“Kok?” begitu komentar orang-orang bila mereka melihat keyboard laptop saya.

Dan bila mereka memakai laptop saya, mereka membuat saya tidak bisa menjawab. “Ini u-nya mana? Huruf i-nya mana?”

Saya dengan naif melirik keyboard laptop saya dan menyadari saya tidak tahu di mana letak tuts huruf-huruf yang sudah terhapus itu.

Mungkin laptop itu terlalu sering dipakai hingga huruf-hurufnya pupus. Mungkin juga tekanan jari saya terlalu kuat.

Jadi, ada yang menjuluki laptop saya laptop egois, ada yang bilang laptop gundul.
Anehnya, jari saya bisa hapal letak huruf-huruf itu, asalkan mata saya tidak “ikut campur”. Oh ya saya tidak mengetik dengan 10 jari, tapi dengan gaya saya sendiri. Saya amati, jari tangan kiri saya tidak bergerak, tapi sudah berada di atas tuts tertentu, di belahan keyboard kiri, sementara jari tangan kanan saya lebih aktif. Mungkin gerakan yang aktif itu membuat tekanan lebih kuat sehingga huruf-huruf yang terhapus adalah zona kanan. Bukankah Montessori dan Hellen Keller mengatakan bahwa kekuatan manusia ada di tangannya? Sungguh, itu saya alami.

Karena itu saya tak peduli bila laptop saya tampak jadul. Saya sering membayangkan, bila laptop saya berukuran 12 inci, bukan 14 inci seperti sekarang ini, di depan klien saya bisa berlagak seperti pesulap mengeluarkan kelinci dari dalam topi. Sayangnya saya tidak bisa menjadi pesulap kelinci karena laptop saya terlalu besar untuk dimasukkan tas. Tepatnya, di dalam tas sudah terlalu banyak buku-buku, sehingga tidak ada tempat lagi buat laptop.

Kalau saya ganti laptop, siapakah yang mau menerima lungsuran ini? Harddisk cuma 40 GB, sementara laptop kini ada yang 10 kali lipat. Belum lagi ujung kirinya yang sompak karena jatuh disenggol seorang teman ketika saya tidak di ruangan (dan saya sulit memaafkan dia karena dia tidak mengaku).

Dengan segala kekurangannya, laptop saya menjadi belahan jiwa saya. Saya tidak akan resah bila HP saya ketinggalan, tapi saya akan berputar arah bila laptop saya tertinggal.

Bagaimana tidak, bahkan sering saya tertidur dengan jari di atas keyboard. Ini kebiasaan buruk, saya akui. Tapi ini juga hal yang menenangkan dan bisa membuat saya tertidur, karena saya masuk ke alam mimpi bersama tulisan yang sedang saya buat.

Dulu saya berpikir bahwa menjadi penulis itu harus bekerja di media. Saya sudah terpuaskan dengan hal itu, dan alhamdulillah sudah melakukan eksplorasi yang dalam dengan membangun edisi Indonesia dari suatu majalah internasional yang saya baca sejak kecil.

Tapi majalah itu –dunia pers tepatnya– saya tinggalkan ketika saya merasakan bahwa pencarian saya di dunia media sudah tuntas. Saya ingin melakukan pengembaraan di sisi dalam media, yaitu manusia. Ya selama belasan saya membaca, menulis, mengedit dan memikirkan satu hal; manusia. Ketika masalah teknis menulis sudah tidak lagi menjadi isu dalam hidup saya, saya ingin menyelami kehidupan manusia tidak lagi dengan tujuan untuk menulis.

Itu saya temukan ketika saya lebur di dunia pendidikan, yang saya rintis bersama teman-teman sejak 10 tahun lalu. Dari obrolan di kantin untuk mendirikan sekolah ala Totto-Chan, terwujud suatu lembaga pendidikan, yang kemudian menjadi saksi pengembaraan hidup masing-masing pendirinya. Satu demi satu silam, dan kini tinggal saya yang bersyukur mendapat kesempatan menyelam ke dasar lautan dan selalu penasaran untuk menyelam lebih dalam lagi: Tidak lagi puas dengan perkembangan anak secara mainstream, tapi masalah anak berkebutuhan khusus.

Ketika dua hari lalu seorang rekan bertanya apa perbedaan dan persamaan antara dunia pers dan pendidikan, saya menjawab, saya tidak menemukan perbedaan, karena itu saya merasa nyaman. Justru saya menemukan persamaan, yaitu berkaitan dengan masalah manusia. Dan lebih memuaskan tentu, karena saya terlibat langsung dengan pengembangan manusia: dari yang tidak bisa menjadi bisa.

Program-program pengembangan itu tersimpan di laptop saya. Ada folder kurikulum, motorik kasar, motorik halus, sosial, emosi, Montessori, Tarbiyah, baby games, handwriting, sensory integration, fonik, inklusi, dan entah apa lagi, yang bahkan dengan jorok saya letakkan di layar desktop.

Laptop itu menjadi pemikiran utama saya ketika dalam perjalanan pulang dari luar kota tiga hari lalu pesawat mengalami turbulensi. Saya berpikir kalau terjadi pendaratan darurat dan laptop saya hilang, maka saya harus membangun lagi ide-ide yang saya simpan di sana. Saya lebih berharap, laptop itu selamat. Kalau saya juga selamat, saya bisa melanjutkan gagasan-gagasan saya. Kalau saya tidak selamat, orang lain dapat melanjutkan gagasan saya dengan menelusuri isi laptop saya. Dengan demikian, hasil kerja jari-jari saya masih terus menjadi doa bagi saya.