Hari Minggu lalu saya dan teman-teman SMP besuk guru sejarah kami di rumah sakit. Usia beliau di pertengahan 70-an, masih mengingat kami dengan jelas, dan ingin banyak bicara namun terhambat oleh napas yang sulit dan tenaga untuk bersuara yang lemah.

Ketika saya menyalami beliau, beliau mencekal tangan saya agak lama, dan mengusap punggung saya. Kata beliau, sudah lama beliau ingin bertemu dengan saya ….

Mungkin saya lebih lama diajak bicara, selain Sawitri yang dulu menjadi ketua Osis kami. Mungkin saya punya kenangan khusus bagi beliau, karena saya bersahabat dengan putrinya, Endang, dan beberapa kali belajar ke rumah beliau.

Dengan kepolosan anak-anak, saya datang ke rumah guru untuk belajar dengan anaknya. Padahal waktu itu kami kan takut (tepatnya, segan) kepada guru. Tapi saya cuek aja …  karena menganggap rumah yang saya datangi adalah rumah sahabat saya. Mungkin juga saya kepedean dengan nilai-nilai sejarah saya. Yang jelas, ketika menyalami saya beliau berkata, “Dulu belajarnya tekun. Siang-siang panas-panas belajar ke rumah.”

Saya pun menambahi … “Ya pulangnya dikasih ongkos becak.”

Bu Ses tidak menjawab hanya menambah cekalannya, sementara teman-teman yang lain sudah tertawa-tawa, “Pantes rajin belajar ke rumah Bu Ses. Dikasih ongkos. Kok gak bilang-bilang, sih, Ndah.”

Ha ha … saya sendiri malu mengingat saat itu. Dengan polosnya saya menjawab, “Jalan kaki”, jika ditanya pulangnya naik apa. Saya tidak punya ide untuk berbohong ataupun menolak keinginan seorang guru untuk membayar ongkos becak. Mungkin ada sekali atau dua kali beliau memberi saya uang.

Ternyata sahabat saya tidak tahu hal itu. Tiga puluhan tahun kemudian barulah dia mengetahui “rahasia” saya dan ibunya, karena saya membukanya saat saya besuk ibunya. Rahasia yang indah, yang menautkan seorang guru dan muridnya, yang memberi kesan mendalam bagi sang murid, dan menempatkan sang guru dalam posisi humanis.

Karena itulah Bu Ses tidak hendak menceritakannya kepada siapa pun, bahkan kepada anaknya yang menjadi sahabat saya. Saya pun tidak pernah bercerita kepada siapa pun, kecuali di hari itu.

PS: Selamat ulang tahun untuk sahabatku Endang Retno. Semoga menjadi Bu Guru yang akan dikenang seperti halnya ibundanya.