ketika saya diterima kuliah di UI, Endro pun demikian juga, sekalipun di fakultas berbeda. Saat bekerja pun kantor kami sama-sama di segitiga emas. Artinya, pada akhrnya kami berada pada tataran yang sama.

Apa yang terjadi pada Endro? Dia mengatakan bahwa ketika kecil dia tidak mudheng dengan pelajaran, namun ketika SMA, semua seolah terbuka, dan dia bagai Sponge Bob yang menyerap semua pelajaran. Itu yang membuat dia bisa lulus ujian masuk UI, lulus tepat waktu, dan diterima di perusahaan ternama.

Saya melihat sosok Endro pada El, murid saya (bukan nama sebenarnya).

.