Amira kini selalu tersenyum lebar bila bertemu saya. Bahkan kata guru kelasnya, pada hari pembahasan perkembangan SD (baca: rapor) di hari Minggu lalu, orang tuanya bercerita bahwa kata Amira dia senang belajar matematika dengan saya (catatan: saya akan tuliskan kelak hubungan antara linguistik dan matematika).

Saya lega, hubungan saya dengan Amira akhirnya membaik. Perlu waktu sekitar empat-lima tahun untuk mendapatkan trust Amira.

Luka pada hubungan kami berawal dari ketidaktahuan kami (saya, pastinya) tentang asesmen. Saya ingat, saya menerima kedatangan ibunya di tahun 2007, yang mengatakan anaknya yang bungsu akan masuk sekolah kami, menyusul kakaknya yang baru lulus. Saya iya iya saja, tidak curiga ketika ibunya bercerita bahwa putrinya menyebut “sekolah” dengan “oah”, dan tidak mempunyai suatu feeling ketika ibunya tidak membawa anaknya ke sekolah.

Tanpa asesmen, atau sekadar pengamatan, saya menempatkan Amira di Kelas Langit (TK A).

Nah ternyata di sini persoalannya. Setelah Amira bersekolah, para guru merasa kesulitan. Amira lebih banyak berdiam diri ketika temannya mengerjakan soal-soal. Dia tidak punya teman, dia tidak bisa berlari dan dia tidak bisa bicara selancar teman-temannya. Sampai akhirnya gurunya mengusulkan bagaimana kalau Amira belajar di kantor dengan saya.

Saya dengan sok pahlawan menerima usulannya, dan membuat program-program khusus untuk Amira. Saya melihat, pada waktu itu Amira tidak bisa menghitung 1-3, dan tidak bisa melompat dua kaki. Suatu program tidak akan berhasil kalau tidak “masuk” ke hati anak. Ya, Amira menjadi terluka karena dikeluarkan dari kelas. Dia tidak mau belajar bersama saya.

Setiap guru pasti akan patah hati kalau ditolak oleh murid. Jujur saja saya sedih. Apalagi Amira kemudian memusuhi saya. Dalam suatu acara, dia marah ketika saya potret. Saat mengikuti kegiatan lomba, perlu 1001 bujuk rayu lewat ibunya agar dia mau ikut dan naik mobil saya.

Saat dilakukan observasi oleh psikolog, ada kecurigaan bahwa Amira menyandang retardasi mental, yang ditandai dengan keterlambatan dalam perkembangan bicara, kekurangan dalam daya ingat, kesulitan mempelajari aturan sosial (dalam hal ini Amira cenderung lebih menarik diri), dan kesulitan dalam pemecahan masalah.

Di tahun berikutnya, ketika teman-temannya naik ke TK B, Amira kami turunkan ke Kelompok Bermain, atas saran psikolog. Amira menjalaninya dengan gembira, karena pembelajaran di sana sesuai dengan kemampuannya, sekalipun usianya dua tahun lebih tua.

Amira tetap belum mau tersenyum kepada saya. Bahkan ketika dia sakit dan saya menjenguknya, dia bersembunyi di dapur, tidak mau menemui saya.

Namun Amira adalah pejuang yang tangguh untuk dirinya. Dia berupaya agar bisa menyamai teman-temannya, dan menjalani terapi tentunya. Ketika kemampuan dirinya semakin baik, dia mulai bisa mempersepsi dunia luar dengan lebih baik. Ketika kebutuhan akan sebaya mulai berkembang, dia pun melihat bahwa teman-temannya menerima saya dengan baik.

Amira pun mulai mengembangkan rasa percaya kepada saya. Pertanyaan pertama yang diajukannya kepada saya adalah ketika dia TK B.  Dia bertanya, ke mana X, teman sekelasnya. Walaupun singkat pertanyaannya, saya merasa terbang tinggi. Amira sudah mau membuka komunikasi dengan saya.

Minggu lalu saat saya menayangkan foto-foto berkemah, saya meminta setiap kelompok melakukan yel-yel seperti saat kemah. Amira dengan malu-malu melirik kepada saya dan tersenyum malu memperlihatkan giginya yang putih, saat kelompok ungu diminta beryel-yel.

Kini tidak ada lagi batas antara saya dan Amira. Apakah itu dalam pelajaran bahasa Inggris atau matematika, Amira selalu bersemangat. Di saat saya menunduk atau melihat ke suatu arah, saya merasakan tatapan matanya yang meminta balasan tatapan mata saya, sebagai afirmasi bahwa saya mengakui eksistensinya.

Ya, Amira, saya menerima kehadiranmu, bahkan sejak hari pertama kamu datang di sekolah ini.