Hari Minggu lalu teman-teman SMP saya bertandang ke sekolah. Saya memang menawarkan mereka untuk bersilaturahmi di sekolah. Daripada di mal atau saung kuring kenapa tidak di saung sekolah?

Sesimpel itu.

Ternyata tidak. Mereka bertanya tentang sekolah saya, dan saya pun bercerita bahwa di sekolah saya ada beberapa anak berkebutuhan khusus dalam berbagai kasus.

Saat bercerita, tiba-tiba saya teringat pada Hamdi, teman SMP kami juga. Hamdi tidak ada dalam acara-acara reuni, karena dia sudah tiada. Saya tidak tahu kapan dia meninggal, karena kami tidak pernah saling kontak. Ah, jangankan setelah lulus, pada saat masih SMP pun saya tidak pernah berbicara dengannya.

Saya memang “kurang gaul”, dan hanya berteman dengan orang yang mau menyapa saya.

Hamdi tidak pernah menyapa saya. Bahkan besar kemungkinan dia tidak pernah menyapa teman lain, sekalipun bertipe hore. Dengan kondisinya, pastilah dia harus berperang melawan keberanian untuk menyapa teman.

Hamdi menderita epilepsi. Epilepsi adalah gangguan pada otak yang menimbulkan serangan mendadak, dalam bentuk kejang. Seingat saya, Hamdi selalu kejang bila kami akan ulangan. Dia akan menggelepar-gelepar di lantai, dengan mulut berbusa, dan kami pun lari keluar kelas.

Jujur saja, ada rasa gembira –terutama bila saya merasa tidak siap– ketika Hamdi kejang, dengan mulut berbusa, dan guru pun jadi sibuk, lalu ulangan ditunda.

Kini saya merasa bersalah. Serangan pada Hamdi termasuk grand mal (serangan besar), yang ditandai dengan keadaan jatuh ke lantai, dan kemudian berangsur-angsur berkurang, dan  melemah.  Yah, waktu itu kami masih SMP kelas 1, tidak tahu apa-apa tentang epilepsi, dan tidak ada sosialisasi tentang pertolongan pertama. Seharusnya dulu ketika Hamdi jatuh, tubuhnya perlu dibalik atau dimiringkan agar tidak tersedak, lalu mulutnya digigitkan sendok atau serbet agar lidahnya tidak tergigit, dan dijauhkan dari meja dan kursi agar tidak cedera. Seharusnya juga Hamdi dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Tapi waktu itu kami berlari keluar, dan kemudian mengintip ke dalam untuk melihat apa yang dilakukan guru. Ketika kami masuk, Hamdi sudah duduk tepekur. Pastilah badannya dalam keadaan tidak nyaman. Tapi seingat saya, dia tidak diajak pulang.

Yah, di tahun ’70-an penanganan anak berkebutuhan khusus tidak seperti sekarang. Tidak ada terapi, tidak ada sosialisasi tentang pertolongan pertama (bahkan kami kabur karena takut tertular bila terkena busa dari mulutnya).

Hamdi di awal remajanya mungkin hidup dalam sunyi. Mungkin juga dia mengalami gangguan kognitif atau motorik yang biasanya menyertai penderita epilepsi (meskipun belum tentu). Pada saat kami membina persahabatan, mulai naksir-naksiran, membuat grup vokal, atau ikut Pramuka, Hamdi entah ada di mana.

Kini ketika kami bereuni, tertawa dan saling ejek, Hamdi berada di tempat yang tenang.

Siang itu, saat teman-teman datang ke sekolah, saya kembali teringat kepada Hamdi. Seandainya saya bisa menulis untuk dia, maka saya akan mengatakan bahwa di sekolah kami ada seorang penderita epilepsi ringan. Dia seorang yang cerdas, namun mengalami gangguan hemiplegi (gangguan pada satu sisi tubuh). Kami membuat program agar dia  melakukan kegiatan sehari-hari –membuka sepatu, membuka tas, mengambil buku, serta mengambil alat peraga– dengan tangannya yang selama ini tidak berfungsi. Kami juga melatihnya untuk melompat dengan dua kaki. Dua minggu lalu, saat berkenalan dengan tamu dari Diknas, dia dengan bangga menunjukkan kemampuan melompatnya. Anak itu tumbuh dengan rasa percaya diri sama dengan anak lain.

Hamdi dan anak itu hidup di era yang berbeda. Kalau Hamdi hidup dengan minim pertolongan, maka anak-anak berkebutuhan khusus saat ini mempunyai kemungkinan mendapat bantuan lebih besar untuk berkembang optimal.

Di antara riuhnya gelak tawa teman-teman, dan anehnya menjadi senyap ketika saya berbagi tentang ABK, saya berdoa untuk Hamdi.  Dia tidak mendapatkan apa yang seharusnya dinikmati anak seusianya. Tapi semoga kekurangan di dunia itu menjadi syafaat baginya.  Amiin.