Banyak orang datang ke sekolah dan bertanya: apakah ini sekolah Islam?

Bagi saya, saya ingin lebih dari sekolah Islam. Saya ingin sekolah yang Islami tanpa simbol Islam. Biarlah Islam yang menilai keislaman kami, bukan simbol yang perlu dinilai. Misalnya saja, saya pernah mengatakan kepada salah seorang calon orang tua murid bahwa mungkin anak-anak Tetum tidak menghapal 99 asmaul husna, namun mereka menghayati bahwa dalam diam pun Allah mendengar suara mereka. Ini bisa terjadi karena ketika seorang guru akan mengajarkan salah satu sifat Allah, katakanlah as-sami, saya bertanya, siapakah yang harus as-sami terlebih dahulu sebelum dia mengajarkannya kepada anak-anak.  Alhamdulillah guru mengatakan, “Saya.” Perfect. Dia harus as-sami terlebih dahulu sebelum menyampaikannya kepada anak-anak. Pertama, dia harus “mendengar” (dengan batinnya tentu) bagaimana seorang anak bisa menghayati as-sami. Ketika seorang anak tidur-tiduran, apa yang akan dikatakannya agar si anak menghayati sifat mendengar? Apakah dia hanya mendengar dengan telinganya tanpa melakukan penghargaan terhadap orang yang berbicara?

Dalam stimulasi anak pun perlu dikaji hakikat yang sesuai fitrah. Apakah Islami bila kita tidak melakukan iqra (pendalaman) tentang hakikat perkembangan anak? Dengan memaksakan mereka belajar calistung di usia ketika mereka perlu bermain bebas?

Saya juga punya obsesi membuat metode Iqra yang bersahabat dengan anak. Tentunya dengan cara yang sesuai dengan hakikat pembelajaran bahasa manusia, yaitu secara auditori. Bukankah kita sejak di dalam janin belajar bahasa lewat pendengaran?

Karena itulah di Tetum anak-anak belajar lagu anak berbahasa Arab, dan bahasa Arab sederhana agar mereka menjiwai bunyi-bunyi dalam bahasa Arab.

Yah, masih banyak lagi dalam tataran praktis yang ingin saya lakukan. Saya mencoba membuat definisi operasional dari apa pun yang terkonsep di benak saya.

Definsisi operasional yang pertama adalah menerjemahkan pendidikan hakiki dalam kegiatan sehari-hari.

Saya tidak bermain di simbol, saya bergerak dalam hakikat, dan itu betul-betul saya upayakan agar adanya satu kata dengan perbuatan.

Terus terang saja ini alasan yang sangat pribadi. Saya takut malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada saya apa yang telah saya lakukan terhadap anak-anak di “sekolah Islam” saya (apabila saya menamainya demikian): Apakah saya berbicara lembut kepada anak-anak?  Bahkan, apakah pikiran saya bersih dalam menghadapi perilaku anak, tanpa judgement maupun label? Apakah saya menggerakkan anak untuk shalat karena mereka sayang kepada Allah? Apakah saya mengajak mereka shalat dhuha sebelum mulai belajar?

Memang, kalau tidak melihat sendiri kegiatan anak-anak di sekolah kami, orang tidak punya bayangan tentang keislaman sekolah kami. Ya, perlu ada simbol untuk mengafirmasi napas suatu sekolah.

Tidak salah sih, karena seperti kata Ernst Cassirer dalam An Essay on Man, manusia adalah animal simbolicum. Ya, Cassirer menunjukkan bahwa dalam adaptasinya dengan lingkungan, manusia menggunakan simb0l-simbol. Bahasa, mitos, seni dan agama adalah “benang-benang yang terpintal menjadi jaringan simbol,” katanya.

He has so enveloped himself on linguistic forms ..., katanya lagi. Manusia membungkus diri dengan bahasa.  Ya,  label sekolah Islam  adalah contoh bahwa kita memang membungkus diri dengan bahasa.  Mengapa kita perlu simbol itu?  Cassirer bilang, He lives rather in the midst of imaginary emotions, in hopes and fears, in illusions and disillusions, in his fantasies and dreams. Manusia perlu simbol untuk memenuhi kebutuhan emosi, harapan, ketakutan, ilusi, fantasi dan impian.

Animal simbolicum adalah bagian yang hakiki dari manusia dalam pencarian jati dirinya. Dalam penemuan diri yang lebih tinggi, kita akan melepaskan diri dari simbol-simbol itu, dan lebih bergerak karena hakikat.

Persoalannya adalah kita hidup di dunia simbol, dan orang tua pun praktis berpikir dalam tataran simbol. Tentunya, menjadi tantangan bagi saya untuk dengan bijak mengantar mereka ke samudra hidup, menyelam ke kedalaman hakikat, untuk menemui kehendak Sang Pencipta tanpa  simbol apapun.