Kemarin adalah Hari Oma untuk saya. Hari untuk merenungi grandparenthood, tepatnya.

Di pagi hari saya besuk oma seorang murid di sekolah. Kebetulan saya dan seorang guru tengah mempunyai urusan di tengah kota, jadi kami mampir ke rumah sakit. Saat itu bukan jam besuk, maka kami minta izin kepada satpam dan suster, yang alhamdulillah mengizinkan kami untuk masuk.

Mula-mula Oma tidak mengenali kami (tentu saja). Namun setelah saya memperkenalkan diri bahwa kami dari sekolah cucunya, wajah beliau tampak cerah, dan langsung bangun. Bahkan memperkenalkan kami kepada teman-teman sekamarnya, sebagai guru cucunya. Kami berdua pun tersipu malu, namun segera sadar bahwa Oma begitu bahagia karena berjumpa dengan orang-orang yang setiap hari bersama cucunya ….

Beliau banyak bertanya dan bercerita tentang cucunya. Juga bercerita tentang cucunya yang lain, baik yang “usil” (menurut istilahnya), maupun yang tengah di Maroko.

Saya berhadapan dengan seorang oma yang bahagia dikelilingi bayangan cucu-cucunya. Yang memberikan cintanya, sekaligus dicintai cucu-cucunya. Dan saya sudah punya feeling demikian, sehingga ketika mendengar Oma masuk rumah sakit, saya ingin cucunya membuatkan hadiah sesuatu yang dijahit untuk omanya. Jahitan adalah keterampilan klasik, sehingga tepat untuk seorang yang sudah sepuh. Lebih dari itu, jahitan itu dibuat oleh cucu laki, dengan spektrum autisme ringan. Tentu sebuah pencapaian besar bagi cucunya untuk bisa duduk tenang dan berkonsentrasi menghasilkan karya hingga selesai.

Saat bersama Oma, diam-diam saya penasaran, jahitan apa ya yang dibuat cucunya untuk omanya di sekolah? Atau mungkin dia tidak membuat apa-apa karena sudah lelah berlatih manasik haji? Ternyata tidak. Ketika saya tiba di sekolah, gurunya mengatakan bahwa hari ini Sang Cucu menyelesaikan jahitan bandonya. Dan bando itu untuk Oma, katanya (padahal beberapa hari sebelumnya dia bilang buat Mama).

Pasti Oma akan tersenyum bangga melihat hasil karya cucunya.

Di malam harinya, saya menelepon seorang oma lain, oma dari murid di sekolah saya juga. Beliau sudah dua kali menelepon pada jam sekolah untuk bicara dengan cucunya, namun saya bilang bahwa saya akan bicara dulu dengan ibu si anak, sebagai walimurid kami. Siang itu saya sudah bertemu dengan ibu si anak, dan karena itu saya pun menelepon oma. Beliau menangis, karena katanya sudah hampir setahun tidak mendengar kabar cucunya. Beliau mendapatkan nomor telepon sekolah kami dari anaknya di luar negeri, yang mencari tahu di website. Saya persilakan kepada beliau untuk datang ke sekolah bertemu cucunya, namun kata oma itu beliau sudah terlalu tua untuk bepergian. Di akhir pembicaraan, beliau berpesan agar saya mendidik cucunya menjadi anak yang baik.

Waw, amanah yang tidak ringan dari seorang nenek. Tentu saja tugas sekolah mendidik anak menjadi seseorang yang baik. Tapi  kalau harapan itu disampaikan dengan cucuran air mata dari seorang yang renta (’70-an tahun kata beliau), tentu dalem banget rasanya.

Dari nada bicaranya –sekalipun bicara terputus-putus oleh tangis– tersirat bahwa beliau lega karena “menemukan” cucunya kembali.

Dua oma yang saya temui hari itu berada dalam kondisi yang berbeda. Yang pertama dalam keadaan berbahagia,  yang kedua dalam keadaan bersedih karena kehilangan kontak akan cucunya. Meskipun demikian, keduanya sama: cucu adalah harapan mereka. Cucu menjadi sosok yang membuat mereka bersemangat.

Dan beberapa hari silam, di hadapan saya, seorang konselor lupus membesarkan hati adik ipar saya –seorang perempuan muda– yang tengah galau setelah didiagnosis lupus. Ini nasihatnya, “Kamu punya anak masih 10 bulan kan? Ingin kan melihat dia besar dan menikah? Kalau bisa, melihat anaknya menikah juga. Jadi ayo bangun. Kamu harus bisa bertahan.”

Adik ipar saya menggigit bibir menahan tangis. Mungkin proyeksi ke depan masih kabur baginya, tapi konselor  itu membesarkan hatinya, bahwa melihat anaknya punya anak adalah sesuatu yang indah, dan harus diperjuangkan.

Mudah-mudahan adik ipar saya pun kelak bisa betul betul merasakan seperti kedua oma  yang saya temui hari itu: energi cinta kepada cucu dan semangat yang diperoleh dari pancaran energi itu.