Ketika saya SD, selalu ada tugas menulis “pengalaman libur” pada saat kami masuk sekolah. Kerap kali saya bingung harus menulis apa, karena liburan hanya di rumah saja. Bermain sepeda, lompat tali, bertengkar dengan teman, ataupun bermain pipian (kain perca – ibu saya seorang penjahit). Apa yang harus ditulis?

Sekali-kalinya kami pergi ke Museum Satria Mandala yang baru dibuka waktu itu, saya ditertawakan teman-teman, saat saya membacakan tulisan saya di depan kelas.

Ketika dewasa saya mencoba merenungi apa yang membuat teman saya menertawakan saya. Mungkin tawa itu bukan untuk saya, tapi kompensasi terhadap keprihatinan diri; mereka pun seperti saya biasanya: tidak pergi ke mana-mana. Yah, mungkin kalau bukan Satria Mandala, saya pun tidak berlibur ke sana. Ayah saya seorang pensiunan Angkatan Darat dan mungkin ingin memperkenalkan kondisi saat perang kepada anak-anaknya dari museum itu.

Apa pun alasannya, mungkin terlalu “mewah” untuk bercerita tentang liburan dengan bepergian bagi anak-anak di kelas saya waktu itu. Lalu kenapa ya Bu Guru meminta kami bercerita tentang liburan? Tentu karena libur adalah hari yang tidak biasa, dan pastinya kita melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Namun mungkin karena guru saya bukan penulis, beliau tidak mendorong kami untuk mengungkapkan hal sederhana menjadi luar biasa. Sekalipun demikian, beliau membuat saya berpikir: mengapa ya menulis cerita liburan; nah kalau kita tidak berlibur lalu bagaimana? Ada tidak ya cara lain untuk menulis cerita liburan tanpa kita harus berlibur?

Jawaban itu saya temukan kemudian, ketika saya tahu bahwa segala sesuatu bisa ditulis. Jadi, tanpa bepergian ke mana-mana pun kita bisa membuat cerita yang menarik. Bahkan di saat kecil itu seharusnya saya bisa bercerita tentang kegiatan membuat komik di saat liburan. Ya, saya membuat komik-komik yang saya sembunyikan di bawah taplak meja. Tapi rahasia saya terbongkar ketika taplak meja diganti Ibu.

Sayang cerita itu tidak pernah saya ungkapkan ketika saya kecil. Bahkan untuk diketahui orang rumah bahwa saya suka membuat komik pun saya malu.

Saya ingin anak-anak (di Sekolah Tetum Bunaya) sekarang punya daya bercerita dan punya rasa percaya diri untuk menceritakannya, sekalipun mereka belum bisa menulis. Kegiatan itu dikemas dalam bentuk show and tell tentang pengalaman libur, yang memberi kesempatan kepada anak untuk mengasah memori tentang kejadian yang pernah dialaminya, kemampuan berbicara, kemampuan mendengar dan memupuk percaya diri untuk tampil di depan audiens.

Karena itu menjelang liburan, kami membuat surat kepada orang tua murid agar menyiapkan putra/putri mereka dalam kegiatan show and tell, dan membawakan sesuatu untuk diceritakan. Bukan berarti harus “pengalaman liburan ke tempat wisata atau ke luar kota”,  namun apa pun kegiatan liburan dapat diceritakan. Jadi tidak hanya tiket mudik tapi juga “daun di depan rumah nenek”.

Sepertinya orang tua pun cukup mendorong anak mereka untuk bercerita liburan dengan cara kreatif. Setidaknya ini yang saya lihat di Kelas Antariksa, TK B kami. Athar membawa setangkai daun rambutan, dan dia dengan bangga bercerita bahwa daun itu dipetik dari rumah neneknya.

Rania membuat kartu bergambar bintang dengan taburan sekam, dan di dalamnya terdapat foto dengan ayahnya ketika Lebaran di Az-Zaytun, tempat dia melihat beduk besar.

Salsa menunjukkan tiket ke Gelanggang Samudra dan brosur Gelanggang Samudra. Bukan Gelanggang Samudranya yang penting, tapi saya menghargai bagaimana orang tuanya menyimpan selembar tiket dan brosur untuk kegiatan sekolah putri mereka.

Ilzar tidak membawa apa-apa, namun dia dengan runtun bercerita tentang pengalamannya ke Taman Safari.

Tentu kita tidak berharap adanya tuturan verbal dalam bentuk 10 kalimat yang jelas. Bahwa seorang anak bisa berdiri, menunjukkan sesuatu dan berbicara sudah cukup. Merupakan suatu poin tambahan bila dia dapat bercerita dengan runut.

Cukup istimewa bahwa Nisa menunjukkan perkembangan dengan keberaniannya bercerita. Nisa masih mengikuti terapi wicara, dan saat bercerita dia terlihat percaya diri dan lebih terfokus pada apa yang diceritakannya, bukan bagaimana dia bercerita.

Bahkan untuk seorang Rais, penyandang autis, kemampuan untuk tenang dalam kelompok saat kegiatan show and tell sudah menjadi sebuah kemajuan. Rais juga mendapat giliran bercerita, sekalipun yang menuturkan adalah Guru Pendamping Khusus-nya, Kak Ita. Namun tampaknya Rais cukup sadar bahwa dia menjadi pusat perhatian, ketika dia terlihat malu. Mula-mula dia duduk tegak sambil menunjukkan foto-fotonya, lama-lama dia bersandar di dada Kak Ita, dan kemudian ndelosor, tiduran.

Namun teman-temannya tetap menghargai Rais, sama seperti mereka mendengarkan dengan hikmat saat teman lain bercerita, dan ingin memegang tiket, prakarya sekam, foto dan brosur yang dibawa anak.

Cukup berhasil kegiatan show & tell yang berlangsung di kelas Antariksa, karena mereka dapat mempraktikkan beberapa keterampilan berbahasa sekaligus –bercerita dan mendengarkan– serta keterampilan sosial –menghargai dan berani tampil.

Tidak ada anak yang menertawakan cerita anak lain, dan tidak ada anak yang malu untuk bercerita.

Mudah-mudahan generasi ini lebih baik daripada saya. Dan kelak mereka pun akan mendorong murid ataupun anak mereka untuk menggali apa pun yang ada dalam kehidupan mereka untuk dihayati dan diceritakan.