Kamar sebelah yang tadinya terdengar ramai kemudian menjadi sunyi. Sekelompok suster masuk kamar, menandakan peralihan tugas: ada yang tugas malam, ada yang pulang. Lorong di depan kamar menjadi hening dari langkah kaki. Pembesuk sudah pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul 20.51.

Hmm, hanya kami yang tak pulang. Entah sampai kapan.

Pulang menjadi kata bertuah yang seolah dapat menyelamatkan segalanya. Bahkan saya pun tadi berucap: “Ayo makan yang banyak, biar kita cepat pulang.”

Biasanya saya tidak punya keinginan pulang. Antara pulang dan tidak pulang terdapat batas yang tipis. Tanpa pulang pun saya berada dalam zona yang soothing, seperti bermeditasi.

Hari ini saya menyadari ingin pulang. Dan kemudian saya sadari lagi bahwa saya sudah kehilangan equlibrium di tengah siklus yang tertata: pergantian perawat, petugas yang mengantarkan dan mengambil makan serta snack, petugas kebersihan yang mengambil sampah, petugas yang mengantar dan mengambil perlengkapan mandi, perawat yang mengukur suhu badan, mengambil darah, dokter yang melakukan visit …

Mereka ramah, mereka bekerja dengan baik, tapi mereka tidak dalam zona meditatif saya.

Pulang adalah tempat kita berada dalam keseimbangan seutuhnya.

Saya pun teringat pada anak-anak yang enggan pulang di sekolah, padahal ibu mereka sudah menjemput. Oh itu tentunya karena mereka dalam kondisi seimbang. Bermain bersama teman menjadi kegiatan meditatif yang sulit bagi orang dewasa untuk melakukan interupsi.

Saya teringat juga pada istilah “teng go” untuk pekerja yang ingin buru-buru pulang, begitu jam kerja usai. Ya, itu berarti mereka membutuhkan kondisi seimbang.

Begitu juga dengan keinginan besar untuk mudik di saat Lebaran. Mudik adalah kepulangan perantau ke kampung halamannya,  melepaskan kepenatan siklus hidup yang bergerak cepat di kota, menjauh dari peradaban yang asing, mendekat ke asal muasalnya, memeluk lagi nilai-nilai yang membesarkannya, penganan yang lekat di lidahnya, bahasa yang sangat dikenalinya. Mudik adalah tempat seseorang berada dalam keseimbangan.

Setiap orang perlu pulang, perlu dalam keseimbangan, perlu dalam keadaan meditatif yang tak dapat diinterupsi siapa pun.